Utopia

Rifa Roazah
Karya Rifa Roazah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2016
Utopia

Temanku masih menangis deras di depanku dan aku masih saja tidak tahu mesti melakukan apa. Aku memutuskan untuk diam dan menjadi pendengar yang baik, berusaha memahami cerita yang baru saja disampaikannya. Tapi tetap saja, aku tak kunjung paham.

"Rif, aku nggak tahu definisi bahagia itu apa. Karena sesuatu yang mestinya jadi akar kebahagiaanku sedari awal sudah rapuh...." Temanku terisak, lagi.

Aku memeluknya. Tuhan, aku tak tahu hendak melakukan apa. Tangis temanku mulai reda dan aku masih memeluknya. Ada kalanya kita memang hanya bisa jadi pendengar saja tanpa berkomentar apa-apa, apalagi mencoba memberi solusi. Terutama bila kau tak pernah merasakan sebenar-benarnya kesedihan orang tersebut.

***

 

Saat ini pukul 21.00 WIB dan jalanan Jakarta masih saja ramai lalu-lalang orang dan kendaraan. Jam segini mungkin Ayah sudah sampai di rumah, setelah 'menikmati' perjalanan pulang Sentul-Bekasi. Seharusnya sekarang pun aku masih mengobrol dengan Temanku Jasmin karena sudah janji untuk menginap di rumahnya dan mengerjakan proyek divisi kami di senat kampus. Tapi di rumahnya justru aku mendengarkan curhatannya tadi yang membuatku segera ingin pulang ke rumah. 

"Rumahmu kok sepi, Min?" Aku berbasa-basi ke Jasmin setelah masuk pintu rumahnya. Sebenarnya mau kutambahkan komentar, "Dan.....berantakan banget." Memang berantakan, karena kulihat ruang tengahnya acak-acakan sampai ada buntelan sarung di atas televisi. Tapi nggak mungkin kan berkomentar begitu saat bertamu di rumah orang.

"Eh....iya Rifa, paling adek-adekku abis pada mainan." Jasmin menyembunyikan wajahnya.

Di kamarnya, Jasmin justru menjelaskan banyak hal. Ia mulai sesenggukan.

"Aku pingin banget ngerasain yang namanya tenang di rumah, Rif. Tapi aku nggak punya rumah yang jadi tempat aku untuk benar-benar pulang." Jasmin menarik napas, "Aku udah 20 tahun tapi keadaan rumah nggak pernah berubah."

"Kenapa, Jasmin?"

"Mamaku depresi berat Rif, pernah nyoba bunuh diri. Sekarang bisa mendingan karena rutin minum obat dari psikiater. Karena papaku, Rif. Papaku diam-diam nikah siri sama selingkuhannya sampai sekarang udah punya anak." Aku tercekat.

"Orangtuaku berantem terus tiap hari sampai rumah acak-acakan. Dia nggak pernah puas sama apa yang aku dan adek-adekku capai. Aku ngga bisa bebas, nikmatin hobi aja dilarang sama dia. Katanya dia itu nggak guna. Aku benci papaku, Rif...." Dari sudut mata Jasmin sudah mengalir air mata. Aku melirik ke arah gitar patah yang tersandar di ujung kamar Jasmin. Kasihan, bakatnya tak bisa berkembang. Aku memeluknya.

Malam itu, akhirnya aku memutuskan pulang setelah tugas kami untuk proyek kelar. Bukan, bukan karena tak betah di rumah Jasmin yang sedang 'berantakan'. Curhatan Jasmin membuatku ingin segera pulang, menyelesaikan satu hal.

Rumah sudah sepi saat aku sampai di gerbangnya. Terang saja, sudah pukul 22.00 WIB. Aku masuk rumah, berusaha agar tak membuat suara-suara yang bisa membangunkan orang-orang rumah. Sebelum mencapai tangga ke lantai dua, aku berhadapan dengan piano akustik berwarna hitam. Ini piano yang pernah aku minta berbulan-bulan lamanya sampai tantrum seperti anak kecil. Aku mencap orangtuaku tidak peduli perkembangan anaknya karena tak segera membelikannya. Iya, aku jahat. Meski bisa dibeli kredit, toh orangtuaku pasti masih punya banyak kebutuhan lain yang lebih penting ketimbang untuk kesenangan anaknya saja. Akhirnya piano ini dibeli kontan setelah aku mendiamkan ayah dan ibuku beberapa hari lamanya. 

"Mbak, nggak ada orangtua yang ingin dicap nggak becus membahagiakan anak-anaknya. Melihat anak-anaknya sedih itu pukulan berat buat semua orangtua." Ibu menjawab begitu saat kutanya mengapa akhirnya membeli piano langsung secara kontan.

Jasmin bahkan tak bisa menyentuh gitarnya lagi karena dipatahkan oleh papanya, padahal ia membeli gitar itu dengan uang tabungannya sendiri. Ah, ternyata selama ini aku hidup dalam bayanganku yang utopis. Aku kira semua keluarga adalah seperti keluargaku, bahkan lebih baik. Cerita Jasmin membuatku sadar bahwa ada ayah ibu yang mengabaikan anaknya sendiri. Juga, berita-berita yang menayangkan tubuh seorang anak dengan luka-luka lebam di sekujur tubuh akibat kekerasan yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri. Kemana perginya kasih sayang yang menjadi naluri ayah ibu kepada buah hatinya?

Kakiku melangkah masuk ke kamarku dan melihat adikku sedang tidur tenang. Ah, apa sih masalah kami ini? Narkoba? Miras? Tidak. Paling-paling bertengkar berebut novel. Kehadiran ayah ibu secara utuh otomatis menjaga kami dari pelarian-pelarian semu itu. 

"Ayah selalu berusaha mengantar kalian ke acara-acara penting kalian selagi Ayah bisa. Ayah nggak ingin kalian merasa nggak dipedulikan orangtua sendiri."

"Ayah nggak akan pernah selingkuh, ayah nggak ingin anak-anak perempuan Ayah disakiti oleh laki-laki manapun. Dan kalian tahu, rejeki Ayah nggak ada yang haram karena Ayah nggak ingin Allah menjadikan kalian anak yang tumbuh dengan hati jahat. Allah pun dengan mudah membalas hamba-Nya yang dzolim secara lunas, balasan Allah bisa lebih kejam dibanding apa-apa yang kita ambil dari hak orang lain." 

Waktu itu aku mendengarkan penjelasan Ayah sambil lalu. Lagipula, memangnya ada ya orangtua yang jahat sama anaknya sendiri? Memangnya ada laki-laki yang selingkuh setelah punya istri dan anak? Memangnya ada orang yang korupsi semudah itu?

Iya, aku memang utopis atau entah terlalu polos. Waktu itu, usiaku 18 dan baru masuk kuliah. Ah, Jasmin, aku tak bisa membayangkan bila menjadi kau. Tapi terima kasih atas ceritamu yang membuatku segera ingin pulang. Terang aku sedih atas apa yang ia rasakan, tapi ia juga menyadarkanku akan kehidupan keluargaku yang indah. 

Aku menutup wajahku dengan selimut. Besok aku akan meminta maaf kepada Ibu, karena telah ngambek ke Ibu sore tadi hanya karena membawa kucing tetangga ke dalam kamar. Sungguh, aku ingin sehidup sesurga dengan ayah ibuku, juga adik-adikku. 

 

Bekasi, 2 September 2016

Sumber gambar: prosperityedwell.com

  • view 155