Atensi terhadap Wayang II

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 September 2016
Atensi terhadap Wayang II

DI PENGHUJUNG TAHUN 2013, aku masih ingat, malam itu hujan yang semula turun rintik-rintik kian menderas. Atap seng yang menaungi halaman belakang rumahku berbunyi nyaring, berisik tak keruan, menjerit-jerit kesakitan, tak henti-hentinya dipukul oleh hujan. Sesaat kemudian angin kencang turut berembus. Kilat-kilat menakutkan—yang kadang tak disertai oleh petir—mulai menampakkan diri dan menyelinap cepat menggores angkasa. Daun jendela di ruang depan bergerak cepat, menabrak dinding di sekitarnya berkali-kali, ditiup oleh angin kencang. Segera setelah mengambil pembatas buku untuk mengakhiri novel yang tengah kubaca, aku berlari ke ruang depan untuk menutup daun jendela, lalu mematikan saklar lampu yang menerangi ruangan tersebut, dan berjalan kembali ke kamar untuk berangkat tidur. Untuk pergi ke alam mimpi, bagiku, tak membutuhkan waktu yang lama. Terlebih saat hujan deras tengah melanda.
       Tiba-tiba aku terbangun. Jam dinding menunjukkan pukul 01.00. Dini hari yang sunyi. Cepat-cepat aku turun dari dipan. Kemudian aku mengambil jaket tebal di gantungan baju, lalu memakainya tergesa-gesa, dan berjalan ke ruang depan untuk membuka daun jendela itu. Hujan sudah reda. Tanah di luar rumah menguarkan bau harum bekas tersiram air. Aku menghirup baunya. Setelah menutup daun jendela itu kembali, aku bergegas ke halaman belakang, lalu menyalakan dua saklar untuk lampu dan pompa air, dan meletakkan jaket ke tali jemuran, dan menyalakan kran untuk mengambil air untuk wudhu.
       Ini adalah waktu yang tepat untuk mendirikan salat tahajud. Dalam sujud yang terakhir, aku berdoa kepada Allah. Barangkali doaku hanya sederhana; Ya Allah, hamba-Mu ini ingin memiliki wayang kulit, Ya Allah. Aamiiin, tutupku. Kini, setelah badanku merasa segar kembali, aku bergegas ke rak buku untuk mengambil kotak rokokku, lalu berjalan dengan santai ke taman belakang, lalu duduk di sebuah kursi berlengan di sana untuk memandangi bunga-bunga hasil rawatan tanganku sendiri dan sekaligus... Memikirkan tindakan-tindakanku selanjutnya terkait dengan rencana yang sudah ada dalam kepala. Aku menyulut sebatang rokok. Mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dalam-dalam jua, seakan segala beban dalam diriku terbang bersamaan dengan perginya asap-asap cokelat tadi.
        Baiklah, kawan-kawan, kini saatnya aku harus mengambil kertas rencana dalam ingatanku, membuka lipatannya pelan-pelan, dan membeberkan selebar-lebarnya kepada kalian. Besok aku berniat untuk menonton pertunjukan wayang kulit bersama pamanku. Acara tersebut akan diadakan di desa Blimbing, Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Berpuluh-puluh kilometer jaraknya dari rumahku, aku berencana akan pergi ke sana dengan mengendarai sepeda motor Honda Grandku yang amat irit itu.
       Uang yang aku punya saat ini adalah enam puluh ribu rupiah, yang merupakan hasil dari kerjaku selama enam hari sebagai seorang tukang ketik. Sedangkan motor yang akan aku gunakan untuk menonton wayang besok sudah penuh bensinnya. Biaya parkir menonton wayang akan ditanggung oleh paman.  Tak hanya itu, camilan, kopi, dan rokok untuk menemani nonton wayang akan dibelikan oleh paman juga. Kurang lebih, itulah hal-hal pokok yang telah tertulis dalam kertas rencana yang bersarang dalam ingatanku. Setelah aku mematikan puntung rokok terakhir ini, aku akan melipat rapi kertas itu kembali, dan menyimpannya ke dalam almari otakku.
 
***
KEESOKAN HARINYA, pada hari Minggu, setelah menyelesaikan seluruh urusan rumah yang melelahkan—menyapu lantai dan halaman rumah, memberi makan ayam-ayam, membersihkan kandang mereka, menyirami bunga-bunga—dan juga bekerja sebagai seorang kuli yang membantu Paman mengerjakan sebuah bangunan, aku membaringkan diri di lantai dekat halaman belakang. Angin sore sesekali datang tiba-tiba, meniup-niup helai rambutku. Cahaya senja jatuh menyinari rerumputan juga bunga-bunga. Bongkahan awan melambaikan tangan secara pelan-pelan. Setelah puas beristirahat, aku teringat akan kertas rencanaku; dengan cepat aku mengambilnya dari almari otakku. Uang sakuku—hasil dari kerjaku sebagai tukang ketik—yang telah terkumpul enam puluh ribu rupiah akan aku pisahkan. Sedangkan upah bekerja sebagai kuli tadi—enam puluh lima ribu rupiah—juga akan aku pisahkan sendiri di saku yang berbeda.
      Malam itu cuaca cerah. Waktu menunjukkan pukul dua puluh lewat lima belas. Sebelum berangkat menonton pertunjukan tersebut, aku mempersiapkan diri terlebih dahulu; untuk melindungi tubuhku dari hawa dingin, aku merangkap kaos polo orange yang kupakai dengan jaket hitam, yang mana terbuat dari kain yang adem dan enak dipakai. Pada saat-saat seperti ini, rasa tergesa-gesa hampir selalu menghinggapi benak seseorang, kurasa. Dengan tegas aku menolak ketergesaan tersebut, sebab tak ada yang paling menjengkelkan pikiran selain mengetahui bahwa barang bawaan yang kita butuhkan ternyata masih ketinggalan. Maka aku membuka segala kemungkinan terhadap apa-apa; ya; termasuk pada cuaca juga. Jas hujan sudah siap. Kedua ban sepeda motorku sudah mendapatkan cukup angin. “Telah lama menjadi aksioma dalam diri saya bahwa hal-hal kecil secara tak terbatas merupakan yang paling penting.” Aku mengutip perkataan penulis kesukaaanku. Selanjutnya, dengan cepat aku berkeliling ke sekitar rumah mengecek baik setiap selot pintu maupun daun jendela. Segera setelah mengunci pintu depan, aku bergegeas menghampiri motorku, lalu menyalakan mesinnya.

***
MOTOR YANG TENGAH aku kendarai bersama paman melaju cepat menggilas legamnya aspal. Para pemilik toko kelontong sudah mulai menutup tokonya. Puluhan anggota klub motor terlihat duduk-duduk bertemankan secangkir kopi di pinggir jalan. Empat orang punk laki-laki masih bernyanyi ramai-ramai di bawah sebuah atap toko yang sudah tutup. Melihat rambut mohawk dari salah satu anak punk itu, seorang karyawati dari toko pakaian tiba-tiba tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya. Kemudian ia berbisik pada rekan karyawati di sampingnya, yang segera tertawa juga. Suasana jalan masih ramai.
       Tetapi, semakin kami melesat ke Timur, apa yang terjadi di jalan raya justru kebalikan dari sebelumnya: Sepi. Aku baru teringat bahwa aku tengah memasuki kawasan yang memang selalu sepi saat malam menjelang. Kawasan bulak, demikianlah orang-orang menamainya. Satu dua truk melesat cepat, seakan tak peduli dengan kehadiran pengendara sepeda motor yang berada di sampingnya, yaitu aku sendiri. Dari belakangku, seorang pengendara sepeda motor MegaPro menyalipku dengan cepat; ketika dia berbelok pada tikungan tajam di depan, sebuah mobil pick-up hitam menghantam kaca spion kanan motornya. Pengendara itu oleng ke kiri, lalu jatuh. Ketika mobil itu berhenti, pamanku turun dan berlari menghampiri sopirnya. Belum sempat pamanku berbicara padanya, mobil itu tiba-tiba melesat. Sesuatu yang membuat pamanku berlari mengejar mobil tersebut. Dia berhenti, sambil tersengal-sengal, ketika apa yang dikejar itu kian menjauh.
       Cepat-cepat aku turun untuk melihat keadaan pria malang tersebut. Aku menoleh ke arah pamanku yang berperawakan sedang itu. Dia sedang menulis sesuatu di sebuah buku sakunya. Ketika dia mendongak, dari kejauhan, aku bisa melihat dahinya yang lebar, hidungnya yang mancung, matanya yang tampak teduh tapi tajam itu. Jiwa yang hidup itu.
“Pak Puh, kemarilah, lihat orang ini,” teriakku.
Pak Puh atau pamanku itu berlari ke arahku. Pengendara itu meringis kesakitan. Punggung dan bahu kanannya kesakitan.
Setelah kami selesai menggotongnya ke pinggir jalan, pamanku berkata, “Tunjukan nomor hape teman atau keluargamu, Mas, dan aku akan menghubungi mereka.”
Tapi yang ditanya justru diam saja. Paman mengulangi pertanyaannya. Hasilnya tetap saja. Aku mencoba merogoh saku celananya, tetapi dia bergerak tak keruan arah. Dari arah Timur, kami melihat sebuah mobil polisi yang, dengan nyala lampunya yang biru, datang menyilaukan mata.

***
AKU TIDAK TAHU berapa kilometer jarak antara tempat parkir dengan panggung tempat pertunjukan tersebut.  Barangkali dua kilometer. Yang jelas kami berdua harus berjalan cukup jauh untuk menuju ke panggung. Jika kalian berada di sini, di tempat yang ramai seperti pasar malam ini, maka kalian akan melihat berbagai macam penjual. Termasuk setiap penjual kacang godog dengan gerobaknya. Paman sudah mengenal salah satu dari mereka. Sambil melihat sesaat pada muka si penjual, dan melontarkan kata-kata kejutan, tiba-tiba pamanku mengambil satu kacang dari gunungan kacang-kacang yang mengepul sedap itu. Si penjual menoleh kepada paman, lalu membalasnya dengan ucapan bernada terkejut, sebelum akhirnya paman berjalan kembali, seraya membuka kulit kacang, lalu mengunyah isinya. Seorang penjual peralatan dapur berbicara dengan cepat dan fasih lewat speaker, hampir tak ada putus-putusnya, mempromosikan barang dagangannya seolah-olah pimpinan buruh yang meneriakkan protes keras melawan kebijakan perusahaan, seolah-olah pemimpin perusahaaan yang berang lalu angkat bicara menawarkan berbagai solusinya kepada puluhan buruh tersebut.
          Akhirnya kami tiba di area panggung tersebut tepat ketika tengah malam. Segera setelah sesi ‘limbukan’ berakhir, dalang Ki H Anom Suroto segera turun dan digantikan oleh putranya, Ki M.P.P. Bayu Aji. Salah satu orang yang paling menginspirasiku dalam menjalani kehidupan. Kami senang mendengar suara suluk dari kedua dalang tersebut. Aku bersyukur kepada Allah, yang telah mendukung keinginanku dan telah menghendaki rencanaku. Kami melihat pertunjukan tersebut dengan ditemani oleh segelas kopi hangat, dan juga rokok. Lantaran hari ini sudah berganti Senin, dan mengingat aku harus bekerja lagi pada pukul delapan pagi nanti, cepat-cepat aku berbisik ke arah telinga pamanku untuk mengajaknya pulang. Dalam perjalanan pulang, ketika kami tiba di tempat parkir, aku berhenti sesaat, lalu berjalan menghampiri seorang tua yang menjual wayang kulit. Aku mengambil tokoh wayang Ramawijaya, terbuat dari kulit kambing.
“Ingkang menika pinten, Pak?” Tanyaku.
“Ramawijaya sembilan puluh ribu, Mas.”
Aku meletakkan wayang itu sejenak, lalu merogoh saku kananku. Ya, ampun, kawan-kawan, mimpi apa aku semalam, ternyata dompetku hilang. Aku merogoh saku kiriku; di sana aku mengeluarkan uang enam puluh ribu hasil kerja kerasku selama enam hari.
“Pak, kula namung gadah artha enam puluh ribu. Pripun niki?”
“Boten angsal, Mas. Niku kulite sae sanget,” jawab penjual itu dalam. “Panjenengan tambahi sepuluh ribu, dados tujuh puluh ribu mawon.”
“Waduh, Pak. Boten wonten, Pak. Panjenengan dalemipun pundi? Pripun umpami kula tindak dateng dalemipun panjenengan benjing? Kula tumbase Ramawijaya niki. Kula kepingin gadah wayang menika, Pak.”
Setelah si penjual berpikir sesaat, barulah dia menjawab. “Kula saking Sumbergempol, Mas. Ow, nggih, pun, Mas, enam puluh ribu boten napa-napa.”
Aku jadi teringat kutipan Paulo Coelho. “Jika kau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bersatu membantumu.” Memang benar; sudah lama aku menginginkan wayang kulit. Dalam sujud yang terakhir saat salat, aku selalu memanjatkan doaku, dan kini aku berhasil memilikinya, dengan cara yang sama sekali tak pernah kuduga-duga. Sekali lagi, aku bersyukur kepada Allah, yang telah mendukung keinginanku dan telah menghendaki rencanaku.
       Dalam perjalanan pulang, aku menceritakan musibah yang telah menimpaku kepada paman. Tetapi dia kelihatan tenang sekali setelah selesai mendengarkan seluruh ceritaku. Kadang-kadang dia seperti seorang Sherlock Holmes. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati tentang apa rencana yang ada dalam kepalanya. Aku jadi teringat sesuatu yang berharga; maka aku segera menanyakannya.
“Aku lihat,” ujarku, sambil menengok ke kiri, ke arah telinga kanan paman, dengan masih mengendari sepeda motor, “tadi Paman menulis sesuatu di buku saku. Apa itu?”
“Aku kira kau nanti akan melihatnya sendiri. Sekarang mari kita pergi ke Polsek terdekat.”

***
SEKARANG, pada pukul 01.45 dini hari, kami tengah duduk di sebuah bangku panjang, di hadapan dua orang polisi yang bertampang keras. Setelah paman menceritkan insiden tabrak lari tadi, salah seorang dari mereka angkat bicara.
“Jadi,” kata polisi berkumis tebal, serak, “ini mungkin semacam aksi kepura-puraan. Si pengendara pura-pura jatuh dan terluka, dengan maksud untuk mengambil dompet, atau sesuatu berharga, dari siapa saja yang menolongnya. Dalam kasus ini, korbannya, si adik ini. (Dia melihatku).”
Paman menegakkan punggungnya. Matanya berubah tajam, dahinya bertaut Katanya,
“Itu memang mungkin terjadi, Pak, tapi untuk apa seorang sopir pura-pura menabrak temannya sendiri, hanya untuk menyuruh si teman mengambil dompet atau apa saja yang berharga dari si penolong. Itu sangat besar risikonya. Begini saja, Pak, waktu yang kami punya sangat terbatas; Anda akan saya beri alamat rumah saya, dan ini yang sangat penting, saya punya nomor plat dari mobil pick-up itu. Saya tadi sempat menuliskannya di buku saku saya. Mula-mula penglihatan saya kabur, tapi saya berlari untuk melihat ke arah plat tadi.  Terima Kasih.”
Setelah itu, kami minta diri. Dalam hati aku merasa kagum dan hormat dengan orang berusia lima puluh tahun di sampingku ini.
       Tiga hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa keberadaan mobil pick-up itu telah berhasil dilacak oleh polisi. Dan pemiliknya sendiri, seorang lelaki pemabuk berperawakan kekar, akan segera masuk penjara, karena dengan jelas terbukti telah melakukan tindakan yang mengancam nyawa manusia. Tak hanya itu, dia juga telah melakukan aksi tabrak lari.
Seminggu kemudian kabar baik datang. Seorang tetanggaku yang bernama Arif datang tergesa-gesa sambil membawa koran. Dengan bersemangat dia menunjukkan informasi yang tertera di dalamnya. Kalian mungkin sudah bisa menebak sesuatu dalam koran tersebut?
Ya; aku senang sekali karena dompetku telah ketemu. Sekarang barang tersebut berada di salah satu polsek di Tulungagung, telah diketemukan oleh seorang petani di sawah.


ARIF SYAHERTIAN
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR.
23/09/2016 – 27/09/2016

Photo: Saya dan Ki M.P.P. Bayu Aji; di desa Karangtalun, Kalidawir, Tulungagung; 10 - 09 - 2016; 04 : 01.

  • view 182