ATA KIWAN

aulia sari
Karya aulia sari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
ATA KIWAN

ATA KIWAN(Orang Pedalaman)

Diangkat Dari Kisah Nyata

diceritakan kembali: Dady Sary Awalya

 

Kisah ini diangkat dari kisah nyata di tanah Adonara-Flores Timur beberapa abad yang lalu. Dimana kisah cinta antara seorang anak muda dari desa Kiwan On’a dengan seorang gadis dari sebuah desa pesisir Samasoge yang kemudian menikah dan beranak pinak.Sebuah kisah cinta anak cucu Adam yang berakhir pilu lantaran adu domba bangsa penjajah.

 

MATAHARI telah hampIr masuk ke dalam peraduannya. Dengan sangat perlahan ia berangsur turun, turun ke dasar lautan yang tidak kelihatan ranah tanah tepinya. Cahaya jingga telah mulai terbentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak menambah cantik wajah lautan yang tenang tak berombak. Disana-sini terlihat perahu- perahu nelayan setempat telah siap menjelajahi lautan untuk mencari rezeki. Diwaktu senja desa Samasoge terlihat hidup. Kepanasan dan kepayahan orang bekerja siang, seolah-olah terobati sore itu dengan menyaksikan matahari yang hendak terbenam.

Desa Samasoge, sebuah desa kecil di pulau Adonara terletak di bibir pantai Larantuka Ibukota Flores Timur, hanya dipisahkan selat Gonzalo tiga ratus meter yang terkenal dengan arusnya yang ganas. Di sebelah timur berbatasan dengan pulau Lembata yang terkenal akan tradisi turun temurun berburu ikan paus secara tradisional menggunakan tombak di kampung Lamalera. Di sebelah selatan, berbatasan dengan pulau Solor yang masih berdiri tegak sebuah benteng peninggalan bangsa Portugis yang menjadi saksi perlawanan rakyat Solor ketika itu. Di sebelah utara, berhadapan langsung dengan laut flores yang kaya akan biota lautnya.

Suku asli yang mendiami Adonara dikenal dengan suku Lamaholot. Pulau itu dijuluki The Killer Island (Pulau Pembunuh) dengan masyarakatnya yang dilukiskan sangat tempramentaloleh beberapa misionaris Belanda dan Polandia, sehingga jalan yang ditempuh untuk mencari kebenaran adalah melalui pertumpahan darah. Mulai dari hal-hal kecil terutama untuk membuktikan kepemilikan tanah.

Di tepi pantai desa Samasoge, berdiri sebuah rumah panggung, yang salah satu jendelanya menghadap ke laut. Disanalah duduk Demon seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun menghadapkan mukanya ke tepi pantai. Anak dari seorang bangsawan terpandang di kampungnya, Kiwang On’a. Sebuah perkampungan dari pedalaman Adonara, yang hendak ke Larantuka bersama ayahnya namun terpaksa memutuskan untuk menginap di salah satu rumah warga desa Samasoge karena hari hampir malam. Begitu asyik ia smenatap paras cantik seorang anak gadis nelayan setempat yang juga ikut mengantarkan ayahnya hendak mencari nafkah diseberang lautan. Sabu Botun namanya, gadis desa Samasoge berparas elok, tinggi semampai, berkulit sawo matang dan matanya penuh dengan rahasia kesucian.

“Ah, alangkah beruntungnya jika dapat berkenalan dengan gadis itu, berkenalan sajapun rasanya cukuplah,” gumam Demon.

“Apa kamu menyukainya, nak?” Tanya ayahnya sambil menepuk punggung Demon yang memang sudah agak lama berdiri di belakang Demon tanpa ia sadari.

Demon tersentak kaget. Pertanyaan yang membuyarkan konsentrasinya sekaligus membuatnya tersipu malu karena sang ayah telah mengetahui rasa sukanya kepada gadis nelayan itu disaat usianya yang terbilang masih muda.

“Iya Ama,” jawab Demon singkat, tak dapat menghindari pertanyaan ayahnya sambil menunduk tersipu malu tak kuasa memandang wajah ayahnya.

“Hmmm...”gumam ayahnya sejenak sambil berpikir.

“Baiklah, mungkin kita batalkan saja perjalanan kita ke Larantuka. Akan Ama coba secepatnya tuk temui Ayahnya. Semoga saja gadis itu belum bersuami”. Bisik ayahnya seraya tersenyum memandang Demon yang dari tadi menundukan wajahnya karena malu.

“Tapi Ama…!!!”sambil menengadahkan wajah ke ayahnya, Demon tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang terhalang oleh persaaan campur aduk antara kaget akan rencana ayahnya yang secepat itu serta perasaan bahagia membayangkan bersanding dengan gadis nelayan yang manis itu.

“Tenanglah nak, akan Ama urus semuanya. Apalagi untuk anak lelaki semata wayang. Lagian Ama pun sudah tak sabar menimang cucu,” sambung ayahnya.

**

Dilihatnya sekali lagi alam yang sekelilingnya, para nelayan yang baru turun melaut sedang merapatkan perahunya ke bibir pantai desa Samasoge. Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Demon. Lelaki muda, tegap dan berotot seakan-akan menghembuskan sebuah harapan ipagi itu. Orang-orang yang ditemuinya ditengah jalan menyapanya penuh keramahan sehingga membuatnya tidak lagi merasa sunyi di desa yang baru pertama kali ia singgahi. Sesekali ia membasahi kakinya yang telanjang dengan air laut, diambilnya kerikil dipantai itu kemudian dilemparnya ke laut menciptakan riakan-riakan kecil yang kemudian membesar. Demon tampak semangat pagi itu karena pagi itu ayahnya akan segera menemui ayah dari sang gadis nelayan yang dilihatnya beberapa hari yang lalu.

Pukul 10.00 pagi, setelah sarapan bersama pemilik rumah tempat ia menginap, Demon pun diajak ayahnya ke rumah sang nelayan calon besan.

“Selamat pagi Ama” sapa ayah Demon ketika mereka telah sampai di rumah sang nelayan yang sedang asik bercerita dengan istri dan anak-anaknya termasuk anak gadis yang dilihat Demon sebelumya.

“Selamat pagi juga Ama” sambut sang nelayan tersenyum ramah sambil mempersilahkan Demon dan ayahnya duduk di kursi rotan yang sudah tampak sedikit tua. Didinding rumah itu, terpajang sebuah ekor ikan pari yang mungkin sebagai simbol kehebatan nelayan pada masyarakat setempat. Di lemari ruang tamu juga terdapat cangkang kerang yang cukup besar menambah kesan khas rumah nelayan.

Setelah memperkenalkan diri dan berbincang-bincang cukup lama, akhirnya ayah Demon segera menyampaikan niatnya datang ke rumah sang nelayan pagi itu.

“Ama, maaf jika ini terlalu cepat kami sampaikan. Tapi sudah menjadi buah bibir masyarakat di desa ini tentang kecantikan serta budi pekerti yang luhur Sabu Botun. Ini tentu menjadi impian setiap pemuda untuk mempersuntingnya tak terkecuali anakku, Demon.” Perlahan namun pasti setiap kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya Demon.

“Inilah yang menyampaikan langkah kami kemari. Sekiranya dapat Ama kabulkan keinginan kami menjadikan Sabu Botun menantu dan untuk menggenapi mimpi-mimpinya Demon. Semoga niat baik saya ini dapat diterima.”

Dengan tarikan nafas yang panjang, sang nelayan tampak mempertimbangkan lamaran ayah Demon. Kepulan asap rokok yang tebal, telah cukup menjadi lukisan dari SSSpada kata-kata hati sang nelayan yang terlihat agak sedikit berat melepas anak gadisnya secepat itu.

“Sabu..kemari nak” Dipanggillah anaknyaSabu Botun.Gadis dariseorang nelayan desa Samasoge yang telah membuat Demon jatuh hati sejak pandangan pertama.

“Ia Ama” dengan segera Sabu Botun menghampiri ayahnya di ruang tamu yang sedari tadi berbincang dengan Demon dan ayahnya.

“Nak..ini nak Demon dan Ayahandanya. Beliau kemari berniat melamarmu. Keputusan ada padamu nak”. Jelas sang nelayan kepada anak gadis semata wayangnya. Sabu Botun tak menjawab, hanya tertunduk tampak tersipu malu. Jari-jarinnya memainkan rambut hitamnya yang terurai panjang.

Kemudian Demon dipersilahkan berkenalan langsung dengan Sabu Botun. Untuk pertama kalinya mereka saling bertatapan, berkenalan satu sama lain. Mereka kemudian pamit duduk di bawah pohon depan halaman rumah Sabu Botun yang cukup rindang.Sang nelayan kemudian melanjutkan percakapannya dengan ayah Demon sambil sesekali menatap Demon dan Sabu yang sedang asik bercengkrama.

“Ama..tampak keduanya saling menyukai, celetuk ayah Demon sambil tersenyum ke sang nelayan yang sedang santai menikmati setiap kepulan asap rokok dari bibirnya. Sang nelayan hanya mengangguk seraya tersenyum ramah mendengar apa yang barusan diucapkan ayah Demon.

“Baiklah Ama”, lamaran mu ini sudah saya dengar, tapi berilah saya waktu untuk memutuskan lamaran ini. Datanglah lagi nanti, mudah-mudahan ada jawaban yang dapat memenuhi harapan Ama dan juga Demon. Ucap sang nelayan memecah keheningan di ruang itu.

“Baiklah Ama, Jika demikian kami pun mohon pamit. Kami akan datang kembali sesuai kesepakatan tadi,” jawab ayah Demon menjabat tangan seraya merangkul pundak sang nelayan.

**

Hari itu tiba, dimana Demon mengenakan pakian adat Adonara untuk bersiap-siap menjalani prosesi pernikahannya setelah lamarannya ke Sabu Botun putri sang nelayan itu diterima dengan baik beberapa hari yang lalu. Sirnalah segala kegundahannya dalam penantian jawaban atas lamaran beberapa bulan yang lalu. Senyumnya merekah, ada rasa tidak percaya membayangkan impiannya yang kunjung menjadi kenyataan beberapa saat kedepan.

Dikenakan sarung dan selendang tenun adat dengan motif khas Adonara yang bewarna utamamerah maron, kuning, cokelat tua yang serasi dengan kulitnya kuning langsat. Tampak gagah dua lembar kain itu membaluti tubuhnya yang tinggi tegap. Tapi hari bahagia untuknya itu terasa ada yang kurang. Kemudian ia ke kamar Ibundanya, dikeluarkan sebuah sarung tenun dari dalam lemari. Dibelainya sarung hasil tenun Ibunya yang pergi menghadap sang pencipta ketika ia berusia lima tahun. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, terdetik dihatinya harapan akan kehadiran Ibunya.

                Tiga buah gading disarungkan dengan kain tenun sebagai mahar awal dari total sepuluh buah gading, tujuh ekor kambing, serta beberapa helai sarung tenun pun sudah disiapkan rapi oleh rombongan. Ringkingan kuda yang telah siap mengantarkan rombongan seolah tak sabar untuk segera berangkat ke desa samasoge.

Cukup jauh perjalanan dari desa Kiwang On’a ke Samasoge. Hampir dua jam perjalanan, sampailah Demon beserta rombongan di desa tujuan. Di sana keluarga Sabu Botun telah mempersiapkan acara penyambutan dengan tarian adat lamaholot. Setelah rombongan diijinkan masuk ke rumah sang nelayan, prosesi ijab qabul pun segera dilaksanakan. Pesta pernikahan ke dua mempelai berlangsung meriah. Keluarga besar dari ke dua mempelai pun tampak sangat akrab menandakan saling menerima dan menghargai pernikahan itu. Sebab pernikahan itu bukan sekedar pernikahan antara Demon dan Sabu Botun, tetapi juga merupakan momentum pernikahan lintas desa dari masing-masing kerajaan.

**

­10 Tahunberlalu, Demon dan Sabu Botun dikaruniai 2 orang putera yang sedang lucu-lucunya. Sabu Botun sangat telaten dalam mengurus rumah tangga sedangkan Demon menjadi seorang ayah yang penuh tanggung jawab dan penuh kasih sayang ke keluarga kecilnya itu.

Namun kebahagiaan itu sedikit terusik oleh berita pertikaian batas tanah antara Desa Terong dan Desa Kiwang On’a. Desa Terong merupakan pusat kerajaan Terong, salah satu dari tiga kerajaan yang ada di pulau Adonaradan tercatat sudah ada sejak zaman Majapahit. Wilayah Kerajaan Terong sendiri meliputi sepuluh desa yang dikenal dengan Koli Lewo Pulo (Koli Sepuluh Kampung).

Sabu Botun yang mendengar berita pertikaian itu, mulai khawatir dan sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi nantinya. Pertikaian ini tentu akan berakhir dengan perang jika tidak ada kesepakatan antara ke dua belah pihak. Sedangkan desa Samasoge memang bukan termasuk dalam persekutuan Koli Lewo Pulo tapi merupakan salah satu desa kaka adik atau dalam bahasa Lamaholotnyadisebut “Nayu Baya”, sehingga kemungkinan besar akan terlibat jika perang terjadi.

Berita itu pun sampai ke telinga Mamun Lushi. Seorang panglima perang dari desa Samasoge yang juga masih merupakan paman dari Sabu Botun. Mamun Lushi dengan segera berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkahkan kakinya ke rumah adat sukunya untuk bertemu orang tua suku yang menempati rumah adat tersebut. Tampak beberapa tokoh adat dari desa lainnya termasuk utusan dari desa Terong juga sudah berkumpul membahas informasi yang di dengar barusan. Sebab sudah menjadi tradisi adat lamaholot yang bilamana jika akan terjadi perang, diadakan pertemuanuntuk membahas persiapan segala sesuatunya untuk berperang.

Didalam tatanan adat Lamaholot, setiap desa yang tergabung dalam sebuah kerajaan ataupun tidak dalam kerjaan yang sama tapi merupakan desa Nayu Baya,maka akan mengirimkan secara suka rela pemuda bahkan orang tua lanjut usia yang ingin ikut melindungi desa yang masih dalam tatananNayu Baya dengan desa mereka.Ada semacam keterikatan bathin yang erat dan rasa saling memiliki yang sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang klanLamaholot.

**

Nun jauh dari desa Terong, pagi itu Sabu Botun menyiapkan perlengkapan perang suaminya. Berderai air matanya, rasa khawatir akan nasib suami yang amat dicintainya itu di medan perang nanti. Sambil sesekali tangannya menyeka air matanya yang terus jatuh membasahi pipinya. Tak ada sakalipun kata yang keluar dari bibirnya. Sudah dapat Ia bayangkan bagaimana situasi di medan perang nanti. Terlebih lagi ia tau bahwa yang akan dihadapi suaminya nanti adalah desa Terong, sebuah kerajaan besar yang juga merupakan Nayu Baya dari desa Samasoge. Tentu akan ada keluarganya yang ikut berperang melawan Kiwang On’a.

Tak kuasa ia menahan isak tangisnya, kemudian ia berjalan ke arah suaminya. Didekap tubuh suaminya, bersimpuh di depan suaminya seakan memohon agar Demon tidak ikut dalam peperangan itu.

”Bangkitlah Ina”, ucap Demon perlahan seraya mengangkat pundak istrinya itu dengan lembut.

“Air matamu hanya akan melemahkan niat ku tuk melangkah. Jagalah ke dua putera kita dan doakan untuk keselamatanku nanti” ucap Demon perlahan tapi mantap. Sebagai lelaki asli lamaholot, pantang untuk mundur membela tanah kelahiran ketika genderan perang sudah ditabuh.

Mendengar ucapan itu, Sabu Botun makin terisak. Akan bicara tapi lidahnya terasa kelu.Alangkah berat rasanya melepas kepergian suaminya yang tidak pernah tahu bagaimana nasibnya nanti. Ia hanya bisa pasrah, karena biar bagaimanapun ia tidak boleh melarang suaminya pergi. Karna inipun merupakan cara untuk mempertahankan harkat dan martabat kampung halaman suaminya.

**

Pukul 06.30 waktu setempat, jalan utama desa Terong lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada aktivitas dagang ataupun aktivitas nelayan yang baru turun dari perahunya masing-masing.Parang dan tombak yang tidak tampak sedikitpun karatannya serta busur panah terlihat disana-sini. Wajah-wajah penduduk desa Terong yang ramah dihari-hari sebelumnya sirna berganti ketegangan menyambut pasukan lawan. Hari itu merupakan hari yang telah disepakati untuk berperang. Di atas fondasi bahu jalan, dibangun sebuah gubuk kecil yang memang sengaja dibangun untuk pemanah. Di sanalah berdiri Mamun Lushi, sang panglima perang dari desa Samasoge.

Tak berapa lama, tampak dari kejauhan bayangan dan suara sekelompok orang yang juga sama memegang peralatan perangyang makin mendekati tempat pasukan Terong bersiaga.Benar saja, sekelompok orang itu merupakan pasukan Kiwang On’a yang berjumlah sedikitnya 500 orang.Suasana pun makin terasa mencekam. Pasukan dari desa Terong yang sebagian duduk, kemudian berdiri mengambil tempatnya masing-masing bersiap-siap untuk segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Sekitar 100m dari tempat siaga pasukan Terong, Kiwang On’a pun berhenti. Kemudian melangkah maju seorang bapak-bapak yang merupakan panglima dari Kiwang On’a. sambil menari hedung mengacung-ngacungkan parangnya, panglima ini pun semakin mendekati pasukan Terong. Tapi pasukan Terong tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya masing-masing dan tidak menyerang panglima perang lawan yang sedang melakukan tarian hedung. Karena dalam peperangan tradisional lamaholot, mereka tetap memegang teguh aturan-aturan yang tidak tertulis namun mengikat yakni tidak melakukan serangan terhadap orang yang melakukan hedung sampai ada perundingan siapa yang akan duluan menyerang.

Tak mau kalah, majulah salah seorang bapak-bapak dari desa Terong yang juga melakukan tarian hedung sebagai bentuk tanding hedung lawan. Mereka bertemu ditengah-tengah kemudian berhenti. Pasukan yang ada dibelakang ke dua panglima ini pun semakin tegang melihat ke dua panglima sedang bernegosiasi.

Negosiasi pun tidak berjalan mulus, parang dan tombak pun diangkatmasing-masing panglima sebagai simbol memulai peperangan sambil menari kembali ke barisan.

“Silahkan kalian duluan..!!!” tiba-tiba suara keras dari pasukan Terong memberikan isyarat kepada pasukan Kiwang On’a agar duluan memulai penyerangan.

“Tidak..!!! kalian lah yang duluan..!!!” sahutan dari pasukan Kiwang On’a membalas komando sebelumnya.

Mendengar sahutan itu, Mamun Lushi yang bersiaga dari tadi kemudian menarik busur dan panahnya. Seketika dilepasnya anak panah itu dari jepitan jemarinya. Panah itu melesat cepat tak bersuara tepat mengenai dada sebelah kiri salah seorang dari pasukan Kiwang On’a. Tubuh yang terkena panah itu pun seketika tersungkur ke tanah. Darah mengalir bak anak sungai, wajahnya dan tangannya pucat seketika. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Dialah Demon, suami Sabu Botun yang berdiri di baris ke dua. Pasukan Kiwang On’a pun panik melihat kejadian itu.

Ditengah kepanikan pasukan Kiwan On’a, Mamun Lushi tampil sambil memekikan namanya dengan lantang.

Mamun Lushi Wotan Mapan..!!!” pekikan itu terdengar jelas menembus dinding-dinding rumah warga yang mengintip jalannya perang lewat celah-celah jendela rumahnya yang berada disekitar lokasi perang.

Mendengar nama khas itu, beberapa orang dari pasukan Kiwang On’a yang tau asal usul nama itu kemudian berteriak memberikan komando agar mundur sambil mengangkat Demon yang tersungkur tadi.

“Mundur..!!! Mundur..!!! Opu Lake Noon, Opu Lake Noon”yang artinya mundur, dipasukan lawan ada opu lake. Kedudukan opu lake dalam adat Lamaholot memang disakhralkan. Sehingga ada kepercayaan bahwa ketika dalam sebuah peperangan itu ada opu lakedari pihak lawan, maka sulit untuk menang bahkan cenderung mustahil.

Demon pun dilarikan ke desanya Kiwang On’a, tapi panah yang tepat mengenai jantungnya membuat nyawanya tidak tertolong lagi. Mayatnya disemayamkan di rumah adat setelah dilakukan upacara adat untuk penyambutan pasukan yang baru pulang dari medan tempur.

Isak tangis keluarga pun tak terbendung, Sabu Botun menangis sejadi-jadinya memeluk jenazah Demon yang sudah terbujur kaku. Kedua puteranya dirangkul bersama mayat suaminya. Suami yang amat dicintainya itu kini pergi untuk selama-lamanya. Rasa kehilangan yang mendalam membuatnya tak sadarkan diri beberapa saat. Oleh keluarga, tubuh sabu Botun pun digotong masuk ke kamar. Ayah Demon menangis sambil bersimpuh mencium kening anak semata wayangnya yang sudah tak bernyawa itu.

Begitulah kisah di tanah Adonara yang ramah penduduknya dan penuh etika namun tak kenal ampun saling menghabisi apabila sudah menyangkut harkat dan mertabat. Ketika parang dan tombak sudah diacung-acungkan, tak peduli siapapun lawan di medan perang, ipar bahkan saudara kandung sekalipun.

**

Beberapa bulan berlalu akhirnya diadakannyalah pertemuan antara desa Terong dan Kiwang On’a untuk perundingan perdamaian. Acara adat dengan menyembelih beberapa ekor hewan ternak dilakukan sebagai tanda perdamaian.

*The End*

Kiwang : Pegunungan

On’a : Pedalaman

Ama : Bapak

Nayu Baya : Kakak Adik

Opu Lake : Paman ( sebutan untuk pria dan garis keturunannya yang anak gadisnya dinikahi oleh Opu).

Opu : Ipar (sebutan untuk pria dan garis keturunannya yang menikahi anak gadis Opu Lake)

Hedung : Tarian perang Adonara

  • view 81