MEDIA SOSIAL, manfaat kebebasan berekpresi? atau ancaman kekaburan privasi?

Auli Fisabil Al Amin
Karya Auli Fisabil Al Amin Kategori Renungan
dipublikasikan 11 Agustus 2017
MEDIA SOSIAL, manfaat kebebasan berekpresi? atau ancaman kekaburan privasi?

Hareeee gini sapa yang ndak punya media sosial?, mulai dari bocah SD yang masih ingusan sampek emak2 gaul kekinian pasti gandrung dengan yang namanya medsos.

Instagram,pesbuk,path,twitter dan antek-anteknya seolah sudah menu wajib buat komunikasi sehari2, itu sebanding dengan kemudahan untuk mengakses internet yang sekarang amatlah mudah karena banyaknya operator yg menyediakan kuota internet dengan harga murah mampus & menjamurnya tempat2 nongkrong yg menyediakan fasilitas "free wifi".

Beberapa minggu terakhir kita dihebohkan dengan rencana pemblokiran media sosial oleh pemerintah, mengingat banyaknya konten2 negatif yg mudah sekali diakses oleh para pengguna akun dunia maya.

Saya pribadi Pro dan Kontra dengan berita pemblokiran ini, saya setuju dengan pemerintah untuk memberantas konten2 negatif (penyebaran paham terorisme, radikalisme, dan konten pornografi). Tapi, di lain sisi saya masih doyan buat pantengin grup jual-beli di pesbuk dan ngelike foto mbak2 montok di instagram wkwkwk ????

Lucunya, medsos ini rupanya perlahan2 sudah menjadi sebuah gaya hidup. Mulai dari yang positif hingga negatif.

Yuk kita awali dengan yang positif dulu :

*menambah kenalan relasi baru maupun memperkuat kembali relasi dengan kawan lama tidak terkecuali mantan eeeh ????
*cocok buat promosi bisnis, terutama dengan perkembangan belanja online yang kian hari kian pesat (bayangin medsos dengan jutaan pengguna aktif tiap hari ini adalah ladang emas.kita bisa jual apapun disini *tapi jangan sampek jual harga diri yaaa*????)
*sebuah wadah untuk mengekspresikan diri. (Mulai dari penyaluran hobi, upload fotomu yang kece,hingga mempublikasikan hasil karyamu. atau sekedar kamu buat pelarian dari rasa kesepianmu dari kenyataan? Karena hidup ini tak seindah drama korea wkwkwk)

Okeee sekarang kita bahas dampak Negatif medsos:

* sarana yang mudah untuk menyebarkan paham Terorisme, radikalisme , dan konten2 pornografi (beberapa bulan ini saya baru buat akun IG, iseng2 saya coba mengetik kata sandi "Bok*p & Tok*et" dan wuuuush saya tiba2 ngiler mendadak, betapa mudah untuk "mengaksesnya", pantes bocah SD sekarang banyak yg udah "mateng" melebihi usianya wkwkwk. Jadi hati2 buat yang udah punya anak SD yg gemar mainan sosmed. Pengawasan orang tua perlu ditingkatkan)

* Menghilangkan peran "komunikasi" itu sendiri.
Contoh: Bayangin saat kita janjian kumpul dengan teman lama buat reuni di sebuah tempat nongkrong, di grup sosmed ngobrolnya ruameee history chatnya nyampek ratusan bahkan ribuan. Ngobrol ngalor ngidul bercandanya sampek ngakak, eeeh nyampek lokasi malah sibuk diem2an & bermain gadgetnya masing2. Terus dimana bisa menikmati momen nya? Pantes sekarang banyak orang "kesepian" ditengah sebuah "keramaian".

* ajang curhat untuk mengeluh & menyebarkan aib orang lain.
Kalo curhatnya positif seh ndak masalah, apalagi yang curhat mbak Ariel Tatum minta ditemani bobo' bareng, karena takut mimpi buruk kalo tidor sendiri wkwkwk . Tengkar sama temen, curhat. tengkar sama pacar, curhat. Parahnya, ada juga yang sudah rumah tangga malah seperti ndak punya "urat malu" dengan entengnya mengumbar aib pasangan nya *naudzubillah (sambil ngelus selangkang... Eh dada hehehe) pliiiis dong, bapak2 & Ibu2 kalopun punya masalah mbok ya toh diselesaikan baik-baik dengan cara dibicarakan secara sehat dengan pihak yang bersangkutan. Jangan malah sambat di medsos, itu sama saja membunuh "harga diri" anda sendiri looh .

Saya pribadi masuk kotegori gaptek kalo masalah sosmed, WhatsApp dan Instagram baru buat sekitaran 3 bulan lalu. Entah kenapa saya selalu cocok pake Pesbuk, ketimbang medsos yang lain (karena kelengkapan fiturnya) termasuk dalam mempublikasikan karya tulis saya ini, itu juga yang menyebabkan saya malas beli kuota dan cuman mau numpang wifi secara gratis.banyak dari rekan kerja & teman2 nongkrong saya yang bertanya dengan pertanyaan yang sama : "Koen kok gak tau nduwe kuota seh?" alasannya bukan nya saya pelit sama diri sendiri, cuman saya ndak mau diperbudak oleh teknologi. (Wkwkwk guaya)

Boleh dikata tulisan saya ini cenderung dangkal,polos,lugu dan ndak mendukung kekinian blas. terkadang saya sendiri masih sering "kebobolan" dalam penggunaan media sosial.

Tapi disini saya setuju untuk mendukung agar kita lebih bijak lagi dalam penggunaan media sosial. Karena saya mengenal beberapa orang2 luar biasa yang justru ndak punya akun media sosial, Mereka sibuk berkarya di dunia NYATA bukan dunia MAYA.

Saya pribadi jauh menikmati mengobrol secara "real life" ketimbang via online. Karena tatapan matanya yang malu2 itu, senyuman nya yang ngangeni itu, Dan suara lemah lembutnya tak akan tergantikan oleh emoticon secanggih apapun.

  • view 77