BAGAIMANA PIKIRAN MEMPENGARUHI BAHASA

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Maret 2016
BAGAIMANA PIKIRAN MEMPENGARUHI BAHASA

Seseorang pernah bilang wajah adalah cerminan jiwa. Rasanya saya ingin mengamini perkataan tersebut?terlepas dari dikotomi hitam-putih warna kulit, bagus-kurang bagus bentuk fisik.
Sebab, jika kedua hal itu terlalu dipikirkan, saya khawatir kita akan terjerumus ke dalam rawa-rawa diskriminasi.
Ketika kita tersenyum tulus, tanpa berpura-pura, hati akan menyalurkan ketulusan itu hingga mencipta gambarannya?cerminannya?di wajah. Hati penuh dengki akan memancarkan kedengkiannya itu berikut instrumen-instrumen pengikutnya yang berpotensi membuka lebar pintu-pintu kedengkian lainnya.
Memang wajah bisa menipu, tulus tetapi pada akhirnya punya maksud tertentu, maka tentang itu saya tidak ingin membicarakan keahlian orang dalam menciptakan kebohongan.
Memang hidup akan selalu berubah-ubah, kemarin berwajah ceria sementara hari ini tampak murung, maka tentang itu saya tidak ingin membicarakan kearifan orang lain dalam menghadapi kefluktuatifan hidup itu sendiri.

Jika wajah adalah cerminan jiwa, maka bahasa adalah ?pakaiannya pikiran?, the dress of thought. Samuel Johnson (1709-1784) pernah mengatakan itu. Entah sudah berapa banyak baik fakta maupun informasi yang kita masukkan dalam ?pikiran?. Kata ini, dalam pemahaman John Locke, pada awalnya disebut sebagai ?lembaran yang kosong?. Lembaran yang menunggu untuk ditulis dengan dunia pengalaman. Segala sesuatu yang kita ketahui, bagi filsuf yang pernah jadi teman dekat Sir Isaac Newton itu, berasal dari pengalaman?melalui tindakan dunia fisik terhadap organ indera kita.
Noam Chomsky tak ingin mengamini itu. Dia beranggapan bahwa pikiran dibatasi dalam operasinya oleh struktur bawaan tertentu; semua bahasa memiliki struktur universal yang sudah terpasang dalam otak dan bukan sesuatu yang dipelajari melalui pengajaran dan pengalaman.

Kini tibalah kita pada sebuah pembahasan sederhana mengenai relasi antara bahasa dan pikiran; Bahasa kacau = Pikiran kacau.
Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934), psikolog Rusia itu, tidak setuju dengan kalimat pembahasan tersebut dengan menyatakan struktur ujaran tidak hanya cermin dari struktur pemikiran. Sebab, baginya, pemikiran mengalami restrukturisasi saat diubah jadi ujaran?ia tidak diekspresikan tetapi dilengkapi dengan kata.
Jika dia berpendapat demikian tanpa mempertimbangkannya dengan situasi pikiran manusia ketika kacau, saya kira Vygotsky keliru. Sifat pikiran manusia terungkap oleh sifat bahasa, demikianlah Noam Chomsky pernah berkata.
Itu sebabnya, pada kenyataannya, bukan tidak mungkin kita akan mengalami kesulitan mengolah bahasa kembali jika kita sedang punya banyak masalah, menanggung beratnya beban hidup, merasakan ruwetnya pikiran. Kemampuan kita untuk mengungkapkan bahasa, kata-kata, jadi menurun. Semua kosa kata yang pernah hadir di otak bukannya tersusun rapi, melainkan tercampur jadi satu, atau terpencar entah ke mana, sehingga seringkali membuat kita kaget dan lupa, ketika orang menanyakan sesuatu secara tiba-tiba.
Berputar-putar pikiran kita menari, berusaha mencari dan mencuri kembali, hal-hal yang telah pergi. Dengan demikian terciptalah ?chaos?.

Sir Arthur Conan Doyle pernah menyinggung ?chaos? itu?melalui salah satu tokoh rekaannya yang kita sendiri hormat dengannya Sherlock Holmes. Kita tahu Doyle sendiri adalah seorang psikiater yang telah menghasilkan banyak karya dalam bidang tersebut. Maka bukan sekadar kelakar belaka ketika dia mengatakan bahwa otak manusia mirip dengan loteng kecil yang kosong. Orang kurang pandai, kata Sherlock, mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan? hal-hal lain. Singkatnya, orang bijak memilih dengan hati-hati apa yang akan dimasukkannya ke dalam loteng otaknya.
?Oleh karena itu,? tutup Sherlock, ?penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna.?

Dengan banyak timbulnya kata ?anu? atau ?apa ya? ketika berbicara dengan orang lain, saya sangat menyadari betapa saya masih kesulitan menggunakan bahasa secara baik dan benar.
Namun demikian kebanyakan masyarakat kita lebih menghargai apa yang kita ucapkan dengan mementingkan maksud dari ujaran itu ketimbang tata bahasanya. Barangkali kita bisa mengambil kesimpulan: Ujaran memang lebih dekat dengan pemikiran manusia daripada tulisan.

Descartes (1596-1650) sangat menghargai seni berbicara dan mencintai puisi. Dia sendiri percaya keduanya merupakan pembawaan dan bukan hasil belajar. Orang-orang yang memiliki daya nalar tinggi dan yang mampu mengatur pikirannya dengan cara yang sebaik-baiknya agar menjadi jelas dan? mudah dimengerti, tulisnya dalam Discourse on Method, selalu juga paling mampu meyakinkan orang lain tentang hal yang mereka ungkapkan, sekalipun mereka berbicara dengan dialek Bretagne kasar atau tidak pernah mempelajari seni berbicara.
Mungkin itu sebabnya orang yang menyelipkan nasihat secara ?jelas? dan singkat di tengah-tengah tulisan seringkali lebih didengarkan, daripada mereka yang menceramahi panjang lebar tanpa mengatur pikirannya lebih dulu. Meski Descartes berfilsafat dengan semangat tentang daya nalar dan daya pikir, dia sama sekali tak beranggapan daya pikirnya lebih sempurna dari nalar manusia pada umumnya. Bahkan, dia sering berharap memiliki daya pikir yang demikian cepat, atau daya imajinasi yang demikian tajam dan jernih, atau ingatan yang demikian luas dan siap.

Di zaman Descartes, berbagai bahasa juga diajarkan untuk memahami naskah-naskah klasik.
?Kisah-kisah itu,? jelasnya, ?membantu pembaca membentuk pendapat; bahwa membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau?yakni pengarang-pengarangnya itu?bahkan percakapan berbobot, karena dalam buku-buku itu mereka semata-mata menuangkan gagasannya yang terbaik; bahwa seni berbicara memiliki kekuatan dan keindahan yang tiada bandingnya; bahwa puisi mengandung keindahan dan kelembutan yang mempesona; bahwa matematika menghasilkan berbagai temuan-temuan yang pelik dan sangat berguna, baik untuk memuaskan orang yang ingin tahu maupun untuk memudahkan semua bidang kesenian dan mengurangi jerih payah manusia; bahwa tulisan-tulisan tentang moral mengandung berbagai ajaran dan imbauan akan keutamaan yang sangat berguna; bahwa teologi mengajarkan bagaimana mencapai akhirat; bahwa filsafat memberikan jalan untuk berbicara dengan cara yang masuk akal tentang segala hal dan membangkitkan kekaguman orang-orang yang kurang pintar; bahwa ilmu hukum dan kedokteran serta cabang-cabang ilmu lainnya melimpahkan kehormatan dan kekayaan kepada mereka yang menekuninya; dan akhirnya, bahwa baiklah mempelajari semua disiplin itu, bahkan yang paling takhayul dan palsu sekalipun, agar kita mengetahui nilai yang sesungguhnya dan terhindar dari kekeliruan.?

Tetapi kita tahu, kita akan jadi asing terhadap kebiasaan masa kini?di zaman smartphone ini?bila terlalu menggunakan waktu untuk berkelana ke masa lampau.
Kita pun jadi mengharapkan berpakaian seperti penduduk London abad ke-19. Mengenakan jas, topi mirip pesulap, sarung tangan, dan membawa tongkat.

Dengan menjabarkan pengetahuan terbatas saya tentang peran bahasa di atas, mudah-mudahan kita dapat lebih memaksimalkan fungsi otak untuk memilah atau mengkategorikan secara baik dan benar antara fakta dan informasi kurang berguna?sehingga setidaknya tendensi akan timbulnya sebentuk chaos itu dapat terminimalisir.

Seseorang memang pernah bilang wajah adalah cerminan jiwa. Mungkin, ketika dia mengatakan itu, dia juga menyadari betapa pentingnya memelihara keduanya; meski yang pertama tak bisa selalu ceria, yang kedua sangat dipercaya bisa melapangkan dada.


ARIF SYAHERTIAN
12-03-2016

Photo: Mateo rc -- https://www.facebook.com/AuroraChet.Apichet/photos/a.10150933321916985.416583.369953306984/10151432528731985/?type=3&theater

  • view 324