Apakah Keonaran adalah Sebentuk Kemunduran?

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Februari 2016
Apakah Keonaran adalah Sebentuk Kemunduran?

?Sir John Ballinger menderita delirium dan selalu mengamuk seperti setan. Menempati kamar atas, dia berbaring dengan sepucuk revolver dalam selimutnya. Dia bersumpah akan menembakkan keenam pelurunya kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Kini dia mungkin sedang tidur.?
Kurang lebih itulah penjelasan singkat dari tokoh Lord Roxton, seorang penjelajah yang sudah mengenal kawasan Amazon, ketika hendak mengajak Edward Malone naik ke kamar atas untuk merebut pistol dan memberi makanan pada Ballinger.
Dalam The Lost World karya Sir Arthur Conan Doyle tersebut diceritakan bahwa Malone bukan orang yang benar-benar berani. Namun demikian, dalam hati, Malone mengatakan bahwa dia bahkan akan melompat ke dalam sebuah jurang, jika keberaniannya untuk melakukan itu dipertanyakan. Akhirnya, meski setiap syaraf dalam tubuhnya gemetar lantaran membayangkan sosok dalam kamar atas itu, dia tetap menjawab sesantai mungkin bahwa dia siap membantu Lord Roxton.
?Kalau hanya berbicara saja, tidak akan selesai,? katanya sambil berdiri?yang segera diikuti oleh lawan bicaranya. Lalu, tanpa diduga sebelumnya, sambil tertawa Lord Roxton menepuk dada Malone tiga kali dan mendorongnya untuk duduk kembali.
Ini menarik: saya kira cara menguji Lord Roxton sangat memukau. Di situ, Malone pun berhasil lulus ujian dengan baik?sebelum akhirnya mereka bergabung dengan dua sosok professor untuk menulusuri jejak-jejak dan keberadaan makhluk prasejarah ke Sungai Amazon hingga terdampar di Negeri yang Hilang, The Lost World.
Lord Roxton memang ?percaya? kepada Malone, tetapi dia ingin ?mengujinya?. Dua kata tersebut saya pinjam dari peribahasa lama Rusia yang kemudian diadopsi oleh presiden Amerika Serikat ke-40 Ronald Reagan, doveryai no proveryai, Trust but Verify.

Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930), melalui tokoh Malone, telah berhasil menginspirasi saya?untuk jadi orang yang lebih berani menghadapi tantangan. Memang saya tak bisa lepas sepenuhnya dari sifat penakut, tetapi setidaknya novel itu telah berhasil mengobarkan api keberanian dalam diri saya yang sempat redup.

Ir. Soekarno pernah berkata, ?Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.?
Saya tidak tahu apakah pernyataan presiden pertama Republik Indonesia itu masih punya relevansi dengan keadaan pemuda zaman sekarang atau tidak.
Di era teknologi ini, kebanyakan pemuda lebih suka menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal yang kurang memberi manfaat; bermain game online atau sosial media hingga tak kenal waktu, mendeklarasikan bentrok antar geng atau tawuran, mengadakan pesta mabuk-mabukan hingga larut malam.
Bahkan, tak jarang, ada orang yang meneruskan kuliah hanya untuk menuruti gengsi saja. Duduk di bangku universitas tetapi alergi terhadap buku-buku. Duduk di bangku universitas tetapi sering mengantuk saat mendengarkan dosen mengajar.

Saya ingin belajar dari Agatha Christie (1890-1976). Ratu kriminal tersebut dikabarkan tidak pernah bersekolah. Ibunya mendidik Agatha kecil, mendorong minat menulisnya, dan sengaja mendatangkan seorang tutor untuk mengajarnya.
Suatu hari kakaknya, Madge, pernah menantangnya untuk menulis cerita detektif. Namun Agatha tak patah semangat. Dia mulai menulis dan terus menulis. Hingga, dia berhasil menjawab tantangan tersebut dengan terbitnya novel detektif pertamanya, The Mysterious Affair at Styles.
Kini, kita tahu Agatha Christie telah menghasilkan puluhan novel detektif. Bahkan, menjelang akhir usianya, pada tahun 1971, dia sempat dianugerahi gelar Dame Commander of the British Empire.

Pemuda-pemuda yang diharapkan Bung Karno, saya kira, adalah mereka yang punya jiwa kuat seperti Malone itu. Juga semangat yang membara seperti Agatha. Bukan jiwa yang lemah, bukan mental?katakanlah?tempe. Jika Bung Karno berhasil mengumpulkan sepuluh orang seperti Malone dan Agatha, saya kira, tidak akan menutup kemungkinan bagi Bung Karno untuk mengguncangkan dunia.

Saya tidak ingin berlaku tidak adil dengan hanya menguraikan sisi buruk para pemuda.
Di luar, kita tahu banyak pemuda-pemudi hebat yang ?bersembunyi?. Menghindari sorotan publikasi.
Mungkin sebagian dari mereka sangat rendah hati, seperti Sherlock Holmes yang bisa memecahkan kasus, tetapi kadang menolak untuk disebutkan namanya.
Mungkin sebagian dari mereka ingin membuat kejutan pada dunia.
Barangkali dia adalah seorang perempuan, yang sekarang sedang duduk sambil membaca buku sendirian di perpustakaan. Mencari inspirasi dan referensi untuk novel thriller yang sedang ditulisnya.
Barangkali dia adalah seorang laki-laki, yang sekarang sedang bermain sepak bola sendirian di lapangan. Mengasah lagi dan lagi segenap kemampuannya untuk seleksi yang akan dihadapinya.
Kita tidak tahu bagaimana nasib mereka di masa datang. Seorang yang pertama bisa saja jadi penulis yang mengguncang dunia lewat karya inspiratifnya. Seorang yang kedua bisa saja mengguncang dunia lewat kemampuannya menggocek dan mengolah si kulit bundar.

Di luar, barangkali ada seorang pemuda yang sangat pandai berdebat, tetapi dia sengaja tidak menggunakan kemampuannya. Tahu bahwa perbuatan itu tak banyak memberi manfaat.
Dia mungkin adalah seorang laki-laki, yang sekarang sedang duduk menonton berita di televisi. Melihat siaran yang menampilkan pemuda-pemudi masa kini yang berdebat dengan mata melotot, dengan bentakan yang semakin pedas.
Melihat siaran yang menampilkan pemuda-pemudi masa kini yang ricuh di jalanan, yang membakar ban, membuat jalanan macet, meneriakkan protes keras.
Di luar, barangkali ada seorang pemudi yang sangat pandai bela diri, tetapi dia sengaja tidak menggunakan kemampuannya untuk sekadar berkelahi.
Ketika dia sedang pulang larut malam, tiba-tiba sepucuk pistol ditodongkan ke kepalanya oleh seorang dari kawanan begal. Tahu bahwa akibat-akibat tidak menghalanginya untuk membuat pilihan. Sebab, ?Merupakan pilihan orang itu untuk patuh untuk menolak,? sebagaimana kata Jean-Paul Sartre (1905-1980). Maka bukan tak mungkin baginya untuk merebut pistol itu dan menembaki semua penjahat itu.

?
Di akhir novel The Lost World, kita tahu mereka berempat?Malone, Lord Roxton, Prof. Sumerlee, Prof. Challenger?memang berhasil membuat dunia guncang. Sepulang dari Negeri yang Hilang, mereka menunjukkan seekor pterodactyl kepada hadirin di dalam aula di London.
Mereka, yang sebelum pergi dicaci maki, sekarang pulang dengan rasa bangga. Dielu-elukan oleh dunia.

Ada yang lebih menarik: Pada mulanya Malone didorong oleh Gladys, gadis idamannya, untuk melakukan tindakan besar yang heroik, seperti yang telah dilakukan oleh pemuda Prancis yang tetap naik balon, meski angin bertiup sangat kencang. Karena dia telah mengumumkan untuk berangkat, akhirnya dia tetap berangkat. Selama dua puluh empat jam, angin menerbangkan pemuda itu sejauh seribu lima ratus mil dan dia mendarat di tengah Rusia.
Gladys ingin punya suami yang heroik seperti itu. Itulah yang dia inginkan, membuat orang iri hati karena kekasihnya.
Bahkan, keberangkatan Malone untuk ikut menjelajah ke Negeri yang Hilang itu juga lebih karena untuk Gladys.
Kini, setelah Malone punya tempat di dunia, Gladys malah mengabaikannya?bahkan telah menikah dengan pria lain. Pada akhirnya, Edward Malone memilih untuk ikut Lord Roxton menjelajah kembali.

Kita seringkali dihadapkan pada sensasi atau keonaran. Tentang orang biasa yang terkenal secara tiba-tiba. Tentang selebritis yang mendadak tanpa henti menghiasi layar kaca.
Apakah keonaran adalah sebentuk kemunduran? Tak diragukan lagi.
Setiap orang punya kesempatan untuk mengguncangkan dunia.
Mencari sensasi adalah menyulut keonaran. Menghasilkan karya adalah menciptakan senjata. Lewat yang terakhir itulah biasanya orang-orang pilihan mengguncangkannya.


Arif Syahertian
12-02-2016
Tulungagung, Jawa Timur.

  • view 168