(Bukan) kisah romantis ala sinetron jaman now

Auli Fisabil Al Amin
Karya Auli Fisabil Al Amin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 April 2018
(Bukan) kisah romantis ala sinetron jaman now

Sebuah gubuk reot di pinggiran sudut wilayah desa kecil, seolah menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangan seorang Kakek tua pesakitan.

 

Sudah lumayan lama rupanya dia terbaring lemah tak berdaya di ranjang lusuh yang usianya pun sama tua dengan dirinya.

 

Nafasnya terasa berat, tubuhnya meringkih, batin nya kalut.

Semangat hidupnya yang kian hari kian berkarat seolah menambah beban penderitaan yang ia alami.

 

"Kuatkan aku ya Tuhan"

gumam sang Kakek tua dalam hati.

 

Ia mencoba berjuang sekuat tenaga untuk beranjak dari ranjang lusuhnya.

 

Dengan nafas terengah-engah dan tenaga seadanya rupanya bisa membuat ia bangkit dari hangatnya ranjang tidur.

 

Matanya mulai melirik kesana-kemari sembari mencoba mencari cucu semata wayangnya yang bulan lalu baru genap 3 tahun.

 

Dilihat nya si cucu rupanya sedang asyik bermain dengan sebuah botol air mineral kesayangan.

 

Seketika itu pun wajah keriput Kakek tua yang pesimis, berubah sumringah dilengkapi senyuman hangat.

 

"Ayo ma'em le" ujar si Kakek.

 

Mendengar ajakan sang Kakek, si cucu pun melonjak kegirangan, menghampiri sang Kakek dan mencoba membantunya untuk bergegas memasak menu makan malam hari itu.

 

Sesampainya mereka di dapur, sang kakek tua pun segera mencoba menyalakan api di tungku dengan kayu bakar seadanya dan tak lupa dilihatnya singkong sisa dagangan 2 minggu lalu yang rupanya sudah mulai ranum dan membusuk.

 

"Ya Tuhan, hanya ini sebagian dari rezeki-MU untuk kami makan malam ini"

(batin sang Kakek resah)

 

Tak selang berapa lama makanan pun telah masak dan siap untuk disantap lalu makanlah keluarga kecil itu dengan lahap walaupun dengan menu sangat sederhana (hanya beberapa buah singkong rebus yang dimasak dari bahan yang hampir "basi".)

 

hingga si cucu pun tertidur pulas akibat perutnya terisi kekenyangan.

 

Melihat cucunya tertidur pulas sang Kakek pun reflek mengusap secara halus kening si cucu sampai tanpa sadar, air mata pun menetes lirih dari pelupuk matanya.

 

Rasanya dia belum ikhlas untuk membayangkan jika ia meninggalkan cucunya yang sebatang kara itu untuk selama-lamanya. tapi apa daya, Kakek tua sadar diri kalau usianya bakal tak lama lagi, tubuhnya sekarat.

 

Tetangga dan warga kampung sekitar pasti bakalan tak ada yang peduli dengan nasib mereka berdua, apalagi terhadap cucunya.

 

Itu akibat "dosa" yang mesti ditanggung  oleh mereka, dampak dari efek brutal tindakan lalim almarhum anak dan menantunya.

 Suatu warisan penyakit terkutuk yang membawa takdir buruk abadi untuk cucunya :

 HIV/AIDS virus mematikan yang menyerang sistem imun di tubuh itu, pasti bakal membuat cucunya itu terkucil & terisolasi dari masyarakat sekitar secara permanen. (hal sama yang juga harus diderita oleh almarhum anak dan menantunya.)

 

Sang Kakek tua hanya bisa pasrah menerima nasib buruk ini.

Dalam kegelisahan hati dan keputusasaan yang teramat sangat,

Ia spontan menengadahkan kedua tangan nya menghadap langit, sembari berdo'a :

 

"Ya Tuhan, aku sudah terbiasa dengan beratnya cobaan hidup-MU, jika memang sekarang ini waktuku untuk berpulang pada-MU, maka tolong jagalah cucuku."

 

 

"Untuk kali ini saja"

 

 

"Hamba mohon untuk kali ini saja Tuhan"

 

 

"KABULKAN DO'A KU"

 

(Sebuah do'a sederhana tapi khidmat dari Kakek tua sekarat, yang tinggal menunggu di jemputnya ajal.)

 

Malam pun semakin larut, Kakek tua pun terlihat mulai mengantuk. Wajahnya terlihat memucat, tubuhnya pun mulai dingin dan kaku.

 

Sambil memeluk erat badan mungil cucunya dengan dua tangan nya yang kriput itu, Ia pun ikut tertidur pulas tanpa pernah tahu apakah do'a nya dikabulkan oleh-NYA.

 karena dari sekian waktu lama nya, sang Kakek tua pun bisa tertidur secara tenang dan damai.

 Tak lupa dengan sebuah senyum termanis yang pernah hinggap di wajahnya.

 

 

 

 

Sangatta,  16 April 2018

Auli Fisabil Al Amin

 

 

 

 

  • view 30