SEPENGGAL KISAH KITA YANG TERTINGGAL DI BANGKU SEKOLAH DASAR

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Januari 2016
SEPENGGAL KISAH KITA YANG TERTINGGAL DI BANGKU SEKOLAH DASAR

Kamu peragu. Aku tahu itu. Bahkan ketika perasaan itu muncul lagi, untuk mengungkapkannya, kau tidak benar-benar berani, sehingga seringkali kau hanya berdiam diri, menunggu sesuatu yang tak pasti. Ada yang bilang hidup adalah taman bermain. Dan aku menemukanmu di dalamnya?seseorang yang selalu siap menemaniku bermain apa saja, kejar-kejaran, misalnya. Aku selalu periang?kamu selalu periang. Hidupku bergerak maju seperti peluru. Bahkan, karena terlalu cepat, kadang-kadang, aku tak sempat menengok ke belakang. Sebagai seorang anak kecil, alam bawah sadarku selalu dipenuhi oleh banyak hal; tak terkecuali cinta. Yang terakhir itu agaknya lebih mendominasi, sehingga seringkali mudah terbawa mimpi. Namun demikian, satu hal lain yang ada di benakku yang punya relevansi tapi lama tidak aku sadari adalah bahwa semua waktu yang kupunya tidak pernah terbuang untuk melamunkan cinta itu. Maksudku, sama sekali tidak tebersit dalam benakku untuk bermuluk-muluk menulis surat cinta. Suatu kebiasaan yang, yah, sering dilakukan oleh teman-teman sekolah dasar kita.

Suatu ketika aku bermimpi membaca ?Subhanallah? di masjid At-Taqwa. Tiba-tiba kau datang dan menunggu sampai aku selesai membaca. Kemudian kita beranjak pulang jalan kaki berdua. Apa artinya itu? Aku tak tahu. Kita tak pernah benar-benar tahu. Bagus juga, ya, mimpinya, jawabmu senja itu, di atas puncak bukit tempat makam Cina, saat gemuruh angin sore menerpa wajah kita. Aku tidak ingin mengatakan apa-apa tentang mimpi itu, selain bahwa aku berharap ia tidak begitu saja hilang dari pikiran, sebab, meski sudah agak lapuk dan tak segar lagi dalam ingatan, aku masih bisa merasakan sebagian getarannya. Dalam mimpi, akhirnya kita berpisah ketika tiba di persimpangan jalan raya. Sesaat kau menengok ke kiri dan kanan sebelum menyeberang. Kau agak menyipitkan matamu, sebab, cahaya matahari pagi mulai jatuh di wajahmu. Dan aku bisa melihat hidungmu yang tampak lebih simetris dan manis dari samping?terbalut oleh seulas senyum yang tersungging. Aku ingin memanggilmu sekali lagi, tetapi, entah kenapa, pada akhirnya kuurungkan niat itu. Dan di saat-saat seperti itu, sahabatku, aku baru mulai menyadari, betapa ragu-ragunya aku ini.

?

Arif Syahertian
Tulungagung, Jawa Timur 11-01-2016

  • view 235