Seorang Mata-Mata yang Datang dari Surga

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Desember 2016
Seorang Mata-Mata yang Datang dari Surga

I
SUDAH LAMA MENJADI sebuah kebiasaan bahwa sebagai seorang petualang, pada saat-saat tertentu, Mario Mirkonia kerap pulang larut malam. Libur bekerja pada hari Sabtu dan Minggu, dia selalu berusaha meluangkan waktunya untuk berpetualang ke pelosok desa, ke gunung-gunung, dan ke beberapa tempat wisata lainnya. Biasanya dia temani oleh seorang sahabat setianya Arthur. Namun, kini Arthur sedang berada di rumah neneknya di Jakarta untuk waktu yang cukup lama. Entah mendapat ide dari mana hingga suatu waktu Mirkonia pernah membeli seonggok kepala kidang dari seorang kolektor, dan membawanya pulang dengan semangat bersama Arthur.
        Para tetangga tahu Mirkonia merupakan anak dari seorang pimpinan perusahaan pengangkutan barang di Jawa Timur. Dia bekerja di perusahaan itu bersama ayahnya, Pak Andre; menjabat sebagai seorang sekretraris, mandor, dan kadang-kadang seorang kurir juga. Dalam diri Mirkonia, apa yang membawa manfaat bagi para tetangganya adalah keberaniannya. Jika suatu waktu terdapat seekor ular yang masuk ke rumah tetangganya, Mirkonialah orang pertama yang akan dicari-cari. Ya, dia adalah seorang pemberani yang siap menghadapi segala bahaya, dengan hidung panjang bengkok seperti Franc Ribery, dikombinasikan dengan rambut depan yang tersisir rapi ke kiri, dan bentuk dahi lebar yang penuh konsentrasi, seakan-akan tidak mengizinkan pikirannya mengambang-melamun-mengembara meninggalkan masa kini.
       Keesokan paginya hujan lebat turun. Di dapur, Mario Mirkonia sedang membuat secangkir kopi di dapur, sementara ayahnya sibuk mengelap jas hujan yang berdebu di antara tumpukan koran. Dengan cepat dia memakai jas hujan tersebut, lalu, setelah mengucapkan salam pada anaknya, menghampiri sebuah motor Kawasaki KLX dan menyalakan mesinnya. Mirkonia berjalan sambil membawa secangkir kopinya ke atas meja di samping jendela di ruang tengah. Di situ, dia bisa duduk sambil melihat pemandangan taman yang disiram air hujan dari balik jendela. Setelah menyeruput kopi hitam itu, dia mengeluarkan rokoknya dari saku celana, mengambil satu batang dan menyulutnya.
         Kepulan asap rokok keluar lewat jendela, berkolaborasi dengan lebatnya guyuran hujan. Dua ekor burung gereja bersembunyi pada ranting pohon mangga. Lalu, entah terganggu oleh air hujan atau tatapan mata Mirkonia, burung-burung tersebut terbang dengan cepat ke arah atap rumah. Mario Mirkonia masih menikmati semua itu ketika, dengan tiba-tiba, suara pintu yang diketuk mengusik pendengaran tajamnya. Kemudian dia mendengar suara tak asing memanggil namanya. Dia tak jadi berdiri. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat pintu ruang tamu tanpa kesulitan, sebab gorden pembatas antara ruangan tengah dan ruangan depan sedang dibuka.
“Bukalah, Harry, tidak dikunci,” teriaknya.
        Mario mengambil sebuah kursi berlengan dan menyilakan temannya duduk. Ketika dia pergi hendak menghilang ke dapur, cepat-cepat Harry berdiri dan melambaikan tangan. Katanya,
“Aku lebih suka air putih dingin, aku agak kehausan.”
Harry merupakan seorang teman setianya di bangku sekolah menengah kejuruan dulu. Wajahnya penuh lemak, tubuhnya gemuk pendek, sehat dan punya daya tarik lebih. Dia adalah anak satu-satunya dari seorang guru, lebih tepatnya ayahnya mengajar di salah satu sekolah dasar di Pogalan, Trenggalek. Ibunya meninggal sebulan yang lalu akibat radang paru-paru. Tak setiap hari dia berkunjung ke rumah Mirkonia.
        Namun demikian, mereka masih sering saling berkomunikasi lewat smartphone masing-masing—meskipun Mirkonia terkadang bisa jadi sangat tidak manusiawi memperlakukan smartphonenya itu. Digunakannya ponselnya hanya untuk aplikasi Map, PDF Reader, koran-koran online, dan aplikasi berguna lainnya. Tak ada sesuatu yang paling mengganggu pikirannya selain serentetan desakan dari teman-temannya yang menyuruhnya untuk menggunakan sosial media. Tapi dia adalah mesin yang sangat penuh perhitungan, tidak manusiawi, dan tebal telinga terhadap berbagai sosial media tersebut.
        Mirkonia datang kembali sambil membawa botol besar air minum dingin. Seketika temannya berdehem.
“Jack,” ujarnya pelan. “Aku punya masalah hebat dan ingin mendengar nasihatmu.”
Mirkonia duduk dan menuangkan air putih ke dalam gelas. “Ceritakan langsung, Har.”
Setelah meminum dua gelas air putih, Harry menyalakan rokok dan mulai bercerita. “Ingat, tak ada seorang pun yang lebih dulu mendengar ceritaku selain dirimu. Begini, kau sudah tahu ibuku meninggal sebulan yang lalu. Dan di sini letak permasalahannya, tiga puluh hari setelah kematiannya aku mulai dilanda. Ngeri, Jack! Sungguh! Aku mulai sering bermimpi tentangnya. Aku pernah bermimpi membeli sebuah roti tawar di supermarket. Seingatku, aku menengok ke kiri, dan di sudut ruangan supermarket aku melihat sosok ibuku tersenyum ke arahku. Aku hendak menghampirinya, tapi dia pergi dan mimpiku mengabur. Aku terbangun dengan bahagia pada awal pertama bermimpi tentangnya. Tapi yang jadi pertanyaan adalah kenapa setiap kali aku bermimpi melihatnya, selalu saja mimpi itu menjadi sebuah kenyataan pada akhirnya, di hari itu juga. Kau tahu maksudku?”
        Mereka berhenti, mengisap rokoknya dalam-dalam. Mirkonia menyeruput kopinya.
“Ya, aku tahu,” katanya. “Dalam mimpi kau bertemu ibumu di supermarket, lalu di dunia nyata, pada hari itu juga, entah bagaimana caranya, akhirnya kau pergi ke supermarket juga—meskipun jika kau melihat di sudut ruangan, kau takkan melihatnya.”
“Tepat sekali. Biar kulanjutkan minggu lalu aku bermimpi tentangnya lagi. Aku merasa berada di sebuah ruangan, berhadapan dengan seorang psikiater, didampingi oleh ayahku. Dan ketika psikiater itu menyuruh ayahku keluar, aku mulai diwawancarai. Entah kenapa aku bisa menjawab wawancara terapeutik itu, meski dengan kata-kata yang terbata-bata. Tiba-tiba aku melihat ibuku hadir dan tersenyum di belakang si psikiater. Aku ingin berteriak tapi mulutku sulit untuk melakukannya. Lalu semua menjadi abu-abu dan menggelap. Aku terbangun dengan rasa bahagia bercampur ngeri. Dan, supaya mimpi itu tak menjadi sebuah kenyataan, sedapat mungkin aku mengunci diri di kamar—kebetulan hari itu aku sedang libur bekerja. Membayangkan mimpi itu, aku jadi tertawa dan bertanya-tanya sendiri:
        Apakah aku gila? Sehingga perlu dibawa ke dokter macam itu? Aku terus bertanya sendiri. Aku memang tidak gila tapi seorang teman pernah mengejek kalau aku menderita penyakit jiwa. Katanya ‘Harry, kau sakit jawa, eh sakit jiwa, dasar, kemarin kau ceria mengobrol denganku, hari ini kau mudah tersinggung. Perasaanmu selalu seperti itu. Moodmu mudah berganti, dengan cepat, tak terkendali.’ Mengingat itu semua aku tertawa. Dan tanpa kusadari ayahku menengokku lewat celah kecil, berdehem dari balik jendela di kamar, dan aku dipaksa keluar. Sore itu, aku masih ingat, aku diajak membeli sebuah ponsel baru. Lalu setelah itu, sepeda motor dibelokkannya ke tempat psikiater. Dr. Arman H. Santoso, SpKJ menanyaiku. Dan aku menjawab sejujurnya. Walhasil, setelah proses wawancara, jiwaku terasa sejuk, badanku terasa segar, dadaku terasa lapang. Aku tak lagi mudah tersinggung. Moodku normal.”
        Sekali lagi, Mario Mirkonia mengisap dalam-dalam rokoknya.
“Kepribadian ganda," ujarnya, "atau biasanya disebut dengan dissociative identity disorder, gangguan identitas disosiatif. Seorang individu memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Masing-masing kepribadian tersebut memiliki sifat yang spesifik dalam satu tubuh. Harry yang kemarin adalah seorang yang cekatan seperti bintang dalam film action. Sementara Harry yang hari ini adalah seorang yang lemah, klemak-klemek tak punya kekuatan. Moodmu menjadi, istilahnya, ‘swings’; dengan cepatnya keadaan tersebut berjalan silih-berganti mempengaruhimu. Tapi, bukankah setiap orang bisa mengalami swings? Yang membedakan adalah cepat-tidaknya swings tersebut, menurutku begitu.”
“Tepat sekali, Jack," jawabnya. “Nah, aku harus bercerita lagi. Semalam aku bermimpi tentangnya lagi. Ini lebih ngeri lagi, Jack. Aku merasa hendak melakukan bunuh diri, di dalam kamar, memegang pisau. Ketika pisau hendak kutancapkan pada perutku, aku menoleh ke arah jendela. Oh, Ibuku ada di balik jendela, melihatku dan tersenyum. Seketika kubuang pisau itu. Lalu aku merasa pisau itu diambil oleh seorang pencuri. Diacungkannya ke arahku. Dalam pada itu aku memikirkan tentang ayahku. Dan aku terbangun. Jack, tolong aku, bagaimana kalau mimpi itu nanti terjadi di dunia nyata? Pokoknya, nanti malam kau harus tidur di rumahku, Jack.”
        Yang diajak bicara menempelkan kedua tanganya, mengaitkan jari-jemarinya. Beberapa detik kemudian dia menjawab.
“Baiklah, tenang, Harry,” ujarnya. “Jika kita berpikiran demikian, itu sama saja kita mendahului takdir Tuhan, ndisiki kersa, membaca masa depan. Dan membaca masa depan merupakan perbuatan sia-sia yang hanya akan menambah dosa.”
“Aku setuju denganmu, Jack. Tapi ibuku tidak bisa membaca masa depan. Dia seakan-akan memberiku petunjuk. Ingat, seakan-akan. Jika dia bisa membaca masa depan, atau bisa menyuruh Tuhan untuk memperlihatkan masa depanku kepadanya, tentu saja dia akan muncul di mimpiku hingga tiba pada suatu klimaks. Saat berakhirnya sebuah perisitiwa. Misalnya, jika pencuri itu akhirnya mati di dunia nyata, kenapa ibuku tidak muncul untuk memberitahuku bahwa ia nanti akan mati? Ibuku seperti apa ya, kau tahu Jack, dia seperti seorang mata-mata yang datang dari surga. Yang jelas, ibuku tak tahu cara membaca masa depan.”
         Mario Mirkonia terdiam dan mengangguk pelan tiga kali. Dahi lebarnya, seperti biasa, penuh dengan guratan yang mengandung konsentrasi. Sebenarnya Mirkonia enggan untuk menemaninya tidur nanti. Alasannya bukan karena dia membenci terhadap kepercayaan temannya pada takhayul itu, melainkan kepada ayahnya. Pak Mitro atau ayah Harry telah kehilangan reputasi. Dia dihormati oleh orang lantaran badannya yang kekar, tinggi, dan besar. Di balik itu, kebanyakan guru-guru membencinya: dia mungkin cocok dijuluki sebagai koruptor paling cerdas di negeri ini. Dia selalu menerima suap dari wali murid, asalkan dengan uang yang seimbang. Dia menambahkan apa yang seharusnya dikurangi. Dia mengurangi apa yang seharusnya ditambahkan. Bila nanti malam memang ada pencurian, Mario Mirkonia, lelaki dengan mata yang sangat hidup itu, percaya bahwa itu disebabkan oleh orang-orang yang... dia menundanya... entahlah.. tak baik membaca masa depan, batinnya.

II
MALAM ITU pukul 22.36. Mereka duduk merokok di sebuah kamar berukuran sedang. Di sudut kamar, berdiri sebuah meja belajar penuh buku-buku filsafat, agama, novel—sebagian buku belum dibuka plastik sampulnya. Tiba-tiba Mirkonia bertanya. Katanya,
“Apa yang membuatmu berpikir bahwa dia seperti seorang mata-mata yang datang dari surga?”
“Jack, kau tahu, dia punya amalan rahasia dalam beribadah kepada Allah. Dia sholat tapi dia tak mau orang tahu kalau dia telah mendirikan sholat. Begitu pun juga dalam hal berpuasa. Dia meninggal dalam damai, dengan jelas aku melihat seulas senyum mengembang menghiasi wajahnya. Jack, aku tidur dulu.”
“Sebentar, aku mau beli rokok, biar aku bawa kunci di atas meja itu.”
“Iya, omong-omong apa kau bawa, emmm, sebuah senjata?”
“Senjata?”
“Senjata.”
“Aku membawa senapan angin mini double power gejluk berkaliber 4.5mm, dengan panjang laras 40 sentimeter. Dengan motif doreng hitam-putih-abu abu.”
“Apa popornya?”
“Kayu mahoni.”
“Kayu mahoni?”
“Kayu mahoni,” jelas Mirkonia sambil berdiri, lalu pergi, tak lupa menutup pintu.

III
SUASANA RUMAH yang panjang dengan lantai dua itu benar-benar sunyi. Sepulang dari warung, Mario Mirkonia berdiri tegak seperti sebuah tugu. Dia mematung memandangi rumah Harry. Dia bergerak maju sambil menunduk, lalu berhenti dan merogoh senapan angin dari dalam tas. Kini ia meloncati tembok depan. Di sepanjang lorong utama ada sesuatu yang ganjil. Bahaya! Dia bisa merasakannya, layaknya seorang ibu yang tahu perasaan anaknya, atau layaknya seorang sahabat yang tahu isi hati sahabat yang satunya. Sepertinya itulah kemampuannya! Dia sudah terbiasa merasakan kehadirannya. Ada bahaya di sekitar kita! Lampu merah! Tanda bahaya!
        Mirkonia bersembunyi di balik tembok lorong. Di ujung paling utara sana ada sesuatu, seperti langkah kaki yang berjalan. Cepat-cepat dia berganti posisi. Dia tidur di lantai dengan terlentang, kedua mata kaki sampai paha dirapatkan, tangan kanan memegang senapan angin yang didekatkan ke kepala. Empat menit terasa setengah jam. Ketika sesuatu itu dirasakan menjauh, dia bergerak ke utara, ke arah kamar Harry yang berdekatan dengan kamar ayahnya, pelan-pelan, tetap menunduk. Kini dia mendengar bunyi pintu yang sedang dibuka. Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan dari kamar ayah Harry. Suaranya terdengar seperti seorang yang sedang bermimpi melihat makhluk menakutkan, lalu menjerit. Mirkonia tahu sejak pukul sepuluh pria itu sudah tidur pulas. Tak mungkin dia mengetahui kehadiran pencuri itu. Kemudian, lantaran merasa kaget, dengan beberapa langkah kaki, si pencuri itu keluar dari kamar Harry, lalu berjalan untuk mendobrak pintu kamar guru itu.
        Mirkonia berlari mengejarnya. Tapi suara letusan baru saja terjadi. Dia terlambat. Tapi, bagi Mario Mirkonia, lebih baik terlambat daripada diam. Lebih baik belajar sedikit daripada tidak sama sekali. Ketika dia berada di ambang pintu guru itu, dia menyadari ada sesuatu lagi di balik bahunya. Dia berbalik. Lima meter dari balik bahunya, berdiri seorang dengan topeng kain hitam, mengacungkan pistol; seperti seorang psikopat, tanpa berpikir lama lagi, orang kedua yang bertopeng itu menembakkan pistolnya. Mirkonia hampir ambruk. Sebuah timah panas bersarang  di bahu kanannya. Lalu Mirkonia menembakkan dua kali senapannya ke depan, yang segera membuat ambruk musuhnya.
        Pencuri yang pertama muncul dari kamar ayah Harry, lalu dia menahan tubuh Mirkonia supaya tidak jatuh. Pada saat-saat seperti itu, Mirkonia masih bisa berpikir; siapa orang di belakangku, yang menopang tubuhku? Mungkinkah Harry yang menyamar sebagai pencuri pertama itu, seperti di sebuah cerita detektif? Tidak! Ini nyata! Bukan cerita detektif! Bukan mimpi! Mario Mirkonia menepis kemungkinan itu, sambil menepis orang di belangkangnya dengan bahu kirinya. Tepat ketika itulah Harry datang berlari dari belakang mereka, dengan tangan kanan membawa sebilah pisau, lalu menikam ke punggung orang di belakang Mirkonia. Orang yang baru saja menembak ayahnya.
        Semuanya begitu cepat terjadi. Kedua orang yang selamat itu saling memandang. Tiga orang telah tewas. Mario Mirkonia segera digotong oleh temannya ke dalam kamar. Bahunya sangat terluka. Darah membekas di kaus polonya. Yang digotong segera meminum air. Sebagian isinya dituangkannya ke wajah dan ke bahunya. Lima menit kemudian, ketika Harry baru saja pergi, dengan lemah Mirkonia merogoh ponselnya dari saku celana, menghubungi polsek terdekat.

IV
PADA AKHIRNYA, setiap tangan harus berani menanggung apa yang disebut dengan konsekuensi. Keesokan harinya Mario Mirkonia terbaring lemah di atas dipan di rumah sakit Islam, didekati oleh orang-orang tersayang yang terdiri dari ayah, saudara, dan teman-temannya. Seorang polisi bertampang formal menghampirinya. Dia menjelaskan kepada semuanya bahwa pencuri-pencuri itu sebenarnya adalah kedua teman dari ayah Harry. Mereka ditipu oleh Pak Mitro terkait kasus penggelapan dana.
        Dengan kata lain, sebenarnya mereka bertiga sama-sama penipu, hanya saja Pak Mitrolah pengkhianat dari para penipu itu. Sedangkan Harry sendiri sedang dalam penyelidikan polisi. Kini para tetangga masih belum berani membuat rencana yasinan untuk memperingati kematian Pak Mitro. Sedangkan kenduri yang keempat puluh hari dari almarhumah ibu Harry akan dilaksanakan tiga hari kemudian. Polisi berjanji akan mensterilkan tempat kejadian perkara dalam waktu yang singkat.
        Harry dan Mirkonia bertemu kembali tiga hari kemudian. Dia menceritakan kepada Mirkonia; bahwa setelah si Mirkonia itu pergi membeli rokok, dia beranjak ke lantai atas untuk mencari flashdisk. Singkatnya, dia masih berada di lantai atas ketika terjadi gencatan senjata tempo hari. Empat jam setelah para warga selesai membaca tahlil dan yasin, mereka berdua mendirikan salat malam bersama di dalam kamar, yang diimami oleh Harry. Kemudian mereka mendoakan almarhumah ibu Harry.
         Pada pukul satu dinihari Mario Mirkonia berpamitan pulang. Harry sempat tertidur sesaat setelah selesai melakukan salat malam. Dia mengatakan bahwa ia baru bermimpi didatangi oleh ibunya di kamar ini. Dia berkata ibunya mengelus rambut lebatnya, seraya mengatakan: ‘Harry, ini adalah hari terakhir ibu mengawasimu. Kamu adalah orang yang baik, dan tak suka sama hal yang aneh-aneh. Sampaikan rasa terima kasih ibu pada temanmu yang itu.’
        Suasana di luar benar-benar sunyi dan lebih gelap dari hari sebelumnya. Mendung menggantung. Dini hari itu hujan tampaknya akan turun. Tapi ada beberapa bintang yang muncul. Di angkasa nun jauh di sana. Tapi di belakangnya, lebih tepatnya di dalam gerbang rumah Harry, ada sesuatu yang asing. Mario Mirkonia bisa merasakannya. Bukan! Itu bukan bahaya! Tek, tek. Dia berdiri, seperti sebuah tugu, lama, mendengarkan suara itu dengan mata memejam. Dia menengok ke belakang. Harry sudah pergi. Sekali lagi, dia mendengarkan, kali ini sambil berkata dalam hati, ‘Aku takkan mengganggumu, Bu, kembalilah ke alammu dengan bahagia’.
Tek, tek. Suara itu muncul lagi. Mirkonia berdiri. Bukan! Itu bukan bahaya! Aku bisa merasakannya! Dalam hati ia berkata lagi, ‘barangkali aku bukan seorang pemberani, tapi aku adalah seorang lelaki yang siap menghadapi segala bahaya, sungguh.’ Kemudian dia pelan-pelan pergi, tanpa menengok ‘sesuatu’ yang ada di belakangnya.


ARIF SYAHERTIAN
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR
10 - 12 -2016

NB: Cerpen ini aku tulis dalam waktu beberapa jam. Dan itu adalah salah satu kebahagiaan besar yang aku rasakan.

Jika kamu ingin mengikuti petualangan Mario Mirkonia lainnya, kamu bisa membaca cerpen karanganku yang berjudul Rumah Kosong.

Photo by: http://wallpoper.com/wallpaper/women-eyes-403495

  • view 347

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    11 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Karya yang cukup menegangkan sekaligus asyik dinikmati. Penulisan yang tidak bertele-tele sejalan dengan alur yang cepat. Satu adegan berganti ke adegan yang lain secara dinamis sehingga pembaca layak menunggu akhir kisah ini. Ada beberapa hal yang menarik dalam tulisan ini. Pertama, tulisan ini menggunakan arwah sebagai petunjuk atau mata-mata sebagaimana disebut oleh penulisnya, Arif Syahertian. Banyak elemen mistis jika kita lihat secara seksama.

    Kedua, tokoh utama, yaitu Mario Mirkonia, sendiri adalah orang yang unik. Tak banyak tokoh seperti dia, yang banyak digerakkan oleh rasa keingintahuan yang besar. Yang terakhir cerpen ini unik sebab mengandung pesan dalam tentang falsafah,”apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai”. Ini pas ditujukan ke ayah Harry, bapak Mitro, yang ternyata koruptor. Keren cerpen ini, Arif. Kami tunggu cerita detektif kamu berikutnya!

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    7 bulan yang lalu.
    Jika dikumpulkan jadi sebuah kisah novel genre petualangan ala detektif, pastilah tulisan2 mas arif ini akaaaan... ah! Entahlah, tak baik membaca masa depan _^

    • Lihat 3 Respon

  • Anis 
    Anis 
    11 bulan yang lalu.
    selamat jadi tulisan pilihan, Pak.

    maaf sedari kemarin saya belum kelar baca

    • Lihat 6 Respon