Kehidupan Pribadi Mario Mirkonia

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Mei 2018
Kehidupan Pribadi Mario Mirkonia

I
Malam itu Mario Mirkonia duduk termenung di sebuah kursi berlengan, puntung rokok terakhirnya masih menyala di atas asbak, asapnya terbang menggulung dengan pelan ke atas. Ia lalu memejamkan sepasang matanya; pikirannya segera melayang jauh ke atas, melewati ionosfer dan eksosfer sebelum akhirnya tiba di angkasa luar. Bintang-bintang berkedip di kejauhan, beberapa kapsul melayang, berlatarkan kegelapan yang sangat luas.
       Ia melihat bumi, planet tempat ia tinggal tampak kecil, di salah satu dari ratusan miliar galaksi. Ia membayangkan betapa kecilnya dirinya, berjalan di atas bumi dengan dada yang terlalu dibusungkan, dan dengan dibumbui oleh kesombongan—kesombongan yang ia sesalkan.
       Kenapa kalau aku memberikan janji pada seseorang di awal, aku selalu menemui kegagalan di akhirnya? Sebaliknya, saat aku tidak ingin menjanjikan apa-apa, hasil akhirnya selalu bagus—atau berhasil, meski tak sempurna.
       Ia menyesalkan kejadian dua hari yang lalu: ia telah menjanjikan bisa membantu salah satu tetangganya, Dani, pemuda gemuk atau pemalas yang duduk di bangku kelas XI SMK di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, dalam meng-instal sistem operasi Linux Ubuntu pada komputer. Singkatnya, pada sepinya sore hari yang telah mereka sepakati, Mario datang ke kediaman Dani untuk membantunya.
       Ketika Mario masuk tahap pertengahan instalasi, ada sesuatu yang salah. Berkali-kali ia mencoba mengetikkan angka, tapi tetap tak teratasi. Setengah jam kemudian, mendengar ayah Dani pulang dari kantor, Mario pergi dengan cara naik-tembok-belakang-rumah. Kemarahan dimuntahkan melalui bentakan dari mulut ayah Dani, ditujukan pada anaknya. Lalu ibu Dani datang ke rumah Mario. Wanita bertubuh ideal itu memakai gaun panjang hijau tanpa lengan, dengan bibir merahnya, bertanya dengan sopan apakah anaknya tadi minta bantuan Mario. Dengan tenang Mario berbohong, menggeleng.
       Dalam keluasan alam semesta, pikirannya mengenai ‘kegagalan menolong Dani’ berubah jadi bundaran dan kini berputar... Ia membayangkan melihat sebuah lubang hitam. Bundaran pikirannya itu berlipat ganda hingga bertambah banyak dan berputar terus seperti lingkaran berwarna putih. Sesaat kemudian, ia melihat lingkaran putih itu masuk ke dalam besarnya lubang hitam.
       Dengan kaget, Mario Mirkonia tersadar dari lamunannya. Ia lalu bergegas mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dari teko. Sambil duduk, ia meminum segelas air putih sampai habis. Mendadak ia mendengar pintu depan diketuk dua kali.
       Ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul 22.00. Ia lalu meletakkan gelas di atas meja dan melenggangkan kakiknya menuju pintu depan dan berhenti sebelum membuka pintu itu.
“Siapa?” teriak Mario dengan ketegasan seorang satpam.
“Aku, Mas Yo. Dani.”
Mario menyalakan saklar lampu. Ia lalu membuka pintu dan menyilakan tamunya duduk dan menutup pintu itu kembali.
       Dani adalah orang yang digambarkan di atas tadi. Pemuda, pemalas, gemuk. Sepasang matanya berbentuk besar dengan alis tebal yang menggores tajam di atas keduanya. Tapi ia mudah tertawa dan tidak pelit soal uang. Dani mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakan satu batang dan menawarkan kepada Mario. Yang ditawari segera mengambil satu batang dan meletakannya di bibir.
“Tumben, malam-malam.” ujar Mario, sambil menyilakan rambut depannya ke belakang, memperlihatkan dahinya yang lebar. Mario tahu Dani tak diperbolehkan merokok oleh orangtuanya.
       Asap rokok keluar tak beraturan dari mulut Dani. “Bantu aku lagi, Mas, haha.”
“Kemarin lusa, aku gagal membantumu. Perlu diingat, aku kali ini nggak mau berjanji bisa membantu. Nanti bisa gagal takutnya. Hahaha.”
Mereka tertawa.
Dani mengeluarkan secarik kertas berisi tulisan kode morse dari saku kemejanya. “Tolong terjemahin garis-garis ini, malam ini.”
“- ..- -. --. --. ..- / .- -.- ..- / -- .- ... “

       “Kamu tahu ini apa?” tanya Mario dengan suara besar, sebab rokok yang belum dinyalakan menggantung di bibirnya.
“Nggak tahu Mas.”
“Hadeeeh. Ini Kode Morse. Dari mana ini?”
“Aku memungutnya di tempat sampah sore tadi.”
“Aku ambil pensil dan buku dulu.”
       Mario bergegas ke dalam dan muncul lagi ke ruang tamu sambil membawa sebuah buku tulis, sebuah buku tipis, pensil dan dua teh gelas dingin.
“Minumlah, dulu,” kata Mario—sebatang rokok masih menggantung di bibirnya.
Dani membuka kemasannya dengan tangan kanannya dan meminumnya sedikit.
       Mario memegang buku tipis itu—yang berisi arti dari berbagai kode. Ia lalu membalik halaman demi halamannya dan menemukan penjelasan untuk kode morse. Ia meletakkan secarik kertas milik Dani di hadapannya.
Ia mulai menuliskan tiap artinya di buku tulis dengan pensilnya.
Pertama ia menulis huruf T. Lalu U, N, G, G, U.
Dani melirik dengan serius saat ia menulis A. Lalu K, U.
       Mario menggeleng dan mengamati buku lagi dan menulis huruf M, A, dan S. Ia lalu menuliskan: TUNGGU AKU MAS.
Itu semuanya diselesaikan oleh Mario Mirkonia selama sepuluh menit. Dani terbelalak mengetahui arti yang sebenarnya.
       “Jadi,” ujar Dani, “apa yang bisa kita simpulkan Mas?”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Aku berpikir ayahku punya selingkuhan di kantor.”
Mario melihat ke wajah Dani. “Hahaha. Apa yang membuatmu berpikiran gitu?”
“Karena ada kata MAS di akhir.”
“Hahaha. Sudah kuprediksi jawabanmu dan betapa konyolnya teorimu itu. Selingkuh macam apa pakai kode morse segala, Dani.”
“Mas Mario, aku takut kalau faktanya gitu.”
       Mario melepas sebatang rokok dari mulutnya dan mengapitnya di antara dua jari di tangan kanannya. Suaranya jadi normal, jernih dan padat kembali. “Begini, kita tidak akan PERNAH tahu FAKTANYA kalau nggak terjun dalam arus. Aku dulu pernah terjun ke dalam petualangan rumit bersama temanku Arthur. Ada orang bernama Pak Burhan, diancam oleh seseorang bernama Markus.
       Nah, Si Markus itu, singkatnya, menyuruh orang untuk mengambil batu permata yang dimiliki Pak Burhan. Kalau ingatanku masih tajam, batu permatanya bernama, Srilanka Royal Blue Sapphire. Hingga akhirnya Markus mati ditembak oleh suruhannya sendiri di Rumah Kosong, markasnya Markus. Akhirnya, temanku Arthur tadi menuliskan petualangan kami jadi cerpen berjudul RUMAH KOSONG. Tak hanya itu, temanku menjulukiku Mario Begonia. Begonia itu semacam bunga. Sekali lagi semuanya tampak rumit dan aku nggak mau terjun ke dalam petualanganmu. Kamu masih bersekolah, fokuslah mempelajari cara menginstall linux.”
       Dani mengangguk. “Ya, ya. Tapi, mungkin, aku bakal sulit tidur jika aku tahu ayahku seperti itu. Sebelum pulang, aku ingin dapat nasihat dari kamu.”
       Mario Mirkonia tertawa. “Hahaha. Baiklah. Ini bukan kata-kata dariku. Begini. Aku mencintai kekekaran pundak sapi pada dirimu, tapi kini aku ingin melihat mata malaikat pula pada dirimu.”
“Wah, bagus Mas. Siapa yang nulis?”
“Yang nulis Friedrich Nietzsche. Dengan sedikit terjemahan dariku.”
Dani berdiri. “Hahaha... Aku akan membuang kertas ini lagi.”
Mario meletakkan rokok di bibirnya lagi.
Kali ini aku tidak menjanjikan sesuatu pada seseorang, dan aku tidak ingin membantu seseorang hanya karena orang itu ingin tahu apa yang terjadi pada kehidupan ayahnya. Dengan begitu, mudah-mudahan keputusanku tadi membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi diriku dan bagi seseorang itu sendiri.

II
Seminggu kemudian, pada suatu sore saat Mario Mirkonia menyirami tanaman di halaman depan rumahnya, ia mendengar suara langkah-langkah kaki, yang terdengar melewati gerbang rumahnya dan berhenti tepat di belakang punggungnya. Mario berhenti dan sengaja untuk tidak mendongak ke belakang. Sosok itu menyentuh bahu Mario dan ketika Mario berbalik dengan pelan, ternyata sosok tersebut berwajah bundar.
       “Kau bikin kaget aja, Dani,” ujar Mario sambil tersenyum.
“Ya, Mas.”
“Ada hal penting?”
“Ya, Mas.Ternyata kode itu yang bikin ibuku. Ibu bertanya apakah aku melihat kode di secarik kertas.”
“Apa yang ibumu katakan soal kode itu?”
“Katanya, itu,” ujar Dani, dengan punggung bersandar pada tembok taman, “adalah kode yang mulanya akan digunakannya untuk memberi kejutan kepada ayahku di hari ulang tahunnya, tiga hari yang lalu. Katanya aku nggak boleh ngomongin kode dan kertas itu lagi. Karena kertasnya sudah kubuang.”
“Oh ya. Syukurlah.”

III
Pada malam harinya, Mario Mirkonia kembali duduk termenung di kursi berlengan. Kini ia merasa ada yang ditutup-tutupi oleh ibu Dani. Ia merasa ada yang keliru dalam hubungan mereka bertiga—ayah, ibu, dan anak. Mario berpikiran ibu Dani yang punya selingkuhan. Mario punya dugaan kuat soal itu. Tapi ia segera menepis kemungkinan itu.
Dalam hati ia bilang, ‘entahlah, semuanya bisa benar. Semuanya bisa salah.’
Ia memejamkan matanya, semua masalah dalam pikirannya menjadi gumpalan putih dan terbang ke atas dengan cepat. Sesaat kemudian, gumpalan itu sudah melintasi eksosfer. Dan gumpalan itu berhenti, melayang-layang di angkasa luar.


ARIF SYAHERTIAN
12 MEI 2018
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR.

Catatan singkat dari ARIF:
Terima kasih untuk Bu Umie Poerwanti, yang menjadi penggemar Mario Mirkonia.
Terima kasih untuk Inspirasi.co, yang telah menyediakan tempat untuk berkarya.
Terima kasih untuk kamu, yang telah meluangkan waktu untuk membaca cerpen ini.

  • view 100

  • Genta Kalbu
    Genta Kalbu
    4 bulan yang lalu.
    Duuuuh mas Mirk, petualangannya sekarang mulai menjelajah ruang angkasa dan lubang hitam
    Kayaknya asyik nih ke depannya kalo petualangan Mario bergaya sci-fi.
    Wat do you think about my idea, Mr.Author???