Perempuan yang Membenci Puisi / Bagaimana Kesempatan Menjadi Kegagalan (1)

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 19 Maret 2016
Perempuan yang Membenci Puisi / Bagaimana Kesempatan Menjadi Kegagalan (1)

Kawanku, ini adalah sebentuk surat, yang aku tulis untukmu, Putri, yang kini sedang terpuruk dalam keputusasaan.
Kawanku, kamu tahu, aku sudah membaca semua puisi-puisimu. Ah, indah sekali kata-kata yang kaurangkai, bahkan sangat dalam sekali makna-maknanya.
Sejak panitia mengumumkan pemenang lomba dan ternyata dirimu gagal memenanginya, samar-samar aku melihat kekecewaan mulai terbit dan menghiasi wajahmu, mencipta senyum getir?mengingat hari-hari yang kauhabiskan untuk menuliskan mereka demi menjauhi deadline. Mengingat hari-hari ketika insomnia melanda. Mengingat hari-hari ketika sakit menorehkan luka. Mengingat hari-hari ketika senja menerakan jingga. Mengingat hari-hari ketika fajar merekahkan asa.

Saat ini mungkin kamu tengah bertanya-tanya sendiri:
?Ke mana perginya cahaya yang aku tunggu? Aku tidak pernah terburu-buru sedangkan kesempatan selalu berkaitan dengan waktu. Berhari-hari aku terus mengejarnya ke barat dan ke timur.?
Atau mungkin seperti ini: ?Di mana sembunyinya cahaya yang aku rindu? Apa yang mengganggu senantiasa aku tinggalkan sedangkan kesempatan selalu berkaitan dengan persaingan. Berhari-hari aku terus mencarinya ke utara dan ke selatan.?

Jiwamu, kawanku, adalah menyerupai akar yang menancap kuat. Tubuhmu adalah menyerupai pohon yang menjulang kokoh. Setidaknya, itulah yang kutahu tentang dirimu. Kakimu masih kokoh untuk memijak, tanganmu masih kuat untuk mencengkeram, jiwamu masih setajam matamu saat memandangku.
Lantas, ketika kesempatan yang kauperjuangkan berakhir pada pertarungan?antara kau dan nasib, antara kau dan dia?mengapa kau biarkan dirimu jatuh dalam keterpurukan?
Lantas, ketika kesempatan yang kauperjuangkan berakhir pada kegagalan?karena ketakutan dan kegugupan terlalu menjepitmu dari kiri dan kanan?mengapa kau biarkan dirimu jatuh dalam kemurungan?
Lebih dari sekadar menang dan kalah, kawanku, apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pertarungan memang bukanlah kedua hal itu, melainkan cara bermain. Sebuah fairplay.
Seandainya aku memegang peran seorang pegulat, aku mesti tak lagi berjalan lambat menuju ke ring, sementara lagu pemacu adrenalin terus menggema dalam arena?sebab ketika harimau tengah meloncat, si pawang benar-benar harus bertindak cepat.

Suatu ketika, Sabrina, aku pernah menjalani sebuah hari di mana hampir terasa disesaki oleh semua keterpurukan. Sejumlah lamaran pekerjaanku tidak diindahkan oleh perusahaan-perusahaan. Berhari-berhari aku menghabiskan waktu; berlari ke sana-ke mari mencari berbagai surat demi memenuhi syarat lowongan. Tetapi, tetap saja, aku gagal.
Mungkin, Yang Maha Besar telah menjawab doaku, sebab, sehari setelah kegagalanku, tiba-tiba seorang tetanggaku menawari pekerjaan padaku. Bahkan, waktu itu aku masih ingat, aku diterima bekerja tanpa perlu membuat lamaran kerja.
Di saat-saat seperti itu, bukankah waktu?dengan izin-Nya?telah ?membayar? jerih payahku dengan setimpal? Sebab, apa pun itu, aku masih harus selalu yakin bahwa, sebagaimana jalan menanjak selalu berakhir menurun, setelah kesulitan akan selalu terdapat kemudahan.

Kawanku, kamu tahu, terkadang kesempatan-kesempatan tidak begitu saja pergi, melainkan hanya berputar-putar, menghilang seperti malam, menyambut seperti pagi.
Surat ini telah aku tujukan ke Alpen, sebab, aku sudah tahu kebiasaanmu bahwa kemurungan seringkali membuatmu mengasingkan diri di pegunungan.
Kawanku, kamu tahu, aku adalah seorang laki-laki yang tak suka mengungkit-ungkit hal-hal sepele yang telah terjadi. Anggaplah, omelan para juri bagai hal sepele; jangan sampai mereka menghentikan langkahmu;
bahwa kau harus tetap menulis puisi?meski ocehan-ocehan itu terasa mengiang di telinga kanan dan kiri.
Baiklah, aku memang tidak suka menulis puisi. Hanya tidak suka saja?bukan membencinya.
Kamu tahu, aku lebih suka menunggang kuda, merasakan kaki menginjak sanggurdi, di pegunungan Alpen sambil melihat pemandangan Swiss. Namun demikian, bukan berarti aku punya alasan untuk bisa memaksakan kehendakku tentang ketidaksukaanku itu kepadamu.
Sebaliknya, aku sangat mendukung minatmu. Lebih dari itu, aku sangat percaya kesempatan akan menghampirimu lagi.
Sekali lagi, aku sangat percaya kesempatan akan menghampirimu lagi, bahkan bersamaan ketika kau sedang duduk di mulut tebing yang tinggi, tanpa mengharapkan tepuk tangan lagi.

Di saat-saat seperti, kamu akan tahu, sesuatu lama akan memberikanmu semacam pertanda untuk berdiri dan menoleh. Jangan kaget, kawanku, kalau aku, Leopold si pemberani ini, tiba-tiba datang dan segera menyambutmu dari belakang. :-)


Salam baik, Leopold.
Muhammad Pamungkas Prasetya Leopold Aji Sarjono.



N.B: Untuk mengisi kekosongan yang menjemukan, saya menciptakan tokoh Leopold dan Sabrina, sebagaimana Fahd Djibran memulai beberapa bukunya dengan mengisahkan persahabatan antara Marva dan Zira.


19 - 03 - 2016
ARIF SYAHERTIAN

Photo: https://www.flickr.com/photos/neil_zee/16022445952/

  • view 225