PELARIAN SEORANG PENEMBAK - EXPLOIT OF MALCOLM & BRIAN

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2016
PELARIAN SEORANG PENEMBAK - EXPLOIT OF MALCOLM & BRIAN

I
CUACA MENDUNG DAN BEREMBUN pagi itu ketika aku sedang menyapu lantai teras. Matahari masih bersembunyi, menunggu waktu tepat untuk menampakkan diri, bagai pemburu yang mengawasi singa, di keluasan hutan rimba. Daerah persawahan bagian paling utara tampak sangat kabur dan putih—tertutup embun tebal. Sebuah sedan Corolla merah tiba-tiba berhenti tepat di depan gerbang rumahku. Mengenakan kemeja abu-abu lengan panjang jenis elbow patch, celana jeans hitam pekat, dan sebuah topi Lee Cooper hitam tergenggam di tangan, Malcolm Pamungkas turun dengan santai dari mobilnya. Tanpa berbasi-basi, aku segera mengajaknya masuk ke ruang tamu, sebelum akhirnya aku menghambur ke belakang, lalu menghilang di balik pintu kamar. Sesaat sebelum kami berangkat, Malcolm minta diri pada bibiku dengan sopan sekali; khas orang jawa yang benar-benar jawani.
"Mau ke mana? Ke rumah saudara?" tanyaku ketika kami berada dalam mobil.
"Tebakan yang buruk,” balasnya tanpa menoleh. “Inspektur Jeffrey menyuruhku untuk datang. Dia pernah jadi tetanggaku saat aku masih tinggal di Kedungwaru. Kami pernah, berawal dari keisenganku belaka, berhasil menangani kasus pembunuhan di pabrik tua bekas industri kertas."

Ternyata, Malcolm pernah menjadi bagian tak terpisahkan, an inseparable part, dari tragedi pabrik Kedungwaru. Dua tahun lalu telah terjadi pembunuhan di pabrik tua itu—semua warga Tulungagung mengetahuinya. Seorang anak SMA ditikam dengan pisau belati tepat di jantungnya. Seragam yang dikenakannya sangat kotor—bagian depannya hampir penuh dengan bercak darah. Mayatnya tergeletak begitu saja, dengan posisi tubuh tertelungkup, di samping pohon beringin. Sedangkan pisau belati itu dikubur di tanah dekat kolam yang sudah tak terpakai—lokasinya berjarak empat puluh meter dari tempat kejadian perkara. Dua hari kemudian, Malcolm mengemukakan gagasan dan teori-teorinya pada Jeffrey. Mereka lalu meninjau tempat kejadian perkara, menanyai tukang becak yang merupakan saksi pertama, dan menginterogasi semua anggota keluarga yang notabene berasal dari golongan kelas atas. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan panjang juga peninjauan yang sangat memerlukan kesabaran, akhirnya mereka berani memutuskan bahwa pembunuhnya merupakan adik kandungnya sendiri. Motifnya adalah kecemburuan. Semua keinginan kakaknya selalu dituruti oleh orangtuanya, sementara ia tak begitu diperhatikan. Orangtua mereka sangat terpukul; tak hanya kehilangan anak sulungnya, mereka juga harus berani menerima kenyataan bahwa anak bungsunya masuk sel penjara.
Matahari baru saja menampakkan diri ketika kami berjalan dari tempat parkir LAPAS Tulungagung. Petugas-petugas berpakaian dinas berjalan hilir mudik, empat pemuda membersihkan lantai dengan tangkas, beberapa orang duduk mengantri di depan ruang Administrasi. Seorang juru tik perempuan memandangi kami dengan melongokkan kepalanya dari balik kaca jendela. Di meja kantor tengah, empat anggota polisi muda tengah asyik bercakap-cakap. Seorang dari mereka, yang berbadan agak kurus, berhenti berbicara ketika melihat kedatangan kami. Tarikan wajahnya berubah menjadi serius dan formal. Setelah Malcolm mengutarakan niatnya, polisi muda itu mengantarkan kami menuju ke kantor Inspektur, yang tak jauh dari resepsionis.
"Masuk," seru Jeffrey pendek, sambil melirik kami dengan tajam dari balik laptopnya, ketika kami tiba di ambang pintu.
Segera sebelum duduk di kursi masing-masing, kami berjabat tangan dengannya.
"Brian,” tanya Jeffrey dingin, “Masih kuliah atau sudah bekerja?"
Sebuah pertanyaan wajib yang selalu ditanyakan orang.
“Bersama saya, bekerja di perusahaan mie,” Malcolm cepat-cepat mendahului, dan dengan bangga ia mengimbuhkan. “P.T Abadi Sumber Tentrem milik almarhum ayah saya.”
Jeffrey mengangguk. Dia berpawakan sedang tetapi tulang-tulangnya besar dan kuat. Usianya, kutaksir, sekitar empat puluh tahun. Rambutnya terpangkas tipis khas militer—mempertajam urat dan otot yang muncul pada kulit kepalanya. Dahinya agak lebar tetapi sangat berkerut, seperti seorang pemikir ulung yang kurang tidur. Kerutannya terlihat dalam, melingkar ke bawah, melewati dua pelipisnya yang lebar.
“Malam lalu, Malcolm,” Jeffrey memulai bercerita, dengan kedua tangan saling mengait, “seorang napi baru, Rudi Henry Kurniawan, telah kabur dari penjara. Umurnya tiga puluh tahun dan masih satu bulan ini menghuni penjara. Terlibat perkelahian dengan seorang pemuda keturunan Tionghoa, Simon Setiadi.”
Tiba-tiba Jeffrey berhenti dan mengetik sesuatu di keyboard laptopnya.
“Sehari sebelumnya,” ia kembali melanjutkan, “Rudi telah meminta izin pada Brigadir Johan agar memperbolehkannya begadang pada malam minggu, untuk mendengarkan siaran wayang kulit di radio. Jam setengah satu dini hari, Rudi pergi ke kamar mandi, diikuti oleh Brigadir Johan yang menunggu di luar pintu. Betapa terkejutnya Johan ketika ia mendapati Rudi keluar lalu memukul wajahnya dengan knuckle berpisau lipat. Setelah berkali-kali memukulnya, dia menjangkau lehernya dengan pisau lipat, dan begitulah. Dia tewas. Itu berhasil kami lihat lewat CCTV di lorong pintu kamar mandi.”

Malcolm mendengarkan uraiannya dengan dahi berkerut. “Wah, pembunuh yang liar. Anda bilang Rudi tersangkut, eh, terlibat perkelahian, bagaimana urutan kejadiannya—kronologisnya?”
Inspektur itu berdehem. “Minggu 28 Januari lalu, waktu itu polisi sedang berpatroli malam seperti biasa. Di sepanjang jalan beraspal Karangrejo, yang dikelilingi oleh persawahan yang luas dan memanjang itu, selalu sepi di malam hari. Melihat dua orang tengah bertengkar di kejauhan, mereka memacu mobilnya lebih cepat lagi. Tetapi mengetahui lampu mobil polisi menyala biru di kejauhan, Rudi langsung menjangkau stang motornya dan melesat pergi. Dan lawannya, Simon, terlentang tak berdaya di atas tanah. Darah mengucur di pelipis kanannya. Para polisi yang bertugas lalu membawanya ke Rumah Sakit Islam. Sejumlah polisi terus mengejar Rudi sampai akhirnya dia terkepung dan berhasil diringkus di Ngantru. Simon bilang bahwa dia sama sekali tak mengenal Rudi. Tentu saja kami tak sepenuhnya percaya pada perkataannya. Lalu kami menjadikan salah satu pembantu di rumahnya sebagai mata-mata.”
“Kalau begitu,” ujar Malcolm, “pasti Rudi sudah lama mengincar Simon, tanpa sepengetahuannya. Saat ini hanya Tuhan yang tahu motifnya.”
Dalam pada itu pintu membuka dan seorang polisi berkepala plontos datang.
“Maaf, pak,” serunya, “Baru dapat informasi, boleh saya katakan.”
Inspektur Jeffrey mengangguk.
Polisi itu mengambil kursi lalu duduk. “Mata-mata yang kita tempatkan di rumah Simon, Pak, mendengarkan percakapan penting—ketika Simon dan teman-temannya berkumpul. Kurang lebih begini: ‘Jika dia lapor polisi, tentu saja gadis itu akan mati. Tahanan itu selalu berusaha mengusut kematian temannya—yang tiga bulan lalu telah kutabrak dan tewas seketika di sekitar lampu merah pertigaan Jetaan. Kalian masih ingat, ketika kita pulang dari gathering di Trenggalek awal Januari kemarin. Aku dan Jim adalah dua orang yang pulang terakhir.
“Waktu itu pukul setengah dua dini hari, hujan deras, dan jalanan sangat sepi. Alkohol mempengaruhiku—aku makin ngebut. Tanpa sadar setirku bergerak ke kiri, hingga menabrak dua orang pejalan kaki. Yang satu tewas seketika.Yang satu Rudi itu. Aku berhasil kabur. Tapi Jim ketinggalan jauh di belakangku dan kemungkinan besar sempat berhenti di lampu merah. Jadi, Rudi berhasil melacakku sejauh ini karena dia telah mengenali emblem komunitas kita di punggung jaket Jim.’ Begitu, Pak.”
“Jadi,” kata Jeffrey dingin, “penyanderaan, ya. Kita menemukan semacam mata-rantai baru.”
“Saya berharap semua ini dilakukan tanpa ketergesaan, pak,” timpal polisi itu, ”Sersan Huda sedang mencari tempatnya menyembunyikan sanderanya.”
“Laporkan segera, Anton, nanti sore,” bentak Jeffrey.
Polisi Anton itu pergi. Aku mengajukan pertanyaan pada Jeffrey. “Pak Inspektur, Bolehkah kami mendengar informasi mengenai latar belakang Rudi berdasarkan fakta yang Anda ketahui.”
“Ibunya meninggal tujuh hari setelah melahirkannya. Ayahnya meninggal dua tahun lalu, di usia 40 tahun. Sejak ayahnya meninggal, setiap sebulan sekali, pamannya yang di Jakarta mengirimkan uang dua juta untuk Rudi dan adik perempuannya itu. Wah, pantas kini rumahnya kosong. Kami sudah mengeceknya. Tetangga-tetangganya mengabarkan bahwa sudah seminggu ini adiknya telah meninggalkannya, pergi bekerja ikut pamannya ke Jakarta, naik kereta api, pagi-pagi sekali.”
“Pagi-pagi sekali,” timpal Malcolm, “Simon berhasil menciptakan alibi.”
“Jadi,” kata Inspektur, “dia membuat seolah pamannya yang telah menculiknya.”
Anda terlalu banyak menggunakan kata “Jadi” di awal kalimat, Pak Inspektur, batinku.
“Pak,” pinta Malcolm, “siapa saja yang pernah menjenguk Rudi ke penjara?”
“Hanya beberapa temannya. Agung, Doni, Widya, Tommy, Rian, kami sudah mengenal mereka dan selalu mengawasi mereka.”
“Mereka berlima selalu menjenguk bersama-sama?”
“Selalu menjenguk bersama-sama.”
“Yakinkah Anda?”
“Oh, ya, Agung pernah satu kali menjenguk sendirian, lima hari yang lalu.”
“Berarti,” potongku cepat, “dialah yang memberitahu si tahanan tentang penyanderaan itu.”
Malcolm memandangku. “Tebakan yang bagus.”

II
KEESOKAN HARINYA, kami mendatangi rumah besar itu. Seorang wanita tua berjalan dengan santai, lalu menghampiri gerbang dan membukanya. Selot membuka—bunyi derit terasa panjang dan suram. Sekarang, Malcolm dan aku duduk di kursi teras memandangi berbagai macam bunga yang tertata luar biasa. Beberapa menit kemudian muncullah seorang yang kami tunggu-tunggu.
“Sepertinya,” katanya dingin, “saya tak pernah mengenal kalian, sedikitpun,”
Kami berdiri lalu Malcolm angkat bicara, “Kami datang atas perintah Inspektur Jeffrey dari LAPAS Tulungagung. Anda tentunya kenal dengan seorang bernama Rudi Henry Kurniawan.”
Orang berwajah bulat di depan kami itu terkejut mendengar perkataannya. Dia berkulit bersih dan terawat—tatapan matanya sipit dan sangat liar. Aku selalu suka menunggu reaksi pertama seseorang setelah dia mendengarkan sesuatu baru.
“Rudi telah membocorkan pelipis kananku,” katanya. “Dan, kalian,” sambungnya dengan jari telunjuk menunjuk-nunjuk wajah kami, “sama sekali tak tahu urusan kami. Maka, untuk apa kalian datang ke mari, untuk memata-matai? Rugi. Kalian agen intelejen? Seperti detektif-detektif kalian mencari-cari informasi, mirip anjing kalian mengendus-endus tanah rumah orang—“
Aku baru saja hendak memukul wajahnya ketika Malcolm cepat-cepat menimpali dan menghalauku dengan lengan kirinya. ”Stop, kami hanya ingin mengabari bahwa dia telah kabur dari sel, malam lalu!”
“Apa itu urusanku? Bodoh, itu urusan polisi, bukan urusanku,” jawabnya, dengan bentakan yang perlahan semakin keras.
“Bila dia memang musuhmu, itu akan jadi urusanmu.”
”Bahkan bila dia keluar dari penjara untuk membalas dendam padaku, aku tidak akan takut. Tidak akan. Teman-temanku banyak. Kalian membuang waktuku, sekarang pergilah, mata-mata, anjing breng—“

Aku tidak tahu apakah kekasarannya merupakan sifat bawaan ataukah dia memang sedang dipengaruhi oleh minuman keras. Merasa direndahkan, dengan cepat dan sekuat tenaga, aku mencengkeram kerah kemejanya lalu mendorongnya ke dinding. Tetapi, belum sempat dia membalas, secepat kilat Malcolm langsung menarik lenganku untuk mengajakku berlari ke arah Corollanya dan menghidupkan mesinnya.
Kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Jalanan mulai tampak ramai. Pedagang fried chicken menyiapkan rombongnya. Seorang anak muda penjual terang bulan dengan cekatan mengaduk adonan. Waktu menunjukkan pukul lima belas lewat empat puluh ketika Malcolm menghentikan mobilnya di depan gerbang rumahku.
Bibi sedang berbaring menonton sinetron di depan televisi. Dari pintu depan, aku sudah mendengar berbagai macam teriakan—salah satu kebiasaanya saat melihat sinetron. Bila si baik melakukan kesalahan bodoh berulang kali atau bergerak terlalu lambat dalam bertindak, dia akan berteriak “dasar bodoh”, atau “goblok, ayo cepat-cepat”. Sejenak kubuang pikiran-pikiran tentang kejadian yang telah berlalu dan rencana-rencana yang akan disusun. Aku bergegas mengambil air wudlu, mendirikan salat lalu membaringkan diri di kamar. Tepat pukul sembilan belas lewat lima belas Malcolm datang ke rumahku. Meski langit tampak cerah dan bintang-bintang bermunculan, cuaca terasa sangat dingin. Angin dari Utara, yang menerbangkan debu-debu pembuangan dari berbagai pabrik, terus mengembus dan terus menusuk. Dia melilitkan sehelai syal tebal ke lehernya yang lebar dan bersedekap sembari mengamatiku menyilangkan tali sepatu New Balance-ku. Dalam kegelapan mobil, aku duduk meringkuk sementara pikiranku sibuk menerka-nerka kejadian selanjutnya. Malcolm menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar. Aku segera turun untuk membuka gerbangnya. Rumah itu milik pamannya. Tidak ada penghuninya—mungkin mereka sedang pergi. Sunyi.
“Bawa senjata?” tanya Malcolm, begitu turun dari mobil—setelah memarkirnya.
“Pisau lipat,” jawabku dingin.
“Pisau lipat?”
“Pisau lipat. Black Scorpio TAC FORCE berbahan Stainless Steel. Kau sendiri?”
Dia menepuk saku kanan celananya. “Banyak. Ada senapan angin model kecil.”
“Bramasta Mini Sport?”
“Ya. Di saku tengah celana kiri, ada sebuah senter selam Bailong BL 8762, dengan bahan Alumunium Black Chrome. Ada juga knuckle berpisau lipat Cold Steel di saku tengah celana kanan. Ayo jalan kaki ke Jetaan.”

Aku tidak tahu kenapa dia mengajakku pergi ke Jetaan. Mungkin pembantu mata-mata tua tadi telah memberitahu sesuatu kepada Inspekur Jeffrey. Lalu sesuatu itu dilanjutkan jadi sebuah perintah untuk Malcolm.
Kami berjalan di sisi kiri jalan menuju ke barat. Di sebuah warung bakso di selatan jalan, orang-orang mengantri dengan berdiri—karena si penjual telah kehabisan kursi—mengerumuni penjual bakso. Malcolm terus berjalan dengan pandangan mata senantiasa tertuju ke depan. Tak lama kemudian, kami mendengar suara-suara knalpot motor menderu dari belakang. Malcolm dan aku berlari ke selatan dan bersembunyi ke sebuah warung soto yang sudah tutup. Aku mengamati gerombolan motor gede yang sedang lewat—jumlahnya kira-kira sekitar empat puluh motor. Simon kelihatannya memimpin di barisan paling depan. Mereka semua mengenakan rompi jeans yang pada punggungnya telah ditambal dengan emblem bundar komunitas. Mereka berhenti. Lampu lalu lintas pertigaan menyala merah. Deru knalpot semakin riuh, semakin nyaring, semakin dibuat-buat.
Baru saja lampu berganti hijau, mereka melesat lagi ke barat, seperti peluru. Di ujung sana, gerombolan itu berhenti. Sebuah truk kontainer sedang memutar untuk berbalik arah. Bunyi knalpot semakin riuh—menandakan sifat mereka yang tidak sabaran. Beberapa detik kemudian, mereka melesat kembali. Suara keras berdebum tiba-tiba memecah jalanan. Kami berlari ke barat. Simon dan enam temannya jatuh terkulai di atas legamnya jalanan yang kemarin telah diaspal. Orang-orang mengerumuni, memgambil foto, membicarakan musibah ini dengan siapa saja di sampingnya. Pemuda yang tadi sore hendak kupukul itu sekarang terlentang pingsan—masih dengan memakai kaca mata hitam besar. Darah mengalir dari pelipis kanannya melalui helm hitam yang dia kenakan dan berhenti di bibirnya. Jalan raya macet total. Dua orang polisi tiba dan turun dari sebuah mobil pick-up lalu mengangkat mereka dengan cepat ke bak belakang dan melarikan mereka ke rumah sakit Islam—diikuti oleh teman-teman Simon yang selamat dari kecelakaan.

Aku baru menyadari bahwa Malcolm tadi telah berlari dan menghilang ke arah selatan, menuju ke persawahan tebu. Dengan setengah berlari, aku menyusulnya lewat jalan desa, dengan lebar dua meter yang kiri-kananya diapit tanaman tebu yang meninggi. Apa yang terdengar lama-kelamaan adalah suara jangkrik yang merambati kesunyian. Kesunyian: suatu keadaan yang justru menambah kenikmatan dalam petualangan. Sekarang, aku tiba di depan sebuah rumah besar yang terbengkalai—gerbang besi bagian kanannya hilang. Sejenak aku mendengarkan. Tak ada apa-apa. Telepon genggam di saku kananku bergetar. Sebuah pesan dari Malcolm. Dengan mengendap-endap, aku setengah berlari ke selatan, lalu berhenti sejenak sebelum tiba di sebuah lapangan voli. Malcolm merunduk dan melirikku dari balik semak. Sesaat kemudian, tiba-tiba Simon Setiadi merunduk keluar dari lapangan voli, dengan menyandang senapan di bahunya lalu berlari kembali ke utara. Kelihatannya senapan angin Sharp Niko Special Long Barrel berkaliber 4.5mm, panjang larasnya 60cm. Pintar juga dia mengelabuhi. Naluri keberaniaan yang mendarah-daging dalam diriku berteriak-teriak memintaku untuk menghentikannya. Seperti melihat hantu terkejutnya orang itu begitu aku menabraknya. Matanya yang sipit memancarkan kecerdasan. Dia berusaha melepaskan diri. Dengan sangat cepat dia meraih senapannya, lalu mengarahkannya ke kepalaku, dan memukulkan gagangya dengan keras tepat ke kening kananku. Sementara aku terlentang memandanginya yang belum jauh berlari, sambil mengusap darah di pelipis kananku dengan jaket, Malcolm muncul dari semak untuk mengejarnya dan menembakan senapannya tiga kali ke arah buronan itu. Si sasaran itu justru berlari secara zig-zag. Sesaat dia terpeleset. Peluru yang keempat berhasil mengenai kakinya. Dengan gerakan yang dipaksakan, dia bangkit, lalu berlari secepat mungkin, sebelum akhirnya menghilang ditelan oleh lebat dan luasnya persawahan tebu.
Ketika Malcolm menghampiriku untuk membawa ke tepi jalan, aku melihat sebutir peluru mendesing tepat di samping kiri telinga Malcolm, dengan hanya berjarak satu inchi. Kami beringsut ke sisi tembok untuk bersembunyi.
“Dia baru melakukannya,” pintaku dingin, sambil membilas luka di kepala dengan air mineral kemasan besar. “Persis di samping telinga kita. Kita harus bikin janji untuk menangkapnya. Buronan itu. Simon. Pintar sekali dia melarikan diri. Berarti siapa tadi yang dibawa ke rumah sakit?”
“Jangan bertanya. Mungkin orang yang agak mirip dengannya. Memang Rudy Henry yang telah menembak pemimpin geng motor tadi—yang ia kira Simon. Aku tadi sempat melihat Simon, yang berada di barisan paling belakang, kabur dari boncengan motor temannya, dan berlari lewat jalan sini, makanya aku mengejarnya.”
“Aku hanya punya satu permintaan. Kita harus menangkap Simon. Peluru itu, Malcolm.”
“Aku tak suka membuat janji. Padahal seharusnya kau bisa menabraknya, mencengkeram lehernya, dan mengancamnya dengan pisau belatimu. Tapi kau sendiri memang terlalu lemah. Api keberanian dalam dirimu tidak berkobar membara lagi selayaknya laki-laki sejati.”
Kata-katanya terakhir, yang disertai sindiran tajam, membuatku bangkit untuk mencengkeram lehernya. Aku memojokkannya ke dinding. Menodongkan pisau lipat ke arahnya.
“Kau memainkan peran yang berbahaya, Nak,” ancamku. “Hei, kau mengajak seorang teman turun ke petualangan maut, membuat temanmu terluka dan berdarah, tapi masih berani bilang begitu. Baiklah, perkataan itu bisa aku lupakan. Tapi, asal kau tahu, kau sangat berpotensi melayangkan nyawa temanmu. Sungguh, Malcolm, jika kau tak mau berjanji, tak segan-segan aku menusuk lehermu di sini.”
“Lakukanlah, bunuh saja, lakukan, Brian,” tantangnya.
Lekat-lekat aku terus memandanginya. Kali ini aku hanya merasa “kasihan” dengannya; bagaimana bisa aku merasa diam-diam saja, teman macam apa aku ini, yang merasa baik-baik saja, sedangkan mata kepalaku ini melihat dengan jelas sebutir peluru nyaris menghancurkan kepala temanku.
“Setidaknya,” kataku, “aku takkan melepaskan cengkramanku, jika kau tak mau berjanji.”
“Kau mau apa, Brian, heh?”
“Janji, bahwa kita harus menangkapnya. Polisi menyuruh kita untuk menangkap Rudi. Rudi sendiri punya misi untuk menyelamatkan adiknya. Tapi tugas utama kita berdua haruslah membekukan Simon. Kau paham?”
“Hanya itu?”
“Ya.”
“Baiklah. Aku janji. Kita akan menangkapnya. Nanti malam juga atau dini hari!”
“Yang terakhir itu sedikit lelucon?”
“Di saat-saat genting, orang takkan sempat bikin lelucon, tetapi sebuah rencana,” sindirnya, lalu berdiri.

III
PUKUL 01.30 WIB. Tanpa banyak bicara, aku segera turun dari mobil ketika Malcolm memarkirkannya di lapangan Beji, Boyolangu. Tepatnya berjarak tujuh ratus meter dari markas NNN Comunity—sebuah basecamp Simon Setiadi. Dalam diam kami berjalan kaki melewati jalan setapak, yang kanan-kirinya diapit oleh persawahan padi, ke rumah besar yang jauh dari pemukiman warga itu. Tepat di depan rumah itu ada sebuah rumah yang, menurut perkiraanku, digunakan untuk tempat warung kopi. Ukuran cukup besar, dengan meja-meja dan bangku yang berjajar rapi. Malcolm menyentuh gerbang depan dengan sangat hati-hati. Digembok dari dalam. Samar-samar, kami mendengar suara pemuda-pemuda yang tertawa di dalam. Kelihatannya mereka sedang bermain kartu. Di teras, terdapat sepuluh motor gede yang diparkir secara menyilang. Bisa jadi seluruh anggota itu telah pulang dari rumah sakit. Menurut informasi yang telah kudapat dari Internet, NNN Comunity bukanlah perkumpulan begal atau orang-orang kriminal. Itu sebabnya para tetangga tak pernah mencurigai aktivitas di rumah itu.
APA YANG MENONJOL DARI NNN, ADALAH KEBERSAMAANNYA DAN BUKAN KEONARANNYA: SUATU MALAM RUMAH ITU PERNAH DIDATANGI SEJUMLAH POLISI, begitulah salah satu bunyi komentar seseorang, dengan huruf kapital, di Wordpress. Singkatnya, mereka menggerebek rumah itu. Semua anggota digeledah. Termasuk Simon Setiadi sendiri.
Komentar itu ditutup dengan sebuah pernyataan: KARENA TIDAK MENDAPATI SESUATU YANG MENCURIGAKAN, PARA POLISI ITU AKHIRNYA PERGI, HINGGA KINI MEREKA TAK LAGI MENGUSIK PERKUMPULAN ITU LAGI.
Kami bergegas kembali ke lapangan untuk memikiran rencana selanjutnya. Kami duduk lesehan di rumput. Dengan punggung menyandar pada ban mobil, Malcolm berkata, “Tolong buka Google Map, buka peta Kabupaten Tulungagung, desa Beji, dan perbesar sampai mentok area rumah itu,”
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencarinya. Segera setelah mendapatkan lokasinya, aku mendekatkan ponselku ke arah Malcolm.
“Masih tak begitu jelas, tapi berguna juga,” kata Malcolm, ”Di belakang rumah besar itu ada tegalan milik seseorang—lihat lahan hijau itu—dibatasi dengan sesuatu berwarna putih yang merupakan tembok. Markas itu ternyata besar juga, bagian belakangnya luas dan tidak dipasang genteng, mungkin fiberglass lebar dan melengkung panjang berwarna biru. Rumah itu jauh dari pemukiman warga. Kita nanti masuk lewat samping kiri rumah.”
“Ini akan sia-sia, kalau Simon tak ada di markasnya, bukan? Mungkin saja Simon ada di rumahnya sendiri.”
“Bisa dibilang begitu. Tapi tak ada salahnya kita masuk. Lewat belakang. Mungkin gadis itu sekarang disekap di rumah itu, atau mungkin sudah dibunuh.”
“Kau nanti yang akan menunggu di luar tembok belakang dan aku yang akan masuk.”
“Di mobil, ada Remington R51, biar aku ambilkan.”
“Aku berjanji akan menembak punggung Simon,” kataku mengakhiri pembicaraan.

Suasana benar-benar sunyi. Bahkan jangkrik-jangkrik pun sudah tak berani menyuarakan diri lagi. Dari saku celana, aku merogoh kain masker hitam, lalu melipatnya membentuk segitiga, dan memasangnya dengan mengikat erat tepat ke wajah bagian bawah—menutupi hidung dan mulut. Pelan-pelan kami bergegas kembali ke rumah itu. Seluruh bagian atas tembok samping dipasangi pecahan kaca, dengan beberapa besi tebal menjulang kira-kira empat puluh sentimeter ke atas untuk menopang atap fiberglass tadi. Apa yang paling menakutkan adalah pecahan-pecahan kaca. Mengkilat-kilat seolah menantang siapa saja yang memandang. Untungnya, ada pecahan kaca yang sudah rapuh dan sebagian hilang—meski hanya sepanjang delapan inchi. Dengan bantuan pundak temanku, aku memanjat tembok setinggi tiga setengah meter itu. Setelah aku benar-benar merasa yakin, aku baru meloncat dan, dengan kedua tangan berpegangan erat pada tembok yang menyisakan ruang delapan inchi itu, segera menaikkan kaki kanan secepat mungkin dan melompat turun ke dalam halaman belakang. Di halaman belakang itu sendiri, selain dibangun sebuah toilet kecil, juga merupakan tempat cukup luas, dengan penerangan neon terang, untuk menaruh berbagai macam berkakas; beberapa motor usang dan velg-velg bersandar di tembok, empat buah kerangka sepeda BMX diletakan secara terbalik, tiga buah meja kayu jati besar berikut kursi-kursinya bertebaran. Sesaat aku mendengarkan, sebelum bergerak lagi ke pintu masuk menuju ruang tengah. Sunyi. Dengan kepala tertutup kerudung jaket hitam, aku menghampiri pintu masuk dan memutar handle-nya sepelan mungkin. Mengetahui pintu terkunci dari dalam, cepat-cepat aku bersembunyi ke kolong meja. Sambil menunggu, aku memberikan informasi tentang situasiku pada Malcolm lewat sms. Ternyata dia bersembunyi di bawah rimbunan pohon pisang di barat jalan. Dua puluh menit adalah waktu yang sangat panjang bagi seorang penunggu. Tetapi, itu seimbang dengan apa yang kuharapkan, ketika hal yang ditunggu-tunggu pun datang. Pintu terbuka. Tak seperti penerangan di luar, cahaya lampu di ruang dalam justru meremang kekuning-kuningan. Seorang berkaos polo merah dengan tergesa-gesa menghambur ke toilet. Dengan cepat dan merunduk, aku menyerbu masuk ke dalam, lalu menaiki tangga atas, dan menyembunyikan diri di bawah meja. Ruangan masih agak gelap. Di lantai atas, terdapat tiga kamar yang letaknya berjauhan. Dengan badan tetap merunduk, tanganku menjangkau handle pintu pertama, lalu memutarnya pelan-pelan dan masuk. Kosong. Setelah menutupnya kembali, aku menghampiri pintu kedua dan membukanya. Tak ada apa-apa. Remington R51 masih berada di saku kanan. Kali ini sambil mengacungkan pistol itu, aku membuka pintu ketiga. Gelap. Hanya kegelapan yang bisa membawa kejutan.
“Maaf, Mon, aku tadi tertidur. Tapi perintahmu tetap kupatuhi. Gadis ini sama sekali tak kusentuh, tetap terikat di atas kursi,” ujar sebuah suara serak pria khas seorang peminum, yang perlahan bergerak untuk menyalakan lampu.
Ketika lampu menyala, tanpa ragu-ragu lagi, aku langsung mengarahkan pistolku ke wajahnya, dengan jarak tiga meter. Memakai kaos band metal hitam, dia berdiri tercengang. Dengan wajah takut dan cemas, dia mengangkat tangan, memperlihatkan otot lengannya yang kekar.
“Berani bicara, kutembak kepalamu, lepaskan talinya,” seruku pelan, sambil menunjuk kursi itu dengan kaki kiri terangkat.
Tanpa bicara ia menghampiri kursi itu.
“Tali tambang,” katanya, “terlalu sulit dibuka tanpa pisau.”
“Di mana pisaunya?”
“Di saku celana, boleh kuambil?”
“Berikan padaku.”
Dia mengambil pisau lipat dari saku dan memberikannya padaku. Entah jenis apa. Sementara tangan kiriku menodongkan pistol, aku memotong cepat tali tambangnya dengan tangan kanan. Segera setelah tali terputus, kulemparkan pisau ke sudut terjauh, hingga suara berdebum pisau membuat perempuan itu membuka mata. Lakban di mulutnya membuatnya bungkam. Matanya yang bening memancarkan ketakutan.
“Lepaskan gadis itu,” seruku.
Setelah semua tali terlepas, dan perempuan itu berdiri, baru aku bergegas membuka lakban dengan cepat yang menempel di mulutnya. Mengenakan jilbab modern berwarna ungu, wajah parempuan itu berbentuk bundar, dengan kedua pipi yang gemuk. Sepucuk Remington kuserahkan pada gadis itu, lalu kusuruh dia untuk menodongkannya ke kepala pria tadi. Dengan cepat aku memaksa pria itu untuk duduk di kursi, lalu mengikatnya dengan simpul-simpul mati. Seraya turun ke tangga bawah, aku mengambil pistolku kembali, lalu memberikan pisau lipatku pada perempuan itu, dan menyuruhnya untuk berjalan mundur mengikuti punggungku. Pelan-pelan aku bergerak ke ruang depan. Di ruang tamu, ada percakapan—atau diskusi—yang meriah. Simon duduk di tengah, dikelilingi oleh teman-temannya. Ada yang terus-terusan mengepulkan asap rokok. Ada yang sesekali menenggak bir. Ada yang bermain kartu dan catur.
Seorang bersuara besar dan tidak jelas berkata, “Apa yang akan kaulakukan terhadapnya, Sim?”
“Bunuh, Sim, lalu kuburkan, selesai,” ujar seorang bersuara kecil tapi bersemangat.
“Jika kau ikuti saran Dani itu, Sim, aku yakin kau akan terus-terusan dikejar bayangan atau hantunya. Menjelma pocong atau kuntilanak, di tengah malam, lalu berkata ‘Hallo, Simon, masihkah kau ingat aku? Akulah perempuan yang kaubunuh dulu, dan, sekarang giliranmu mati, untuk benar-benar mati, hihihi,’” timpal sebuah suara serak, lalu diikuti oleh derai tawa panjang teman-temannya.
Simon menyulut rokoknya lalu membalas, “Aku punya rencana sendiri. Tak ada sesuatu yang paling menggagalkan rencanaku kecuali kedua orang mata-mata suruhan Lapas. Berpencarlah sekarang, ini serius. Hey, Pandu, Agustinus, berhentilah main catur atau akan aku obrak-abrik bidak-bidak itu. Berpencar. Jangan ragu untuk menembak,“
Mereka semua berpencar. Aku bergegas naik ke lantai atas, dengan menggandeng tangan gadis itu, lalu memasuki kamar pertama, dan melompat dari jendela ke genteng yang menaungi taman depan. Sejenak aku memandang rekanku. Tepat ketika aku jatuh di rerumputan, tangan gadis itu tiba-tiba ditarik masuk kembali dengan cepat oleh seseorang. Orang berkaos band metal.
Aku bersembunyi di balik sebuat pot keramik besar. Dua menit kemudian, tiba-tiba gerbang membuka. Pelan-pelan. Seorang berbadan tegap, berpakaian serbahitam, muncul dan membuka pintu depan. Sesaat dia berhenti. Lalu dia menembaki sekeliling dinding ruang tamu dengan cepat. Tak lama kemudian, satu tembakan balasan berhasil melumpuhkan kaki kirinya. Ketika dia hendak bersembunyi, satu peluru melayang dan bersarang di bahu kanannya. Sekarang, dia ambruk di lantai. Tak berdaya. Didampingi oleh seorang berpakaian jas hitam, Simon Setiadi muncul. Dia menatap sinis ke arah orang yang ambruk itu—yang tak lain dan tak bukan merupakan Rudi Henry sendiri.
“Lihat adikmu,” ujar Simon pelan—sambil berjalan tertatih-tatih. Bekas tembakan dari Malcolm.
Rudi menoleh ke arah adiknya. “Jika kalian menembaknya, aku bersumpah suatu saat aku akan menghabisi nyawa kalian semua.”
Simon tertawa. Mereka tertawa. Perempuan itu diikat di atas kursi, bertemankan cahaya target pistol berwarna merah yang jatuh di wajahnya.
“Dia dan kau akan bebas, jika kau menadatangani ini,” lanjut Simon.
Seolah tahu apa yang Rudi pikirkan, sembari meletakkan sebuah pulpen di dekat wajah musuhnya yang terlentang, Simon menambahkan, “Semacam surat perjanjian. Kalau kau ungkit kematian temanmu lagi, semua akan hancur, berantakan, sia-sia,”
Rudi Henry memandang lawan bicaranya tajam dan dalam-dalam. Lalu dengan cepat dia menyambar pulpen itu. Dia hanya tak tega melihat seraut wajah itu. Wajah perempuan yang ketakutan.
“Lepaskan gadis itu,” ujar Simon pada para anak buahnya.
Perempuan itu menghambur ke arah kakaknya dan menangis terisak-isak. Seorang dari mereka tiba-tiba mengangkat Rudi dan memasukannya ke sebuah mobil. Adiknya segera menyusul masuk—sebelum akhirnya mobil itu menghilang di telan malam. Sekarang tibalah sebuah pertentangan batin dalam diriku. Jika aku hanya diam saja, dan tidak menembak punggung Simon, berarti aku akan jadi seorang pengecut. Setidaknya pengecut bagi diri sendiri—seorang laki-laki yang gagal menepati janji. Maka dengan hati-hati aku mengarahkan pistolku pada punggung itu. Aku bersumpah tidak akan membidikannya sebelum benar-benar merasa yakin. Dalam hitungan detik, peluru itu menusuk ke punggung itu—meski agak meleset sedikit ke punggung bagian bawah. Untuk melarikan diri, bagiku, tidaklah sulit. Dengan cepat aku memanjat pagar besi dan berlari sekencang mungkin ke lapangan. Dini hari itu pemandangan sangat mengguncangkan. Seorang Malcolm terlentang tak berdaya di rerumputan.

IV
DI DALAM KAMAR FLAMBOYAN RUMAH SAKIT, Malcolm menceritakan apa yang telah menimpanya. Ketika dia sedang bersembunyi di rerimbunan pohon pisang, tiba-tiba Rudi Henri datang dan mengancamnya dari belakang. Mengejutkan seperti hantu, Malcolm lalu berlari secepat mungkin ke lapangan—tetap diikuti oleh pengejarnya. Di sana, mereka berkelahi dengan sengit. Malcolm sempat memukul mulut Rudi dengan knuckle-nya. Tetapi, Malcolm sendiri mendapatkan beberapa pukulan di pelipis kanannya—sebelum akhirnya sebuah tendangan keras mengarah ke perutnya, hingga dunianya jadi hitam.
Keesokan harinya, aku membawanya pulang dari rumah sakit. Kami tidak tahu bagaimana kejadian selanjutnya. Inspektur Jeffrey sering menjenguknya—sambil sesekali membawakannya buah-buahan. Malam itu ketika kami sedang menyeruput kopi, Malcolm mendapatkan sebuah pesan dari Inspektur itu. Dia berkata bahwa markas besar NNN baru saja dilalap oleh si jago merah. Api mengamuk sangat buas. Dua puluh anggota NNN tewas. Tidak termasuk Simon. Kata Inspektur, tepat sebelum Magrib seorang petani telah melihat kehadiran seorang bertubuh jangkung. Dia sempat mengitari rumah itu, sebelum akhirnya menghilang entah ke mana. Dia, kata petani tersebut, berperawakan sedang dan jangkung, berambut cepak, dan memelihara cambang hitam yang lebat. Seraut wajah Rudi dikabarkan akan disebarkan di koran dan ditempelkan di dinding-dinding baik di perkotaan maupun di perdesaan.
“Itu,” ujar Malcolm pelan menghayati, ”benar-benar gambaran dari seorang pembunuh yang liar. Aku mengakuinya.”

Tiga hari kemudian, dari layar televisi yang memperlihatkan sebuah bandara, Changi Airport Singapura, aku melihat sebuah berita yang menggembirakan. Dengan huruf kapital, judul itu ditampilkan dalam tayangan informasi ter-update. Seorang keturunan Tionghoa ditangkap di bandara dengan tuduhan penculikan seorang perempuan.


Arif Syahertian
2016 – 03-03-2016
Tulungagung, Jawa Timur.

 

  • view 328