Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   20:25 WIB
NASKAH DRAMA ATA KIWAN

ATA KIWAN(Orang Pedalaman)

Diangkat Dari Kisah Nyata

Karya: Dadisary Awalya

 

Kisah ini diangkat dari kisah nyata di tanah Adonara-Flores Timur beberapa abad yang lalu. Dimana kisah cinta antara seorang anak muda dari desa Kiwan On’a dengan seorang gadis dari sebuah desa pesisir Samasoge yang kemudian menikah dan beranak pinak.Sebuah kisah cinta anak cucu Adam yang berakhir pilu lantaran adu domba bangsa penjajah.

 

                           (Di sana duduk Demon seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun menghadapkan mukanya ke tepi pantai. Anak dari seorang bangsawan terpandang di kampungnya, Kiwang On’a. Sebuah perkampungan dari pedalaman Adonara, yang hendak ke Larantuka bersama ayahnya namun terpaksa memutuskan untuk menginap di salah satu rumah warga desa Samasoge karena hari hampir malam. Begitu asyik ia menatap paras cantik seorang anak gadis nelayan setempat yang juga ikut mengantarkan ayahnya hendak mencari nafkah di seberang lautan. Sabu Botun namanya, gadis desa Samasoge berparas elok, tinggi semampai, berkulit sawo matang dan matanya penuh dengan rahasia kesucian.)

Demon           : Ah, alangkah beruntungnya jika dapat berkenalan dengan gadis itu, berkenalan saja pun  rasanya cukuplah.

Ayah Demon : Apa kamu menyukainya, nak?

                           (tanya ayahnya sambil menepuk punggung Demon yang memang sudah agak lama berdiri di belakang Demon tanpa ia sadari. Demon tersentak kaget. Pertanyaan yang membuyarkan konsentrasinya sekaligus membuatnya tersipu malu karena sang ayah telah mengetahui rasa sukanya kepada gadis nelayan itu disaat usianya yang terbilang masih muda.)

Demon           : Iya Ama.

                           (jawab Demon singkat, tak dapat menghindari pertanyaan ayahnya sambil menunduk     tersipu malu tak kuasa memandang wajah ayahnya.)

Ayah Demon : Hmmm...

                           (gumam ayahnya sejenak sambil berpikir)

Ayah Demon : Baiklah, mungkin kita batalkan saja perjalanan kita ke Larantuka. Akan Ama coba secepatnya tuk temui Ayahnya. Semoga saja gadis itu belum bersuami.

                           (Bisik ayahnya seraya tersenyum memandang Demon yang dari tadi menundukan wajahnya karena malu)

Demon           : Tapi Ama.

                         (sambil menengadahkan wajah ke ayahnya, Demon tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang terhalang oleh perasaan campur aduk antara kaget akan rencana ayahnya yang secepat itu)

Ayah Demon : Tenanglah nak, akan Ama urus semuanya. Apalagi untuk anak lelaki semata wayang. Lagian Ama pun sudah tak sabar menimang cucu

(Pukul 10.00 pagi, setelah sarapan bersama pemilik rumah tempat ia menginap, Demon pun diajak ayahnya ke rumah sang nelayan calon besan)

Ayah Demon : Selamat pagi Ama.

                          (sapa ayah Demon ketika mereka telah sampai di rumash sang nelayan yang sedang asik bercerita dengan istri dan anak-anaknya termasuk anak gadis yang dilihat Demon sebelumya)

Ayah Sabu     : Selamat pagi juga Ama.

Ayah Demon : Ama, maaf jika ini terlalu cepat kami sampaikan. Tapi sudah menjadi buah bibir masyarakat di desa ini tentang kecantikan serta budi pekerti yang luhur Sabu Botun. Ini tentu menjadi impian setiap pemuda untuk mempersuntingnya tak terkecuali anakku, Demon.

                        

Ayah Demon : Inilah yang menyampaikan langkah kami kemari. Sekiranya dapat Ama kabulkan keinginan kami menjadikan Sabu Botun menantu dan untuk menggenapi mimpi-mimpinya Demon. Semoga niat baik saya ini dapat diterima. (menarik napas)

Ayah Sabu     : Sabu...kemari nak!(memanggil)

Sabu              : Iya Ama.

                           (dengan segera Sabu Botun menghampiri ayahnya di ruang tamu yang sedari tadi berbincang dengan Demon dan ayahnya)

Ayah Sabu     : Nak...sini nak, Demon dan Ayahandanya. Beliau kemari berniat melamarmu. Keputusan ada padamu nak.

                           (Jelas sang nelayan kepada anak gadis semata wayangnya. Sabu Botun tak menjawab, hanya tertunduk tampak tersipu malu. Jari-jarinnya memainkan rambut hitamnya yang terurai panjang. Kemudian Demon dipersilahkan berkenalan langsung dengan Sabu Botun. Untuk pertama kalinya mereka saling bertatapan, berkenalan satu sama lain. Mereka kemudian pamit duduk di bawah pohon depan halaman rumah Sabu Botun yang cukup rindang. Sang nelayan kemudian melanjutkan percakapannya dengan ayah Demon sambil sesekali menatap Demon dan Sabu yang sedang asik bercengkrama.)

Ayah Demon : Ama...tampak keduanya saling menyukai.

Ayah Sabu     : Baiklah Ama, lamaran mu ini sudah saya dengar, tapi berilah saya waktu untuk memutuskan lamaran ini. Datanglah lagi nanti, mudah-mudahan ada jawaban yang dapat memenuhi harapan Ama dan juga Demon.

Ayah Demon : Baiklah Ama, Jika demikian kami pun mohon pamit. Kami akan datang kembali sesuai kesepakatan tadi.

                           (berjabatangan)

 

                           (Hari itu tiba, dimana Demon mengenakan pakian adat Adonara untuk bersiap-siap menjalani prosesi pernikahannya setelah lamarannya ke Sabu Botun putri sang nelayan itu diterima dengan baik beberapa hari yang lalu. Merekapun dikaruniai dua orang putra. sbeberapa tahun berlalu peran antar dua suka akan terjadi Sabu Botun yang mendengar berita pertikaian itu, mulai khawatir dan sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi nantinya. kemudian ia berjalan ke arah suaminya. Didekap tubuh suaminya, bersimpuh di depan suaminya seakan memohon agar Demon tidak ikut dalam peperangan itu.)

Demon         : Bangkitlah Ina!

                           (ucap Demon perlahan seraya mengangkat pundak istrinya itu dengan lembut)

Demon         :  Air matamu hanya akan melemahkan niat ku tuk melangkah. Jagalah ke dua putera kita dan doakan untuk keselamatanku nanti.

                           (Mendengar ucapan itu, Sabu Botun makin terisak. Akan bicara tapi lidahnya terasa kelu. Alangkah berat rasanya melepas kepergian suaminya yang tidak pernah tahu bagaimana nasibnya nanti. Ia hanya bisa pasrah, karena biar bagaimanapun ia tidak boleh melarang suaminya pergi. Karna inipun merupakan cara untuk mempertahankan harkat dan martabat kampung halaman suaminya.)

 

Karya : aulia sari