Kartini (tidak) Mati

Asy Syafa Mahfuzhah
Karya Asy Syafa Mahfuzhah Kategori Budaya
dipublikasikan 21 April 2017
Kartini (tidak) Mati

 

“Terus kalo sekarang hari Kartini, penting gittu buat gue?”

“Buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ itu aja gue ngga pernah tau apaan isinya.”

“Semua orang juga udah tau kalo Kartini itu penjunjung emansipasi. Ngapain pake dirayain segala?. Jelas banget kalik, emansipasi kan ngga sesuai sama syariat islam.”

“Padahal Dewi Sartika udah berjuang duluan buat sekolah, dsb. Kenapa malah Kartini yang lebih dikenal dan dipuja? Bahkan sampe dibuatin lagu dan ada hari peringatannya.”

“Lagian, Kartini ngga sholehah-sholehah amat tuh. Malah denger-denger, Kartini itu terkenal feminis liberalis pluralis yang udah dipengaruhi Freemasonry, bahkan Yahudi lho”

 

Well, mungkin itu beberapa pertanyaan yang sering dateng ke pikiran kita sendiri. Entah kenapa, kadang manusia suka lupa kalau ia diciptakan dengan dua mata. Padahal Allah menciptakan dua mata supaya manusia ngga hanya melihat dengan sebelah mata aja. It’s mean we have to see from all point of view.

Oke, sedikit flasback, ibu Kartini ini sudah bisa berbahasa Belanda di usia yang sangat muda (12 tahun). Beliau juga seriing membaca buku, koran, dan majalah Eropa. Sering kali hasil tulisannya dimuat di majalah wanita Belanda (De Holladsche Lelie). Padahal zaman dulumah, sekolah aja udah sukur. Jadi ngga heran, kalau ibu Kartini punya pemikiran yang maju dan punya ambisi besar untuk memajukan perempuan Indonesia. Baik itu dari segi wawasan, maupun kepribadian. Yang jelas, beliau sudah paham betul pentingnya pendidikan bagi perempuan. Bukan pentingnya berpenampilan cantik dan menarik di depan dia atau pentingnya IPK dan amal sholih sendiri, sedangkan temen disebelahnya ngga peduli sama sekali

Itu, poin pertama..

Terus, selanjutnya. Udah pernah denger cerita tentang pertemuan Kartini dengan seorang Ulama Besar pada zamannya? Oke, kalau belum tahu, aku ceritain versi singkatnya ya.

Awalnya, Kartini sedang berkunjung ke rumah pamannya. Ternyata saat itu lagi ada pengajian bulanan yang diisi oleh Kyai Sholeh Darat. Kartini pun ikut menyimak kajian yang saat itu membahas tentang tafsir Surat Al-Fatihah. Setelah kajian selesai, Kartini mendesak pamannya agar ia bisa bertemu dengan Ulama Besar tersebut untuk mengajukan pertanyaan.

Begini dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat.

Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?

Kyai Sholeh Darat tertegun mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.

Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?

Setelah pertemuan tersebut, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari Surah Al-Fatihah sampai dengan Surah Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang, tidak lama setelah itu, Kyai Sholeh Darat meninggal dunia sebelum menyelesaikan penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa.

Nah dari cerita barusan, tergambar jelas kalau Kartini adalah seorang yang benar-benar merindukan pemahaman mendalam akan islam. Semangat memahami islam inilah yang perlu kita highlight pada poin ini. Kalau zaman sekarang, mungkin doi lagi gencar-gencar nya ikut kajian sana sini.

"Mungkin ada yang keberatan dan menyebutnya sebagai karya kecil; dan bahwa Kartini kemudian disebut masih terlalu banyak menyimpang dari syari’at yang murni. Tentu saja, jika semua pembawa cahaya untuk zamannya ditimbang dengan ukuran masa kini, maka mereka hanya akan menjadi lentera usang penuh noda. Lihatlah Kartini dan ukurlah dengan zamannya ketika da’wah adalah kata yang nyaris asing. Selebihnya, mari berrendahhati untuk mengakui keagungan para pendahulu.” -Salim A Fillah

So, sebenernya masih banyak lagi yang bisa kita ambil dari Raden Ajeng Kartini. Mau ngasih pantun penutup ah, dari Kang  Choqi  :

Apalah arti berlian, jika hanya berada di dalam lemari.
Apalah arti pergerakan, jika hanya berguna untuk diri sendiri.

Satu hal, yang perlu kamu tahu.  Kartini tidak pernah mati, karena sebenarnya KAMU lah kartini masa kini !


Selamat Hari Kartini, para perempuan Indonesia ! :D

  • view 48