Dua Puisi; ARIF SYAHERTIAN with UMIE POERWANTI

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Puisi
dipublikasikan 09 Mei 2017
Dua Puisi; ARIF SYAHERTIAN with UMIE POERWANTI

KOLABORASI PUISI
01) Elegi Masa Berdetak (UMIE POERWANTI)
02) Ampunan Tuhan (ARIF SYAHERTIAN)
PUBLISHED: 09 MEI 2017


Elegi Masa Berdetak


Tik ... tak ... tik ... tak ...

Deras laju waktu terus
berdetak
Degup jantung tak
seirama turut terhentak
Gelisah berkejaran,
sukma menyesak

Meretas masa lalu,
kupaksa logika
mengembara
Mengurai kenangan kala
berjaya
Mengikat impian maya,
mengharap jadi nyata
Apa daya, tak niscaya
kepalanku kuasa

Hingga tiba di suatu ketika ...

Tik ... tak ... tik ... tak ...

Suara-suara masa yang
berdetak
Mengembalikan jiwa yang
lepas berontak
Nuraniku mengusap
lembut hasrat
Merontokkan raga yang
tegak, luluh lantak

Tik ... tak ... tik ... tak ...

Suara detak menyeruak
memenuhi rongga kepala
Mendengung, bergaung,
menggema ...
Jiwa yang tersadar,
terkesima

Wahai masa ...

Ternyata pagi telah muksa
Berganti, semburat
bayangan senja
Di antara derai sesal
dan air mata
Ku mengemis asa
di hamparan mega jingga
Yang mulai meredup,
berkabut, gelap, fana

Tik ... tak ... tik ... tak ...

Berdetak masa tercekat,
melambat
Lalu menyelinap pergi,
sekelebat
Sirna ... gaungnya pun lenyap
Menyisakan senyap ...

UMIE POERWANTI

Ampunan Tuhan

I
Dalam keluasan taman,
Senyap, selain dengungan tawon:
Perlahan muncul awan kumulus
Mendadak angin sore berembus
Riak air dalam kolam
Pria itu duduk di kursi panjang
Angin menerpa rambut dan bajunya
Dia tetap memandangi ikan-ikan

"Berikan aku satu cahaya lagi, Tuhan,"
ujarnya pelan. "Sebab armorku telah patah,
dilindas oleh
langkah-langkah setan.
Dan selalu sayangilah putriku
dan istriku."
Dia lalu berbaring dan tertidur.

II
Pukul 19.00
Lonceng jam tetangga berbunyi.
Kemudian sunyi. Dan derit pintu kayu, membuka, pelan.
"Berkemaslah, Nduk."
"Tapi di mana Bapak, Bu?"
"Bapakmu mungkin masih nglembur."
"Selarut ini?"
"Teman-temanmu sudah menunggu."

III
Dalam cahaya bulan, lanskap muram:
Di mana anakku?
Apakah ia masih di sekolah
Atau di tempat kemah?
Dia bertanya-tanya—
dalam mimpi yang serba muram.
dalam angan merah berputar-putar.

IV
Di perkemahan, dalam cahaya api unggun:
Gadis itu segera
mengibaskan tangannya dan
mengucapkan tebakan
pada teman-teman SMPnya:
Apa yang lebih ngeri dari mumi?
Apa yang lebih lebih luas dari matahari?

"Meski menimbulkan perdebatan,"
jawab pemuda jangkung pelan,
setelah berpikir lama,
"tapi itu dapat diperkirakan.
Dan dari siapa kauperoleh
pertanyaan macam itu?"
"Dari ayahku, setahun yang lalu."

V
Suara anaknya yang lembut
mendenging,
Dia menangkap
kata dalam suara putrinya.
Kata-kata itu berputar-putar
Abu-abu, hitam, putih—
Merah.

VI
Pukul 21:10.
Pria itu terbangun
Dia mengucek sepasang matanya
Tiba-tiba dia merasa bahagia
Ingat bahwa Tuhan pernah bersabda.

Beberapa menit kemudian:
dia bangkit dan berjalan pulang—
Sambil tangan kanannya tidak berhenti
merangkai armornya kembali.

ARIF SYAHERTIAN
09 / 05 / 2017
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR


CATATAN SINGKAT DARI ARIF:
Saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Umie, yang telah meluangkan waktunya untuk membuat kolaborasi ini nyata.
Elegi Masa Berdetak, menurut saya, mencerminkan sebentuk penyesalan mendalam seseorang. Tapi saya harap orang itu akan bangkit dan tak melulu memikirkan masa lalunya. :D
Untuk mengakhiri catatan ini, izinkan saya mengatakan bahwa Anda barusan dapat salam dari Mario Mirkonia;
dengan sepasang mata rapuhnya, dia menikmati karya Anda! Segera setelah duduk di sebuah kursi berlengan, Mario mengambil secangkir kopinya di atas meja dan meyeruputnya pelan-pelan dan mengembalikan kembali cangkir tersebut dan menyulut sebatang rokok dan membaca puisi Anda dan meresapinya.
Dia berkata jika Anda terus gemar menghasilkan karya, maka kesuksesan dan kebahagiaan akan menunggu Anda di depan. Dan hidup Anda akan lebih... (Di sini dia nggak meneruskan kalimatnya.) Entahlah, tak baik membaca masa depan, katanya.
Hehehe :D :)
Semangat! :)

  • view 130

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    6 bulan yang lalu.
    Ah mas Mario, Anda detektif pribumi terfavorit paling lihai yang bisa membuat pipi keriput ibu-ibu jadi bersemu kemerahan (atau keungu-unguan? ) ke ge-eran di pagi hari. _^)

    Saya sebenarnya agak ciut nyali waktu dapat ajakan kolaborasi yang menarik ini. Meski hati rasanya bangga, karena ternyata ada seorang sahabat dengan jiwa seni dan hasil karya hebat yang mengajak saya yang baru mulai belajar ini tuk berkarya bersama, tapi membandingkan karya2 mas Mario, eh, mas Arif yang luar biasa dan kerap bersanding kolaborasi juga dengan para senior, membuat saya sedikit hilang PD _^

    Tapi, gak boleh kan menyia-nyiakan kesempatan berharga spt ini? Bukan begitu mas Arif _^

    Mas, kapan-kapan kita kolaborasi cerpen yuk _^)
    Pasti lucu dan unik, memadankan dua genre tulisan berbeda dalam satu karya. Semoga _^