Para pemilik TEKAD BAJA, adalah mereka yang MENGGENGGAM DUNIA

Auli Fisabil Al Amin
Karya Auli Fisabil Al Amin Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Maret 2018
Para pemilik TEKAD BAJA, adalah mereka yang MENGGENGGAM DUNIA

 CAUTION ! : Ditulis atas sudut pandang dari penulis, mantan seorang buruh perusahaan ekspedisi elite di tanah air, yang secara brutal memutuskan terjun menjadi pedagang kuliner kaki lima.

 Disini tertulis pengalaman serta sudut pandang penulis dengan gaya penulisan yang frontal, kritis, ekstrim, tetapi tetap jujur dengan pengalaman hidup penulis. (Tanpa melupakan unsur suatu motivasi "anti-mainstream" di dalamnya , yang berbeda dengan kicauan para motipator di televisi. )

* peringatan kedua : bagi yang ndak mempunyai pola pikir "open minded" monggo, segera angkat kaki saja dari sini ! * hehehe #bercanda



 ALKISAH, setelah 3,5 tahun lama nya menjalani kehidupan rutinitas sebagai seorang buruh swasta, saya mengalami kejenuhan luar biasa.
Itu saya alami ketika mengamati "siklus hidup" seorang karyawan.

 Saya membayangkan kehidupan saya beberapa tahun kedepan jika saya menikah, dan mempunyai anak otomatis tanggung jawab saya akan bertambah.

 Dengan gaji saat itu yang tergolong "mapan" untuk bujangan seperti saya, tapi pasti "ngepas" buat berumah tangga, apalagi jika sang istri fokus full-time mengurusi keperluan rumah tangga di rumah.

 Maka sudah mutlak hukum nya beban ekonomi keluarga, harus dipikul sang suami seorang diri !
( seorang pria dilahirkan untuk berjuang , jadi stop hura- huramu wahai para pemuda, perbanyak menabung. karena biaya pernikahan & persalinan itu ndak murah ! Jangan ngiri dengan "kemudahan" para wanita yang tinggal upload foto body montok nya di instagram, eh besok nya udah bisa gaet suami kaya ! Wkwkwk #bercanda. )

 Melihat rekan-rekan kerja saya sendiri di tempat kerja, yang mayoritas sudah berumah tangga. Tampaknya saya mulai bisa menerawang masa depan kehidupan saya sebagai karyawan.

 Dengan usia yang semakin menua, fisik semakin menurun, tetapi dengan porsi pekerjaan yang sama, apakah saya mampu untuk tetap bertahan?

 Mau resign, tapi skill tak punya dan umur sudah tua. Mau buka usaha, tapi modal nihil karena habis buat keperluan makan keluarga sehari-hari. Kalaupun ngotot resign mau di kasih makan apa anak-istri? Di jaman sekarang dimana persaingan di dunia kerja amat ketat & selektif mustahil jika melakukan tindakan sebodoh itu. "Yang penting dapur tetap mengepul, perut kenyang, anak-istri senang" mereka seperti terjebak "lingkaran setan" kehidupan menjadi seorang karyawan.

 Inilah yang sangat saya takuti, sebuah dilema besar yang terus menghantui.

 Karena saya enggan untuk terus terjebak dalam rutinitas yang "stagnan" seperti itu. Because life is need a progress. Kita perlu kemajuan dalam hidup.


 Kita bekerja buat kemakmuran diri, membahagiakan anak-istri (bagi yang berkeluarga, yang jomblo harap melongo saja hehehe).

 Toh pada dasar nya manusia cuman perlu 3 kebutuhan pokok : Sandang, pangan, papan.
Dari ketiga kebutuhan dasar tersebut, bagi seorang buruh swasta seperti kami hanya satu yang sulit terealisasi yaitu papan (rumah). Karena tinggi nya harga properti yang tiap tahun naik nya serasa "ugal-ugalan" dan terlihat impossible untuk terbeli oleh kaum buruh seperti kami. Kalopun bisa beli itupun perlu perjuangan "berdarah-darah" jangankan harus puasa senin & kamis, mesti kudu harus puasa tiap hari malah ! (Ending nya seumur hidup kudu mesti hidup dalam penjara kos/kontrakan)

 Belum lagi isu-isu kesehatan keluarga para buruh yang ditanggung BPJS, pelayanan nya konon seperti "di anak tirikan" oleh pemerintah.

 Setelah banyak nya kebiadaban fakta dilapangan menjalani kehidupan seorang buruh swasta, dan kejenuhan luar biasa atas rutinitas nya. (Walaupun dengan berat hati, karena keintiman saya dengan perusahan dan rekan-rekan kerja saya)

 saya putuskan untuk berani meninggalkan "zona nyaman" demi masa depan yang lebih baik, demi kemajuan hidup, dan demi impian saya.

 SAYA PUTUSKAN UNTUK RESIGN, DAN BUKA USAHA (bermodal tabungan yang saya miliki sewaktu bekerja, untuk ini saya sangat bersyukur walaupun sempat bergaya hidup lumayan "hura-hura" tapi setidaknya setiap bulan saya konsisten untuk menabung. Jadi tepuk tangan untuk saya "plok-plok-plok" hehehe)

 Sebuah keputusan yang melawan arus, sempat ada pertentangan dari keluarga dikarenakan menurut mereka pekerjaan saya sudah cukup "mapan".

 Tapi pada dasar nya saya yang keras kepala, tetap ngotot menerjang pertentangan dari keluarga.

 Karena ini hidup saya, saya yang bakal jalanin, apapun resikonya bakal saya tanggung baik-buruknya. (Karena memang tekad saya sudah bulat) endingnya saya pun dapat restu juga dari ibu saya. (Jangan lupa, do'a orang tua adalah benda paling "mujarab" di dunia).

 Walau lagi-lagi dapat kritikan dari teman-teman nongkrong saya yang masih ndak "percaya" saya resign dari perusahaan ekspedisi elite, dan alih profesi jadi pedagang kuliner kaki lima.

 Tapi pendirian saya tetap lurus, se-lurus rambut ABG cabe-cabean yang habis rebonding di salon.

 Yaaaa akhirnya sampailah kita di penghujung kisah,
Di sini di sebuah kota pertambangan di provinsi Kalimantan timur. Saya harus berjuang setiap hari nya, untuk mewujudkan impian gila saya (walaupun omset bersihnya masih di bawah target saya pribadi, toh setidaknya ada kepuasan tersendiri karena saya sudah berani membuka usaha saya sendiri) kalopun dibandingin gaji saya sewaktu bekerja di perusahaan ekspedisi, tentunya pasti lebih "aman" gaji saya dulu. Nama nya baru juga (istilah orang jawa) "Mbabat alas" mesti kudu sabar & telaten. Setidaknya saya lebih mengerti ilmu "bersyukur" saat ini, ketimbang waktu dulu saat masih jadi kuli berseragam perusahaan ekspedisi.

 Pesan Moral : apapun pekerjaanmu, kerjakan dengan sepenuh hati rezeki pasti datang menghampiri #wkwkwk lebay

 Dan selalu ingat " life is never flat" yang nama nya batu sandungan dalam hidup itu pasti ada, jangan DIHINDARI tapi HADAPI

 Kalo anda jeli mempelajari sejarah tokoh besar dunia, ada satu ikatan "benang merah" di dalam nya :

* Jack Ma, pernah berkali-kali gagal melamar sebagai karyawan bahkan sekedar melamar jadi pramusaji di KFC pun ditolak, sekarang pendiri situs jual-beli online Alibaba ini, menjelma menjadi orang terkaya nomer wahid se-Asia.

* (Alm) Bob Sadino, sempat pernah jadi kuli batu dan menderita depresi, kini salah satu legenda pengusaha besar Indonesia.

* Pakde Ruslan (nek iki tonggoku dewe wonge wkwkwk) , SD ndak tamat, sejak kelas 5 SD sudah merantau di Surabaya jualan rokok asongan. Sekarang mempunyai bisnis warkop yang omzet bersih tiap bulan nya mencapai belasan juta rupiah.

 Kesimpulan nya, walau berkali-kali jatuh mereka tetap pantang menyerah untuk mengejar impian nya. Karena jika ada yang dapat merubah kemustahilan menjadi kenyataan itu adalah "KETANGGUHAN TEKAD MANUSIA".

 Memang sukses & kebahagiaan itu relatif ndak sekedar dinilai dari tolak ukur materi. Tapi disini kita jangan terlalu naif, kemapanan materipun sanggup "membeli" yang nama nya kebahagiaan.

 Jadi jangan terlalu banyak mengeluh & manja, seolah masalah anda adalah problem paling rumit sedunia. Heeeeeey cobalah main-main ke daerah pinggiran kota, anda akan belajar bahwa sekedar untuk mengisi perut mereka rela mengoyak isi tong sampah dengan tangan kosong nya itu. Dan harus bertarung melawan bau menyengat sampah anda yang terkadang bisa bikin muntah.

Jangan lupa bersyukur, kalopun hidup ini berjalan "mulus-mulus" saja, toh ndak bakalan ada kisah menarik untuk diceritakan.


 Note : buat kamu, yang beberapa bulan lalu kontak nya saya putus secara mendadak. "jangan resah, kalo kita berjodoh pasti ndak bakal kemana"


Sangatta, 8 Maret 2018


Auli Fisabil Al Amin

 

  • view 70