BISIK DAUN PADA RANTING

Aura Puput
Karya Aura Puput Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2016
BISIK DAUN PADA RANTING

Aku tergantung disini, disela ranting yang menerimaku hidup dan tumbuh. Aku tidak tidak tau sampai kapan keberadaanku disini, tapi waktu akan mengurangi usiaku dan merubah warnaku, seperti proses panjang yang terus berjalan dan berhenti pada sebuah titik, dimana pertemuan telah dipasangkan dengan perpisahan. Tidak ada banyak hal yang kulakukan hingga bahagia selalu kurasakan, sebab bagi ku syukur adalah kunci terhebat untuk membuka pintu dan masuk menjumpai berbagai macam kebahagiaan. Aku tidak memiliki kelopak indah seperti bunga yang kemudian memiliki warna-warna yang menarik, sehingga menjadikannya pantas untuk disuka. Tapi aku bersyukur hidup diranting ini dan disandingkan sang pencipta dengan latar belakang langit yang tinggi, tidak semua fokus yang bisa melihat dan menggambarkan keindahan, hanya fokus yang tepatlah yang mengerti indahnya hidupku diranting yang terlihat sederhana ini. "Terimakasih ranting yang setia menemaniku dan memberi tempat untuk ku tumbuh hidup dalam waktu yang entah sampai kapan. Kau dan aku adalah kita, sepasang keindahan yang unik, sebab hanya mereka yang paling mengertilah yang akan dapat melihat keindahan kita lewat fokusnya. Teruntukmu ranting, tak perlu kau berkecil hati, selalu mengungkit dengan berkata maaf sesering mungkin padaku, karna dengan warnamu yang selalu terlihat sama disetiap harimu menemaniku, sebab bagi ku kesetiaan mu adalah bukti keindahanmu. Tugas kita adalah bersyukur dan terus berusaha menjaga keindahan yang telah dipercayakan kepada kita, teruslah percaya jika kita mau bersyukur, maka pahit sekalipun adalah awal yang manis untuk kita menemukan manisnya hidup seperti yang kita mau. Syukur akan mendorong kita bertemu dengan kejutan yang mebuat kita yakin, bahwa tidak ada yang tidak mungkin, jika Ia telah mengkehendaki sebuah kesempurnaan itu akan terjadi untuk kita, maka terjadilah. Berdo'alah, berusahalah dan pasrahkan semua dalam syukur dan ikhlas pada Nya. Wahai ranting, jika nanti angin dan waktu itu datang dan membuat ku harus terjatuh dan meninggalkanmu, bukan berarti aku tidak setia padamu, hanya saja inilah waktu untukku pergi dengan takdir yang telah tertulis. Kita tidak tau siapa yang akan terlebih dahulu meninggalkan atau ditinggalkan, tapi hidup juga adalah sebuah penerimaan yang tidak boleh kita lupakan. Aku tidak tau apakah waktu dan angin itu membuat aku, kamu atau kitalah yang terjatuh. Tapi ada hal yang harus kau tau, bahwa harapan kita tidak boleh jatuh dan gugur bersama kita, biarkan ia tetap tumbuh dan bertahan diatas sana, sebab kepergian yang baik akan menumbuhkan harapan baru yang baik. Kepergian ku, kau atau kita adalah kepergian yang dijatuhkan oleh angin dan waktu tanpa alasan, sebab semua telah diatur sedemikan rupa oleh sang pencipta, penerimaan yang harus kita syukuri adalah meski terjatuh dan perlahan menghilang dan tidak terlihat lagi pada tanah baru yang kita pijaki, maka kita telah membuat harapan baru disana, menyuburkan tanah itu dan membiarkan kehidupan baru untuk bernafas, tumbuh dan hidup disana".

"Lalu bagaimana jika kepergian itu meninggalkan kau atau aku?" Ranting yang lama terdiam bertanya pada daun.

"Menangislah, cuci bersih semua kesedihan itu dengan air mata dan ingatlah selalu bisik ku hari ini pada mu, kemudian pandanglah kehidupan baru yang telah tumbuh disana, ditempat angin yang membawaku atau kau yang jatuh dan melebur bersama tanah disana, setelah itu ku harap selekungan senyuman ikhlas akan muncul setelah memandangnya."

"Kau dan aku adalah sepasang beda yang telah bersatu menjadi kita. Kau dan aku adalah sepasang beda yang dikuatkan dalam kita yang tidak pernah benar-benar pergi, sekalipun mata kita tak bisa lagi saling bertatap. Kenapa tidak?Pandanglah kesana, tempat dimana kehidupan baru itu tumbuh, kemudian rasakan dihati bahwa kepergian baik akan tetap meninggalkan sesuatu yang baik dan kesetiaan adalah bukti bahwa kepergian sekalipun tidak akan pernah membunuh cinta yang baik, tapi ia selalu tumbuh, selalu hidup dan selalu tersiram oleh do'a-do'a yang baik.

Dengarlah bisik ku wahai ranting".

  • view 379