Empat Puisi; Feat. Putri Al Fatih

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Puisi
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Empat Puisi; Feat. Putri Al Fatih

1. The-ana(?) (PUTRI AL FATIH)
2. RIN(dhi)U (PUTRI AL FATIH)
3. Soneta untuk Mita (ARIF SYAHERTIAN)
4. Cerita untuk I (ARIF SYAHERTIAN)

The-ana(?)

Menyibak luka rengkuhan hati
Menanam duka sebait nafas
Demi nama dan sedikit sahang rasa kemiri
Berikan daku pada Dewa sang Dewi
Jadikan dia pada yang Kuasa
Entah karena pedih atau memang ingin menangis
Hujan lebih ringan alirannya
Dan
Ku lihat
Tawa mengiringinya
Entah sudah berada luka dan seberapa pedih
Sepertinya
Aku lupa menyibak sedikit ngarai untuknya menelan obat
Maafkanlah

Putri Al Fatih
Jakarta, 12 Oktober 2016

RIN(dhi)U

Tak bisakah kamu cukupkan aku?
Sekedar memeluk dan tenangkan tangisku!
Tak bisakah?
Sungguh?
Aku bahkan sampai enggan menjelma senja
Itu karena tawamu
Lagi-lagi tentangmu
Tentang tawa dan pertanyaan bisakah
Tak bisakah kamu cukupkan aku?
Sekedar memeluk dan tenangkan tangisku?
Setidaknya, aku tahu bahwa kamu masih ada
Meski hanya berupa nafas yang tak terdengar
Raga yang tak terlihat
Tak bisakah?
Sungguh?

Putri Al Fatih
Jakarta, 12 Oktober 2016


Soneta untuk Mita


Malam pernah mengawali sepenggal kisah:
seorang pemuda, adiknya, dan ayahnya
mereka makan soto Lamongan bertiga.
Lanskap pelan-pelan memudar tanpa cerah.

Naik motor mereka pulang ke rumah
Di jok depan angin meniup rambut adiknya
Di jok belakang pemuda duduk diam saja
Memikirkan perempuan dia gelisah

Apakah gadis itu sudah kembali
Pemuda itu tahu waktu berjalan terus tanpa henti
Bahkan saat pengendara motor menyalip mereka cepat sekali

Siapa pengendara yang baru memanggilku, batinnya sesaat
Tiba-tiba adiknya berkata dengan tersendat
Itu, kakakku, adalah suara dari seorang sahabat

Arif Syahertian
10 / 10 / 2016 – 13 / 10 / 2016

Cerita untuk I

Sebenarnya sudah berapa hari
mereka tak saling bertukar cerita lagi?
Mungkin hampir seminggu lamanya.
Dan tiap hari mereka bertemu
di kantor yang sama
Bahkan senja selalu pandai mengingat
percakapan-percakapan lama.

Sebenarnya sudah berapa hari
mereka tak saling bercanda lagi?
Hari-hari seakan diserbu oleh panah luka.
Mereka pernah hampir tersesat dalam hutan pengaruh.
Lelaki itu lalu menggandeng tangannya
Mengajak perempuan itu berlari
dan berlari, berlari keluar, tanpa menoleh lagi

Sebenarnya apa yang terjadi?
Lelaki itu kini memandang wajahnya
berusaha menghibur perempuan di dekatnya
meski mulut perempuan itu tetap terkatup rapat.
Tapi ada sesuatu yang berubah:
perempuan itu tiba-tiba berpaling darinya
berusaha menahan senyum dan tawa

Arif Syahertian
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR.  15/16 – 10 – 2016

  • view 237