NASKAH DRAMA LOKE NGGERANG

NASKAH DRAMA LOKE NGGERANG

aulia sari
Karya aulia sari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
NASKAH DRAMA LOKE NGGERANG

 

EMILIA MARGI ASA

c.j28

 

NASKAH DRAMA

LOKE NGGERANG

 

Adegan 1

 

Narator: Cinta tumbuh dan kembang dari rasa yang hidup dalam hati, cinta tidak dapat di paksa atau memaksa, karena sejatinya dia menyatu.

Kisah seorang gadis dengan paras yang anggun. Kecantikan gadis ini tersebar di seluruh kalangan masyarakat dan di beberapa kerajaan ternama di Kabupaten Manggarai. Gadis tersebut bernama Nggerang. Dinamakan Nggerang karena kulitnya yang bersinar serta rambutnya yang pirang. Karena memiliki fisik yang sempurna Nggerang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai anak yang dihasilkan dari perkawinan silang yang nyata antara manusia dan jin.

 

Warga : Hei Awang, tunggu!!! (panggil seorang warga dengan berlari kecil menghampiri Awang) kamu sudah punya istri kan? Tapi mengapa istrimu itu tak pernah keluar rumah??

Awang:           Dia sibuk menenun, juga dia menghabiskan banyak pekerjaan di rumah,

( sambil memikul cangkul Awang terus berjalan menuju kebun sedikit mengacuhkan pertanyyan warga )

Warga 1: setiap hari istrinya sibuk hingga tak pernah keluar rumah, ahh benarkah??

Warga 2: ia, itu tidak mungkin, jangan sampai istrinya bukan manusia? sudah hampir dua bulan mereka bersama tapi wajahnya tak pernah nampak. Warga kampung kita sangat penasaran ingin melihat istrinya.

Warga 3: betul, Acara adat penerimaan wanita itu Cumae Ema Alo dan Awang sendiri.

Jika bertanya tentang istri Awang yang bernama Hendang itu, Ema Alo enggan berbicara banyak, dia hanya mengatakan bahwa wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik. Jangan-jangan Hendang itu siluman Jin, atau mungkin dia siluman binatang??

Warga: iya ya,,,

 

 

Adegan 2

 

Menggambarkan samping rumah yang ditumbuhi rumput ilalang dan semak yang tinggi, tampak seorang pemuda sedang bersembunyi, langkahnya mengendap-endap untuk mengintip ke dalam rumah, satu jam lamanya dia menunggu, tapi tak sedikitpun tanda-tanda yang muncul dari dalam rumah.

 

Pemuda: ahhhh,, percuma saja aku menunggu berjam-jam, sepertinya usahaku sia-sia wanita itu tak mungkin keluar ( sambil berbalik meninggalkan tempat tersebut).

 

(ketika si pemuda hendak berjalan untuk pulang, tiba-tiba terdengar suara bayi dari dalam rumah disusul senandung merdu seorang wanita meninabobokan bayinya, suara itu terdengar sangat lembut lalu pemuda itu pun kembali dan lagi ia mengintip. Sungguh betapa terkejutnya dia melihat wajah cantik itu. Dengan saksama pemuda itu menatap wanita misterius yang menjadi topic pembicaraan di kampung itu)

 

Pemuda : (mengucek matanya lalu berbicara kepada penonton) Aku tidak percaya kalau seorang Awang memiliki istri secantik ini, sungguh sulit dipercaya. Tubuhnya seperti penari India, rambutnya panjang berkilau. Wajahnya seperti bidadari. Senandungnya pun sungguh menyayat hati, Bulu kudukku merinding. ( mondar-mandir seolah-olah memikirkan sesuatu)Tapi aneh, mengapa wanita secantik dia tak ingin keluar rumah? Ahh wanita misterius, keluarlah pastikan semua orang akan terpesona pada kecantikanmu. Awang sungguh beruntungnya dirimu. Kelak saya akan menjodohkan putraku dengan anakmu.

 

 

(selesai bicara demikian, tiba-tiba si pemuda mendengar derit pintu, lalu wanita itu keluar bersama bayinya menuju tempat pemandian, si pemuda sangat terkejut dan terus mengikuti wanita itu dengan langkah penuh hati-hati. Tiba-tiba si pemuda dikagetkan oleh sepasang suami istri yg baru pulang dari kebun )

Suami : Nana

Pemuda : (terkejut dan membalikan badan) Iyaa Amang..

istri: sedang apa kau di sini, ini tempat pemandian untuk para wanita kampung kita?

Pemuda: Maaf Amang inang,, tapi tolong jangan katakana ini dengan orang lain nanti jika raja mendengarnya, saya pasti dihukum.

Suami: baiklah (sambil mengangguk)

Pemuda: Amang apa yang telah membuat warga penasaran selama ini sudah terjawab Amang, ternyat betul yang dikatakan Ema Alo, Hendang istri Awang itu sangaaaaat cantik dia sepertinya bukan orang kita, dia seperti bidadari Amang. Tiga jam lamanya saya mengintip dan menunggunya keluar dari rumahnya, ternyata dia akan keluar menuju pemandian jika kampung sedang sepih, saya tidak mengerti apa yang membuatnya mengurung diri seperti itu. Kalau saja Raja Bima Tahu, pasti akan dijadikan istrinya dan Awang dicampakan.

(Namun karena Hendang adalah bukan manusia biasa, dia mendengar percakapan antara si pemuda dan suami istri itu,sejak saat itu ia menghilang dan tak pernah embali ke rumahnya, Awang telah mencarinya kemana-mana namun tidak ditemukan jejak kaki Hendang, hingga akhirnya Awang mengiklaskan kepergian istrinya)

 

 

Adegan III

(17 tahun kemudian)

Panggung menggambarkan halaman rumah, yang terdapat tanaman bunga, tampak Nggerang sedang menenun dan ayahnya yang sedang membelah kayu api depan rumahnya

 

Awang : (melepaskan parangnya dan duduk di bale-bale depan rumah)Sekarang enu telah dewasa, saya ingin enu menjadi wanita hebat, wanita yang mulia, rendah hati dan suka memberi pertolongan kepada orang lain. seperti itu yang dimimpikan ibumu dulu, (meletakan tangan di jidat lalu menengadah) ahh, Hendang tahukah engkau, putri kita kini telah menjadi gadis yang sangat luar biasa, dia sangat cantik dan pandai menenun, darahmu sungguh mengalir dalam raganya.

 

Nggerang : ema,,, saya ingin sepertii Ende, walaupun hanya bayang-bayang dan tak pernah merasakan belaiannya, dalam hati ini ende adalah wanita yang baik.

 

Awang: betul, ibumu memang wanita yang sangat baik. Namun rupanya dia tak tahan berada di sini, baginya dunia ini terlalu banyak kekejaman. Penyesalan ini hingga kapanpun takkan pernah berujung. Hendang,, mengapa dulu secepat itu engkau meninggalkan kami. (Awang mendesah sambil menyapu keringat di wajahnya)

 

Nggerang: (melepas tenunan lalu mengambil air minum untuk ayahnya). Ema,, saya melihat ema sepanjang waktu hanya termenung, tak usah bersedih ema, saya ada di sini bersama ema, dan yakinlah kerinduan ende pasti lebih besar akan kita.

Awang : ia Nggerang, saya juga meyakinkan hal itu, meski hanya bayang-bayang pasti ibumu berada di sini bersama kita dan menyaksikan engkau tumbuh menjadi gadis yang luar biasa.

 

( sementara Nggerang dan Awang berbicara, datanglah Rannu kekasih Nggerang dengan wajah yang lesuh)

Awang: (menggeser badannya untuk memperilahkan Rannu duduk) ada apa Ranu? Mengapa wajahmu lesuh seperti itu, apa ada yang terjadi?

Rannu: ema, di kampung besar sangat ramai membicarakan kecantikan Nggerang, banyak yang berlomba-lomba untuk meminang Nggerang hingga mempertaruhkan harta benda mereka, saya takut jika berita ini didengar raja pasti dia akan melakukan hal yang sama.

Ema tahu kan, raja kita sangat tamak.

Awang: sampai mati pun, saya takkan sudi Nggerang dipinang oleh raja tamak dan keji itu. Tidak akan !

Rannu: tapi ema, raja akan melakukan apapun untuk memenuhi keiinginannya, sekarang apa yang harus kita lakukan ema??

(sementara Awang dan Ranu panik memikirkan apa yang akan dilakukan raja terhadap Nggerang, tiba-tiba dua orang pengawal suruhan raja muncul dihadapan mereka)

Pengawal: mana Nggerang?

Nggerang: ada apa tuan? (keluar dari dalam rumah ketika mendengar ada yang menanyakannya)

Pengawal: Kami diperintah oleh raja umtuk menyampaikan pesan bahwa seminggu lagi raja akann datang meminangmu,raja hanya memberimu waktu tiga hari untuk memastikan apakah kamu mematuhi raja atau tidak. Apabilah kamu tidak bersedia maka raja akan memberikanmu hukuman mati.

(mendengar berita tersebut, Nggerang sangat ketakutan dia berlari menuju pondok kecil di belakang rumahnya, badannya lemas dan ia pin jatuh tersungkur. Nggerang menangis, dia ia mrasa hiidupnya sangat pilu, kematian begitu sangat dekat dengannya)

Nggerang: (menghadap penonton tersungkur dan menangis)

            Ende,,, dimanakah engkau ende… anakmu disini sangat menderita, saya lebih memilih mati daripada harus jadi permaisuri, saya ingin bebas ende sampai berujung kematian pun saya ingin bebas.

                        Mengapa engkau mewariskan kecantikan ini ende, jika akhirna kecantikan ini membuatku tersiksa dan membawaku pada kematian….

(tiga hari kemudian pengawal raja kembali datang untuk menanyakan kepastian Nggerang )

Pengawal: bagaimana Nggerang? Sudahkah engkau pikirkan keinginan raja?

Nggerang: sudah saya pikirkan tuan, sampai mati pun saya tidak akan pernah menjadi istri raja. Tidak ada ketakutan dalam darahku, karena darah ini adalah darah ibu yang membenci ketamakan rajahmu.

Pengawal: Pikirkan sekali lagi keputusanmu, raja tidak akan main-main dengan keputusannya.

Nggerang : sampaikan saja pada raja, bunuh saja aku jika dia memaksaku menikah dengannya.

(pengawal pun pulang membawa penolakan tanpa syarat dan pesan Nggerang, mendengar pesan Nggerang, raja sangat marah. Dia pun kembali memerintahkan pengawalnya menjemput Nggerang secara paksa untuk kemudian dibunuh dan kulitnya dibuatkan tambur).

Sekian

 

 

 

 

 

 

  • view 245