Kacamata Malaikat Tak Bersayap

Asy Syafa Mahfuzhah
Karya Asy Syafa Mahfuzhah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2017
Kacamata Malaikat Tak Bersayap

Alhamdulillah beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk bisa duduk di Gedung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, tepatnya di ruang samping bapak mentri. Bukan sebagai pelajar berprestasi, tetapi sebagai pelajar yang mencari banyak kesempatan setiap hari.

Kali ini, saya berkesempatan bisa duduk bersama para guru se-indonesia. (Guru yang sudah mempunyai title sebagai pendidik. Bukan title 'guru dari anak-anakku nanti') :')

Selama 2 hari saya mengikuti pelatihan menulis buku bersama guru-guru se-indonesia. Dari guru TK hingga guru SMA. Beberapa guru datang dari Padang, Riau, Maluku, dan dari Provinsi Jawa lainnya. Usia mereka tidak bisa dibilang cukup muda. Tetapi semangat mereka yang begitu tinggi mengingatkan saya pada anak muda yang terkadang masih enggan berkarya dan berprestasi.

Hari pertama menurut saya itu mengesankan. Bayangkan saja, ada seorang mahasiswa kesehatan tingkat dua berada dalam workshop kepenulisan para guru sekolah. Bukan tersesat, tapi sedang mencari arah. Mungkin memang harus (sedikit) tenggelam untuk bisa berenang. 

Akibatnya, banyak sekali pelajaran yang justru muncul ketika tidak sedang dicari. Seperti sepotong percakapan saya dengan seorang guru SD. Namanya Ibu Dewi. Beliau sangat sangat supel. Bisa dibilang, Bu Dewi ini tipikal seorang guru yang bersahabat dan pengertian. Ngerti banget ada mahasiswa yang lagi berenang sendirian dalam lautan guru, wkwk. Pokoknya.. like teacher, like mother.

Oh iya, beliau dulunya sempat menjadi dosen dan guru SD dalam satu waktu. Hingga beberapa waktu kemudian, beliau dihadapkan pada suatu pilihan. Ia harus memilih satu diantara dua tempat mengajarnya. Menjadi Guru SD atau Dosen?

"Terus ibu pilih yang mana?" Tanyaku penasaran.

tahu apa yang beliau piliih??

...

"Jadi guru SD dong" Katanya sambil tersenyum.

"Haa. Kenapa, Bu?" Kataku masih belum percaya. Jelas-jelas menjadi dosen kan (kelihatannya) lebih enak. Mengajar mahasiswa yang notabene nya sudah bisa diajak berpikir dewasa. Bukan anak kecil yang masih susah diberi pengertian, dan kelebihan-kelebihan profesi dosen lainnya.

Ternyata, ini jawaban Bu Dewi..

"Nak, ibarat sebuah bangunan. Kalau mau menjadi bangunan yang kokoh itu harus memperhatikan apanya?"

"Pondasinya, Bu?"

"Iya. Bener ! Kalau pondasinya kuat, insyaAllah tiang dan atapnya juga akan kuat.

"Wah, jadi ... "

"Jadi anak didik itu ibarat sebuah bangunan, nak. Kalau dari awal sudah dididik dengan kokoh, insyaAllah perjalanan kedepannya juga akan kokoh."

":'D" 

"Kalau ibu, justru lebih bahagia melihat anak didik ibu yang sudah lulus SD terus datang lagi bertahun-tahun berikutnya sambil bawa banyak cerita kesuksesannya 'sudah menjadi apa sekarang? apa saja yang sudah dicapai selama ini? apa saja yang sudah dilakukan untuk masyarakat dan ummat?'. Gitu, nak"

":'))))"

 

 

#cont'

***

Jadi kepikiran, apa saja yang sudah dicapai selama ini?

#RenunganMalamIni

***

 

27 Januari 2017

*dalam perjalanan menuju Kota Bakpia Pathok :9

  • view 73