Cepat, Cepat, Bangunkan Alissa!

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Januari 2017
Cepat, Cepat, Bangunkan Alissa!

I
"BISA BERBICARA dengan Mirkonia?” Suara serak dan panik di ujung sana segera berbicara setelah si penerima panggilan menggeser tombol hijau di ponselnya.
Seakan tidak terima dengan perlakuan seorang asing yang mengganggu waktu santainya pada pukul delapan pagi ini, maka dengan tegas Mario Mirkonia membalas kelancangannya. “Ya, ya, ya, saya sendiri. Ini dengan siapa?”
“Ini Bobby dari Trenggalek bagian kota. Belum pernah mendengarnya?”
“Sebentar, ada seorang tak dikenal tadi pagi telah mengirimi saya pesan singkat terenkripsi, bahwa, ya bahwa, saya akan dihubungi oleh Bobby. Dan saya sama sekali tak tahu mak—”
“Tepat sekali. Langsung saja, saya bukan polisi, dengarkan baik-baik, bisakah Anda membantu saya menangani sebuah kasus penculikan?”
Mario Mirkonia berpikir beberapa detik sebelum menjawab. “Siapa yang harus saya cari?”
“Istri saya; seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun bernama Alissa. Menghilang sejak kemarin.”
“Kenapa Anda memilih saya?”
“Seseorang telah menyarankan Anda.”
“Apakah seseorang itu memiliki cambang?”
“Waktu saya tidak banyak. Jika Anda bersedia, balaslah pesan tersebut, dan Anda akan dikirimi petunjuk selanjutnya.”
Sontak Mirkonia bertanya. “Apakah ada imbalannya?”
“Tentu saja.”
“Apakah itu uang?”
“Ya. Itu uang. Saya tunggu jawaban Anda.”
“Sebentar, sekarang banyak penipu dan saya tipe orang yang mudah ditipu. Katakan kepada saya kalau Anda bukan penipu; siapa orang itu, apakah dia bercambang?”
“Ya, dia bernama Arthur Adi Prasetyo. Ada kode persahabatan di antara kalian, 016014.”
       Pada hari Sabtu, seperti biasa, Mario Mirkonia sedang libur bekerja. Duduk lama di sebuah kursi empuk berlengan, dia menimbang-nimbang tawaran lelaki tadi, dengan smartphone yang tergenggam di tangan kanannya. Dasar Arthur! Kode persahabatan! Ia ingat angka-angka itu! Enam digit yang angka-angkanya akan selalu mereka ganti setiap bulan saat mereka sedang berpisah lama. Dia sekarang masih di Jakarta, membebani pundakku dengan kasus ini, batinnya. Arthur, kau nanti akan aku marahi lewat telepon, batinnya. Namun demikian, sebenarnya dia tidak marah. Sungguh! Sebaliknya, otaknya justru terpacu—jiwa petualangnya semakin menggebu.Tanpa berlama-lama lagi, dia segera membuka pesan dan membalas ya. Satu menit kemudian muncul sebuah balasan. Dia mengangguk-angguk dengan mulut terkatup, seolah-olah dia sedang melihat seorang musuh dari jarak dekat.
        Pada pukul tujuh tadi ayahnya telah pergi berkunjung ke rumah temannya; untuk membahas masalah kenaikan ongkos pengiriman barang, berat maksimal barang dalam satu karung, dan hal-hal lainnya seputar pekerjaan. Untung saja bapak tidak mendengar percakapaan barusan, batinnya. Setelah menghabiskan secangkir kopinya, dia mengisap rokok terakhirnya dan dengan cepat mematikan puntungnya di asbak marmer yang berbentuk bundar.
        Dia mengambil tas ransel besar dari gantungan dan menjongkokkan diri dan membuka resletingnya dengan cepat dan memasukkan sebuah teleskop Bushnell ke dalamnya dan menarik kembali kancing resleting tersebut dan mencangklongnya tergesa-gesa. Sebelum meninggalkan rumah, semua pintu dan daun jendela selalu dia cek kembali; pada pukul sembilan ini, dia harus segera berangkat. Di sebuah tempat terpencil di Kabupaten Trenggalek, seseorang sedang menunggunya.

II
SETIBA DI tempat, Mirkonia segera memarkir motornya di taman depan, namun si empunya rumah menginstruksikan supaya dia memasukkannya ke garasi kecil. Di dalam rumah sederhana itu terdapat seorang pria berpakaian biasa, dengan kaos oblong hitam dan celana pendek Levis, tengah berdiri memandangi Mirkonia dengan ramah. Wajahnya kecokelatan terbakar matahari, pandangan matanya tajam sekali, dan dia berbadan besar dan agak tinggi. Tanpa berbasa-basi, dia mengajak Mirkonia masuk ke dalam ruang tamu dan, setelah memperkenalkan diri, segera membahas pokok permasalahan mereka. Tapi sebelum mereka duduk, pemilik rumah sempat menyambar sebuah cincin emas di atas meja. Seperti seseorang yang sedang gugup. Entahlah, batin Mirkonia.
        “Alissa menghilang dari rumah kemarin,” ujar pemilik rumah. “Kemungkinan besar dia telah diculik. Sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Rumah saya kini kosong melompong. Saya memiliki seorang anak yang kini duduk di bangku kelas tiga SD. Bocah itu bernama Febrian. Liburan sekolah ini, dia sedang ada di rumah neneknya di Kediri untuk waktu satu minggu. Saya takut ketika dia pulang, lalu mendapati ibunya menghilang. Begini permasalahannya—“
Mario Mirkonia menyela, lalu meminum sekotak teh gelas melalui sedotan, “Biar saya minum dulu ini, Pak.”
        Bobby melanjutkan sambil menatapnya cemas. “Saya bekerja di sebuah toko elektronik di Trenggalek kota. Sebulan yang lalu, secara tidak sengaja saya menyenggol sebuah televisi berlayar LCD di atas etalase hingga jatuh dan rusak. Mengetahui kejadian itu, bos memarahi saya dan sebagai seorang yang penuh perhitungan dan pelit soal uang, dia segera menyuruh saya menggantinya. Dia menyarankan supaya saya memberinya dua juta dulu pada bulan ini.”
Mirkonia menggeleng. “Wah, bos yang kejam. Apakah Anda sudah lama bekerja di situ?”
“Baru empat bulan.”
“Saya menduga, bahwa ada orang-orang tertentu, yang tak suka dengan Anda."
        “Saya juga berpendapat begitu. Biar saya lanjutkan, sampai mana tadi, oh ya; Di desa kami, ada seorang rentenir muda yang sangat pendiam, seakan setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat berharga. Namanya Pak Effendi. Dia jahat, seperti penyihir, dan itu sudah menjadi rahasia umum di desa kami. Dan tak ada tetangga kami yang mau meminjam uang padanya. Hanya orang dari desa jauh yang berani melakukannya. Nah, dengan hati terpaksa tiga minggu yang lalu saya meminjam uang padanya senilai dua juta. Saya diberi waktu dua mingguan untuk mengembalikan uang itu. Saya dipaksa berjanji untuk membayarnya senilai dua juta lima ratus pada hari Rabu. Hari Rabu itu saya belum punya uang dan semuanya baik-baik saja ketika saya mengatakan itu kepadanya. Nah Jumat, kemarin pagi, dia datang lagi tapi saya belum punya uang. Lalu dia pergi, sambil mengangguk-anggukan kepala. Waktu itu istri saya sedang belanja di pasar. Sampai malam dia tak pulang. Lalu besok paginya, yaitu Sabtu ini, saya meminta tolong teman Anda Arthur untuk membantu saya, tapi dia menolak permintaaan saya dan malah menyarankan Anda.”
        Mirkonia berdehem. “Maaf, Pak, Anda boleh minum dulu. Jangan tergesa-gesa berbicara.”
Si pemilik rumah mengambil sekotak teh dari atas meja, lalu menusuk tempat lubangnya dengan sedotan, dan meminumnya. Lanjutnya,
“Kami tahu Effendi memiliki anak buah dengan julukan Agio. Kedua tangannya penuh tato, giginya ompong, perawakannya tinggi. Dia sulit dilacak. Sangat mungkin, dialah yang menculik Alissa. Dan menyembunyikannya di suatu tempat. Jika Anda ketemu Arthur, tanyakan apakah dia mengenal Bobby, dan dia akan menjawab ya. Dia jadi teman baik saya ketika saya masih bekerja di toko playstation. Sebab dia sering bolak-balik membeli kaset PS 1, yang seharga tiga ribu rupiah, dengan sepeda BMXnya.”
“Jadi pada mulanya Anda ingin minta tolong Arthur, bukan saya?”
“Tepat sekali.”
“Baiklah saya tidak akan bertanya kenapa harus Arthur, sedangkan mungkin Anda memiliki banyak teman. Melainkan, bagaimana Anda bisa menyimpulkan bahwa Effendi menculik istri Anda?”
        Yang diajak bicara tak mengerti kalimat awal Mirkonia yang sebenarnya ditujukan untuk menyerangnya secara halus. Otaknya sedang serius,  pikir Mirkonia. Seperti sudah diantisipasi sebelumnya, Bobby segera memperlihatkan ponselnya kepada tamunya. Kemarin malam dia telah menerima pesan singkat: TEMUI AKU DI RUMAH KOSONG DEKAT PEREMPATAN DURENAN PADA PUKUL SETENGAH DUA BELAS MALAM. ITU KALAU KAU INGIN ISTRIMU SELAMAT. DAN SELALU INGAT BAHWA MEMANGGIL POLISI BERARTI MATI. YANG KUINGINKAN BUKAN UANGMU.
“Tapi,” bantah Mirkonia, “kan belum tentu Pak Effendi penculiknya?”
“Memang, tapi dialah opsi yang paling mendekati.”
Mario Mirkonia terdiam. Dia menempelkan kedua tangannya, seperti biasa jika dia sedang berpikir, mengaitkan jari-jemarinya.
        “Ini akan menjadi peristiwa yang mendebarkan Pak. Fantastis. Belum pernah saya bertemu secara langsung dengan kasus seperti ini. Seperti di sinetron televisi saja. Dengan segenap keberaniaan yang saya miliki, saya, Mario Mirkonia, bersedia turun ke dalam kasus ini, namun ada satu syarat wajib yang harus saya katakan. Saya harap Anda mendengarkannya baik-baik, yaitu berhubung Anda bukan polisi atau agen yang bisa menjamin keselamatan jiwa saya, maka saya akan mengamati Anda dari kejauhan ketika Anda nanti mendekati penculik. Dan jika mereka mengancam Anda atau menyakiti korban, maka datanglah tugas saya, yaitu membidik mereka dari kejauhan bahkan mendekati mereka jika keselamatan korban benar-benar kritis dan terancam. Apakah Anda setuju?”
“Ya saya setuju.”
“Sebelum saya pergi, ada satu hal yang harus saya tanyakan. Apakah Anda pernah berkelahi di tempat kerja? Kalau iya, dengan siapa?”
“Seorang kasir bertubuh gemuk, namanya Haikal. Dia pendiam tapi otaknya selalu cepat dalam hitung-menghitung uang.”
“Apakah ada teman-teman lainnya yang membenci Anda?”
“Saya tidak merasa mereka membenci saya.”
        “Baiklah,” tutup Mirkonia, “nanti malam langsung datanglah ke tempat yang dijanjikan dan saya akan menyusul Anda dari belakang. Bawalah peralatan yang hanya memang diperlukan. Senter. Senapan angin beserta peredam kalau punya. Palu beserta beberapa pakunya. Pisau lipat untuk berjaga-jaga. Dan hal lainnya yang menurut Anda sangat berguna. Sementara ini saya akan pulang dulu.”
“Ya, Mas, saya tunggu nanti. Terima kasih banyak. Terima kasih banyak.”
Mario Mirkonia memandangnya tajam sebelum pergi. “Apakah ada sesuatu yang Anda sembunyikan?”
“Tidak.”
“Saya merasa Anda menyembunyikan sesuatu. Apakah itu hanya perasaan was-was saya saja atau fakta yang memang benar adanya? Ingat saya takkan bertanggung jawab apabila klien saya tertimpa musibah sementara dia telah menyembunyikan sesuatu dari saya.”
“Tidak, Mas, sungguh! Itu hanya perasaan was-was Mas saja.”
“Baik. Terima kasih.”
        Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kedua saku celana, Mario Mirkonia segera pergi keluar dan menutup pintu dengan angkuhnya. Dia lalu berjalan menuju garasi dan memandangi ruangan garasi sebentar dan menghampiri motornya dan menyalakan mesinnya. Tampaknya ada hal-hal tertentu yang tidak ingin dia ketahui. Namun bahkan Mario Mirkonia pun masih suka membohongi dirinya sendiri. Padahal sebenarnya dia ingin tahu dan mungkin justru sudah tahu. Dia merasa sang klien menutupi sesuatu. Tapi tetap sia-sia juga: sekalipun dia mendesaknya berkali-kali, dia tahu bahwa klien itu takkan membeberkan apa yang dia pendam dalam hati. Hanya desahan yang bernafaskan alkohol yang keluar dari mulutnya. Ya, alkohol. Atau bau yang mirip alkohol. Sekali lagi Mario Mirkonia, salah satu mesin paling angkuh di dunia yang memiliki sepasang lensa rapuh itu, percaya atau setidaknya merasa bahwa penculikan itu dipelopori oleh orang-orang yang, entahlah, tak baik membaca masa depan, batinnya. 

III
MALAM ITU pukul 23.15. Mario Mirkonia mengenakan celana panjang hitam, dan kaos polos merah yang dirangkap dengan jaket hitam yang hangat. Tas ransel tercangklong di bahunya. Senapan angin berlaras sedang, baik dengan teleskop maupun peredam yang sudah terpasang, berada di tangan kanannya. Duduk dalam kegelapan di bawah atap pertokoan, dengan jarak pandang seratus sepuluh meter dari rumah kosong, dia bisa meninjau aktivitas kliennya yang kini sedang berdiri di bawah pohon Mangga di areal depan rumah kosong. Sang klien menatap kosong pada pintu rumah. Mengenakan jaket hitam dan celana pendek Levis yang sama, dengan pisau lipat tersimpan dalam saku belakang celana yang siap akan dia gunakan saat penculik datang, dia berharap musuhnya muncul dari sana. Beberapa menit kemudian instingnya terbukti salah; seorang lelaki pendek, dengan ciet hitam yang membungkus kepalanya dan masker putih yang menutupi mulut, datang pelan-pelan dari jalan raya menuju ke klien di bawah pohon.
        Satu-dua menit mereka mengobrol, membicarakan sesuatu yang tak bisa dimengerti oleh Mirkonia. Sang abductor berkata istri Bobby tengah berada di dalam rumah kosong, sambil menujuk rumah itu dengan tangan kirinya. Hal itu dimengerti oleh Mirkonia. Dia berkata perempuan itu sedang berkeliaran di dalam. Seperti orang gila. Tidak terikat. Tapi ada buah-buahan dan makanan di dalam rumah tersebut. Tak ada seorang pun yang bisa mendengarkan suaranya bahkan ketika dia berteriak sebab semua ruangan di dalam dirancang untuk meredam suara. Sontak sang klien mengeluarkan pisau lipatnya, dan melemparkannya ke tubuh abductor. Yang dilempar berhasil menghindar.
        Tanpa berbasa-basi, sang abductor menerkam lehernya, lalu memojokkannya ke pohon Mangga, dan memukul pipi kanannya dua kali. Klien itu membalasnya dengan memukul pelipis kanannya dan dengan cepat mendaratkan kaki kanannya ke perut abductor. Meski merasakan sakit, sang abductor masih memegang lehernya dan masih berusaha pula memojokannya ke pohon Mangga. Sebelum sang suami menyerang, dalam hitungan detik, seorang bermasker itu mengeluarkan senapan angin berlaras pendek dari saku bagian belakang celananya dan mendekatkannya ke pelipis kanan Bobby dan menarik pelatuknya. Peluru itu melaju ke otak kanannya bersamaan dengan sebuah paku yang jatuh dari tas Bobby. Paku itu jatuh meluncur ke sebuah batu bundar di atas tanah. Jika suara senapan itu tak lebih keras dari suara paku, maka mereka masih sempat mendengarkan suara paku tersebut; yang jatuh menusuk bagian atas batu dengan ujung bawahnya yang runcing.  Klien itu jatuh dan tewas seketika—bersamaan dengan sebuah paku yang ambruk ke kiri.

IV
MARIO MIRKONIA tetap berada pada tempatnya, mendengarkan dan mempelajari situasi tersebut dengan cermat. Nyawa kliennya telah melayang. Itu mungkin bukan urusanku, batinnya, siapa yang menyembunyikan sesuatu dariku kalau bukan kau sendiri. Pelan-pelan sang abductor berjalan ke belakang rumah, lalu kembali dengan kedua tangan menenteng jerigen besar. Dengan cepat dia menuangkan kedua isinya ke sekeliling rumah kosong dan merogoh saku kiri celananya untuk mengeluarkan sekotak korek api dan mengambil satu batang dan menggeretnya hati-hati dan melemparkannya ke atas minyak tanah di depan pintu dan berjalan pergi berusaha meninggalkan tempat mengerikan ini. Mario Mirkonia berjongkok dengan satu gerakan cepat. Setelah dia melepaskan kerudung jaket dari kepalanya, dia mengarahkan senapannya pada punggung musuhnya dan membidik target itu melalui teleskop Bushnellnya. Sebelum sang abductor ambruk ke tanah penuh kerikil di halaman depan, Mario Mirkonia membidik empat kali ke kedua betis kakinya. Musuhnya ambruk sambil berteriak dalam kesia-siaan.
        Dengan langkah-langkah kaki yang memburu, Mirkonia berlari ke arah rumah dan mendobrak pintu depan. Gagal. Kobaran api mulai meninggi. Dia berjalan mencari kayu untuk waktu yang cukup lama. Setelah mendapatkan kayu sebesar dan seukuran pemukul kasti dari sebuah teras di warung soto ayam, dia berjalan memutar ke samping kiri rumah dan menaiki tembok setinggi dua meter dan jatuh ambruk terbaring—terengah-engah di tanah. Satu menit kemudian, dia bangun sambil mengelurakan sebotol air mineral, lalu menenggak airnya sampai habis, dan memasukan botol itu kembali ke dalam tas. Cepat-cepat dia berdiri.
         Dengan mata terpejam dan kerudung jaket tercantel membungkus kepala, dia memecah kaca jendela samping sambil berpaling ke belakang dan masuk lewat kerangka jendela dan mencari perempuan itu di dalam rumah. Hanya kegelapan yang menunggunya. Dibumbui dengan sedikit ketegangan. Mario Mirkonia segera berjongkok untuk menurunkan tas ranselnya. Dia lalu membuka resleting tasnya dan mengambil sebuah senter dari dalamnya dan menarik kembali kancing resletingnya dengan satu sentakan dan mencangklongnya.
        Dia menyalakan senternya. Cahaya kekuning-kuningan menerangi sebagian ruangan tengah. Pelan-pelan dia berjalan ke arah pintu depan. Sebelum dia menjangkau pegangan pintunya, mendadak dia kaget dan mundur. Diarahkannya senter ke bawah. Kaki kanannya baru saja tersandung oleh kaki manusia, yang terbaring terlentang. Apakah perempuan itu mati?, dia bertanya-tanya sendiri dalam hati. Di bawahnya terbaring seorang perempuan berhijab putih. Mengenakan kemeja cokelat dan celana hitam panjang, dia memiliki badan yang sedang, terbalut dengan kedua pipi yang gemuk. Mungkin itu Alissa, batinnya. Memang benar! Itulah Alissa! Cepat, cepat, bangunkan Alissa! Hati nuraninya datang memberontak, membisik dari berbagai arah, menyerang kedua telingannya, menyergap bagai ratusan tawon yang baru saja dia ganggu.
        Tanpa berlama-lama lagi, Mirkonia membangunkannya dengan cara menampar pelan kedua pipinya. Yang disentuh segera bangun. Tanpa sempat bertanya lagi, Mirkonia membawanya berlari sambil menarik tangan kanannya. Mereka terus berlari, dengan ditemani oleh cahaya senter yang bergoyang tak keruan, menuju ke pintu belakang. Dikunci.
Dia mendobraknya beberapa kali. Setelah mengalami kegagalan berkali-kali pula, mereka berdua mendobrak sekali lagi. Gagal. Kali ini perempuan itu melakukannya dengan berlari dari jauh lalu mendaratkan kaki kanannya ke daun pintu. Sementara si lelaki menggunakan bahu kanannya. Mereka sempat saling mengangguk sambil memandangi wajah masing-masing sebelum mereka melakukannya. Dan dalam hitungan detik, akhirnya pintu kayu tersebut roboh.
         Di luar, mereka berdiri memandangi kedua laki-laki yang tergeletak tersebut. Berlatar belakang rumah yang hampir didominasi oleh kobaran api. Kehangatan, kadang berubah jadi hawa panas, silih berganti menyengat punggung mereka. Cepat-cepat Alissa berjalan ke arah jasad suaminya. Ia menjongkokkan diri dan menangis sekeras-kerasnya dengan telinga kanan menempel di atas dada suaminya. Angin malam datang dan bermain-main di rambut mereka. Seandainya Alissa telah kehilangan rasa cinta pada suaminya, ia akan pergi seketika. Mirkonia tahu itu! Mirkonia bisa merasakannya!
Kini Mirkonia sedang berdiri di samping Alissa.
“Alissa,” ujarnya pelan, memberanikan diri untuk bicara. “Nama saya Mario. Besok pagi saya akan berkunjung ke rumah Anda. Maafkan, saya harus pergi. Alissa jika Anda mau selamat dari bahaya, cepatlah pergi karena tak lama lagi polisi akan datang. Jangan sampai kita ketahuan.”
        Setelah mengatakan semua itu, Mario Mirkonia berjalan menghampiri sang abductor yang sedang pingsan, lalu menyibakkan masker putihnya, dan mengeluarkan ponselnya, dan memotret seraut wajah kejam itu. Selanjutnya dengan cepat dia berlari menyeberang jalan. Meninggalkan kobaran api.

V
DI DALAM kamar mandi, setelah melepaskan jaketnya, Mirkonia lalu menaruhnya ke gantungan baju, dan menyalakan kran. Tetes demi tetes air mengguyur rambut dan wajahnya.  Dibasahinya juga kedua daun telinga dan sekeliling lehernya. Dia menikmati guyuran-guyuran air itu. Di bawah cahaya lampu neon yang menyala putih, dia mengelap baik kedua tangan maupun kedua kakinya dengan handuk dan menyampirkan handuk itu kembali ke gantungan. Dia lalu berjalan menuju ke lemari es dan mengambil minuman isotonik dari dalamnya dan membuka tutup kemasannya dan menengguk airnya sambil berdiri. Setelah memasukan kembali botol itu ke dalam lemari es, dia menutup pintunya dan berjalan ke arah sofa ruang tamu dan mengempaskan diri ke atasnya.
        Keesokan paginya dia berkunjung ke rumah Alissa. Sambil duduk di kursi kayu jati di ruang tamu, kini Mirkonia memandangnya dengan kedua alis mata yang dinaikkan—lalu diturunkannya kembali. Katanya.
“Ibu,” ujarnya, dengan suara yang dalam dan pelan, “bagaimana saya harus memanggil Anda? yah mbak saja. Mbak Alissa, almarhum suami Anda telah berkata bahwa Anda diculik oleh Agio, anak buah si rentenir Effendi. Apakah itu benar?”
Sebelum menjawabnya, dia mengumpulkan kekuatannya untuk bicara. “Itu tidak benar, Mas. Saya bertemu dengan seorang sales perempuan yang menawarkan baju daster dan kemeja di rumah kosong itu. Saya tak menyangka kalau rumah itu kosong sebab ada dua orang di dalamnya yang sedang bersih-bersih ruangan.  Dan ketika saya sedang sibuk memilih-milih baju, mereka semua pergi secara pelan-pelan dan meninggalkan saya sendirian.”
“Apakah Anda pernah melihat salah satu dari mereka sebelumnya?”
“Tidak.”
“Yakinkah Anda?”
         Setelah dua menit berpikir, dia akhirnya menjawab. “Ya, lelaki itu, yang menyapu lantai, saya pernah melihatnya di suatu tempat. Bukan di toko elektronik. Entahlah sulit mengingatnya. Tapi dia aslinya tidak memakai kaca mata.”
“Eh, Mbak, apakah suami Anda seorang pemabuk?”
“Baru mau saya katakan. Itulah kenapa saya kadang membencinya. Dia bilang tidak pada saya beberapa kali, tapi nafas mulutnya seringkali berbau alkohol atau ciu lah ketika dia sedang berbicara pulang bekerja.”
Tanpa banyak bertanya lagi, Mirkonia segera mengajaknya pergi ke toko elektronik tempat alamarhum suaminya bekerja dengan menggandengnya naik motor. Jasad suaminya sedang berada di salah satu rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Sementara satu orang musuhnya yang selamat itu—buka Agio juga bukan pula Haikal—sedang berbaring lemah di atas dipan di rumah sakit yang berbeda, dirahasiakan oleh polisi.
        Di tempat tujuan, mereka berjalan ke arah Haikal si kasir dan memandangnya dengan tatapan mengancam. Setelah para pembeli sudah mulai pergi, Mirkonia mengajak Haikal untuk duduk di bangku ke sudut ruangan. Di situ, meski tak bisa mendengarkan, para karyawan bisa melihat mulut mereka bertiga yang sedang bicara.
“Nama saya Mario. Saya teman dari istri almarhum Bobby. Dia bilang pernahbertengkar dengan Anda. Apakah itu benar?”
“Itu memang benar.”
“Masalah apa?”
“Biasanya masalah sepele, olok-olokan, tapi besoknya selalu kami lupakan.”
Mario Mirkonia memandangnya sebentar. “Apakah toko akan segera tutup mengingat ada berita duka yang menimpa?”
“Tentu saja; hari ini hanya buka setengah hari.”
“Apakah semua karyawan masuk hari ini?”
“Ya. Tidak ada yang absen.”
“Baiklah, terima kasih.”
Sementara mereka berjalan pergi, dari balik kacamatanya, Haikal memandang mereka dengan tatapan mengancam, lalu menggelengkan kepalanya dua kali.

VI
“KETIKA ANDA sedang diculik,” kata Mirkonia, ketika mereka sudah duduk kembali di kursi ruang tamu, “almarhum suami Anda meminta tolong kepada saya. Saya merasa ada sesuatu yang disembunyikannya. Tak hanya itu, saya melihat suami Anda menyambar sebuah cincin emas dari meja sini (Mirkonia menunjuk lokasi di meja di depannya secara tepat). Apakah kalian memiliki sebuah cincin emas?”
“Semua cincin sudah kami jual untuk mencukupi biaya kebutuhan.”
“Baiklah.”
Beberapa menit kemudian Alissa bertanya. Bukan tentang sebuah cincin. “Kenapa Anda tak segera melaporkan pembunuh suami saya pada polisi malam itu?”
“Percuma.”
“Percuma?”
“Percuma.”
“Kenapa?”
“Sebab polisi akan berpatroli setiap jam setengah satu dini hari, melewati kawasan Durenan. Pembunuh itu memang belum mati. Tapi dia tak bisa berdiri, atau mungkin hari ini dia sudah mati.”
“Tapi kau bisa membangunkannya. Dan menanyakannya, untuk siapa dia bekerja?”
“Memang. Itu kalau dia bersedia menjawabnya.”
“Jangan begitu dong mas Detektif.”
         Bagi Mikronia, Alissa tampak lebih cantik ketika dia mengatakan itu. Tapi Mario Mirkonia adalah mesin yang penuh perhitungan, kritis, dan tak mudah percaya terhadap cinta pada pandangan pertama atau kedua. Namun demikian perkataan wanita itu telah membuat Mirkonia tak kuasa untuk menahan senyumannya. “Semua sudah berlalu, Alissa. Yang bisa kita lakukan hanya satu.”
“Apa?”
“Mengejar orang berkacamata yang menyapu yang kamu temui di rumah kosong.”
Setelah dipanggil dengan julukan mas Detektif oleh perempuan itu, Mirkonia sudah berani memanggilnya dengan kata ‘kamu’ dan bukannya ‘Anda’.”
“Ayo kita kejar sekarang.”
“Ini sudah hampir Magrib, Alissa.”
“Kalo begitu kita mulai besok pagi.”
“Tidak begitu metodenya.”
“Kalo begitu, ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
“Ya?”
         “Lebih mudah bagi kita untuk memaksa penculik itu bicara, dengan cara mendatanginya ke kantor polisi dan menyuruhnya untuk berkata jujur.”
“Wah, itu tindakan yang berani. Jika kamu melakukannya, bisa-bisa aku atau kita akan masuk penjara dan akan ketahuan pula bahwa akulah penembaknya, sedangkan aksi heroikku menyelamatkan seorang perempuan cantik bernama Alissa akan diketahui oleh dunia.”
Dalam pada itu Alissa tersenyum, lalu tertawa. Seakan perkataan lawan bicaranya baru saja mengangkat sementara duka yang membebaninya. Mereka tertawa.
“Benar juga,” jawab perempuan itu, setelah tertawa dan berpikir-pikir.
“Saat ini aku akan memberikanmu satu tugas: Ingat-ingatlah di mana kamu bertemu lelaki berkacamata itu! Kalau kamu sudah mengingatnya dengan benar, segera kabari aku. Aku pulang ya Alissa.”

VII
EMPAT HARI kemudian, pada pukul dua puluh lebih lima, Mario Mirkonia menerima sebuah pesan singkat. Dari tempat tidurnya, dia mengangguk, berdiri, lalu meregangkan kedua lenganya ke samping. Suatu pertanda yang menunjukkan bahwa dia akan siap beraksi kembali. Siap, kata itulah yang terpenting. Bagi lelaki itu, untuk menghadapi bahaya, ada hal yang lebih penting yang harus dimiliki seseorang selain keberanian, yaitu kesiap-sediaan. Seorang pemberani yang belum siap akan merasa takut ketika dia diminta untuk berdiri di tepi jurang. Sedangkan seorang penakut yang selalu siap terhadap berbagai kemungkinan akan melakukannya dengan gagah—meski beberapa syaraf dalam tubuhnya gemetaran.
         Tapi pertanda itu keliru. Mirkonia takkan beraksi malam ini. Masalah yang tersisa telah dituntaskan sendiri oleh Alissa pagi tadi; dia tak ingin menyangkutpautkan Mas Detektif lebih jauh lagi; dia telah mendatangi sendiri seorang berkacamata ke rumahnya yang berjarak lima kilometer dari rumahnya. Itu adalah seorang karyawan yang dua tahun lalu telah bekerja di toko playstation. Dia hanya bekerja dua minggu di situ. Setelah otaknya berhasil mengingat orang itu, Alissa segera mendatangi toko playstation untuk mengorek informasi tentangnya. Namanya Dani.
Setelah dipaksa untuk mengatakan yang sejujurnya, kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Alissa semakin terluka: Dani berkata bahwa almarhum suami Alissa telah mencuri cincin milik Haikal ketika cincin itu jatuh di bawah meja kasir. Haikal tahu itu dari seorang karyawan. Tapi sang suami tak pernah jujur menjawab pertanyaan pak Kasir. Sebelumnya semua karyawan telah ditanyai oleh Haikal.
        Tapi ada yang lebih menarik dari watak Alissa: dia rela menutupi aib suaminya meski ia tahu suaminya seorang pemabuk. Dia memang pemabuk, tapi kasih sayangnya pada keluarga luar biasa, batinnya. Alissa tidak akan menceritakan kesaksian Dani kepada seorang Mario Mirkonia.
Isi sms yang ia kirimkan untuk Mirkonia sangat tak diduga-duga:
‘Mas Detektif, saya harus mengucapkan terima kasih atas pertolongan Anda kepada saya dan almarhum suami saya. Saya akan membayar Anda (Tapi pada bulan depan). Sebab almarhum suami saya pernah berjanji untuk itu. Saya serahkan kasus ini pada Yang Maha Esa. Sebab, bagaimanapun juga, almarhum suami sayalah yang salah. Itulah ganjaran bagi seorang pemabuk.’
        Lelaki itu, seorang mesin dengan sepasang lensa yang rapuh, segera meletakkan kaca matanya di atas meja di samping sebuah novel. Lalu, pelan-pelan dia berbaring kembali di atas kasur, dan tidur. Keesokan paginya, dia sama sekali tak memikirkan kasus tersebut.


ARIF SYAHERTIAN
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR
TELAH SELESAI DITULIS PADA 19 – 01 – 2017

Photo by: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/cc/c0/0b/ccc00b8d20a72cc328c3d10307b97cc5.jpg

Jika kamu ingin mengikuti petualangan Mario Mirkonia lainnya, kamu bisa membaca kedua cerpen karanganku di bawah ini.
1. Rumah Kosong
2. Seorang Mata-Mata yang Datang dari Surga

  • view 238