Bidadari Biru

Auryn Dee
Karya Auryn Dee Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Maret 2016
Bidadari Biru

Sudah tiga jam aku duduk di sofa merah ini. Masih setia menunggunya muncul. Sementara itu saat ini di atas stage ada lima dancer berwajah latin. Mereka mengenakan atasan hitam berbelahan rendah dan rok bulu panjang menjuntai, berwarna-warni ada yang mengenakan biru, merah muda, kuning, hijau mencolok sekali. Dandanan ala karnaval brazil. Tidak ada wajah yang aku nanti. Belum, dia belum muncul. Pandanganku beralih ke ponsel, tidak ada notifikasi apapun untukku. Padahal ini malam minggu. Sialnya justru di malam menyedihkan ini ponselku sepi bunyi-bunyian. Akh aku benar-benar seorang pria kesepian. Teman-temanku yang biasanya selalu mengangguku di hari sibuk entah sekarang ada dimana. Malam minggu seperti ini sudah pasti dihabiskan bersama orang tersayang. Mana mungkin ada yang inget dengan teman, kecuali orang-orang yang sekarat defisit cinta seperti aku. Tapi tidak dengan diriku sekarang. Setelah tiga tahun merasa jenuh dan bosan dengan cinta. Seolah penantian itu terbayar oleh kehadirannya. Aku menemukan arti cinta sesungguhnya. Rasa yang terlalu dalam. Terlalu rumit untuk dijelaskan. Terlalu indah untuk dibayangkan. Terlalu sulit untuk ditelaah. Terlalu gila untuk dinormalkan. Aku yang tengah tergila-gila padanya.?

?

?Saat masih sibuk mengamati status seluruh teman yang ada di list ponselku, terdengar iringan musik karnaval telah usai selanjutnya digantikan dengan nada ini, pasti dia. Dia kekasih hatiku. Iya dia muncul, hampir saja ponsel terlepas dari genggamanku. Sudah tidak ku pedulikan status siapapun, ponsel, minuman, rokokku pun tergeletak manis di asbak meja. Tidak ada satu pun yang mengangguku melihat dia muncul pertama kali. Dia datang. Seketika suasana kafe ini berubah menjadi istana. Stage adalah singgasana sang putri. Iringan musik club berubah menjadi tiupan terompet para punggawa. Sang putri datang. Dia cintaku. Dengan mata berbinar-binar menyambutnya, dia sungguh jelita. Dia mengenakan mini dress berwarna keemasan dengan dua orang di belakangnya. Meski berkostum serupa tapi dua orang di belakangnya tampak seperti dayang-dayangnya. Dialah permaisuri hatiku. Bidadariku. Cahaya lampu sorot kafe ini bergantian menyinarinya. Cahaya yang di dominasi berwarna biru, menyorotnya. Dia di penuhi biru. Oh bidadari biruku, begitu aku menyebutnya.?

?

?Dia masih di tengah sana, meliuk-liukan badan. Dia dan dua dayang-dayangnya. Sudah tiga puluh lima hari aku mengamatinya, mengamati sosok sempurna yang berdiri di tengah sana. Sering juga aku memperhatikan reaaksi para pria di club. Tak sedikit yang berkomentar ?gila, cantik banget?. Aku tahu dia sangat cantik tapi ada yang membuatnya berbeda dari perempuan cantik lainnya. Wajahnya sulit diungkapkan dengan kata-kata, walau dia sering menyunggingkan senyuman tapi tersimpan kegetiran di sana. Ada yang dia sembunyikan. Aku tidak tahu apa, tapi dia sepertinya mengalami kehidupan yang tidak menyenangkan. Aku hanya bisa menduga-duga tanpa tahu yang sebenarnya. Sialnya sampai detik ini aku tidak mengetahui apa-apa tentang dirinya. Aku hanya tahu panggilan kecilnya Vir. Suatu kali aku pernah menguping pembicaraan para dancer ini ketika di toilet. Aku tidak begitu jelas mendengar pembicaraan mereka, hanya samar-samar membicarakan hal yang tidak penting. Urusan wanita, high heels patah salah satu dancer. High heels, maskara, dan bulu mata palsu tidak ada di kamus pria. Dari situ aku mendengar suara tawa Vir. Merdu, menghanyutkanku ke palung terdalam. Dialah bidadari satu-satunya. Bidadari biru.?

?

?Sudah 95 hari aku mengintainya. Sayangnya aku masih belum mengalami kemajuan yang berarti. Hanya tahu dia menari di club ini saat malam minggu, dia mulai tampil dini hari sekitar jam satu malam lebih lima belas menit, Dia tertawa renyah, dia suka menggigit-gigit bibirnya ketika ia cemas, dia diantar dan pulang dengan mobil sedan hitam. Dengan sedan yang sama, dengan pria yang sama. Pria yang berbadan besar entah siapanya, mungkin kekasihnya, atau yang terburuk suaminya. Aku tidak begitu peduli yang aku pedulikan hanya dia. Bidadariku. Pria tinggi besar yang lebih cocok jadi bodyguard itu jarang turut serta menemani di club. Pria itu hanya mengantar dan menjemput bidadariku. Pernah aku memergoki mereka berciuman. Rasanya duniaku runtuh, inginku melenyapkan pria jelek itu. cowok sejelek dia tidak pantas untuk mu wahai sang putri. Entah moment itu walau terasa menyakitkan tapi membahagiakan, waktu itu tepat seminggu aku tidak melihat bidadariku. Aku sempat kehilangan jejaknya. Sebelumnya aku bertemu pertama di club dekat tempatku bekerja, ketika aku habis beradu argumen hebat dengan pasanganku Sarra yang saat ini telah tiga tahun lebih aku bersamanya. Walau selama itu bersama, aku tidak merasakan getaran-getaran cinta yang super dahsyat seperti yang aku rasa bersama bidadariku. Setengah mabuk aku melihat bidadariku menari-nari. Dia memakai kostum malaikat lengkap dengan sayap putihnya namun sorot biru menjadikannya bidadari biru. Siluet bayang malaikatnya tergambar jelas dibenakku tidak bisa lepas. Aku hanya ternganga melihatnya. Seketika aku lupa pada pasanganku yang menjemukan. Aku menemukan pengganti yang jauh lebih indah, walau dirinya belum menemukanku. Tenang saja suatu saat aku akan mendapatkanmu. Mendapat seluruh jiwa dan ragamu bidadari biruku. Pertemuan pertama sekaligus perpisahan pertama dengannya. Setelah itu aku lama tidak menemukannya. Sampai seminggu kemudian aku melihatnya berciuman dengan pria jelek itu.?

?

?Malam ini sama seperti kebanyakan 95 malam sebelumnya, aku memandangi liuk geraknya. Ingin rasanya aku memeluknya, mencumbunya, mengusap kepalanya, mengambil kepedihannya, kegetirannya. Biar aku saja yang menanggung semua kepedihan dan kegetiran hidup jangan kamu, jangan kamu bidadariku. Aku ingin wajah cantikmu berseri-seri. Memancarkan cahaya cinta untukku. Hanya untukku. Malam ini aku tidak lagi melihat pria jelek itu. Ada yang beda dengan bidadariku, dia terlihat lebih cantik. Walau hari biasanya pun sudah sebegitu cantik. Tapi malam ini beda, sangat berbeda, nafsuku sangat memburu padanya. Dengan balutan gaun merah berbelahan tinggi jauh di atas lututnya. Ketika ia bergerak paha mulusnya tersingkap. Indah sekali. Gila kenapa dia begitu menarik sekali malam ini. Aku butuh dia, butuh keindahannya. Sesekali matanya beradu tatap denganku. Aku tak kuasa menatap matanya lama-lama. Mata gelap yang sangat indah itu, membuatku kehilangan kesadaran serasa melayang tinggi. Bidadari biruku dalam balutan merah. Sungguh aku menggilainya.

?

?Sayangnya obsesiku pupus, dia sekarang bersama pria lain. Pria berwajah tirus, pucat menyedihkan itu menjemputnya. Sekali lagi aku hanya dapat meratapi ketidakberanianku. Kelemahanku. Berkenalan langsung dengannya aku tak berani, membayangkannya saja sudah membuatku kencing di celana. Hahaha aku pria paling pengecut di dunia. Akhir malam ini aku hanya meratapi nasibku. Tapi ternyata malam ini tidak sepenuhnya berakhir. Sekitar hampir pukul 2 dini hari ini, aku melihat bidadariku sedang menunggu pria kurus menjemputnya. Ada kegelisahan di raut wajah pualamnya. Ia berdiri persis di bawah lampu penerangan jalan, di depan club. Aku mengamatinya dari sudut luar club, berjarak sekitar 10 meter darinya. Ia memakai gaun hitam diatas lutut tanpa lengan dengan mantel hijau gelap yang di gantungkan seadanya di bahunya. Sudah hampir 30 menit bidadariku berdiri mematung di sana, begitu halnya dengan diriku. Tak kuasa aku menahan lagi, aku mengumpulkan segenap kekuatan. Setelah sekian lama hanya ini satu-satunya kesempatan emasku untuk dapat lebih dekat dengannya. Tepat ketika kakiku melangkah keluar dari persembunyianku seketika itu pula Vir mengaduk-aduk tasnya. Jemari lentiknya mencari sesuatu. Tiga langkahku berjalan ia berhasil menemukan yang dia cari, sebatang rokok. Segera diselipkan benda itu di bibirnya. Tangannya kembali merogoh tas merah maroonnya. Kali ini dengan kedua tangannya, setengah membungkuk ia melakukannya sampai ia kehilangan keseimbangan dan tasnya terjatuh beserta sebagian isinya keluar menghambur begitupun mantel hijaunya. Ia tidak turut jatuh dikarenakan aku menahannya. Tanganku memegang lengan mungilnya.?

?

??Thanks?, setengah berbisik dia mengucapkan itu tepat di telinggaku. Setelah tangan kirinya mengambil rokok dari bibirnya. Jantungku berdetak tidak teratur. Suaranya seperti melodi terindah yang tercipta dengan penuh cinta. Wanginya seperti wangi dedaunan, sedikit cinnamon dan kuncup bunga yang lembut. Kulitnya sehalus porseline, sangat takut aku untuk melukainya, maka seketika langsung aku lepaskan peganganku. Aku tidak menjawabnya hanya membantunya yang setengah berjongkok memunguti barang-barangnya satu persatu dimasukan kembali ke dalam tasnya. Ada dompet, beberapa peralatan make up, kaca, dan pernak pernik cewek lainnya. Aku tidak memperdulikannya hanya memandangi wajahnya. Cuaca sedikit panas dini hari ini, keringat menguncur dari dahinya. Spontan aku mengambil tissuenya dan mengelapnya. Ia sedikit rikuh kali ini, tapi tidak berkata apa-apa hanya memberikanku senyum. Senyum terindahnya yang membuatku serasa ke bulan dan kembali.

?

? Tepat setelah semua barangnya sudah ada ditasnya lagi seketika itu pula pria kurus itu datang membunyikan klakson kearah kami. Bidadariku sekali lagi mengucapkan terimakasih dan mengangguk tanda pamit kepadaku. Aku pun mengangguk pelan. Setelah mereka pergi aku baru menyadari kebodohanku kenapa tidak menanyakan namanya. Entah siapa nama panjangnya yang ku tahu hanya Vir, mungkinkan Sapphire, atau Virgo entah sambil memikirkannya aku menggenggam tissue bekas keringat bidadariku. Akan selaluku simpan tissue ini. Mungkinkah malam ini adalah malam progress terbesarku. Aku sudah mempersiapkan untuk memberanikan diri untuk menyapanya. Namun keesokan malamnya aku kehilangan dirinya lagi. Dia tidak muncul di club.

?

?Malam demi malam aku lewati tanpa melihatnya. Separuh jiwaku hilang. Setiap malam aku mencari dari bar ke bar, club ke club, dari satu tempat hiburan ke tempat lain tapi tak menemukannya. Ia menghilang begitu saja. Sampai suatu malam ketika aku marah hebat pada Sarra, entah akhir?akhir ini Sarra mulai curiga padaku. Sehabis dari club terakhir Vir biasa tampil, sekitar jam 1 lewat aku keluar dari club. Berjalan gontai tidak menuju tempat pemberentian bus atau pangkalan taxi. Melainkan berjalan tak tentu arah melewati lorong-lorong pertokoan yang sepi dan telah tutup. Malam ini sangat dingin, kurapatkan jaket tebalku. Di langit bulan bersinar terang, berbentuk bulat sempurna. Bulan purnama, dengan dikelilingi gumpalan awan di sekitarnya. Dari kejauhan terdengar suara anjing liar bersahut-sahutan melolong. Seketika aku menggigil. Aku naikkan kerah jaketku keatas. Ada yang beda dengan malam ini. Angin bertiup kencang menerbangkan plastik dan kertas didekat tong sampah di sudut jalan. Untuk meredakan ketegangan, tanganku merogoh kantong kemeja, berusaha mengambil sebatang rokok. Belum sempat aku mengambilnya aku melihat secercah sinar dari pojok lorong jalan. Rasa penasaran menuntunku untuk mendekati sumber cahaya itu.?

?

?Terpaku aku melihat dia. Bidadariku. Dia berdiri anggun di sana. Tepat di sumber cahaya itu berasal. Sinarnya berkilau keluar memancar dari tubuhnya. Rambut hitam panjangnya menguntai, ternyata rambutnya panjang sekali menyentuh jalan. Dia mengeluarkan taring. Dia setengah siluman, mungkin drakula atau apa, aku masih tidak percaya dengan yang aku lihat. Kukunya seketika memanjang. Mata sayu nan indahnya seketika berubah menjadi berwarna hitam seluruhnya. Dan yang lebih tidak aku percaya dia tidak sendirian. Dia tengah asyik mencabik-cabik hati seorang pria. Pria berwajah tirus itu. Pria itu berdiri di hadapannya tanpa mampu berkata apa-apa. Masih bernyawa namun sudah tak berdaya. Seketika bau anyir darah menyerbak. Dengan rakus bidadariku menghisap darah pria itu. Setelah meninggalkan pria itu tergeletak di pojok lorong jalan. Bidadari ku dengan ringan melangkah. Ada kepuasan disana. Wajah nya terlihat sangat cantik, sama seperti seminggu yang lalu sebelum aku kehilangan untuk kedua kali. Jangan-jangan pria jelek tinggi besar itu pun telah diperlakukan sama. Tidak, aku tidak percaya dengan yang kulihat. Mimpi ini pasti mimpi.

?

Kepalaku masih pening samar-samar aku melihat televisi.?

?

?Jakarta digegerkan dengan penemuan mayat laki-laki berusia 30 tahunan dengan kondisi tubuh sudah tidak utuh lagi. ini sudah kedua kali terjadi. Ada berbagai organ tubuh yang hilang. Diantaranya jari manis sebelah kanan dan jantung. Diduga pelakunya orang yang sama. Kemungkinan besar pelakunya wanita?.?

?

?Kami akan mengungkap pelakunya secepatnya, saat ini masih dalam penyelidikan? ujar seorang yang memakai seragam polisi.?

?

?Aku baru sepenuhnya tersadar aku tidak berada di apartemenku. Di sekitarku banyak benda-benda asing yang bukan milikku. Di atas televisi yang kulihat itu terdapat hiasan yang sangat ganjil. ?Toples-toples berisi cairan dan organ tubuh manusiakah itu??, iya itu jantung dan jari manis dengan cincin yang masih melingkar di jarinya. Sementara tanganku terikat, dan kepalaku ini masih terasa nyeri karena terkena hantaman benda tumpul. Bidadariku berubah menjadi nightmare ku. Dia menyadari ada kehadiranku yang menyaksikan aksinya menghabisi pria berwajah tirus.?

?

?Harusnya aku mendengarkan naluriku. Tidak seperti biasanya hari ini Sarra curiga pada kebiasaan pulang dini hari. Hari ini, tepatnya tapi pagi sebelum aku berangkat kerja sekitar jam 8 pagi, Sarra merengek memintaku pulang sebelum matahari terbenam, atau paling tidak sebelum lampu balkon apartemen dipadamkan itu berarti sebelum pukul 10 malam, aku mengatainya gila. Sarra merengek cemberut dengan timbunan lemak yang menjembul dari perutnya bekas hasil mengandungnya yang tidak menghasilkan apa-apa. Hanya memperburuk tampilan Sarra. Seharusnya kami telah memiliki seorang anak lucu sekarang tapi kenyataan pahit itu merenggut mimpi kami. Sarra mengalami pendarahan sewaktu usia kandungannya 6 bulan. Ada sesal dan sesak bila mengingatnya. Entahlah perkawinan yang seharusnya diisi dengan cinta dan kebahagian kini memudar sejalan dengan waktu. Atau memang sedari awal aku tidak sepenuhnya mencintai Sarra. Hanya dia saja yang sanggup bertahan dengan pria dingin menyedihkan sepertiku.?

?

?Namun kali ini aku kembali mengingat kenanganku bersama Sarra. Senyum tulusnya, tatapan penuh cintanya. Tawa bahagianya. Dulu 4 tahun yang lampau. Aku menyesalinya. Aku menyia-nyiakan wanita yang memberikan seluruh jiwa dan hatinya hanya untukku. Tapi apa yang ku perbuat malah mengejar perempuan gila yang entah apa wujud aslinya. Saat ini Vir mendekatiku perlahan, mengusap kepalaku, menyentuh bibirku. Hal yang biasanya hanya muncul dalam khayalku tapi sekarang nyata. Dia benar-benar berdiri di sampingku. Dia membawa pisau tajam di belakang punggungnya yang suatu saat siap dia hunjamkan ke dadaku. Dalam Lirih, aku memanggil ?Sarra, maafkan aku?, dengan mata tertunduk melirik jariku masih utuh. ?Jari manis kananku masih ada cincin yang berukirkan nama Sarra, tapi ku sadari itu tidak untuk waktu yang lama. nightmare ku akan mengambilnya dari ku. Tidak!?

?

?-jangan pernah lupa untuk bersyukur apa yang sudah berhasil kau miliki apalagi menyi-nyiakannya karena ketika kau kehilangannya, kau akan menyesalinya-

?(Image copy from google)

  • view 280