Hingga Ia Pergi (REVISED)

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Hingga Ia Pergi (REVISED)

INI KISAH tentang Amanda Mulyawaty—tentang hidupnya yang berantakan; pikirannya yang sering kacau tak jelas, angan-angannya yang kadang terlalu melambung tinggi, serta cintanya yang mendalam pada orang yang sangat disayanginya. Itu semuanyalah yang membuat otaknya jadi kesulitan mencerna ulang pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh guru di sekolah. Sejak kematian ayahnya empat bulan yang lalu, perempuan berkulit bersih terawat itu jadi sering melamun, pikirannya kosong, dan bahkan suatu malam ibunya pernah mendapatinya tertawa sendirian. Aku sendiri sudah mengenal perempuan itu sebelumnya. Sebatas kenal. Tidak terlalu akrab. Ia masih duduk di bangku kelas dua belas Sekolah Menengah Atas, dan berasal dari sebuah keluarga kaya raya. Ibunya merupakan seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Tulungagung, Jawa Timur. Ayahnya meninggal akibat kecelakaan di jalan raya; setelah kejadian itu segera beredar kabar bahwa malam sebelum meninggal dia sempat minum-minuman keras bersama Pak Eko Handoko, seorang tetangga sekaligus rekan kerjanya di kantor.
          Dengan mulut terkatup rapat, wajah yang bundar, dan mata yang sipit, Amanda tampak seperti seorang pendendam bagi orang yang tidak mengenalnya. Ah, sebenarnya dia baik hati, dan sangat peduli dengan orang-orang sekitar. Mungkin akan kurang tepat jika aku mengatakan perempuan itu pendendam. Ia mudah memaafkan, berani, sangat teliti, dan mempunyai harga diri yang tinggi. Suatu ketika dua orang preman pernah menghentikan langkahnya ketika dia sedang berjalan pulang sekolah. Hampir saja tangannya mereka sentuh, gadis itu berlari menjauh ke belakang. Sementara preman-preman itu berjalan berusaha mendekatinya dengan terus menggumam meminta uang, Amanda segera mengambil dua buah batu di tanah, lalu melemparkan kepada mereka hingga mengenai kening masing-masing. Sejak itulah dia meminta pada sang ibunda untuk selalu mengantarkannya ke sekolah. Cerita tersebut telah kudengar langsung lewat mulut ibunya kemarin.
Bu Harwati telah berkunjung ke rumahku untuk menawariku sebuah pekerjaan; Mengajari anaknya pelajaran bahasa Inggris. Aku mengatakan padanya bahwa Brendan dan Sinta lebih pandai bahasa Inggris daripada aku. Seorang tetangga desaku, Brendan, yang juga pernah berpacaran dengan Amanda, sekarang masih duduk di bangku SMA, kelas dua belas. Dia berperawakan gemuk, pendek, dan kekar. Dia baik hati, ramah, dan suka menyapa orang lain saat bertemu di jalan.
Sedangkan Sinta, seorang perempuan enerjik juga teman sepantaranku, sudah berani membuka tempat bimbingan belajar kecil-kecilan sendiri. Bu Harwati, yang juga pernah jadi guruku Matematika, menyatakan bahwa ia masih ragu-ragu dengan pengetahuan Brendan dan Sinta. Ketika kutanyakan kenapa ia memilihku, ia menjawab bahwa seorang guru bernama Bu Dewi telah menyarankannya diriku untuk menjadi pembimbing bagi anaknya. Bu Dewi! Ah, aku masih ingat! Dialah guru bahasa Inggrisku—seorang guru yang paling memperhatikan cara belajarku ketimbang guru-guru lainnya—di Sekolah Menengah Atas sewaktu aku masih berada di kelas sebelas dulu.
        Di usia sembilan belas tahun aku sudah menjadi sekretaris di salah satu perusahaan rokok di Tulungagung. Dua tahun kemudian aku masih menjadi seorang juru tulis. Aku pekerja keras, selalu tepat waktu, dan patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan oleh bos perusahaan. Tetapi tetap saja; aku hanya seorang sekretaris yang mungkin pandai berbahasa Inggris—dan bukan seorang guru. Keesokan harinya aku datang ke rumah Bu Harwati. Ia dan Amanda menyambut gembira kedatanganku. Kemarin sudah pula kukatakan pada ibunya, guru itu, bahwa aku tidak begitu ahli dalam bidang itu, tetapi dia tetap menunjukku untuk mengajari anaknya.
        Tak kusangka, Amanda Mulyawaty benar-benar menikmati gaya belajarku sewaktu aku mengajarinya bahasa Inggris; pertama-tama tentang Tenses, kemudian Part of Speech. Padahal aku hanya lulusan Sekolah Menengah Atas saja. Kami hidup berkecukupan; ayahku hanyalah seorang tukang kayu dan tak punya biaya untuk mendaftarkanku kuliah; ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang pekerjaan kesehariannya menjahit pakaian di rumah. Di sela-sela kegiatan belajar, aku selalu mengisi waktu dengan bersantai sejenak. Kami saling mencurahkan isi hati masing-masing; aku mendengarkannya dengan saksama saat ia sedang bercerita. Ia juga senang mendengarkanku bercerita; tentang cerita wayang kulit dan sedikit ilmu pedalangan, tentang pengalaman-pengalamanku ketika mengikuti tes seleksi sepak bola di Australia—waktu itu aku masih duduk di bangku SMP, dan pada akhirnya, yah, aku gagal. Aku sangat menghormati mereka yang selalu mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika orang lain sedang bicara. Ketika lawan bicaramu sedang bercerita, buanglah jauh-jauh keinginan untuk menghentikan atau memotong pembicaraannya; dengarkanlah perkataannya dengan saksama terlebih dahulu. Seandainya sesuatu datang tiba-tiba dan mengganggu pembicaraan itu, hentikanlah sementara, dan setelah gangguan itu selesai, lanjutkan kembali ke topik yang diceritakan oleh temanmu tadi. Sebab, kebanyakan orang masih sering menghentikan topik pembicaraan orang lain ketika apa yang seseorang bicarakan itu masih berada di tengah-tengah bagian. Dan itulah salah satu bentuk kekejaman; itu hanya akan bikin sakit hati seseorang yang telah bersusah payah merangkai kata untuk bercerita tadi. Tiba-tiba aku teringat Brendan. Kutanyakan pada gadis itu mengenai hubungan mereka.
“Kami sekarang udahan,” jawabnya, sesekali matanya memandang langit-langit, sambil menyandarkan kepala di dinding, “Dia sangat baik hati, tak pelit soal uang. Kami adalah dua orang yang sangat menjujung tinggi kehormatan, kewibawaan. Brendan tidak pernah mencium saya; dan bila dia ingin melakukannya, dengan tegas saya akan menyatakan putus kepadanya. Saya bukan orang yang mudah dicium.”
“Faktanya, sekarang kalian putus, apakah itu berarti dia ingin melakukannya?”
Ia menatapku tajam. “Tidak sama sekali. Brendan adalah seorang pemuda keturunan bangsawan. Kakeknya dari pihak Ibu masih keturunan salah satu bangsawan di Jawa Tengah. Ayahnya merupakan seorang pejabat pemerintah yang sangat berwibawa dan sejak dia mengetahui reputasi ayahku di kantor, juga sebab dari kematiannya, dia menyuruh Brendan untuk memutuskan hubungan kami berdua. Sejauh ini, Andalah satu-satunya orang paling pandai memancing saya untuk berterus terang.”
“Bahkan ibumu sendiri belum tahu sebab dari bebanmu yang sebenarnya?”
“Ibu saya menyangka saya menderita lantaran kematian ayah saya.”
Aku akan berpamitan pulang ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.10. Waktu yang sedang tersenyum ramah—membentuk emoticon smile.
        Lama-kelamaan makin akrab dengan Amanda, dan kini sudah lima hari aku mengajarinya, aku jadi merasa tak enak pada sahabat lamaku, Clarissa. Seorang perempuan berambut panjang dan berpipi gemuk. Seperti aku, Clarissa juga gemar memakai kemeja kotak-kotak. Tak terasa sudah lima hari, aku tak menemuinya; tak menemaninya membaca buku di perpustakaan kota; tak bermain bersama di sungai di bawah pohon trembesi. Kini sudah menjadi kebiasaan baruku bahwa setelah pulang bekerja, aku beristirahat sejenak, lalu pergi ke rumah Amanda. Lamunanku tentang Clarissa dipecahkan oleh suara Amanda yang ceria.
“Mas Adrian, mau nemenin aku ke toko buku?” tanyanya.
“Oh, baiklah. Sekarang, ya?” jawabku sambil tersenyum dan menaikkan alisku.
“Enggak, kok, tahun depan.” Kami tertawa.

                                                                                                                ***
“KAMU HARUS membaca buku ini. Diskursus dan Metode karya Rene Descartes—salah satu buku terbaik yang pernah kubaca,” kataku, begitu kami tiba di toko buku Togamas Tulungagung.
“Kelihatannya menarik, saya akan membelikan ini untuk Anda,” balasnya setelah membaca sinopsisnya.
“Oh, ya, terima kasih, sebelumnya aku sudah membacanya di perpustakaan kota.”
“Saya juga.”
Aku mencoba mengetesnya. “Benarkah? Coba jawab pertanyaanku. Apa hal yang paling merata di dunia ini?”
“Yah, lupa, deh.”
Ketika aku hendak menjangkau stang sepeda untuk pulang, aku merasa kaget karena melihat Clarissa yang tengah lewat naik sepeda. Dia juga melihat kami. Rambutnya yang hitam, lebat, dan panjang tertiup angin saat ia mengayuh sepeda dengan lebih cepat ke arah selatan—meninggalkan kami. Dari samping, aku bisa melihat hidung mancungnya, terbalut dengan pipinya yang gemuk. Dia benar-benar cantik. Minggu lalu, aku telah menemaninya di toko buku ini. Ia langsung bergegas pergi—mungkin membawa perasaan yang pedih.
             Di suatu malam yang cerah, di mana langit malam hampir dipenuhi dengan bintang-bintang yang bertebaran, aku mengayuh sepedaku dengan cepat ke rumah Clarissa untuk memberikan surprise berupa buku Descartes dan novel baru lainnya di ulang tahunnya yang ke-20 ini; kuterjang setiap polisi tidur hingga tas kresek, yang kucantelkan di stang sepeda, berguncang naik-turun. Baru kali ini aku merasakan dadaku berdebar, dan hatiku bergetar. Dalam hati, aku berkata, ‘Clarissa, tunggu aku, aku datang’. Tiba-tiba suaranya menyahut, membisik di telinga, ‘Aku menunggumu, Adrian. Cepatlah ke rumahku’. Dalam pada itu, secara spontan tanganku menekan rem, dibantu dengan kedua kakiku. Sebelum ban belakangku berhenti, tiba-tiba sebuah motor yang suaranya mirip Yamaha Byson melaju dengan kecepatan luar biasa. Aku terpental ke samping kiri jalan. Pengendara itu menendang bahu kananku. Jalanan sangat sepi. Kedua lutut dan sikuku sakit. Kemudian, seperti seorang pahlawan yang berusaha bangkit, aku mencoba berdiri. Tepat ketika aku menengok ke belakang, dengan jelas aku melihat punggung seorang perempuan dengan rambut panjang sedang bersepeda menjauh. Mungkinkah sosok itu adalah Clarissa? Kemungkinan besar ya.  Diakah yang menyuruh pengendara itu untuk menendangku?  Tidak, tidak. Tapi bisa saja, mungkin dia cemburu, terlebih setelah melihatku berdua bersama Amanda di toko buku tempo hari. Tidak, tidak.
Aku tidak ingin memakan daging bangkai saudaraku sendiri. Dengan kata lain, aku tidak ingin berprasangka buruk kepada Clarissa. Maka, aku segera bergegas pulang.
“Lain kali hati-hati, jangan melamun saat bersepeda.” Demikianlah komentar singkat ayahku setelah aku selesai menceritakan musibah itu secara berurutan. Dia lalu membalikkan sepeda itu hingga dua bannya berganti posisi naik ke atas. Ketika itulah aku sadar bahwa aku tadi telah banyak melamun.
           
                                                                                                                      ***
CLARISSA MUNGKIN bukan tipe orang yang pencemburu. Dia menyambutku dengan ramah saat aku mengunjunginya keesokan harinya. Setelah berbasa-basi, kutanyakan kenapa ia pergi saat melihatku di toko buku tempo hari.
“Aku terburu-buru,” katanya, sambil tetap menyapu lantai ruang tamu.
“Ada apa emangnya?” kataku sambil merapikan taplak meja.
Ia terus menyapu, lalu tiba-tiba ia berkata, “kau menganggapku pencemburu?
Aku tersentak. “Sama sekali tidak.”
“Kenapa banyak orang yang cenderung suka membuat cemburu sahabatnya, teman dekatnya, atau bahkan pacarnya, atau bahkan lagi, pasangan sahnya?”
“Aku tak mengerti,”
“Kau tidak pernah mengerti.”
“Kalau terus begini, masalahnya takkan selesai.”
“Pergilah, kau hanya berpura-pura,” serunya seraya menatapku tajam.
“Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku. Apakah kemarin malam kau melihatku jatuh ditendang pengendara motor? Sebab, aku sempat melihat perempuan yang perawakan punggungnya mirip dirimu.”
“Kalau iya, emang kenapa?”
Aku beranjak berdiri. “Oh, benarkah, kenapa kau sampai hati tak menolongku? Padahal kedua lututku sakit, padahal sahabatmu yang sejak kecil ini kesakitan?”
Tiba-tiba tatapan matanya yang tajam ganti menusuk mataku.
“Ibuku kemarin sakit demam, flu, dan batuk,” teriaknya, dengan tangan kanan tetap memegang gagang sapu, “aku tak tahan melihatnya bersin-bersin sementara ingusnya terus berjatuhan. Kini ia sedang berada di rumah sakit Islam, dan aku pulang untuk bersih-bersih rumah. Oh, ya, bukankah laki-laki harus kuat, ya, dengan kata lain, harus bisa bangkit setelah jatuh?”
Aku menyambar tas kecilku dan berjalan pergi meninggalkannya. “Masa bodoh! Kutepati janjiku, sahabatku, aku pergi!”
Tiba-tiba, dari teras, aku mendengar suara langkah-langkah kaki yang berlari, pintu yang dibanting, dan tangisan yang tertahan-tahan. Hati nuraniku memberontakku untuk kembali; cepat-cepat aku berlari ke arah kamar, lalu membukanya, dan mendekati sahabatku yang tengah duduk di sudut tembok di atas dipan; dengan wajah ditutupi bantal ia terisak-isak.
“Aku sudah pergi dan kini aku kembali. Aku bukan tipe orang yang tega menyaksikan penderitaan seseorang.”
Aku tetap berdiri di tempat. Beberapa menit kemudian, dia menyibakkan bantal dari wajahnya.
“Kuberitahu kau fakta yang sebenarnya, Adrian,” isaknya, “malam itu ketika aku bersepeda hendak membeli obat untuk Ibu, aku telah melihat Dani berbicara empat mata dengan Amandamu di teras rumahnya Amanda. Setelah selesai membeli obat, diam-diam aku membuntuti pemuda yang suka minum seperti ayahnya itu, anak Handoko itu, mengendarai motor besar laki-laki, mungkin Vixion, Mega Pro, Byson, atau apalah, dan begitulah selanjutnya kau sudah tahu sendiri.”
Aku segera duduk di tepi dipan. “Benarkah? Tapi kira-kira apa motif si Amanda itu?”
Secara perlahan nada bicara gadis itu sudah agak jelas. “Amanda itu, yang tergila-gila dengan mantannya pacarnya itu, ingin menyingkirkanmu. Dia ingin Brendan menggantikan posisimu.”
“Yang jadi pertanyaan, kenapa dia tega berbuat sedemikian kejamnya kepadaku?”
“Mungkin dia terpengaruh oleh dorongan keinginannya yang kuat, untuk bertemu si Brendan.”
Aku terdiam sejenak.
“Lalu,” ujarku. “Apa yang harus kita lakukan?”
“Apa yang harus kita lakukan? Kau harus berhenti mengajarnya. Kau harus lebih peduli lagi denganku, karena akulah yang lebih menyayangimu.”
“Clarissa!”
Kedua pipinya memerah ketika dia meneruskan berbicara. “Tapi jangan kau tunjukkan kemarahanmu padanya.”
“Baiklah. Sekarang kita apakan buku Descartes dari Amanda ini?
“Jangan bertanya lagi. Bacalah, buku yang baik akan jatuh di tangan orang yang baik.”
“Kata-kata yang bagus, dan aku juga ingin melihat ibumu, ayo berdiri,” kataku, sambil merangkul bahunya dengan tangan kananku.

                                                                                                                  ***
KINI AKU telah berhenti mengajar perempuan itu. Aku telah berpura-pura sakit untuk mengecoh Bu Harwati. Sebagai ganti untuk posisiku, ia memilih Brendan, sebagaimana saran putrinya. Demikianlah pengakuannya kepadaku; ia telah berkunjung ke rumahku untuk yang kedua kalinya, sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang kepadaku. Seminggu kemudian, di sebuah malam yang sangat dingin, untuk mengawasi rumah Bu Harwati, aku berniat untuk pergi ke warung kopi yang terletak di dekat rumah Bu Harwati. Aku memesan segelas teh hangat untuk menghangatkan badan. Pada mulanya aku tak mendengar suara apa-apa dari rumah itu. Tiba-tiba datanglah sebuah mobil sedan hitam mengilap dan berhenti di depan gerbang rumah besar itu. Seorang pria berperawakan tegap, dengan memakai jas hitam dan sepatu mengilap, segera turun dari mobil dan menggoyang-goyangkan gerbang depan dari rumah itu secara paksa. Tak tahan dengan suara itu, Brendan, Amanda, dan Bu Harwati tiba-tiba keluar rumah.
         Pria itu, yang menurut perkiraanku merupakan ayah Brendan, memaki-maki pemuda berambut klimis itu. Bu Harwati memeluk erat putrinya yang ketakutan.
“Cepat pulang kau, Brendan,“ bentak Pria itu. “Akan kuhajar kau nanti di rumah.”
Brendan menjauh. “Menjauhlah, Ayah. Sikap ayah sangat tidak mencerminkan dengan jabatan ayah, dengan seragam ayah.”
Dengan cepat pria itu menyambar tangan anaknya, dan menampar pipinya keras sekali.
Secepat kilat dia menarik tubuh besar Brendan ke dalam mobil, lalu menutupnya pintunya dan, setelah masuk ke dalam, dia menyalakan mesinnya, dan pergi melesat jauh. Selanjutnya Amanda masuk kembali ke dalam rumah. Sementara orang-orang di warung kopi sedang membicarakan kejadian tadi dengan riuh, aku cepat-cepat membayar pesananku dan pulang.
            Keesokan harinya, di suatu sore ketika aku sedang bekerja di kantor, tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan yang (ternyata) sangat panjang dari Amanda. Lantaran terlalu lama mataku memelototi pesan tersebut, aku ditegur oleh atasananku. Setiba di rumah, aku segera membuka kembali pesan tadi.
Begini isinya.

     Mas Adrian, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan kepada Anda. Yang pertama, saya harus mengucapkan terima kasih karena Anda telah menjadi pendengar yang baik buat saya. Seorang pembicara akan sangat senang jika segala perkataannya kita dengarkan. Seorang penulis akan sangat senang jika karyanya kita baca. Yang kedua, saya harus mengucapkan terima kasih karena Anda telah bersedia meluangkan waktu mengajari saya bahasa Inggris. Tak seperti pelajaran lainnya, saya benar-benar kesulitan mempelajari bahasa yang satu itu.

Yang ketiga, ini adalah kabar buruk. Brendan meninggal tadi malam. Ketika mobil yang dikendarai ayahnya berhenti di sebuah warung kecil, tiba-tiba dia kabur keluar dan berlari ke jalanan. Menurut saksi yang tak jauh dari tempat kejadian perkara, dia terus berlari, bahkan ketika dia sampai di tikungan tajam. Di tikungan itulah sebuah motor menabraknya. Pengendaranya melarikan diri. Brendan pingsan dan meninggal saat tiba di rumah sakit. Namun demikian, wajahnya, dan tubuhnya sama sekali tidak tergores. Kepala bagian belakangnya membentur batu di pinggir jalan. Sudah lama saya menjalin persahabatan dengan Brendan; sejak kami duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, dari situ hingga Sekolah Menengah Atas, dari situ lagi hingga ia pergi. Hingga ia pergi dan tak pernah kembali lagi. Meski pertemanan itu putus oleh takdir-Nya, saya akan selalu berusaha mengingatnya dalam doa saya. Segala kenangan tentangnya akan selalu tersimpan rapi dalam kepala saya.
   Saya berhutang budi kepada Anda, saya pernah mencelakakan Anda melalui teman saya Dani. Sekali lagi, maafkan saya. Sejauh ini barangkali tak ada cara ampuh yang bisa kita lakukan untuk melapangkan dada selain dengan berterus terang dan meminta maaf. Setelah saya lulus dari SMA, saya akan pergi ke Bandung untuk menimba ilmu di sana, sekaligus untuk menemani kakek dan nenek saya di sana. Terima kasih telah menjadi bagian dari kehidupan saya; Anda adalah sebuah api yang berperan sebagai penyumbang untuk menerangi jalan. Mulai hari ini, saya akan memulai lembaran baru, dengan belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu.

Terakhir, regarding your question [saya sudah mulai bisa merangkai kata berbahasa Inggris], saya akan menjawab pertanyaan Anda itu, Mas. Anda telah bertanya, apa hal yang paling merata di dunia ini, maka jawabannya, berdasarkan buku Diskursus dan Metode yang sebagian isinya berhasil saya ingat kembali, adalah AKAL SEHAT. Saya sadar bahwa saya terlalu menuruti keinginan saya yang cenderung tergesa-tegesa dan malah mengabaikan pemikiran saya yang berasal dari nalar atau akal sehat.
Saya sadar bahwa "memiliki daya nalar yang baik tidaklah cukup; yang lebih penting adalah menggunakannya dengan baik. Orang-orang yang bernalar tinggi mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan, tetapi juga dapat melakukan hal-hal yang paling keji. Sedangkan orang-orang yang langkahnya lamban sekali pun, asalkan bersedia mengikuti jalan yang benar, dapat mencapai jarak yang lebih jauh daripada mereka yang berlari namun menyimpang dari jalan yang benar.“ Demikianlah yang dikatakan Descartes, Mas Adrian.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera menutup ponselku. Malam ini aku harus menemani Clarissa yang menjaga ibunya di rumah sakit.

ARIF SYAHERTIAN
20-07-2015 / 08 - 08 - 2016


NB: Pada mulanya cerpen ini, yang judul aslinya Penyamaran yang Sia-Sia, telah selesai saya tulis pada tahun 2015; kemudian, lantaran ceritanya dirasa agak datar, tepat pada tanggal 08 Agustus 2016 saya mengembangkan ceritanya menjadi agak panjang, dan akhirnya ia selesai saya tulis pada tanggal itu pula.

Photo: Dramatic Full Moon  by Larry Landolfi

  • view 263