Mati dengan Konsistensi

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Agustus 2017
Mati dengan Konsistensi

I
AKU bekerja sebagai seorang tukang kayu. Kami dipekerjakan untuk mendirikan perumahan di salah satu kota di Jawa Timur. Seminggu yang lalu aku telah didatangi oleh seorang pria gemuk dan dia segera menawariku pekerjaan itu. Waktu itu aku sedang menganggur di rumah, setelah sebulan lulus dari SMK bidang Teknik Gambar Bangunan, dan aku menyetujui tawarannya. Dia tahu nama dan alamatku lewat penuturan dari salah satu guruku di SMK.
         Perumahan itu bertempat dalam wilayah kotaku, tapi berjarak empat puluh kilometer dari rumahku; sangat jauh sehingga pria itu—ternyata si bos—menyewakanku sebuah kosan. Dia telah memberitahuku bahwa aku akan bekerja selama empat bulan penuh. Dengan mengendarai mobil, dia membawaku ke tempat tujuan untuk meninjau lokasi dan mengantarkanku ke kosan yang dekat dari calon perumahan. Pria dengan mata sipit itu mengatakan bahwa biaya sewa kos akan ditanggungnya dan semua kebutuhanku akan dicukupinya.
          Kami mulai bekerja pada pukul delapan pagi. Kami beristirahat selama satu jam mulai pukul dua belas siang dan semua pekerja akan berhenti bekerja pada pukul lima sore.

II
PEMILIK kosan itu seorang duda bernama Hadi; berumur lima puluh tahun, dengan badan kurus yang kekar, sepasang alis hitam yang melengkung tajam, dan wajah kecoklatan yang bersih tapi tampak muram. Kamarnya terletak tepat di depan kamarku, dipisahkan oleh lorong panjang dengan lebar tiga meter. Itu sangat menguntungkan saat aku memerlukan bantuannya. Perlu diketahui bahwa aku satu-satunya pekerja yang disewakan kamar—sebab orang lainnya memilih untuk pulang setelah bekerja.
        Pak Hadi adalah orang yang ramah, mudah tersenyum, dan selalu mengobrol mengenai banyak hal, seakan-akan tidak punya rahasia yang disembunyikannya. Anaknya satu-satunya, Priscillia, yang masih berusia dua puluh tahun itu, selalu cemberut saat ayahnya itu menceritakan hal-hal tak penting. Tapi Priscillia kini tidak tinggal serumah dengan ayahnya, melainkan dengan seorang pembantu wanita, di sebuah rumah sederhana yang terletak tepat di depan kosan ini.
        Seiring berjalannya waktu, aku mulai mendapati bahwa Pak Hadi sering didatangi oleh dua orang lelaki saat malam telah turun. Mereka berbadan besar dan selalu mengenakan topi. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Biasanya, beberapa menit kemudian mereka akan pulang dengan cepat seolah dikejar polisi.

III
WAKTU itu pukul setengah sembilan malam dan cuaca sangat dingin. Ditemani dengan secangkir kopi susu hangat, aku duduk dan merokok dalam kamarku. Sudah tiga bulan lebih aku bekerja dan pembangunan mengalami kemajuan. Tak terasa kontrakku akan segera berakhir. Setelah memikirkan itu, aku meraih novel Of Mice and Man karya Steinbeck di atas meja dan membolak-balikkannya.
        Mendadak aku mendengar suara seseorang yang batuk-batuk, sambil sesekali mengaduh. Suara itu terasa dekat. Aku berniat membuka pintuku, tapi segera kupadamkan niat itu, seraya dengan pelan mematikan rokokku di asbak. Aku mendengar suara Pak Hadi, yang berbicara di telepon. Dia menyuruh anaknya membelikan obat di apotek. Sepuluh menit berlalu dan aku sudah mendengar batuknya dua puluh kali. Aku berkonsentrasi pada novel, tapi pikiranku melayang ke suara.
        Aku mendengar bunyi pintu kayu yang membuka, lalu menutup kembali. Dengan tangan kanan memegang perut, Pak Hadi bergegas menyusuri lorong hingga membelok dan menghilang—aku mengintipnya lewat jendela kaca di kamarku. Aku tidak mengikutinya lebih jauh; maka aku segera membaringkan diriku di atas kasur dan memainkan ponselku.
       Pukul sembilan malam itu pintu kamarnya membuka; aku mendengarkannya! Lalu, diiringi oleh batuk panjang dan rintihannya, aku mendengar suara seperti orang yang menabrak pintu. Aku segera menyibakkan selimutkku dan meloncat bangun dan mencari sepasang sendalku dan melangkahkan kaki untuk membuka pintu.
        Aku melihat Pak Hadi tergeletak dengan kedua lengan membentang. Aku masih berdiri dan bingung memikirkan tindakanku selanjutnya ketika kedua telingaku ini menangkap suara langkah kaki yang berjalan dari lorong kanan. Suara itu semakin terdengar jelas. Tak lama kemudian, aku melihat seorang lelaki dengan membawa tas kresek hitam berjalan ke arahku sambil menatap tajam mataku. Ia lalu menjongkokkan diri di samping pak Hadi dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kirinya.
        Dengan kalimat yang sopan dan pendek, ia menyuruhku untuk membukakan pintu kamarnya. Lalu kami berdua mengangkat tubuh itu ke dalam kamarnya dan membaringkannya dengan pelan di atas kasur. Aku tidak tahan untuk tidak memandang wajah lelaki di sampingku; wajahnya putih tapi setengah sawo matang, dahi lebarnya mengandung konsentrasi, dan kedua matanya terlihat tajam saat memandang apa saja. Mungkin ia sedikit lebih tua dari usiaku; aku perhatikan lelaki muda itu agak tampan juga, tapi benar-benar memancarkan kesombongan luar biasa di wajahnya.
        Aku tahu ia bukan salah seorang dari tamu pak Hadi yang sering kutemui. Aku yakin itu! Ia lalu menyuruhku untuk menemani pemilik kosan itu. Ia akan pergi ke rumah sakit untuk meminta bantuan.
        Aku mengiyakan saja. Tetapi, aku juga tidak tahan untuk tidak menanyakan sesuatu pada lelaki itu. Maka dengan pelan aku bertanya,
“Mas, apakah pak Hadi masih bisa diselamatkan?”
“Nggak tahu,” jawabnya, sambil menatap tajam wajahku, “Aku harap bisa.”
“Aku juga berharap begitu.”
“Begitu gimana?” Tanyanya.
“Berharap dia bisa diselamatakan.”
“Baiklah. Tolong tetap di sini. Jangan ke mana-mana.”
“Oke, Mas. Ta, taaapi, jika dia meninggal dunia, siapa yang akan mengurus kos-kosan ini?”
Aku tidak tahu kenapa aku jadi melontarkan pertanyaan itu. Aku sedikit menyesal.
Ia masih menatapku. “Nggak tahu, Mas. Jika ada orang datang, katakan kalau aku yang menyuruh kamu. Namaku Mario, Mario Mirkonia, dan setengah jam lagi aku akan kembali. Siapa yang mengurus kosan ini? Temanku, jangan membaca masa depan. Itu bisa membuat pikiranmu berantakan.”

IV
SETENGAH jam kemudian Mario datang bersama Priscillia—dan disusul oleh beberapa petugas dari rumah sakit. Tanpa banyak pertimbangan lagi, para petugas itu mengangkat tubuh Pak Hadi dan meletakannya di atas kereta dorong dan membawanya ke luar. Aku masih berdiri memandangi punggung para petugas itu ketika Priscillia menepuk pundakku. Katanya,
        “Tidurlah, Mas, karena besok kamu akan bekerja lagi. Makasih telah menjaga ayahku.” Aku mengiyakan dan bergegas masuk ke kamarku. Seraya melenggang masuk ke kamar, aku menangkap kata-kata yang keluar dari mulut Mario; TRANSAKSI, NARKOBA, BRONKITIS.
        Tiga hari kemudian, aku mendapat kabar dari tetangga bahwa Pak Hadi baru saja meninggal dunia. Orang-orang datang untuk melayat. Sementara proyek yang kami tangani tetap berjalan seperti biasa. Menjelang acara kenduri tujuh hari meninggalnya Pak Hadi, para tetangga datang untuk mempersiapkan keperluan acara itu; mulai dari memasak, membeli bahan makanan, dan sebagainya. Dua hari setelah acara itu selesai dilaksanakan, aku mulai merasakan suasana duka masih merundung rumah ini dan auranya berubah total sejak pemilik rumah itu meninggal.
       Aku masih ingat bahwa aku sempat bercakap-cakap dengan Mario waktu dia beranjak pulang setelah menghadiri acara kenduri itu. Setelah orang-orang pulang, aku merangkul bahunya dan mengajukan pertanyaan dengan suara lirih mengenai penyebab meninggalnya Pak Hadi. Mario menjawab dengan lirih pula,
        “Pak Hadi meninggal demi mewujudkan konsistensinya; sejak bujangan dia selalu menolak minum obat saat sakit, lalu kemudian selau sembuh-sembuh sendiri, begitu kata Priscillia. Waktu itu dia terserang batuk; katanya zat kimia nggak baik buat tubuh; dia justru merokok meski hanya beberapa batang saja. Tapi anehnya, dengan merokok ia justru sembuh. Tapi beberapa minggu kemudian batuknya kambuh, dan akhirnya, maaf, dia meninggal, dalam mewujudkan konsistensi konyolnya. Dia terserang bronkitis.”
         “Oh begitu. Untung saja, malam waktu itu, kamu cepat datang saat aku melihat Pak Hadi pingsan.”
“Aku cepat datang karena aku disuruh Priscillia untuk mengantarkan obat untuk ayahnya. Percayalah, aku belum mengenal perempuan cantik itu sebelumnya. Waktu itu aku sedang mengendarai motor setelah pulang bekerja. Jauh di depanku, aku melihat perempuan berambut panjang itu mengendarai motor pelan-pelan. Dari belakangku, aku lalu disalip oleh seorang pengendara motor. Aku tidak ingat apa motornya, yang jelas, setelah menyalipku dia memacu motornya lebih cepat lagi dan melayangkan kaki kirinya ke bahu kanan Priscillia saat dia berjajaran dengannya. Priscillia ambruk ke kiri. Daripada mengejar orang gila itu, aku memilih untuk menghentikan motorku dan menolongnya. Ia perempuan kuat dan untungnya hanya terluka pada siku tangan dan kaki.
        Dalam keheningan malam itu, dia terduduk di tepi jalan sambil meringis menahan sakit. Dia bilang ‘antarkan ini untuk ayahku, yang berada di dalam sana’. Aku diberi nomor pintunya. Aku menolak keras, tapi dia malah membentakku. Berani sekali dia! Dia belum tahu siapa aku! Ah nggak penting itu! Aku lalu meraih kresek hitam yang isinya obat dari tangannya dan berjalan dengan cepat ke dalam dan menemukan kamu berdiri di samping Pak Hadi.”
        Waktu itu ingin rasanya aku bertanya lagi padanya. Tapi waktu dan tempat sangat tidak memungkinkan untuk mengobrol lama-lama.
 
V
SEMINGGU setelah kematian pemilik kosan itu, suasana duka masih terasa dan menggema. Tapi aku tidak mau memusingkan soal itu. Sebab orangtuaku telah mendidikku untuk jadi seorang pemberani, sebagimana sifat laki-laki pada umumnya. Waktu itu pukul sepuluh malam. Aku sedang berbaring di atas kasur di kamar, sambil memainkan ponsel baruku. Aku telah membeli smartphone itu tadi malam. Mendadak Priscilllia mengirimku pesan. Ia menanyakan keberadaanku dan aku membalas pesannya dengan mengatakan bahwa aku di dalam kamar.
        Sepuluh menit kemudian pintu kamarku diketuk. Aku memasukkan ponselku ke saku celana dan bergegas untuk membuka pintu tersebut. Apa yang diperlukan Priscillia pada jam segini?, batinku. Ketika aku membuka pintu itu, tiba-tiba seseorang menabrakku dan mencengkeram leherku dengan kedua tangannya yang kuat.
“Diam,” dia membentakku. “Kauletakkan di mana?”
“Aaaa. Lepaskan.” Lalu dia melepaskanku dan mendorongku ke atas kasur.
Lelaki itu masih berdiri, dengan tangan mengacungkan pisau lipat. Di belakangnya, aku melihat seorang lagi. Mereka berdua laki-laki, yang sama-sama menutup wajah mereka dengan semacam topeng kain hitam. Namun demikian, aku hafal mereka adalah dua teman almarhum Pak Hadi yang sering kutemui itu.
        “Aku tidak tahu maksudmu,” kataku, sambil memegang leherku pelan-pelan.
“Kau bilang nggak tahu lagi, dan pisau ini akan tertancap di perutmu.”
Aku diam memikirkan langkah terbaikku. Dalam hati aku berharap Priscillia datang dari belakang dan memukul kepala mereka. Tapi itu hanya khayalanku saja. Aku tetap diam.  “Aku,” ujarku pelan, “harus tahu apa yang kaumaksudkan dulu.”
“Uang di kresek merah.”
“Ha?? Aku nggak ngerti.”
Dia memainkan pisau lipatnya. “Tiga.”
“Kamu harus percaya, aku ini tidak pernah mencampuri urusan kalian sama Pak Hadi.”
“Dua,” katanya dengan pelan, seperti tak punya beban apa-apa.
         Dinaikkannya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dalam hati aku berkata: Jika aku mati, aku tidak bisa membayangkan ibuku, sahabatku dan teman-temanku yang menangisiku nanti. Ibuku di rumah saat ini mungkin sedang membawa gelas, tapi gelas itu lepas dan jatuh dan pecah. Aku berdoa dalam hati. Dan, ketika dia akan bilang ‘satu’, temannya di belakang menahan tangannya.
“Sebentar,” katanya. “Tidakkah kamu tahu apa yang disembunyikan Hadi dalam kamarnya?.”
“Tidak tahu. Kalian boleh mencarinya di kamarku.”
        Dalam pada itu, aku melihat Mario Mirkonia berdiri di belakang mereka, dengan pistol tergenggam di tangan. Seperti tak punya beban apa-apa, kini, dengan kesungguhan hati seorang pemberani, Mario membidik dua kali pada betis mereka masing-masing. Di belakangnya, aku melihat Priscillia. Mereka berteriak kesakitan. Tapi lelaki kedua mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah belakang dan pelurunya mengenai betis Priscillia. Sementara perempuan itu menjerit dengan keras, aku bangkit dan mengambil pisau lipat yang terjatuh di lantai. Dengan keras, aku memukul pipi orang yang mencengkeram leherku tadi. Mario menendang perut lelaki yang menembak Priscillia dan mengancamnya dengan menodongkan sepucuk pistol ke wajahnya.
          Beberapa penghuni kos datang mendekat. Mario Mirkonia menyuruh salah satu dari mereka untuk pergi ke polsek terdekat untuk meminta bantuan. Mario sempat menyentuh kening perempuan itu dengan telapak tangannya sebelum dua orang penghuni kos lelaki mengangkat tubuhnya. Kini kedua orang gila itu berada di bawah kendali kami; mereka meringis kesakitan, selagi menunggu datangnya polisi.
“Yang ingin kutanyakan,” bentak Mario keras-keras. “Salah satu dari kalian menendang Priscillia sekitar seminggu yang lalu. Saat Priscillia mengendarai motor malam-malam. Benar tidak?”
Orang yang tadi ditendang Mario mengiyakan.
“Kau barusan merasakan tendanganku di perut. Dan itu adil. Lalu untuk apa, untuk apa heh, kau lakukan ini semua, bajingan, bajingan kalian berdua?”
          Mereka semua terdiam. Segera setelah Mario membentaknya lagi, orang yang pertama berbicara dengan tersendat-sendat. “Ini semua tentang narkoba. Hadi itu dulu pengguna narkoba. Hubungan kami dulu selalu baik dan rencana kami untuk bertemu di kamarnya sini selalu berjalan mulus. Tapi sejak anaknya pulang ke rumah, dia sering menghalang-halangi niat kami untuk bertemu.”
“Kau bilang sejak pulang ke rumah, emangnya di mana dia selama nggak di rumah?”
“Dia kuliah di luar Jatim. Aku tidak kuat lagi bicara.”
“Sebentar lagi polisi datang. Dan, kenapa kau berniat membunuh temanku ini?”
         Mario berpaling ke arahku.
“Sehari sebelum Hadi meninggal," ujar orang pertama, "aku menitipkan uang senilai dua puluh juta rupiah padanya dalam tas kresek merah. Hanya kami bertiga yang tahu tempat persembunyian aman di kamarnya. Dan setelah tujuh hari meninggalnya dia, saat siang hari, diam-diam kami datang ke kamar sini lagi. Ternyata barang itu sudah menghilang. Jadi kemungkinan besar temanmu inilah pencurinya.”
          Dalam pada itu polisi datang dan beberapa menit kemudian mereka berdua sudah keluar dari tempat mengerikan ini. Aku dan Mario masih di tempat ini. Sebelum minta diri, Mario bertanya padaku. Katanya,
“Bolehkah aku memeriksa kamarmu?”
“Oh dengan senang hati, Mas.”
          Mario segera mengelilingi sudut-sudut di kamarku. Setelah merasa puas, ia minta diri. Tapi bebeapa detik kemudian ia kembali ke kamarku lagi; matanya menangkap sesuatu. Ia mengambil tas ranselku yang tergeletak di bawah meja. Hatiku terasa berdebar. Ya, jantungku sangat berdebar-debar. Ia lalu meletakkannya di tengah kasur dan membuka resletingnya dan melihat kresek merah besar di dalamnya. Aku terperanjat. Dengan pelan dikeluarkannya kresek merah itu dan diletakkannya di atas meja.
        Dengan cepat aku mengambil kresek merah berisi uang itu dan mundur. Mario Mirkonia mengeluarkan pistolnya dari saku dan mengarahkannya ke kepalaku. Katanya,
“Jadi, begitu rupanya."
"Saya melakukannya secara terpaksa, Mas. Saya tidak sengaja menemukannya saat saya berada di kamar Pak Hadi."
"Jadi, untuk apa kau mengambilnya?"
"Akan saya gunakan untuk melunasi utang motor saya."
"Kan kamu belum dapat kerjaan tetap, tapi udah berani utang?"
"Saya, eh, aku memaksa orangtuaku untuk kredit motor. Semua temanku punya motor."
"Jangan ikut-ikutan mereka. Lihat kondisi keluargamu. Begini, kembalikan saja uangnya."
Aku mengambil pisau lipat tadi dari lantai. "Aku akan melemparkan pisau ini ke wajahmu, Mas, jika kau terus bandel. Mari kita bagi uang ini saja,"
Mario Mirkonia terdiam, sebelum akhirnya bicara. "Baiklah, namaku Mario Mirkonia. Aku akan memberimu dua pilihan. Kau ingin mati, atau mengembalikan uang itu kembali?”
Aku terdiam. Aku memutar otak, berusaha mengelabuinya.
Ia mengulangi pertanyaannya dengan tegas. Maka dengan tegas pula, aku memberanikan diri untuk menjawab.
Sialnya, kenapa saat itu aku memilih untuk menjawab mati.

(Selesai. Tapi aku sangat bersyukur, sebab begitu aku mengucapkan MATI, Mario menembak hanya kedua betisku. Ia tidak berniat membunuhku. Aku berteriak kesakitan. Aku melihat Mario Mirkonia mengambil ponselnya dan menghubungi polisi. Bagiku, itu adalah pengalaman berharga yang tidak akan kulupakan. Dengan demikian aku merasa perlu menceritakannya kepada kalian.)

ARIF SYAHERTIAN
19 – 08 – 2017
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR.

CATATAN SINGKAT DARI ARIF SYAHERTIAN:
SETAHUN yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2016, melalui cerpen saya yang berjudul Rumah Kosong, saya memperkenalkan tokoh fiksi rekaan saya, Mario Mirkonia, kepada publik di Inspirasi.co. Kini saya telah mengikutsertakan Mirkonia untuk yang keempat kalinya.
        Saya menghadirkan apa yang baik dan apa yang buruk di setiap cerpen seri Mirkonia. Saya bentangkan itu semua di hadapan Anda. Saya berharap apa yang baik bisa jadi contoh buat kita dan yang buruk bisa kita tinggalkan.
        Saya mengucapkan terima kasih kepada Inspirasi.co, yang membantu menyalakan api semangat dalam diri saya untuk berkarya.
        Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bu Umie Poerwanti dan sahabat saya Ayu Apriliani, atas dukungan dan doa mereka.
Dan terima kasih untuk para pembaca, yang telah meluangkan waktu untuk membaca cerpen fiksi ini.

  • view 51