Membagi Waktu Antara kerja dan Keluarga

ANDI FIRMANSYAH
Karya ANDI FIRMANSYAH Kategori Motivasi
dipublikasikan 18 Maret 2016
Membagi Waktu Antara kerja dan Keluarga

Hidup adalah pilihan. Sebab itu anda harus membuat prioritas dalam hidup. Untuk itu anda harus tahu apa yang anda inginkan dalam hidup dan rencanakanlah untuk mencapainya. Dalam hidup, mungkin ada satu masa kita lebih mementingkan satu hal ketimbang hal yang lain. Misalnya, jika kita punya anak, tentu merekalah prioritas kita sampai mereka mendapatkan penghidupan yang layak kelak. Jika anda Ibu Rumah Tangga maka sudah pasti seluruh waktu anda dihabiskan untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, belum lagi antar jemput anak, kemudia kalau anak ada urursan di sekolah dan lain sebagainya. Seakan-akan anda tidak punya kehidupan pribadi lagi. Seluruh hidup anda dihabiskan untuk sebuah pengabdian, MEMBINA RUMAH TANGGA YANG SAKINAH, MAWADDAH dan WA ROHMAH. Meskipun tampaknya disela-sela kesibukan tersebut anda masih memiliki waktu luang untuk Shopping misalnya, namun tetap saja itu bagian dari tugas anda membina rumah tangga. Meskipun begitu, hendaklah tertanam di hati dan sanubari anda bahwa semua itu pahalanya besar sekali. Bagi anak anda, anda adalah orang tua terbaik yang mereka miliki. Sadarilah betapa pentingnya peran anda dalam keluarga. Jadilah orang tua yang baik dengan memberikan pendidikan yang baik agar suatu saat kelak kita memetik buah yang baik pula.

?

Seddangkan bagi orang tua yang bekerja pula, tentu tidak banyak waktu yang bisa mereka luangkan dengan anak-anak. Namun tetap keluarga adalah prioritas utama. Oleh Karen itu maka apabila ada waktu luang ?meskipun sedikit, hendaklah dihabiskan bersama orang-orang yang kita cintai yaitu keluarga. Selama anda pintar membagi waktu antara kerja dan keluarga, suatu saat itu semua pasti akan menguntungkan anda pada akhirnya. Semua itu akan membuat anda menjadi lebih pintar membagi waktu, lebih kreatif dan membuat anda lebih produktif. Keuntungan terbesar apabila kita pintar membagi waktu antara kerja da keluarga adalah pekerjaan kantor menjadi lebih efektif sementara kehidupan keluarga tetap tidak terabaikan.

?

Jika anda lebih mementingkan karir daripada keluarga sehingga anda lebih memilih menunda memiliki anak, maka prioritas utama anda haruslah karir. Untuk itu maka anda harus membicarakan ini dengan pasangan anda. Kalau memang pasangan anda setuju, maka semuanya tidak ada masalah. Hanya saja banyak pasangan yang pada awalnya setuju pasangannya menempuh karir setinggi-tingginya namun pada akhirnya keluarga juga muaranya. Jadi bukalah komunikasi selebar-lebarnya jangan sampai prioritas anda itu justru hanya membuat pasangan anda menjadi jenuh?

?

Jangan sampai kejenuhan justru membuat hubungan anda dengan pasangan menjadi retak. Nah, kalau sudah begini otomatis akan berpengaruh juga pada Target pencapaian Karir anda. Tentu anda tidak ingin ini terjadi bukan? Sekali lagi saya katakana bahwa hidup ini adalah pilihan. Kita tidak mungkin meraup semua yang kita inginkan. Salah satunya tetap harus dikorbankan. Hanya saja kita harus memilih untuk memprioritaskan yang mana dulu. Memang kita bisa menyeimbangkan semuanya. Tapi tetap ada tingkatan sebagai prioritas hal apa yang akan kita letakkan pada Level pertama. Jika anda sudah menempatkan apa dulu yang menjadi prioritas utama maka yang lain hanya menerima sisa-sisa dari waktu anda.

?

Maka pilihlah dengan bijaksana. Makin cepat anda menentukan justru makin baik. Salah memilih, itu biasa. Hanya saja kita harus belajar dari semua kesalahan itu. Kalau memang anda belum berniat untuk punya anak, mengapa anda harus cepat-cepat menikah? Apa lagi kalau ternyata anda lebih mengutamakan karir ketimbang keluarga. Maka pikirkanlah kembali untuk memulai sebuah keluarga. Namun kalau anda telah memutuskan untuk lebih mengutamakan keluarga daripada karir mungkin anda bisa belajar dari teman ataupun tetangga bagaimana suka dan dukanya membina sebuah keluarga. Kalau kbetulan mereka memiliki anak, cobalah berdiskusi bersama mereka bagaimana cara merawat anak dan lain sebagainya.

?

Lebih baik tidak melakukan apapun yang sebenarnya anda tidak berminat sama sekali . Coba simak, berapa banyak orang yang kuliah bertahun-tahun namun akhirnya gagal dalam studi karena mereka tidak menemukan apa yang mereka inginkan disana. Seyogyanya anda memilih untuk masuk Fakultas Hukum dengan tujuan akhir ingin menjadi Pengacara atau ahli hukum. Bukan karena mentang-mentang ayah dan ibu anda seorang pengacara lantas anda pun tergerak untuk menjadi Pengacara juga. Sama seperti banyaknya orang memilih Fakultas Keguruan bukan dengan maksud Pengabdian tetapi lebih karena Guru sekarang telah menjanjikan kesejahteraan dengan gaji yang tinggi.

?

Menyeimbangkan antara kerja dan menikmati hidup memang sangat sulit sekali. Apalagi kalau pekerjaan itu sama sekali tidak mendatangkan minat sehingga otomatis akan mempengaruhi kehidupan pribadi kita sendiri. Coba pikir, bagaimana mau menyeimbangkan antara kerja dan kehidupan pribadi kalau pekerjaan itu sendiri sebenarnya tidak disukainya? Ini pasti sangat sulit sekali sebab komitmen, gairah dan keinginan itu sudah hilang. Sementara kunci untuk menyeimbangkan antara kerja dan kehidupan pribadi adalah menikmatinya bukan menangisinya. Kalau anda tidak menikmati pekerjaan anda otomatis ini akan mengganggu kehidupan pribadi anda. Maka hindarilah kehidupan seperti ini.

?

Kalau memang anda tidak mungkin untuk keluar dari pekerjaan tersebut, maka lakukanlah hal-hal kecil atau aktivitas yang membuat anda bahagia sebagai kompensasi dari rasa bosan anda pada pekerjaan utama anda meskipun hal tersebut tidak menghasilkan uang.

?

Intinya adalah kita harus membuat keputusan untuk membuat Prioritas Utama meskipun mungkin banyak ditentang oleh teman, keluarga atau pasangan anda. Tetaplah teguh pada pendirian dan tujuan anda semula. Ingatlah bahwa setiap orang pasti mengharapkan orang lain melakukan atau memilih sesuai dengan apa yang mereka pilih. Mereka mungkin akan berpikir anda salah kalau sampai tidak memilih apa yang mereka pilih. Sebab itu mereka akan berusaha untuk mengarahkan anda pada pilihan yang mereka pilih hingga akhirnya anda pun menjadi bingung apakah harus bertahan dengan pendapat anda atau memilih untuk ikut mereka.

?

Untuk itulah maka kita harus membuat keputusan. Kadang kita membuat keputusan yang salah dan kitapun menyesal dikemudian hari. Namunsemua itu tidak masalah selama kita bisa introspeksi diri dan merubah rencana kita kembali. Makin cepat kita sadar akan kekeliruan kita makin bagus. Sebenarnya menyeimbangkan hidup bukanlah hal sulit kalau kita mampu menyelaraskan antara tubuh, jiwa dan pikiran kita. Kalau pikiran, jiwa dan tubuh sudah selaras, maka kita akan gampang mendeteksi apa yang tidak beres dalam hidup anda. Maka dari itu saya menyarankan anda untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Jadikan ini sebagai sarana refleksi. Tanyakan pada Tuhan dalam doa dan ibadah anda apa yang salah dalam hidup anda. Cari sumber stress, kekecewaan dan penyesalan anda. Tanyakan pada diri sendiri kapan kira-kira anda mulai merasa stress. Pikirkan kembali kapan anda membuat satu kesalahan yang membuat anda kecewa. Apakah anda menyesal dengan pekerjaan yang saat ini anda lakoni? Ataukah anda menyesal telah memiliki pasangan yang ternyata lebih banyak membuat anda kecewa ketimbang bahagia? Jika anda merasa anda memiliki kekuatan untuk mengubah semua itu, maka ubahlah.

?

SEBARKANLAH KEPADA ORANG LAIN SEBAGAI AMAL IBADAH ANDA AGAR BERMANFAAT JUGA BAGI YANG MEMBACANYA?

  • view 224