Rumah Kosong

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Rumah Kosong

SELAMAT tahun baru! Kira-kira dua jam lagi, orang-orang akan mulai melontarkan kalimat itu; kepada teman, rekan kerja, saudara, atau tetangga masing-masing, baik secara langsung maupun lewat telepon. Setiap orang selalu tertarik untuk mengadakan pesta dalam menyambut datangnya tahun baru, kurasa. Mereka menyambut pergantian itu dengan mengadakan acara membakar jagung, sate, ubi bersama teman-teman, atau dengan begadang menonton konser musik di televisi yang selalu tampak meriah, atau ada pula yang memilih untuk ikut berkumpul dengan banyak orang di alun-alun demi melihat pesta kembang api. Kecuali aku, malam ini aku tidak bisa bersenang-senang menghadiri acara makan bersama di rumah Mario Mirkonia, seorang teman lamaku.
        Di malam yang meriah, dingin, dan sedikit berkabut ini, aku duduk termenung di sebuah kursi malas di samping dipan Ibuku. Ia terserang flu dan demam. Rumahku terletak di sebuah desa terpencil, Pogalan, sangat jauh dari alun-alun kota Trenggalek; maka bukan hal yang aneh ketika mengetahui bahwa penduduk desa lebih senang memilih untuk berangkat tidur di awal dari malam tahun baru ini—terlebih karena hujan baru saja reda—ketimbang menghabiskan separuh waktunya hanya untuk sekadar mengadakan pesta.
        Seorang bos Kontraktor yang murah senyum bernama Morris masih menikmati pesta bakar sate ayam. Itu kuketahui sebab, dari dalam rumahku, aku masih bisa mendengar suara orang-orang yang bercanda; meski tadi aku tak bisa menghadiri acaranya, dua jam yang lalu dia telah datang sendiri di rumahku, sambil membawakan dua piring penuh sate ayam, dan bahkan beberapa lontong yang terbungkus dalam daun pisang, tak ketinggalan, juga telah diantarkan oleh kawannya yang menyusul di belakangnya. Sebagian sate dan lontong tadi telah kulahap habis, kemudian yang sebagian lagi kuberikan untuk Ibuku. Siapa lagi tetantanggku yang masih terjaga untuk pesta hingga malam ini? Kelihatannya tidak ada, selain Pak Morris saja. Teriakan dua bocah kembar perempuan yang tadi menyalakan kembang api bersama teman-temannya kini sudah tak terdengar lagi. Bahkan, seekor anjing yang mudah menggonggong milik Pak Maryoto, juragan pupuk yang pelit itu, pun kini juga sudah tak terdengar lagi.
         Ya, dari dalam rumahku, aku sangat bisa merasakan kesunyian dari desa ini—terlepas dari kemeriahan pesta Pak Morris, terlepas dari suara mercon dan kembang api di luar sana yang memekakan telinga. Untuk mengusir rasa kantuk, aku menyeruput kopiku sekali lagi. Tepat ketika terdengar suara dari cangkirku yang beradu dengan tatakan, aku mendengarkan suara ketukan pelan di pintu depan. Sejenak aku menoleh ke arah Ibuku. Ia masih tertidur pulas.
         Aku beranjak berdiri, memberanikan diri untuk berjalan membuka pintu. Bisa jadi tetanggaku itu datang lagi untuk mengantarkan sate, batinku. Ah, high expectation! Saat aku membuka pintu, kulihat Mario Mirkonia sedang berdiri, dengan kepala terbalut ciet biru, menatap tajam ke arahku.
“Aduh, celaka, Arthur, “ serunya, begitu menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu.
Kalimat pembuka yang terlontar seperti itu akan membuat kaget siapa saja yang mendengarnya. Tak terkecuali aku. “Ada apa, Jack?”
“Celaka, Arthur, bisakah kau menemaniku malam ini?”
“Akan kupenuhi ke mana pun kau pergi mengajakku. Tapi kenapa tidak segera saja memberitahuku masalahmu.”
         Dia menengakkan punggungnya. “Ayahku baru saja marah-marah, malam ini, penyebabnya aku sendiri. Tadi sore aku lupa untuk berkunjung ke rumah Pak Sunaryo, tukang pijat langganan ayahku, untuk memberitahunya bahwa malam ini ayah memerlukan jasanya. Andai saja tadi petang ayahku tidak pergi sewaktu aku tiba di rumah—pasti setidaknya dia akan mengingatkanku. Dia baru pulang jam sepuluh ini, lalu langsung memanggilku, yang sedang bercanda dengan teman-teman di ruangan depan. Dan begitulah, kau sendiri tahu bahwa ayahku sekeras batu perangainya, aku dimarahi habis-habisan begitu dia mengetahui keteledoranku—hingga suaranya terdengar oleh teman-temanku. Bahkan mereka pun segera berpamitan pulang saat aku berkumpul kembali dengan mereka. Kini aku punya tugas baru; ayahku menyuruhku pergi ke rumah Pak Sunaryo, malam ini juga, dan aku harus berhasil mendatangkannya ke rumah.”
         Pelan-pelan aku menghayati apa yang dia ceritakan. Lalu aku bertanya, “Apakah tukang pijat itu tidak punya ponsel?”
“Dia sama sekali tak terpengaruh dengan teknologi,” jawabnya pelan. “Sepulang dari sawah, dia akan lebih senang bikin kopi dan menikmatinya, sambil merokok di rumah, daripada menghabiskan waktu nonton film di televisi.”
Aku melontarkan pertanyaan lagi. “Tak bisakah Ayahmu memanggilnya besok sore, atau di lain waktu?”
“Masalahnya besok pukul sepuluh pagi dia akan pergi ke luar kota untuk urusan kantor.”
         Aku terus mengejar, “Dan kapan akan pulang lagi?”
Mungkin dia merasa jengkel dengan pertanyaan-pertanyaanku; sambil berkata dengan cepat, dia beranjak berdiri. “Selama seminggu dia akan berada di Jakarta. Waktu kita nggak banyak.”

                ***
DUDUK tegak di jok depan Avanza berwarna silver itu, aku bisa melihat Mirkonia memacu mobilnya pelan-pelan saat melewati perdesaan. Dari samping, aku bisa melihat hidungnya yang mancung dan bengkok, matanya yang tajam terlihat sangat hidup, bibirnya terkatup rapat bagai seseorang yang melihat musuh dari dekat; itu semuanyalah yang menjadikan sosok itu sangat hidup—semakin hidup. Ketika kami memasuki perkotaan, barulah mobil itu melesat kencang, seperti sehelai daun yang baru saja gugur, lalu ditiup oleh angin kencang, hingga terbang jauh dari tempat semula. Tetapi, seperti daun yang tertiup pula, setinggi apapun daun itu terbang, tetap saja ia harus jatuh lagi ketika angin sudah menghilang; sekencang apapun Mirkonia melaju, tapi tetap saja dia harus berhenti ketika jalanan mulai ramai kembali.
         Waktu menunjukkan pukul dua puluh dua lewat tiga puluh ketika kami tiba di depan rumah Pak Sunaryo. Di sepanjang jalan desa ini, di mana aspalnya kasar dan banyak yang rusak, juga hampir di setiap pelataran rumah warga, kebanyakan masih terdapat genangan-genangan air. Itu menandakan bahwa di desa ini hujan lebat baru saja reda.
         Rumah sederhana itu terletak tepat di selatan persawahan yang luas, hanya terpisah oleh jalan beraspal kasar dengan lebar dua setengah meter. Dan panjang jalan itu, kira-kira, mencapai lima ratus meter dengan tanjakan menjulang di barat sebelum membelok tajam ke tikungan, menurut perkiraanku. Maka jika seseorang berdiri di situ, memandang ke utara, dia akan melihat luasnya persawahan padi tadi; di mana meskipun padi-padi yang tumbuh belum begitu tinggi, di tempat itu sudah terdapat tali panjang membentang ke utara yang, dengan kaleng-kaleng bekas berisi batu tercantel padanya, akan membuat burung pemakan padi terbang kembali saat tali itu ditarik keras-keras melalui kayu penopang yang berdiri di tepi sawah.
         Menurut penjelasan Mirkonia, rumah yang kedua merupakan kediaman seorang duda tua yang baik hati, Pak Burhan. Istrinya meninggal setahun yang lalu. Di halaman depan rumah itu terdapat pohon Mangga yang besar. Dengan cepat Mirkonia berjalan menuju rumah pertama dan berhenti di depan pintu, lalu mengetuk pelan-pelan. Suara jangkrik-jangkrik makin berbunyi nyaring ketika ketukan Mirkonia berhenti untuk beberapa detik. Semilir angin malam menerbangkan aroma padi, sedikit tercampur harumnya bunga melati, juga bau tanah yang terguyur air bekas hujan. Aku bergegas turun untuk menghampiri temanku dan, sebelum tanganku menyentuh pintu, tiba-tiba keluarlah orang yang kami tunggu-tunggu. Tukang pijat itu berperawakan pendek, kekar. Wajahnya kecokelatan terbakar sinar matahari, pandangan matanya ramah, potongan rambutnya cepak. Segera setelah Mirkonia mengutarakan maksud dari kedatangannya, cepat-cepat dia mengambil jacket di gantungan baju, lalu keluar sambil mengunci pintu, dan menghambur menuju mobil.
         Untuk menghargai kesediaannya lantaran telah ikut bersama kami, aku melontarkan sedikit basa-basi kepada pak tua itu. “Eh, Pak Sunaryo, sejak kapan Anda menjalani profesi sebagai tukang pijat?”
Dia sedikit kaget. “Sebenarnya, saya sudah pandai memijat sejak berumur dua puluh lima tahun, Mas. Almarhum ayah sayalah yang telah banyak mengajari saya. Dan saya membuka jasa tukang pijat hanya untuk laki-laki saja. Kalau nggak salah, sejak usia saya menginjak tiga puluh satu, barulah saya membuka jasa memijat itu.”
Kata-kata itu telah dilontarkannya dengan suara yang jelas, pelan, agak besar, dan dalam.
                 ***
WAKTU menunjukkan pukul 23.04 ketika kami tiba di pelataran rumah yang luar biasa luasnya itu. Berbagai bunga berukuran kecil yang bermekaran dalam pot plastik tercantel ke gantungan kayu memanjang di bawah genteng taman depan. Separuh genteng taman itu menaungi kolam ikan selebar lima meter yang telah dibentuk sedemikian rupa seperti gua. Tepat di samping kanan kolam itu terdapat sebuah meja bundar dan empat buah kursi berbentuk tabung yang melingkari meja itu. Terbuat secara permanen dengan semen yang keras dan kuat, di mana di tengah meja terdapat semacam payung tinggi yang menaungi, meja dan kursi-kursi itu terlihat sangat elegan. Pak Andre yang memiliki perut membuncit itu—yang tak lain tak bukan merupakan ayah temanku sendiri—tengah duduk di kursi teras, sambil mengepulkan asap rokok.
          Sambil sesekali kulihat dia meludah-ludah kecil untuk membuang sisa tembakau yang menempel di bibir. Kemudian kulihat, masih dari dalam mobil pula, pria itu mengusap mulutnya dengan tangan kirinya, lalu beranjak dari kursi untuk menyambut tamunya. Pak Andre, dengan wajah cokelat kemerah-merahan, memelintir kumisnya yang tebal. Segera setelah bersalaman dengan Pak Sunaryo, tanpa berbasa-basi, pria itu segera berjalan masuk ke dalam, tanpa menutup pintu depan.
         Dengan cepat Mirkonia menarik lengan kananku, dan berbisik di telingaku.
“Untuk mengisi kemeriahaan tahun baru, Arthur, jangan pulang dulu, tapi ikutlah denganku, kembali ke rumah si Sunaryo itu.”
Aku enggan untuk membalasnya dengan berbisik. Siapa pula orang yang akan mendengar pembicaraan kami. “Apa yang membuatmu kembali? Tentunya itu bukan hal sepele.”
Dia kembali berbisik. “Emas, Arthur, emas. Aku tadi melihat keliauannya lewat kaca spion. Ada di bawah pohon Mangga.”
           Maka, dengan menggunakan sepeda motor Honda Beat milik temanku, kami segera bergegas kembali ke rumah pak Burhan. Setiba di tempat tujuan, lebih tepatnya berjarak sepuluh meter dari rumah Burhan, aku cepat-cepat turun, sementara Mirkonia menuntun motornya untuk menyembunyikannya di balik sesemakan, yang berjarak sepuluh meter pula dari rumah pak Burhan. Tepat ketika kami berjalan untuk mengambil sesuatu yang kemilau itu, tiba-tiba kami mendengar dengan jelas langkah-langkah kaki dari dalam rumah Pak Burhan. Suatu hal yang membuat kami pergi menjauh menuju sesemakan. Pak Burhan keluar dengan menuntun sepeda Turonggonya. Matanya yang tajam menengok ke kanan-kiri. Satu hal yang paling aneh: Sebelum dia melesat pergi, kami berdua mendapati bahwa dia memelototi sehelai daun yang menutupi cincin itu.
Aku menenangkan diri temanku, yang sedari tadi sangat ingin mengajakku mengambil cincin itu. “Sudahlah, Jack. Jangan sekarang, biar orang itu menjauh dulu. Sekarang mari kita pikir, kenapa cincin itu bisa berada di sana? Apakah ia sengaja dibuang oleh pencuri? Atau terjatuh dari saku, umpamanya?”
Dia memandangku tajam, seperti biasa. “Menurutku tidak begitu. Kau masih ingat, tiga jam yang lalu hujan turun rintik-rintik dan berlangsung lama di desa kita. Pada saat yang sama, mungkin di sini terjadi hujan lebat, itu bisa kita lihat dari tanah daerah sini yang masih banyak genangan airnya. Mungkin seseorang, entah siapa itu, telah mengubur cincin itu di situ (Tangan Mirkonia menunjuk ke arah batu bata). Dan, setelah hujan reda, barulah dia akan mengambilnya lagi. Tapi aku juga bingung, ini kan sudah reda, kok cincin itu nggak diambil-ambil? Entahlah. Mungkin dia ingin menunggu waktu yang tepat, ya...”
Dengan berapi-api aku berkata,
“Jika pendapatmu begitu, maka aku akan mempersiapkan dua pertanyaan bagimu. Pertama, kenapa dia mengubur cincin itu di sana? Kedua, kenapa cincin itu masih berada di sana, padahal sewaktu kita tiba dengan mobil tadi, hujan sudah benar-benar reda—itu bisa dilihat dari tanah ini yang hampir mengering? Singkatnya, kenapa seseorang itu nggak langsung keluar untuk mencangkul tanah begitu hujan reda?”
        Setelah puas mendengarkan dengan serius ocehanku, Mirkonia memandangku tajam kembali. Dengan nada suara yang mengandung kebanggaan, jelas, pelan dan bukan cepat, dia menjawab, “Pertanyaan pertama, terus terang aku tidak tahu. Jangan sering menebak segala sesuatu. Menebak itu merusak kebiasaan berpikir.”
“Secara logis,” potongku, “seperti kata seorang detektif kondang. Nah, coba lanjutkan kalimatmu.”
“Pertanyaan kedua bisa dengan mudah kujawab,” ujarnya. “Mari kita buka segala kemungkinan. Ketika dia mencangkul separuh tanah, pada saat yang sama, dia mendengar suara mobil kita tadi. Itu sangat mungkin terjadi. Suatu hal yang membuatnya cepat-cepat merapikan tanah kembali, lalu pergi untuk bersembunyi. Saking gugupnya, bisa saja dia tidak mengetahui kehadiran sebuah cincin ketika dia merapikan tanah tadi. Dan, mungkin, baru mengetahuinya ketika dia memandang pohon itu dari tempat dia bersembunyi, atau mungkin nggak mengetahuinya sama sekali. Dia mungkin terus bersembunyi, hingga sekarang belum muncul lagi.”
“Jawabanmu bisa kuterima, Jack. Tapi coba hitung, ada berapa kata MUNGKIN yang barusan kaugunakan dalam menyusun kalimatmu itu.”
Dalam pada itu, dari arah jalan, datanglah seorang lelaki yang kira-kira berusia tiga puluh lima tahunan; dengan memakai jaket dan celana panjang hitam, ia berjalan mendekati pohon itu, berjongkok, dan mengobrak-abrik tanah di sekitar pohon. Dia berperawakan tinggi, kekar; kulitnya putih bersih, wajahnya berbentuk oval, rambutnya tercukur pendek. Dalam hitungan menit, dia sudah berhasil menemukan cincin emas itu, dan, setelah membereskan keadaan tanah seperti semula, bergegas pergi.

          ***
PELAN-pelan kami terus berjalan membuntuti pria itu. Tak terasa sudah sejauh satu kilometer kami berjalan dengan tubuh setengah menunduk, baik melewati persawahan yang panjang maupun rumah-rumah warga. Kami berjalan memasuki gang selebar dua meter. Aspal jalanan di sini sangat kasar dan pecah-pecah. Di ujung gang itu, di sebuah lapangan voli yang kecil, kami berhenti. Beberapa meter ke timur, melewati tegalan penuh pepohonan, terdapat sebuah rumah yang besar dengan teras yang kumuh. Aku melirik arlojiku. Pukul 00.30. Rumah itu memiliki gerbang besi yang menghitam di halaman depan. Sosok itu menengok ke sekeliling jalanan untuk waktu yang cukup lama, lalu membuka grendel gerbang. Segera setelah berhasil membukanya, dengan diiringi oleh suara besi berkarat yang menderit dan menjerit sangat tajam dalam keheningan malam, dia berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa menutup gerbang kembali. Sosok itu membuka pintu utama dan menutupnya pelan sekali. Sepuluh menit kemudian, dari luar, kami melihat sebuah cahaya api menyala dalam jendela rumah itu, lalu padam kembali.
         Cepat kami masuk ke dalam halaman rumah itu dan segera bersembunyi di bawah pohon Mangga yang kering dan tak berbuah. Suasana benar-benar sunyi, bintang-bintang dan bulan kini sudah tertutup oleh mendung tebal yang menggantung, dan hujan mungkin akan turun kembali. Kelihatannya dahulu rumah itu sangat megah dan indah. Seiring berjalannya waktu, kini rumah itu terkucilkan, terlupakan, terpojokkan. Tembok depannya sudah berwarna kecokelatan dan ada sebagian yang berlumut hijau. Rumput-rumput di halaman depan tumbuh memanjang, tak terurus. Daun-daun Mangga yang menguning juga yang berwarna kecokelatan bertebaran baik di sekeliling pohon maupun di sepanjang lorong teras. Daun pintu utama itu sangat lusuh, dengan coretan DIE di tengah-tengah, dan pegangan pintunya hampir-hampir didominasi oleh warna cokelat lantaran berkarat. Tapi balok-balok kayu yang menaungi teras kelihatan masih kuat dan kokoh. Sebuah rumah kosong yang sangat kumuh. Ya, rumah itu benar-benar terkucilkan, terlupakan, terpojokkan. Dihempaskan oleh cuaca, dilahap oleh waktu, digencet oleh perkembangan zaman, dicekik oleh sekeliling tembok bangunan, ditendang oleh pemilik rumah.
         Angin berhembus kencang untuk beberapa saat. Mario Mirkonia bergerak maju mendekati daun jendela, lalu aku menyusulnya. Di sini, kami berdua berjongkok, dan dalam pada itu cahaya tersebut muncul lagi, lalu padam. Kami mendengar suara yang berat berbicara di dalam rumah itu,
“Cincin permata yang amat menarik,” ujar suara itu. “Srilanka Royal Blue Sapphire. Dua koma enam puluh satu karat, berbentuk oval. Sudah lama aku menginginkan ini dari si Burhan. Ini ambillah, tujuh juta untuk upah kerjamu. Silakan dihitung dulu uangnya. Aku ingin mendengar ceritamu ketika mengawasi rumah Burhan itu.“
Suara yang menyahut itu sangat jelas, jernih, dan agak cepat.
“Aku percaya hitunganmu. Belakangan ini, aku jadi sering berkunjung ke rumah tetangganya, Pak Sunaryo, untuk pijat sekaligus mengawasi rumahnya. Ketika aku sedang dipijat olehnya, aku selalu minta izin padanya untuk pergi ke kamar mandi yang letaknya di luar, sekaligus untuk mengawasi rumah Burhan. Tempo hari, pada malam hari, aku berkunjung ke rumah tetangganya lagi. Ketika aku keluar dari toilet, dari kejauhan aku melihat pak Burhan sedang mencangkul tanah di sekitar pohon Mangga. Dari situ aku menduga pasti dia sedang menyembunyikan cincin itu dan ternyata dugaanku itu menjadi sebuah kebenaran.”
Suara berat itu kembali menjawab dengan pelan dan santai. “Kutambahi satu juta. Delapan juta untuk kerja kerasmu.”
Kami berjalan ke ujung teras, dan bersembunyi di balik tembok, bersama daun-daun yang kering. Sesaat kemudian, orang yang kami buntuti tadi keluar, lalu disusul oleh sosok gemuk besar mengenakan kaos polo biru yang berlari di belakangnya. Wajahnya berwarna sawo matang, dagunya yang penuh lemak menyatu dengan leher, potongan rambutnya acak-acakan.
“Sebentar, Rodi,” kata pria gemuk itu. “Setelah kuamati sekali lagi, ternyata cincin ini palsu. Kembalikan uangku dulu. Kau ingin menipuku?”
Yang dipanggil Rodi itu berbalik. “Kalau mengenai asli dan palsu, itu sebenarnya bukanlah urusanku, Markus. Aku telah melakukan apa yang kauperintahkan, bermingu-minggu aku telah mengawasi rumah Burhan, dan aku bercerita berdasarkan fakta yang telah terjadi. Jangan kau menuduhku memalsu atau berkisah bohong, bersikaplah adil, Markus.”
“Masuklah dan kembalikan uang itu dulu, kita bicarakan ini di dalam.”
Rodi menengakkan badannya. “Markus, aku punya metode tersendiri dalam bekerja, dan aku sangat menghargai waktu. Malam ini aku ingin pulang, maka jangan kau bertindak macam-macam.”
“Kembalikan uangnya tiga juta saja, maka kau boleh pulang, Rodi. ”
“Baiklah, terimalah ini! Hahaha, tidak, tidak, aku bercanda, kau gila, Markus,” seru Rodi, sambil terus berjalan pergi.
Tepat ketika Rodi berbalik untuk pergi, Markus mengeluarkan pistolnya dari saku celana, dan membidikannya empat kali di punggung temannya itu. Kemudian dia menyeret sosok itu ke dalam rumah. Dia tak lupa menutup pintu.
Mario Mirkonia menyaksikan, mendengarkan, dan mengamati kejadian itu dengan takzim. Dengan mata yang hidup—sangat hidup—temanku mengamati ke sekeliling, sebelum akhirnya menarik tanganku untuk meninggalkan tempat mengerikan ini.
“Mau ke mana kah kita, Jack?”
“Secepatnya kita ambil motor kembali, lalu mencari counter handphone terdekat.”
         Kami berjalan kembali, terkadang setengah berlari, ke rumah Pak Burhan. Motor itu masih berada di sesemakan. Segera setelah menuntun motor ke jalanan yang sepi, dia menyalakan mesinnya, dan melesat pergi. Kami berhenti di sebuah warnet yang tetap buka 24 jam. Di situ, operator warnet juga jualan nomor perdana beserta pulsa. Mirkonia membeli satu perdana, dengan pulsa senilai sepuluh ribu. Beberapa menit kemudian, kami sudah melesat kembali, lalu dia menghentikan motor di tengah jalan yang sudah sepi. Dengan menggunakan nomor baru, Mirkonia menelepon polsek terdekat, dan menyuruh mereka untuk segera datang ke tempat kejadian perkara tadi. Selanjutnya, dia melepaskan kartu tersebut dari ponsel, dan membakarnya.
         ***
KEESOKAN paginya, Mario Mirkonia datang ke rumahku lagi. Dia mengajakku berkunjung ke rumah Pak Burhan. Setiba di halaman rumah, orang tua itu menyambut kedatangan kami ramah, dan menyilakan masuk. Perawakannya tinggi dan tegap, rambut depannya agak memutih, hidungnya mancung.
Setelah berbasa-basi tentang cuaca dan hewan ternak, dan memperkenalkan diri, barulah temanku memulai mengutarakan maksud kedatangan kami.
“Begini, Pak Burhan,” jelas Mirkonia pelan, setelah menyeruput teh hangat bikinan pemilik rumah. “Kemarin malam, kami berdua telah lewat sini dengan motor. Setelah menyembunyikan motor itu, saya berjalan hendak mengambil sesuatu kemilau di sekitar pohon. Beberapa jam sebelumnya, saya sempat melihat cincin itu ketika membawa serta pak Sunaryo ke rumah saya dengan menggunakan mobil. Dan, ini yang terpenting, sebelum Bapak keluar naik sepeda Turonggo, kedua mata saya ini telah mengamati bahwa Anda sempat memelototi sehelai daun yang menutupi cincin itu. Pertanyaan saya: apakah itu jebakan? Dengan kata lain, apakah cincin itu palsu?”
         Dengan dahi berkerut pemilik rumah mendengarkan uraian kalimat Mirkonia. Lalu dengan pelan, dan dengan perasaan campuran antara tersinggung, penasaran, dan kagum, ia berkata,
“Lansung saja, itu memang jebakan. Asal kalian tahu, saya selalu dikejar-kejar oleh orang bernama Markus. Dia ingin membeli cincin permata saya. Padahal telah saya katakan padanya bahwa cincin itu peninggalan kakek saya dan takkan pernah saya jual sampai kapan pun. Dia juga sering mengancam saya dengan kata-kata yang aneh-aneh. Tak hanya itu, saya tahu dia memiliki anak buah bernama Rodi, dan dia sering mengunjungi tetangga saya Sunaryo hanya untuk memata-matai rumah dan aktivitas saya. Maka untuk mengelabuhinya, saya pergi ke perusahaan pembuat kunci dan cincin imitasi rumahan yang terkenal, Dion & Co. di Ponorogo. Setelah cincin imitasi itu jadi, saya baru berani beraksi:
         Tempo hari ketika saya mendengar bunyi orang buang air kecil di kamar mandi Sunaryo, cepat-cepat saya mengambil cangkul untuk menyembunyikannya; saya mencangkul tanah di area pohon dengan keras untuk menarik perhatian. Aku berani, eh, saya berani bertaruh dia pasti melihat saya dari kejauhan. Terkadang insting orang tua lebih tajam dari para pemuda, kan, Nak? Nah, keesokan harinya, pada malam hari, dia mengacak-acak tanah itu, lalu hujan deras turun. Dan setelah mereda, dia ingin mengambilnya, tapi mobil yang Anda kendarai tiba. Begitu kalian pergi, saya keluar rumah, dengan rokok menyala di tangan, untuk menengok kondisi halaman rumah. Lalu beberapa puluh menit kemudian, saya masuk kembali.”
Aku menyeruput tehku. Dengan muka penuh konsentrasi, Mirkonia menengakkan punggungnya. Katanya,
“Jebakan yang benar-benar ampuh. Dengan begitu, si Markus itu takkan mengancam Anda lagi. Saya baru mendengar kabar bahwa dini hari tadi dia ditangkap polisi. Kemungkinan besar dia akan dihukum mati. Si Rodi itu telah dia tembak. Kami melihatnya sendiri.”
Pemilik rumah itu berjingkat dan berdiri. “Benarkah, kaliankah dua orang yang telah saya lihat mengendap-endap itu?”
           Dia berpaling ke arahku ketika aku menjawab pertanyaannya. “Tak salah lagi.”
“Jika kasus itu disidangkan, kalian bisa menjadi saksi. Tentang kematian Rodi, itu sama sekali bukan bagian dari jebakan saya. Saya takkan bertanggung jawab untuk itu.”
Mirkonia berdehem. “Memang bukan tanggung jawab Anda. Dan, tolong Pak Burhan, jangan sangkut pautkan kami pada kasus tersebut.”
“Saya mengerti, Nak, saya mengerti.”
Aku melontarkan pertanyaan padanya. “Ke manakah Bapak malam itu, naik sepeda Turonggo?”
“Pergi ke warung nasi pecel, setelah itu pergi mengawasi rumah kosong itu sejenak.”
Beberapa menit kemudian kami minta diri. Pak Burhan berjalan keluar untuk mengantarkan kepulangan kami sampai ke halaman depan. Sebelum kami melesat pergi, dia bertanya dengan nada keras,
“Eh, siapa nama kalian tadi?
Aku menyahut. “Saya Arthur, dan ini teman saya Mario, Pak. Mario Begonia.”
         Motor yang aku naiki berbelok dan berhenti di sebuah warung kopi. Kami memesan secangkir kopi kental. Kami bercakap-cakap. Aku mengabaikan layanan Free-Wifi. Mirkonia sudah terbiasa untuk  hidup tanpa ponsel. Katanya,
“Matikan ponselmu, Arthur, kalau perlu belajarlah untuk hidup tanpa ponsel—buanglah ponselmu kalau hanya berfungsi untuk menjauhkan teman yang dekat, dan mendekatkan teman yang jauh semata.”
“Aku akan berusaha.”
“Kau akan berusaha?” serunya, sambil mencomot pisang goreng. “Hahaha. Tahukah kau, menurutku si Markus itu, secara tak ia sadari, sedang bunuh diri perlahan-lahan.”
“Apa yang membuatmu berpendapat begitu?”
“Dia terlalu banyak berpikir tentang apa yang dinginkannya. Batu permata itu. Namanya Srilanka Royal Blue Sapphire. Dua koma enam puluh satu karat, berbentuk oval. Ingatanku, Masha Allah, masih sangat tajam. Aku tahu sekilas tentang Sir Philipp Anthony Hopkins, seorang aktor dari Wales itu. Aku masih ingat dengan jelas kata-katanya: ‘Kita bunuh diri perlahan-lahan dengan memikirkan segala sesuatu. Berpikir. Berpikir. Berpikir. Anda tak pernah dapat mempercayai pikiran manusia, lagipula. Ini adalah jebakan kematian.’”
Aku mencomot satu pisang goreng. “Kutipan yang bagus. Eh, tapi kenapa sedari tadi kau belum mengaduk kopimu?”
“Wah, wah, wah, kalau ini sih, lupa namanya. Atau mungkin, aku memang bego, Arthur. Itu sebabnya kau tadi memanggilku Begonia?”
Aku menyeruput kopiku, lalu menyalakan sebatang rokok. “Tahukah kau, Jack, sebenarnya Begonia itu merupakan jenis bunga. Bukannya ikut-ikutan layu seperti kebanyakan pemuda, jiwamu itu justru mekar, dan harum seperti bunga.”


ARIF SYAHERTIAN

NB: CERPEN INI TELAH SELESAI SAYA TULIS PADA TANGGAL 17 AGUSTUS 2016, BERTEPATAN DENGAN HARI ULANG TAHUN REPUBLIK INDONESIA YANG KE-71.

Photo: https://500px.com/photo/49603608/luna-by-bo-moosdorf

Sekilas tentang penulis:
Saya lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada 16 Januari 1995. Menaruh minat yang besar pada bahasa dan musik. Senang membaca dan menulis cerita-cerita detektif. Namun demikian, saya belum pernah membaca kisah komik Detektif Conan.
Belajar bahasa Inggris bersama di www.facebook.com/learnenglishwitharif.
Saya pernah mengisi waktu luang dengan membuat font; Polite Arif (2013), Arif Marin (2013), Arif Marin 4 (2013), Syahertian (2013), Learn English with Arif (2013), dan Arif (2013), mereka dapat di-download di www.fontspace.com/syahertian.
Beberapa puisi saya dapat dibaca di www.lokerpuisi.com.
Tengok tulisan-tulisan saya ke www.syahertian.wordpress.com.
Atau ke www.inspirasi.co/asyahertian.
Kontak: arifsyahertian@yahoo.com

  • view 317

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    4 bulan yang lalu.
    Waaah.... akhir yang tak saya sangka.
    Terus, ketipu juga dg kata Begonia _^
    Ternyata ...
    Kayaknya mulai buat novel genre sejenis, keren nih mas arif _^

    • Lihat 3 Respon