Ibu, Putrimu Bahagia

Atiya Fauzan
Karya Atiya Fauzan Kategori Project
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Diary Sang Pengantin

Diary Sang Pengantin


Pahit manis pernikahanku...

Kategori Acak

1.2 K Tidak Diketahui
Ibu, Putrimu Bahagia

11 Maret 2016


Detik ini, detik ketika aku menyusun bait-bait catatan harianku, begitu sangat aku ingin katakan pada ibu bahwa aku bahagia. Bahkan teramat bahagia.


Dalam isakan tangis, keinginan itu aku pendam. Tak mungkin aku menghubungi ibu dengan suara parau karena merindukan pelukan hangatnya. Pipiku masih basah oleh airmata, tepat dalam pelukan suamiku tercinta. Dengan penuh cinta, suamiku melembutkan tangis yang seakan tak pernah berhenti.


Putri bungsu mana yang tak sedih tatkala menerima telpon sang ibu yang menangis hebat karena ditinggalkannya. Padahal, bersama suamiku kini tentu atas restu dan perintah ibu. Namun, mugkin karena aku putri kesayangan yang sudah tidak lagi menjadi tanggung jawab beliau, ibu merasa kehilangan dan teramat sedih untuk melepaskanku dengan senyuman. Padahal, aku yang berusia 11 tahun dulu, masih bocah ingusan, dengan ikhlas dan tega ibu memasukkanku ke pondok pesantren, tanpa pernah bisa ditawar, 6 tahun di penjara suci. Semenjerit apapun tangisanku, ibu tidak pernah menjemputku pulang dan tidak pernah mengabulkan permohonanku untuk keluar dari pondok pesantren.


Dan namun, kini aku yang berusia 23 tahun, sudah dewasa dan menjadi istri orang, ibu malah merasa berat berpisah denganku dan melepaskan statusnya sebagai penanggung jawabku.


Kenapa ibu menangis? Ketika aku tanya demikian, beliau hanya berujar bahwa detik-detik dalam bulan ini, beliau merasa seperti kehilangan sosokku. Tentu ibu bahagia, bangga, dan percaya pada menantunya (suamiku-red), namun tangisnya hanyalah ungkapan emosi kesedihan karena putri bungsu semata wayangnya harus lepas dari genggaman cintanya. Sekedar itu. Tak lebih.
Aku yang sesenggukan dibahu suamiku tercinta, ingin bercerita pada ibu bahwa pernyataan beliau yang bahagia karena aku menjadi istri dari seorang pria baik, yang bangga pada menantu bungsu yang begitu hebat nan mengagumkan, dan yang percaya atas lahir dan batin Mas Oyon (sapaan akrab suamiku) adalah benar adanya.


Ibu patut bahagia, bangga, serta percaya. Karena bersama suamiku tercinta, 24 jam waktu dalam sehari yang dianugerahkan padaku kini, terasa lebih mempesona dari sebelumnya. Suamiku mampu memanjakanku seperti ayah memanjakanku dulu. Suamiku yang menyeka airmata kesedihanku. Suamiku tempat bersandarku dikala berbunga-bunga karena bahagia atau disaat murung penuh kesedihan. Suamiku tempat segala curahan cerita kehidupanku bermuara. Suamiku yang menuntunku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Suamiku yang bertanggung jawab atas segala gerak kehidupanku. Suamiku adalah teman hidupku. Suamiku yang menjadi imam dunia akhiratku. Dan... suamiku adalah segalanya hingga kami menua bersama, dipisahkan oleh maut, dan dipertemukan kembali di tempat yang lebih mulia.


“Ibu, aku putri bungsumu, yang terbiasa hidup jauh denganmu sejak 13 tahun silam, tidak akan pernah meninggalkanmu. Do’a yang mempertemukan cinta kita. Aku disini bahagia dan aku harap ibu juga bahagia. Bukankah senyumku adalah segalanya bagi ibu? Jangan bersedih, aku mohon.”


Dan satu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada ibu mengenai kebahagian bersama suamiku tercinta. Segala do’a yang ibu panjatkan pada Allah SWT tentang pria yang akan menjadi imamku, begitu nyata aku temui dalam diri suamiku tercinta.
Pria yang mengerti aku.
Pria yang sabar menghadapi aku.
Pria yang mencintaiku apa adanya.
Pria yang bijaksana atas keegoisanku.
Pria yang bertanggung jawab atas diriku sepenuhnya.
dan,
Pria yang mampu meredam kesensitifanku.

  • view 190