Satu Minggu Bersama-mu

Atiya Fauzan
Karya Atiya Fauzan Kategori Project
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Diary Sang Pengantin

Diary Sang Pengantin


Pahit manis pernikahanku...

Kategori Acak

1.2 K Tidak Diketahui
Satu Minggu Bersama-mu

26 februari 2016... 
 
Seminggu yang lalu, tepat jum’at tujuh hari yang lalu (19/02/2016), kita dipenuhi perasaan cemas nan khawatir menghadapi momen paling bersejarah dalam hidup kita, yakni prosesi akad nikah. Aku dag dig dug tak karuan di hari yang paling membahagiakan tersebut. Keharuan dan kebahagiaan teraduk sekaligus. Menangis haru karena di peristiwa berhargaku, harus dilalui tanpa kehadiran Abah tercinta. Tersenyum bahagia karena di detik yang sama, aku melepas masa lajangku dan menjadi makmummu untuk lebih banyak lagi beribadah dan beribadah. 
 
Masih teringat jelas, bagaimana lisanmu dengan lancar dan tegas tanpa kesalahan mengucapkan ijab qabul. Dan sedetik kemudian, air mata sontak membasahi pipiku yang merona dengan blush on. Aku bahagia. Yap! Aku menangis karena bahagia, karena engkau telah menghalalkanku di hadapan Umikku. Yap! Aku menangis karena bahagia, karena engkau-lah yang menjadi takdirku. Yap! Aku menangis karena bahagia, karena engkau yang menerima estafet tanggung jawab dari almarhum Abah untuk menuntunku ke Jannah-NYA. 
 
*** 
 
Sudah 7 hari kita menjadi sepasang suami istri yang sah di mata agama dan dicatat oleh negara. Katanya, setelah menikah kita akan saling tahu lebih banyak lagi kekurangan pasangan yang akan memudarkan cinta yang sebelumnya terikrar ada. Katanya, setelah menikah kita akan banyak menemukan perbedaan yang menyulut api pertengkaran. Katanya, setelah menikah kita akan mudah berdebat serta mudah bosan dengan pasangan karena selalu bersama mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali dimalam hari. 
 
Tapi, itu semua hanya ‘katanya’, kata banyak teori orang-orang yang tak pernah aku temui kebenarannya selama sepekan ini. Iya, aku memang semakin tahu kekuranganmu dan engkau pun ribuan kali lipat semakin lebih tahu kekuranganku. Tapi, bukannya cinta itu memudar, malah cinta itu semakin kuat. Aku semakin mencintaimu dan engkau pun semakin mencintaiku. Kita saling memaklumi, menghargai, dan berkomitmen untuk saling mencintai apa adanya kita yang dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan. Aku mencintaimu, suamiku.
 
Dan tapi, banyaknya perbedaan yang muncul setelah kita menikah, mulai dari selera dan cara dari berbagai hal, tak pernah mampu menyulut emosi kita berdua, sebanyak apapun. 168 jam bersamamu, sedetik pun kita tidak pernah bertengkar, sedetik pun aku tidak pernah melihat amarahmu, dan sedetik pun aku tidak pernah mendengar suara tinggimu. Atas perbedaan-perbedaan itu, hanya aku yang menghadapinya dengan berubah menjadi api, hanya aku yang cemberut tak karuan, namun engkau mampu menjadi air es diantara percikan apiku, dan engkau pun mampu melucu bak Mr.Bean hingga mengubah cemberutku menjadi senyumku. Aku mencintaimu, suamiku.
 
Dan engkau (selama 7 hari ini) istiqomah mengecup keningku usai sholat berjama’ah lima waktu plus usai sholat dhuha dan tahajud. Engkau tak pernah absen mengucapkan “I love you, umi” dan aku membalasnya “I love you too, abi”. Ah, dunia terus menerus indah. Bosan denganmu? Sepertinya tidak akan pernah. Meski 24 jam 7 hari menjalani waktu denganmu, hidupku lebih berwarna. Tatapan teduh-mu, suara bijak-mu, jiwa pemimpin-mu, dan sentuhan hangat-mu mematikan kegalauan dalam kehidupanku hingga ke akar-akarnya. Aku mencintaimu, suamiku.

  • view 241