Eksistensi Tuhan : sebuah mitos atau fakta?

Auli Fisabil Al Amin
Karya Auli Fisabil Al Amin Kategori Filsafat
dipublikasikan 22 Maret 2018
Eksistensi Tuhan : sebuah mitos atau fakta?

Prolog : sejarah peradaban manusia di mulai dari terbentuk nya suatu organisme kecil yang kemudian terus menerus berevolusi dari australopithecus afarensis (Kera) hingga Homo Sapiens (Manusia) itu mengacu dari pernyataan Charles Darwin yang terkenal akan teori evolusi nya. Hal ini pun di amini oleh sebagian kaum ilmuwan yang berlandaskan Big bang theory bahwa alam semesta & segala isi secara "kebetulan" tercipta akibat ledakan Maha dasyat 13,8 miliar tahun lalu.

 

Tentu saja hal ini sangat di tentang keras oleh kaum religius, khusus nya para pemeluk agama Samawi yang berkeyakinan bahwa Adam-Hawa lah kakek moyang manusia. konon, mereka terusir dari surga akibat memakan buah terlarang. Tuhan pun murka, sebagai bentuk ganjaran "tebus dosa" mereka pun di asingkan di bumi.

 

Membahas mengenai Tuhan , rupanya manusia sejak zaman batu tua (paleolitikum) telah mengakui eksistensi Dzat Yang Maha Kuasa dengan praktek pemujaan spiritual terhadap binatang (bukti ini diperkuat dengan di temukan nya artefak kuno jaman paleolitikum bergambar menyerupai banteng, di Dordogne, Prancis).

 

Sampai sekarang, konsep KeTuhanan & agama jauh berkembang pesat : total kurang-lebih terdapat 42.000 agama di dunia, tentu nya dengan Tuhan yang berbeda-beda pula.

 

Ironisnya Tuhan & Agama pun tak luput di jadikan tameng  untuk memuluskan suatu kepentingan politis busuk pihak tertentu :

Sejarah mencatat, akibat perkembangan Agama itu sendiri muncul lah sebuah Idealisme di pihak kaum otak dangkal para pemeluk agama tertentu yang menganggap bahwa Tuhan, agama, rasul serta kitab suci mereka lah yang Paling benar  dampaknya tak sedikit dari mereka secara membabi buta melakukan tindak kekerasan serta pembantaian terhadap pihak yang dirasa bertentangan dengan Tuhan & Agama mereka. Ironis, mereka berdalih bahwa tindakan tersebut merupakan perintah Tuhan. 

Contoh : Perang salib, genosida umat kristen Armenia & pembantaian muslim Rohingya.

 

Jika dirujuk berdasarkan sains eksistensi Tuhan sampai saat ini masih di pertanyakan, karena belum ada kajian ilmiah untuk bisa membuktikan keberadaan-Nya. Ini mungkin yang menyebabkan beberapa tokoh besar dunia dengan anugrah otak encer (jenius) memilih untuk menjadi agnostik maupun atheis. berikut kutipan dari mereka :

* Albert Einstein, manusia paling jenius abad 20 penemu teori relativitas & peraih nobel fisika pernah menulis :

“Kata Tuhan bagiku tidak lebih dari sekadar ungkapan dan produk kelemahan-kelemahan manusia, dan kitab suci tidak lebih dari sekadar sebuah kumpulan legenda yang mulia tetapi masih primitif. Tidak ada penafsiran, betapapun tajam, yang dapat mengubah hal ini.”


* Stephen Hawking, ilmuwan paling moncer abad 21 memilih jalan hidup sebagai penganut Atheis akut, sebuah pernyataan radikal yang jelas menentang ke Maha Kuasaan-Nya :

“Aku percaya, penjelasan yang paling sederhana adalah tidak ada Tuhan. Tidak ada yang menciptakan alam semesta dan tidak ada yang mengarahkan nasib kita. Ini membawa aku ke suatu kesadaran yang sangat dalam bahwa mungkin sekali juga tidak ada surga dan tidak ada kehidupan setelah kematian juga. Kita punya satu kehidupan saja untuk menghargai dan mengagumi Desain Akbar jagat raya, dan untuk itu aku sangat bersyukur.”


* yang terakhir ungkapan kritis dari filosof Yunani, Epicurus :

"Apabila Tuhan mau tapi tidak mampu meniadakan penderitaan, maka Tuhan tidak Maha Kuasa.
Apabila Tuhan mampu tapi tidak mau, maka Tuhan itu Jahat.
Apabila Tuhan mampu dan mau, kemudian darimana datangnya kejahatan?
"Apabila Dia tidak mampu dan mau ? Lalu mengapa memanggilnya Tuhan ?"


Seakan kontra dengan pemikirian para kaum intelektual lain, fisikawan teoritis Michio Kaku salah satu ilmuwan paling dihormati kini yang terkenal karena pengembangnya terhadap teori String. Mengakui bahwa kita tercipta bukan secara kebetulan. Beliau mencoba membuktikan kebesaran-Nya secara ilmiah lewat apa yang disebut “primitive semi-radius tachyon ”.

“Saya berkesimpulan, kita berada di dunia yang diciptakan berdasarkan kaidah yang dibuat oleh suatu kecerdasan,” kata sang ilmuwan. “Percayalah, segala sesuatu yang kita sebut untung-untungan tidak lagi masuk akal hari ini. Bagi saya jelas, kita eksis dalam rencana yang diatur menurut kaidah yang dibuat, dibentuk oleh kecerdasan dan bukan oleh untung-untungan.” ( Michio kaku )

Tentu saja kajian ilmiah ini sangat menarik, mengingat sampai saat ini, sains belum mampu untuk "me-logika-kan" Tuhan.

 

Epilog : perdebatan abadi mengenai eksistensi Tuhan antara kaum intelektual agnostik/atheis yang menuntut keberadaan-Nya harus bisa dibuktikan secara logis, pasti nya sangat bertentangan dengan kepecayaan kaum religus yang berpendapat bahwa Tuhan tak dapat "dijangkau" oleh nalar manusia. karena menurut mereka keberadaan-Nya berada di luar dimensi panca indra manusia yang terbatas. Kita hanya butuh iman saja untuk mengakui Kebesaran-Nya.

 


Mari bersama-sama kita tunggu saja perkembangan kajian ilmiah selanjutnya apakah sains modern mampu untuk "menangkap" Ke-Maha Kuasaan-Nya ? Yang pasti nya bisa menjadi angin segar buat kaum religius, bahwa DIA nyata ada nya. Atau malah sebalik nya ? Sebagai sebuah bukti buat kaum intelektual atheis yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan adalah "Tuhan" yang sebenarnya?

 

 

Wallahu A'lam

 

 

Note : mau menjalani hidup sebagai penganut Atheis, atau pun taat secara religius : Terserah !

Yang penting hidupnya BERMANFAAT dan ndak NYUSAHIN  orang lain.

 

 

 "Semua orang berhak hidup merdeka dan bahagia, sesuai dengan apa yang mereka yakini"

 

 Respect the beliefs of other

 

 

 

 

Sangatta, 23 Maret 2018

Auli Fisabil Al Amin

 

 

  • view 48