Sepenggal Kisah Altamont Baron

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 September 2016
Sepenggal Kisah Altamont Baron

APAKAH semua penduduk desa sudah tahu kenapa Altamont Baron dijuluki sebagai Baron yang selalu beruntung? Mungkin ya; semua orang sudah tahu. Berkat ketelitian, ketekunan, dan terutama kejujurannya baik dalam mengerjakan sesuatu maupun mempelajari hal-hal baru, sebulan yang lalu Altamont Baron berhasil memenangkan parade lomba mencari harta karun, dengan petunjuk-petunjuk amat rumit dan membingungkan yang telah diberikan oleh panitia lomba, di salah satu pulau di Irlandia, sehingga namanya seketika melambung tinggi jadi bahan pembicaraan banyak orang di desa-desa bahkan di sejumlah kota. Atau, mungkin seluruh penduduk Irlandia sudah mengenalnya.
       Hadiah yang telah dia peroleh sangat banyak; sebagian uang digunakannya untuk memperbesar rumah, kandang sapi dan kandang ayam. Sebagian uang disumbangkannya kepada sebuah organisasi yang bergerak mengurusi pendidikan dan kebutuhan anak yatim dan piatu. Sebagian uang disumbangkannya pula kepada warga miskin secara langsung. Meski kini dia hidup dengan bergelimang harta, semua orang tahu bahwa kesombongan tak pernah sedikit pun berhasil mempengaruhi sikapnya.
       Pada mulanya Altamont Baron bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seorang pria paruh baya yang hidup berkecukupan, berusia empat puluhan tahun, dengan menjalankan profesi sebagai tukang kayu. Istrinya meninggal dua tahun yang lalu. Sedangkan anak satu-satunya, Dennis, adalah seorang pemuda tampan berusia delapan belas tahun yang sangat gigih dalam bekerja—terlebih ketika dia membantu ayahnya.
       Pada suatu pagi yang cerah, ketika mereka sedang memberi makan kawanan sapi, tiba-tiba datanglah seorang lelaki tua. Dia adalah John, seorang teman Baron dari desa sebelah. Dengan mata yang memancarkan kecerdikan, cambang dan jenggot yang memutih, juga menyandang senapan laras panjang di bahu kanannya, John tampak seperti seorang pemburu di hutan. Ya, dia memang pemburu. Tanpa berbasa-basi, dia segera mengutarakan niatnya kepada Baron untuk mengajaknya berburu burung kenari langka di hutan. Sebelum mereka pergi, Baron menasehati anaknya untuk menjaga rumah dan tidak bermain keluar.
                                                            ***
JOHN dan Baron terus berjalan menyusuri jalan-jalan desa. Suasana pagi itu damai. Tenang. Orang-orang bergotong royong. Cahaya matahari yang hangat jatuh menyinari jalan perdesaan. Pohon-pohon pinus berjajar rapi di tepi jalan. Kini, sebelum mereka masuk ke hutan, mereka harus melewati sebuah desa yang agak sepi. Desa ini terlihat menyeramkan, Baron membatin. Daun-daun masih berserakan di sejumlah pelataran rumah; di sini hanya terlihat beberapa orang yang berjalan ke sungai, dan satu-dua orang yang mencari kayu bakar. Pelan-pelan mereka terus berjalan menuju ke hutan.
       Jauh di dalam hutan, mereka melihat sebuah dinding yang berbentuk persegi panjang. Itu adalah dinding yang terbuat dari batu bata, telah digunakan sebagai benteng ketika zaman peperangan dahulu. Tinggi dinding itu hanya dua meter. Tiba-tiba, dari luar, mereka berdua mendengar bunyi cericit burung. Baron memiliki tubuh yang tinggi dan kekar. Dia meloncat dan memanjat ke dinding itu dan, setelah mengetahui apa yang ada dalam tembok, dia segera berpaling ke arah John di belakangnya.
“John,”  ujar Baron agak lirih. “Aku melihat dua ekor burung sedang berbaring lemah di rerimbunan daun. Tunggu, aku akan masuk ke dalam.”
Tanpa berkata-kata, tiba-tiba John bergegas memanjat tembok dan menyusul kawannya ke dalam tembok. Mereka melihat dua ekor burung cantik yang kesakitan. Kedua burung itu adalah burung kenari yang berwarna kuning, dijuluki warga dengan nama Irish Fancy Canary.
       Segera setelah mereka mengambil kedua burung itu, cepat-cepat mereka bergegas pergi. John dan Baron menyembunyikan burung-burung itu di saku celana kempol masing-masing. Senang lantaran telah mendapakan burung, mereka berjalan pulang cepat sekali. Tetapi tiba-tiba, sebelum mereka berhasil keluar dari desa yang menyeramkan tadi, langkah-langkah kaki mereka dihentikan oleh tiga orang penduduk asli desa tersebut. Wajah ketiga orang itu putih pucat dan terlihat sangat seram dan menakutkan. Salah seorang dari mereka, yang berbadan tinggi dan besar dan memakai topi koboi hitam, bertanya lantang kepada John dan Baron.
“Apa yang kalian sembunyikan dalam saku celana itu?”
John mundur dua langkah dan menjawab. “Ini adalah tikus hutan. Biarkan kami pulang. Kalian tahu, istriku sedang menungguku di rumah.”
       Kemudian, orang yang memakai topi itu bertanya pada Baron. “Lalu, apa yang kaubawa di saku itu?”
Baron menjawab dengan pelan dan santai sekali, seperti seorang anak kecil yang tak memiliki beban dalam pikirannya. “Sebenarnya, ini adalah seekor burung kenari. Aku menemukannya di dalam dinding bekas benteng. Jika kau ingin mengambil burung itu, aku tak keberatan sama sekali.”
“Marko dan Juan, periksalah saku celana kedua pemburu itu,” bentak pemimpin bertopi itu.
Dengan cepat dan tegas, kedua pengawal yang berdiri di antara orang bertopi itu segera memeriksa saku celana John dan Baron. Setelah mereka berhasil mengeluarkan apa yang terdapat dalam saku pemburu-pemburu itu, si pemimpin yang memakai topi itu berteriak lantang kepada kedua anak buahnya.
“Marko dan Juan, tahanlah orang berjenggot putih ini, dan biarkanlah orang berperawakan tinggi ini pulang dengan membawa burung kenarinya. Aku akan selalu mengetes setiap orang yang melewati kawasanku; selalu, dan akan selalu, siapa saja, tak terkecuali! Siapa yang berbohong akan pulang besok lusa, sedangkan siapa yang berkata jujur akan lolos dari ujianku, dari tesku. Orang yang berbohong akan menerima hukuman, tentu saja, hahaha; dia harus mencangkul tanah di sawah sepanjang hari dan akan pulang besok lusa.”
                                                            ***
ALTAMONT Baron telah berhasil melewati ujian tadi. Kini, dalam suasana senja, saat burung-burung mulai beterbangan pulang ke sarangnya, dengan santai Baron berjalan menyusuri jalan desa menuju ke rumah. Sekalipun begitu, sepanjang perjalanan pulang tadi, Baron terus memikiran nasib John. Dia tetap merasa kasihan padanya. Setiba di rumah, dia bergegas ke arah kandang sapi dan terkejut melihat daun pintu kandang yang terbuka. Dua ekor sapinya masih berada di kandang, tetapi seekor anak sapi telah kabur.
       Bingung, dia berjalan ke semua penjuru halaman belakang mencari hewan itu. Tak lama kemudian, Dennis datang dari arah sungai, sambil menuntun seekor anak sapi. Dengan tarikan yang agak keras, Dennis menuntun sapi itu ke arah kandang, melewati jalan setapak dari belakang. Altamont Baron memandang anaknya dengan raut wajah marah, lalu dengan hentakan kaki yang cepat dia berjalan menghampirinya, dan menggiring sapi itu kembali ke dalam kandang.
“Maaf, Ayah,” ujar Dennis, sambil menunduk memandangi tanah kandang sapi. “Aku tadi keluar rumah untuk menemui Philipp di lapangan untuk bermain bola sejenak. Padahal kandang sapi tadi telah kututup rapat. Dan ketika aku pulang ke rumah, tiba-tiba aku terkejut melihat sapi itu sedang minum di sungai.”
       Baron berdehem keras. “Kau tidak menuruti perintahku, Dennis. Itulah kesalahanmu. Lain kali jangan kau ulangi lagi. Sudahlah, jangan dipikir lagi. Ayah punya sesuatu yang menarik? Kau ingin melihatnya?”
Dennis mendongak. “Apa itu, Ayah?”
Kali ini Altamont Baron tersenyum dan, sambil mengelus rambut anaknya yang lebat, dia berkata.
“Kau akan melihatnya, Anakku. Sebuah burung kenari langka berwarna kuning. Ayah telah menempatkannya dalam sebuah sangkar. Ayo kita lihat!”


PESAN MORAL:
1) Tentang kejujuran: Kadang-kadang kejujuran membawa keberuntungan, seperti yang telah dialami oleh Baron. Sebab seringkali secuil kebohongan akan menggiring kita kepada kebohongan-kebohongan besar lainnya, hingga akhirnya kita justru terperangkap di dalamnya.

2) Tentang tanggung jawab: Sangat penting untuk melawan segala bentuk gangguan ketika kita sedang menjalankan sebuah tugas atau perintah yang telah kita terima dari atasan. Dengan kata lain, lakukanlah segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah diperintahkan. Namun bahkan kadang-kadang orang rajin seperti Dennis pun justru tak mampu melawan sebentuk gangguan.


ARIF SYAHERTIAN
Tulungagung, Jawa Timur.
26-08-2016 – 27-08-2016

  • view 236