Karena Engkau Suamiku

Atiya Fauzan
Karya Atiya Fauzan Kategori Project
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Diary Sang Pengantin

Diary Sang Pengantin


Pahit manis pernikahanku...

Kategori Acak

1.4 K Tidak Diketahui
Karena Engkau Suamiku

4 Maret 2016...

14 hari menjalani hari denganmu. Lantas apa komentarku? Hanya satu kata jawabku. Bahagia !!! Iya, aku memiliki 14 hari yang membahagiakan, 14 hari yang mengesankan, dan 14 hari yang memukau. Hanya ada satu alasan, karena semua hari itu aku lalui bersama engkau, suamiku, imam hidupku.

Bagaimana tidak, di hari ke-10 pernikahan kita, aku mengekspresikan kecewaku dengan emosi, yakni men’diam’kanmu. Aku tahu seorang istri tidak boleh mendiamkan suaminya lebih dari semalam. Secara sadar ataupun tidak, aku tidak akan pernah melakukan perbuatan tercela tersebut. Namun kala itu, perbedaan selera kita mengecewakanku. Aku sedih dan terdiam seribu bahasa. Tidak perlu menunggu sedetik, engkau mengerti bahwa ada amarah yang mengelilingiku dan pantas merasa sebal padamu. Engkau sigap memahamiku, dan engkau siap dengan sifat kewanitaanku. Sensitif.

Aku yang emosi, aku yang diam, sontak tersenyum, terharu, dan bangga dengan ‘cara’mu meredam semua kemarahan dan keegoisanku. Aku masih ingat betul bagaiamana rayuan mautmu kala itu. Lantas engkau memelukku erat dan hangat. Ah, rasanya aku seperti istri paling beruntung di dunia ini. Cinta dan perhatianmu tak pernah lekang oleh waktu. Meski bukan lagi menyandang status sebagai pengantin baru, engkau masih mencintai dan menyayangiku sebesar ketika kita pertama kali bertemu dalam hubungan yang halal.

Aku sebagai wanita, jelas mudah terbujuk dengan rayuan hangat dan tingkah romantismu. Dan satu hal lain yang membuatku bahagia, engkau selalu meminta maaf meski aku yang membuat kesalahan. Aduh... aku begitu mencintaimu suamiku.

Menjalani detik denganmu, aku selalu tertawa atas tingkahmu yang sengaja melucu di depanku. Aku selalu menjadikan bahumu sebagai sasaran pukulan cinta atas keusilanmu yang menjahiliku. Aku selalu tidak bisa merawat amarah lebih lama dari sebelumnya. Karena sosokmu mengindahkan dan mewarnai hidupku.

Dianugerahi engkau sebagai suamiku, membuatku mampu meragukan pernyataan ‘menjadi seorang istri akan memberikan beban kehidupan, karena melakukan tugas rumah tangga dua kali lipat dari sebelumnya’. Namun, pada kenyataannya ternyata menjadi seorang istri adalah tanggung jawab terindah dengan banyak pahala tak terhitung disetiap harinya. Aku bangga dan aku bahagia. Dengan penuh kasih engkau mau menemaniku memasak, memandangku yang sibuk menggoreng dengan tatapan penuh cinta. Dengan penuh kewibawaan engkau berkenan membantu segala kelelahanku, dan menyeka keringatku yang masih belajar tentang pekerjaan rumah sebenarnya. Dengan penuh kesabaran, engkau ikhlas dibangunkan tengah malam demi mengantarku yang penakut ke kamar mandi. Ah, aku tidak akan pernah bisa berhenti menulis jika harus menuliskan kebaikanmu, karena mungkin tak pernah selesai. Kemarin dan kini, aku selalu dikejutkan dengan sikap ajaibmu yang melelehkan hatiku sebagai istrimu.

Kini, aku lebih mudah bahagia setiap hari. Kini, aku lupa seperti apa rasa galau itu. Kini, aku lebih banyak tersenyum. Kini, aku lupa rasa sendiri sebagai anak kos. Kini, hidupku lebih indah. Titik. Tahu kenapa? Karena engkau suamiku, cintaku, sayangku, kasihku...

  • view 271