PURNAMA KETIGA

Atika Musthafa
Karya Atika Musthafa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 April 2016
PURNAMA KETIGA

"Urip iku urup*, Nduk. Seraplah pengetahuan sebaik-baiknya, belajarlah di manapun, dari siapapun. Agar kelak nanti kau bisa merasakan bahagianya menanam kebaikan." Ucapnya pada suatu senja yang gerimis di ruang tunggu stasiun Kota Baru.

?

"Bapak, apa tidak ada pilihan lain selain berpisah? Desa kita sudah maju, di kecamatan sudah ada sekolah bagus. Lantas? Mengapa saya harus jauh-jauh pergi meninggalkan Bapak dan Ibuk untuk mencari hal yang sama?". Aku menjawab pelan sambil mengusap bulir-bulir air yang mulai membasahi pipiku.

?

Bapak kemudian tersenyum dan berkata: "Suatu hari nanti kau akan tahu mengapa. Sekarang berangkatlah, keretamu siap mengantarkanmu. Semoga kebaikan, keselamatan, keberkahan selalu menyertaimu Nduk."

?

Usai aku mencium punggung tangannya, Bapak beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju tempat parkir dengan dituntun oleh kakakku. Ah Bapak, aku tahu sekali betapa ia tak ingin membiarkanku pergi sendiri ketika kembali ke pesantren. Namun aku juga tahu benar, gangguan indera penglihatannya sudah tak memungkinkan lagi untuk mengantarku menebas jarak 200 km lebih menuju pesantren.

?

***

?

Tiga purnama telah terlewati, sebagai santri rantau, aku telah terbiasa tidak bertemu dengan keluargaku selama berbulan-bulan. Aku hanya bisa mengurai rinduku ketika kudengar suara Ibu dan Bapakku lewat pesawat telepon wartel. Cara itu tentunya tak pernah bisa menggantikan perjumpaan dengan mereka dan hangat pelukan mereka.

?

"Ah, biarlah. Asalkan kami masih melihat bulan yang sama, itu tak mengapa." Gumamku dalam hati sambil menikmati indahnya purnama.

?

Lamunanku dibuyarkan oleh suara seorang pengurus yang memanggilku, wajahnya menunduk seperti menyembunyikan sesuatu dan berkata "Mbak, monggo ke kantor. Ibumu menelepon."

?

Hatiku seraya gembira, kemudian aku berjalan menuju kantor pondok untuk mendengar kabar ibu dan keluargaku.

?

"Nduk, pulanglah. Kuatkan hatimu, Bapakmu telah pergi selamanya." Kesadaranku seakan hilang ketika kudengar suara ibuku dari seberang.

?

***

?

Bapak, apa kabar? Semoga sampean mendapatkan kasih sayang dan tempat terbaik di sisi Gusti Allah.
Bapak, puluhan purnama telah terlewati sejak terakhir kita berbincang di senja stasiun itu.
Bapak, sekarang aku mengerti, bahwa akhlak, kerja keras, barakah kiai, sanad keilmuan, kebersamaan, ketabahan, kesungguhan tidak bisa didownload begitu saja. Aku belajar banyak hal dari jalan yang kau pilihkan. Terima kasih telah mengantarku ke jalan yang baik.
Bapak, "urip iku urup", ucapmu sore itu. Seperti do'amu, aku juga berharap??? semoga kebaikan, keselamatan, keberkahan selalu menyertai kehidupanku.

?

?

*urip iku urup: Salah satu dari sepuluh filosofi jawa yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga