Semurni Embun

Auryn Dee
Karya Auryn Dee Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Maret 2016
Semurni Embun

Sebelum sinar matahari menembus jendela dan tirai putih, Mey telah terjaga dari tidurnya. Sepenuhnya telah sadar. Mey bergegas turun mengitari halaman depan rumah. Ia biarkan kaki telanjangnya menyusuri rerumputan liar yang tumbuh begitu rimbun pada halaman depan yang berukuran sangat luas itu.?

Tidak lupa pula Mey menyambangi puluhan Daisy, mawar, lily, aster, dahlia dan beberapa bunga-bunga liar yang tak kalah indah. Sesekali ia bentangkan tangannya lebar dan sedikit membungkukkan badan. Tangan dan kakinya akan terasa basah. Basah yang tercipta bukan di karenakan hujan. Tidak ada genangan air dan tanah yang Mey injak tidak terasa becek seperti saat hujan. Basah yang menyentuh tubuhnya berasal dari embun. Embun terasa sangat lembut dan menyegarkan.?

Mey selalu merindukan kemurnian embun. Embun selalu hadir menyambut permulaan hari Mey. Setelah melakukan ritual itu, Mey merasa seluruh kesalahannya telah termaafkan. Dosanya telah terhapus. Mey merasa lahir kembali menjadi sosok baru, murni, semurni embun.?

Siang menjelang sore, Mey melewatinya dengan kopi. Ia telah kecanduan kopi. Kopi hitam pahit yang pekat. Dalam sehari Mey bisa menghabiskan tiga sampai empat gelas porsi besar. Seringkali Mey merasa bersalah. Ia tahu efek kopi memiliki pengaruh buruk pada kesehatan nya. Setiap hari Mey berusaha seminim mungkin meminum kopi hitam itu. Kalau bisa sih sama sekali tidak meminumnya lagi, tapi sayangnya Mey tergoda untuk terus minum kopi.?

"Ah sedikit ini, sedikit-sedikit kan nggak apa-apa," gumam Mey. Toh hari ini Mey telah berjanji hanya minum satu atau dua gelas. Tidak bakalan lepas kontrol untuk menghabiskan lebih banyak. Sehabis Mey menenguk segelas bersih kopi hitam. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak meminum kopi hitam itu lagi. Tapi pikirannya selalu tertuju pada kopi. Ia ingin kopi. Ia inginkan kopi hitam, pekat dan pahit itu melebihi apapun.?

Rasa pahit itu terasa sangat enak bagi Mey. Mey tidak pernah bisa melupakan betapa enak kopi hitam saat memenuhi rongga mulut nya. Ia tahan sebentar dalam rongga mulutnya beberapa detik. Kemudian dengan perlahan ia turunkan kopi itu kedalam tenggorokannya. Glek...glek...glek. Kopi itu turun semakin dalam dan seketika seluruh tubuh Mey bergejolak, merasakan kenikmatan kopi hitam.?

Mey sadar kenikmatan itu hanya sesaat. Mey mulai takut organ tubuhnya bekerja tidak normal. Mendadak Mey cemas, ia tidak ingin menjadi orang yang di penuhi penyakit gara-gara kopi hitam sialan itu. Perlahan-lahan secara sadar Mey telah merusak dirinya sendiri. Sempat Mey menyesalinya dan mengutuk kebodohannya. Tapi hasrat kuat mengoda Mey untuk meminumnya lagi..lagi dan lagi.

Pernah Mey mencoba sekuat mungkin menahan. Seharian itu ia merasa tersiksa. Sangat menyakitkan. Sekilas ia mencium aroma kopi hitam. Harum. Seketika aroma itu menyegarkan ingatannya akan kenikmatan kopi hitam. Ia endus aroma itu untuk mengetahui dari mana aroma itu berasal. Tanpa perlu memerlukan waktu lama, Mey berhasil menemukannya. Kopi hitam itu tersedia manis di atas meja.?

Mulanya Mey menyumpah kasar, siapa yang telah lancang menyediakan kopi hitam untuknya. Setahu Mey, tidak ada orang lain yang tinggal di rumah itu, hanya dia seorang. Mana mungkin orang asing repot-repot membikinkannya kopi hitam dan menghilang begitu saja. Mey bergegas memeriksa seluruh pintu yang menghubungkan dengan bagian luar rumah. Semuanya masih ?berdiri dengan kokoh dan terkunci rapat. Tidak mungkin orang lain, astaga jangan-jangan dirinya sendiri yang membuat kopi hitam itu. Memalukan.

Mey mulai ingat yang di perbuat beberapa menit yang lalu. Mengendap-endap dan menyeduh kopi hitam itu. Tanpa berpikir ribuan kali, hari ini Mey telah kalah lagi. Mey menengak kopi itu dan menyeduhnya lagi, lalu meminumnya. Begitu seterusnya sampai Mey tumbang. Entah berapa gelas yang telah masuk ke tubuhnya.

Ketika pagi hadir, Mey baru tersadar. Mey sontak menangis meraung-raung. Menumpahkan segala kebodohannya. Bergegas Mey lari keluar halaman. Mey menceburkan diri kedalam embun yang masih berayun pada tangkai Daisy. Ia membiarkan tangan, kaki dan tubuhnya di basuh oleh kemurnian embun. Seketika seluruh racun kopi keluar dari tubuhnya. Tubuhnya kini murni kembali.?

Mey tersenyum penuh kemenangan karena embun masih mau membersihkan dirinya yang di penuhi kotoran kopi. Siangnya Mey coba menghitung berapa gelas yang ia minum kemarin. ?Ingin rasanya Mey pingsan lagi, kemarin ia telah melebihi batas kebiasaan. Hari itu ia minum tujuh sampai delapan gelas kopi. Mey begidik ngeri membayangkannya.?

Padahal batas maksimum orang normal dapat meminum kopi hitam itu adalah sepuluh gelas. Mey sudah melewati setengahnya lebih. Sebenarnya di luaran sana sudah tidak terhitung begitu banyaknya orang yang dapat meminumnya lebih dari batas maksimum itu. Mungkin hal itu menyenangkan tapi Mey sepenuhnya sadar bahwa itu bersifat semu. Kesenangan itu jelas tidak setimpal dengan kesalahan yang harus mereka pikul. Penyakit akut yang mereka derita.?

Hal yang paling ditakutkan oleh Mey adalah apabila ia minum kopi hitam melebihi batas, ia tidak akan lagi dapat menjadi sosok semurni embun. Karena embun tidak akan sudi menyentuh tubuh kotor yang di penuhi kopi melebihi batas. Jelas Mey tidak menginginkan kejadian buruk itu menimpanya. Tapi tahukah mereka semua kalau kopi hitam itu menggiurkan sekali.

Setelah Mey tumbang, Mey sempat berjanji untuk tidak akan meminum kopi hitam. Tapi seperti biasa janji itu hanyalah janji kosong. Mey terus meminumnya tapi untuk kali ini ia berusaha sebisa mungkin mengontrol jumlah banyaknya kopi yang boleh masuk ke dalam tubuhnya. Sehingga ia belum melewati batas menakutkan itu.?

Namun karena terlalu seringnya waktu yang dapat di habiskan Mey dengan meminum kopi hitam dibanding dengan kesenangannya bermain embun. Mey sering merasa embun tidak ada guna nya, buat apa ia memurnikan diri di pagi hari toh, siang sampai malam Mey asyik dengan kopi.?

Mey sering merasa embun curang dan pelit padanya. Bagaimana tidak, embun hanya ada dini hari sampai sebelum matahari terbit. Kurang dari empat jam, Lain halnya dengan kopi yang lebih sering menemaninya. Mey menjadi kecewa dengan embun, dan pelan-pelan membencinya. Akhir-akhir ini, Ia hanya meluangkan waktu lima menit dengan embun.

Sehingga tidak usah heran kalau Mey sampai nekat menegak kopi hitam sampai melebihi sepuluh gelas dalam sehari. Awalnya Mey meringis kesakitan. Rasanya sakit sekali, beda ketika ia belum menegak sebanyak batas itu. Tapi sakit yang begitu hebat pergi hanya dalam sehari. Keesokannya ketika ia kembali meminum melebihi batas ia tidak merasa sakit lagi. Ia kembali menikmati kelezatan kopi.?

Anehnya tubuh Mey tidak terlalu merisaukan efek jelek kopi. Tidak seperti dulu yang selalu Mey bayangkan. Sejauh ini tubuh Mey, kuat-kuat saja. Tubuh Mey memang beda, atau mungkin Mey meminum kopi hitam itu dengan hati-hati, dengan perlahan tidak seperti kebanyakan orang.?

Kecintaan Mey pada kopi hitam berakhir sampai pada saat dimana seluruh tubuh Mey berulah. Tubuh Mey sudah jenuh dengan kopi hitam. Sering Mey mengakalinya dengan di beri tambahan susu, gula, atau coklat. Awalnya memang enak dan menunda kebosanan Mey pada kopi. Tapi lama-lama, seperti saat ini tubuh kuat Mey berontak juga. Mey meraung-raung kesakitan, ia muntah-muntah, seakan-akan ada yang menonjok perutnya dari dalam. ?

Mey menangis sedih. Sekilas berkelebatan ingatannya mengenai embun. Mey rindu rasa embun. Ia rindu dirinya menjadi begitu semurni embun. Ia pun berlari keluar halaman. Alangkah herannya ia melihat halaman rumahnya mendadak kering, tidak ada lagi bunga-bunga cantik memenuhi sekitar. Dimanakah puluhan daisy, mawar, lily, aster. Semuanya mendadak hilang. Jangankan bunga, rumput-rumput liar saja tidak sudi memenuhi areal halaman rumahnya.?

Di depan mey hanya ada tanah kering yang pecah-pecah. Tidak seperti halaman tetangga sebelah. Beraneka macam bunga dan dedaunan hijau berlomba-lomba ingin tampil paling menarik. Pemandangan indah itu hanya di pandang dengki oleh Mey. Mey terus berada di halaman rumahnya yang mendadak kerontang. Tidak peduli sakit yang Mey rasa, ia tetap saja mematung di sana demi menantikan kehadiran embun untuk memurnikannya kembali. Tapi agaknya usaha Mey hanya lah sia-sia. Ia mengharap sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi.?

Malah yang terjadi telinga Mey memanas. Mey pun menutup kuping seakan-akan seluruh tanaman indah milik tetangga sebelah sedang menggunjingnya. "Diam kalian semua!" hardik Mey kesal. Di banting pintu depan rumahnya. Sepanjang hari Mey terus menangis. Tangisan Mey semakin hari semakin membanjir. Mey hampir tenggelam karenanya. Mey meronta. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk dapat keluar agar ia dapat menghirup oksigen lagi. Seperti yang setiap saat ia lakukan tanpa ia sadari.?

Setelah melewati serangkaian peristiwa menyakitkan, Mey merasa tidak butuh kopi. Tidak menginginkan embun. Mey hanya butuh dan menginginkan udara. Mey pun berhasil. Ia masih terbatuk-batuk dan air keluar dari hidung dan mulut mungilnya. Sejak kejadian itu, Mey menegakkan bahu dan kepalanya. Ia berjalan lurus ke depan. Pandangan Mey beralih ke perutnya, di amati perut yang mendadak membucit. Tangan Mey mengelus pelan perutnya. "Tak akan aku biarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu," bisik Mey.?

Sejenak Mey meratapi kebodohannya karena lebih mementingkan kesenangan sesaat. Ia melirik datar pada toples kopi hitam di hadapannya. Sudah kosong. Kopi itu mendadak hilang ketika mengetahui perut buncit Mey. Mey sudah menduga hal itu bakal terjadi. ?Mey hanya diam. Ia tidak ingin menangis lagi. Menangis hanya dapat menenggelamkan dirinya lebih dalam. Kalau dipikir-pikir saat ini ia masih dapat menjalani kehidupan tanpa kopi maupun embun.?

Saat ini Mey hanya terus membulatkan bertekad agar dapat bertahan hidup demi makhluk kecil yang tertidur di perutnya. Meski tanpa kopi mau pun tanpa mengharap embun untuk memurnikannya. Mey tersenyum dan kembali memiliki harapan karena ia masih dikelilingi udara. Mey mengendarai mobilnya melintasi jalanan di luar sana. Langit terlihat mulai gelap, namun kegelapannya tak mampu mengalahkan hati Mey yg kini mulai menemukan sinarnya.

?

  • view 126