Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   19:44 WIB
LOKE NGGERANG

 

diceritakan kembali

Emilia Margi Asa

C.J28

mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammadiyah Kupang

Loke Nggerang

Cinta tumbuh dan kembang dari rasa yang hidup dalam hati, cinta tidak dapat di paksa atau memaksa, karena sejatinya dia menyatu.

Kisah seorang gadis dengan paras yang anggun. Kecantikan gadis ini tersebar di seluruh kalangan masyarakat dan di beberapa kerajaan ternama di Kabupaten Manggarai. Gadis tersebut bernama Nggerang. Dinamakan Nggerang karena kulitnya yang bersinar serta rambutnya yang pirang. Karena memiliki fisik yang sempurna Nggerang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai anak yang dihasilkan dari perkawinan silang yang nyata antara manusia dan jin. Ayah nggerang bernama Awang dan ibunya bernama Hendang Nggerang anak semata wayang dan ia telah ditinggal pergi oleh ibunya ketika berusia tiga bulan. Semasa hidup, selain Awang tak seorang pun pernah melihat wujud Hendang mereka tidak mengerti apa yang membuatnya mengurung diri di dalam rumah yang layaknya sebuah pondok itu. Warga kampung sering bertanya-tanya, ada apa dibalik persembunyian yang panjang itu, terkadang warga kampung tak tahan terhadap rasa penasaran, mereka bertanya pada Awang mengapa istrinya tak pernah keluar rumah walau sebentar. Namun ketika ditanya, warga kampung hanya memeperoleh jawaban yang sama bahwa Hendang Sedang menenun, itu yang membuatnya jarang keluar rumah.

Karena hanya memperoleh jawaban yang sama timbulah pikiran-pikiran aneh di benak warga, mereka mengira bahwa Hendang Adalah jin, lalu ada yang berpikir bahwa ibu nggerang cacat, ada pula yang berpikir bahwa Awang memperistrikan binatang, ular atau sejenisnya. Di tengah sekian banyak tuduhan, ada seorang pemuda yang sangat penasaran dengan sosok misterius itu memberanikan diri untuk mencari tahu, siapa sebenarnya istri Awang

Matahari sangat panas, tak ada sedikit pun suara yang terdengar dari dalam rumah penduduk kampung, kecuali kicauan burung, ayam berkotek dan gonggongan anjing sedangkan warga kampung sedang berkebun. Di balik semak tertutup si pemuda bersembunyi. keyakinannya untuk dapat melihat rupa Hendang Membuatnya bertahan di antara semak-semak di bawah teriknya matahari, tanpa takut diketahui niatnya itu dia tetap menunggu sekitar satu jam lebih lamanya. Karena menunggu terlalu lama dia hampir putus asa, dia merasa bahwa niatnya itu hanya sia-sia, lalu dia berbalik untuk mengurungkan niatnya karena dia berpikir itu mustahil, namun ketika sudah satu langkah dia berbalik, terdengar suara bayi menangis. Suara ayam, burung, suara anjing dan suara lain yang tadinya berbunyi mendadak berhenti. lalu tak lama kemudian terdengar suara wanita muda bersenandung meninabobokan bayi yang menangis tadi, suaranya sangat merdu, sungguh pilu dan menyayat hati. Suara itu memenuhi kampung yang begitu sunyi, si pemuda yang mendengarnya menjadi takut, namun rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya. Perlahan dan penuh hati-hati dia melangkah mendekati sumber suara lalu mengintip dibalik celah bebak betapa terkejutnya dia melihat sosok wanita yang sedang menggendong bayi, dia menggoyangkan badannya dengan sangat lembut, rambutnya hitam lurus dan panjang terurai hingga pinggul, wanita itu hanya mengenakan sarung yang diikatnya hingga dada. Wajahnya sungguh cantik. Hendang tidak menyadari jika ada yang sedang mengintipnya lalu dia keluar bersama bayinya menuju kali yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Pemuda itu terus mengikutinya dengan penuh waspada.

Pemuda itu mengerti ternyata wanita msterius itu keluar rumah jika kampung sedang sepi. Begitulah cerita ibu Nggerang yang disaksikan oleh pemuda kampung itu, keesokan harinya si pemuda ingin mengintip lagi namun sosok yang kemarin dilihatnya tak lagi ada , hingga hari-hari berikutnya wanita itu menghilang entah kemana perginya, hingga pada suatu hari warga kampung melihat awang menggendong anaknya Nggerang di luar rumah. Misteri kehilangan ibu Nggerang tak seorang pun yang tahu, Ranu juga tidak. Ia tak tahu apa yang membuat istrinya pergi dan kemana istrinya pergi.

Waktu terus berjalan, Nggerang tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik dan rajin Nggerang dan ayahnya terbiasa hidup tanpa ??? keduanya hidup dalam limpahan kasih sayang.

Sebagai seorang gadis, nggerang sama seperti kebanyakan gadis lainnya. Nggerang punya seorang kekasih, mereka saling mengasihi. Pemuda itu sama sepertinya hanya masyarakat biasa, ketampanan juga tulus hatinya membuat nggerang mencintainya.

Seiring waktu berjalan, berita kecantikannya semakin dikenal banyak orang bahkan kalangan raja mengincarnya yang antara lain raja bima di pulau sumbawa, raja goa asal sulawesi dan raja todo asal manggarai. Namun lantaran cinta akan oran tua dan kekasihnya ia berani dengan keamauan keras menolak pinangan raja. Hal ini tentu sangat berisiko lantaran saat itu raja masih mermpunyai kekuasan penuh atas kerajaaan todo yang meliputi manggarai raya. Tak ada seorang pun yang berani menolak raja, karena hukuman yang diterima sangat berat. Mendengar berita tersebut hati raja sangat resah, kekuasaan dan ketamakan membuat sang raja semena-mena memutuskan segala apa yang diinginkannya. Raja tidak ingin jika gadis secantik nggerang dinikahi oleh orang lain, apalagi jika hanya masyarakat biasa. Raja pun berniat untk menemuinya.

“pelayan,..” Suara raja dengan cara khas angkuhnya memanggil seorang pelayan.

“ia tuan..” Jawab seorang pelayan sambil berjalan dengan membungkukan badan.   “panggilkan 3 prajurit menghadap saya”

“baik tuan”.

Selang dua menit kemudian tiga prajurit dengan langkah yang mantap menghadap sang raja.

“apa yang harus kamsi lakukan tuan?” Tanya salah seorang prajurit

“siapkan kuda, saya ingin berjalan-jalan mengelilingi kampung, sepertinya udara di luar sana sangat segar”. Kata sang raja.

Setelah semuanya disiapkan, raja dan pengawalnya pun berjalan meninggalkan istana.

Dalam perjalanan pengawal tidak berbicara banyak, yang terdengar hanya suara kaki kuda dan kicauan burung yang bertengger di sepanjang pohon. Para pengawal tidak memiliki kebebasan untuk berbicara walau sekedar untuk bercerita basa-basi.

“heii, pernahkah kalian mendengar cerita tentang nggerang?” Suara raja akhirnya memecahkan keheningan.

“ia tuan, sering sekali mendengar kabar tentang kecantikannya, pemuda di kampung todo sedang berlomba-lomba untuk meminangnya, namun katanya wanita itu punya pendirian yang kokoh, di belum ingin menikah tuan”.

“hahaahahaha…. Sekokoh apapun pendirian dari wanita kampung itu, pasti akan runtuh juga. Atau beranikah dia menolak saya? Hahahaha” tawa sang raja memecah keheningan.

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya tibalah mereka di kampung yang hendak dituju.

“dimanakah rumah si nggerang itu” raja bertanya kepada pemilik rumah yang paling pertama di kampung itu .

“rumahnya di tengah-tenngah kampung ini, biarkan saya yang menghantar tuan ke rumahnya..”

Dari jarak sekitar 50 meter terlihat rumah mungil beratapkan alang-alang. Disekelilingnyaa tedapat taman bunga dan pepohonan hijau, tak ada satupun daun kering yang jaatuh, taman itu tertata sangat rapi sepadan dengan rumah sederhana seperti pondok kecil pada cerita negeri khayangan, sehingga memanjakan setiap mata yang melihatnya, tergambar jelas jika salah satu penghuni rumaah itu adalah seorang gadis. Dan itulah rumah nggerang.

Namun rupanya rumah itu sepi, mereka berada di kebun. Sang raja tak ingin kembali, besar keinginannya untuk bertemu nggerang.

“ema, kalau saja ada ende di sini, pekerjaan kita pasti cepat selesai”

“ia enu, mendiang ibumu sangat rajin, semasa hidupnya tak seharipun ia tidak bekerja, ema sangat bangga karena mencintai wanita seperti ibumu”. Kenang ayah nggerang.

sesampainya di kebun mereka sangat kaget melihat sang raja yang di kawal oleh pengawalnya. Merekapun bergegas mendekat sang raja.

“siapa yang bernama nggerang” tanya sang pengawal yang berdiri bersampingan dengan raja.

“saya tuan” sambil mengangkat tangan kanannya dengan suaranya yang agak canggung.

“oh, jadi kamu, angkat wajahmu,” sambung sang raja dengan suara kasar dan paras muka yang keram

Nggerang pun mengangkat muka dan tampak dari paras mukanya bulir keringat yang menandakan ketakutan.

“ini ada apa tuan, apa yang salah dengan putri kami” tanya sang ayah dengan nada canggung.

“besok, saya tunggu kalian di istana, bila kalian tidak datang maka resikonya ktanggung sendiri” kata sang raja sambil berjalan

Setelah langkah sang raja sudah cukup jauh mereka merasa lega, namun mereka bingung dengan sikap sang raja, “ada apa ya, dia menanyakan putri kita dan mengapa dia suruh menghadap ke istanatanya sang ayah sambil mengambil posisi duduk disamping nggerang.

“enu, jangan sampe kamu ada masalah ???” Tanya sang ayah lagi kepada rueng putri semata wayangnya.

“tidak ada ema, selama ini saya hanya menenun dan membantu ema di kebun , saya tidak pernah melakkukan kesalahan, apa lagi kalau dengan raja” jelas sang putrid

“tidak enu, sepertinya ada sesuatu dengan raja, saya sangat paham sekali maksud raja, dia sepertinya ingin melamarmu, mungki saja kabar tentang kecantika dan keerampilan yang kamu miliki sudah terdengar oleh raja..itu sebabnya mereka datang menemuimu. Tapi saya sebagai seorang ayah saya tidak sudi membiarkan anakku hidup dalam penderitaan bersamanya, harta dan kekuasaan bukan ukuran kebahagiaan bagi keluarga kita.   Ayah nggerang bergumam, mukannya tampak risau.

Semenjak kedatangaan raja, ayah nggerang menjadi sangat panic, bagaimana mungkin putrid semata wayangnya ingin dinikahi raja yang tamak, tidak.. Demi nyawahku pun, saya tidak akan mengizinkan raja menikahi nggerang. Moriiberi hambamu jalan keluar dari keadaan ini, biarkan anak hamba merasa bahagia bersama pilihannya. Tapi jangan dengan raja yo mori.

Di ufuk timur matahari sudah menunjukan keemasannya, suara ayam jago selalu setia membangunkan warga kampung todo dari mimpi panjang mereka. Ayah nggerang pun bergegas dari tempat tidurnya, mengusap wajahnya yang lusuh lalu bersujud. Mereka sudah siap lalu keluar rumah untuk memenuhi panggilan dari sang raja. Nggerang sangat cemas dan takut, dia merasakan ada sesuatu yang kurang beres. Dia pun bertanya kepada sang ayah “ayah, bagaimana kalau dia memksa sya untuk menikah dengannya, saya belum siap untuk menikah ayah. Saya takut”

“jangan takut enu, yakinlah mori dan ibumu akan menjaga kita. Dia tidak bisa buat sesukanya,” jelas sang ayah mencoba untuk menguatkan putrid yang sangat cemas. Tidak terasa 45 menit sudah berlalu, istana kerajaan sudah tampak sangat jelas, sekitar 5 atau 7 menit lagi mereka berjalan sampe istana. Namun karena ,mereka berjalan cukup jauh tadinya, mereka pun berhenti sejenak untuk melepaskan lelah dan mengeringkan keringat. Mereka berhenti dibawah pohon beringin yang sangat rindang, lurus dengan pintu masuk istana. Sekitar lima menit mereka bersitirah sang ibu mengajak untuk segera masuk ke istana dan seorang prajurit dengkah langkah cepat menghapiri mereka.

mari tuan, raja sedang menunggu di dalam” kata sang prajurit dengan suara yang lembut. Mereka pun melangkah masuk ke sitana.

“selamat siang o mori, ” suara sang ayah seraya membungkukan badan. Di sampingnya nggerang terlihat takut.

            ”selamat siang, bagus kalian mengindahkan perintahku”. Sahut raja sambil matanya tak berhenti menatap nggerang.

            “maaf tuan, apa maksud tuan mengundang kami kemari??” Tanya ayah nggerang

            “saya tidak mau lama-lama, maksud saya mengundang kalian kemari karena saya ingin menikahi ruen, saya mohon restu”.

lima belas menit lamanya ayah rueng terdiam, hatinya terasa sangat berat dia tidak tau apa yang harus dikatakannya kepada raja.

Rueng sangat mengerti keresahan hati ayahnya, ingin rasanya dia menangis, namun dia takut meneteskan air matanya dihadapan raja.

            “tuan maaafkan ayah, ayah dtidak bisa memberikan jawaabaan kepada tuan, karena ayah tau keputusannya ada di tangan saya, tuan hamba mohon padamu berilah hamba waktu dua hari untuk menentukan keputusan hamba” mohon rueng sambil terus bersujud.

            “baiklah, jika sampai dua hari engkau belum memberi jawaban, maka saya bersumpah saya akan membunuhmu dan mengambil kulit nggerangmu untuk dijadikan gendang di kerajaan ini”.

Setelah menerima segala perintah raja rueng dan ayahnya pulang. Hatinya begitu resah memikirkan keinginan raja untuk menikahi dirinya,.

Namun dia tidak takut akan sumpah dan hukuman yang akan diberikan raja terhadap dirinya, sekalipun itu hukuman mati daripada menjadi rebutan dan dimadu para raja. Semangat rueng untuk menerobos kentalnya budaya patriarki membuatnya berani memutuskan untuk menolak raja tanpa syarat.

            malam itu adalah malam terakhir kisah hidupnya, kisah yang sangat pahit dalam hidupnya, di bawah keremangan pelita ia bersujud dan menangis ia berteriak dan memanggil ibunya…

“ende,,,ende,,, dimanakah engkau ende, mengapa engkau melahirkanku ke duni ini lalu kau meninggalkanku, apa salahku ende?? Mengapa engkau mewariskan kecantikan ini jika hanya membawaku pada kematian”. Nggerang menjerit, lalu ia jatuh tersungkur.

            pukul 06:00, terdengar orang mengetuk pintu rumah, ayah nggerang bangkit membukakan pintu, yang datang tak lain, pengawal raja. Ayah rueng jatuh tersungkur di kaki pengawal itu dan berkata “biarkan nggerang hidup tuan, bunuhlah aku jangan anakku”

Tanpa berkata lagi mereka menendang ayah nggerang lalu menerobos masuk ke dalam rumah dan menemui nggerang yang sedang duduk dan menunggu kedatangan mereka dengan tenang. Pengawal itu menarik lengan nggerang dan membawaanya keluar, nggerang menuruti saja karena kematian atau apapun itu, telah dia serahkan kepada tuhan. Nggerang telah siap menerima semuanya. Sebelum menghunus parangnya, prajurit itu menatap nggerang dengan tatapan penuh makna, “maafkaan saya nggerang,” kata pengawal itu berrbisik pelan. Kemudian dia   mengangkat parangnya sambil menengadah dan tak ingin menyaksikan nyawa gadis cantik itu mati di tangannya.., dia melihat nggerang sudah tak bernyawa. Lalu kulit perut dan kulit punggung nggerang diambil untuk dijadikan selaput gendang. Perasaan bersalah menyelimuti hati pengawal itu, sungguh merupakan perbuatan yang sangat kejam. Badai dan kabut gelap di hari itu lalu hujan deras pun mengguyuri wilayah kerajaan todo, burung-burung enggan untuk keluar dari sarangnya mereka seolah-olaah turut meratapi kematian nggerang yang sangat tragis. Berita terbunuhnya nggerang terdengar ke seluruh pelosok, perasaan sedih menyelimuti hati setiap orang yang mendengarnya, mereka menyesali keputusan raja yang semena-mena. Masyarakat manggarai khususnya di wilayah todo menyatukan hati dan pikiran, mereka akan menentang segala apa yang diputuskan raja, sehingga   pada akhirnya raja menyerah dan turun dari takhta. Sejak saat itu berakhirlah masa kerajaan di Manggarai.

Karya : aulia sari