Lelaki Marathon

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juli 2016
Lelaki Marathon

Not a leaf falls but that He knows it.
(Quran, Al-An’am, 6:59)

Dahulu, di awal abad ke-20, di tengah sebuah desa yang terpencil di Inggris, hiduplah seorang anak laki-laki yang gemar berkelana dan memancing ikan di sungai. Dia memiliki seorang adik laki-laki berusia sepuluh tahun—lima tahun lebih muda darinya—yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi. Di mana pun tempat lelaki itu memancing ikan, adiknya akan selalu menyertai dengan duduk tenang di sampingnya. Terkadang anak bungsu itu akan memiringkan kepalanya pada lengan kakaknya saat dia sudah merasa mengantuk atau bosan karena menunggu, sambil sesekali berusaha menerka-nerka pikiran kakaknya; lalu beberapa menit kemudian, dia akan menegakkan kepalanya lagi, untuk  menanyakan menu makan malam, untuk menanyakan apakah kakaknya sudah lapar, atau pun untuk mengamati kondisi sungai. Mereka tak pernah menghabiskan waktu dengan memancing di satu sungai saja dalam waktu sehari; mereka akan selalu pergi dari sungai pertama ke sungai lainnya. Kebiasaan itu justru membuat mereka mendapatkan banyak ikan, membuat ranjang yang ditenteng adiknya menjadi lebih berat. Sepanjang perjalanan, hati mereka senantiasa gembira karena bisa menemui dan mengobrol dengan banyak orang; mereka gembira saat bertegur sapa dengan seorang petani, mereka gembira saat bertegur sapa dengan kawanan pemburu ular di hutan, mereka gembira saat bertegur sapa dengan seorang bocah pencari kayu, mereka gembira saat bertemu seorang gadis penggembala domba.
Siang itu ketika sang kakak sedang duduk memancing ditemani adiknya di sampingnya, dari sungai—sungai kelima yang sedang mereka singgahi—si bungsu tiba-tiba berteriak untuk memberitahu kakaknya mengenai apa yang sedang dia lihat; di lembah, di atas sungai, dia melihat seorang pemuda berperawakan tinggi sedang berlari secara bolak-balik dari pohon satu ke pohon kedua. Jarak antara keduanya lima belas meter. Selama bertahun-tahun mereka mengelana, belum pernah mereka jumpai sosok seperti itu. Pemuda itu berusia dua puluh satu tahun; dia telah berhari-hari menjalani olahraga, terutama berlari, untuk mempersiapkan diri menghadapi lomba Marathon yang akan diikutinya. Setelah adiknya memutuskan untuk menemui pemuda itu, anak berusia lima belas tahun itu kini duduk sendirian—menikmati kesendirian. Sesekali katak-katak berlompatan di tepi sungai; mereka berlombatan, mereka melirik tajam keadaan, mereka bersembunyi. Menyembunyikan diri di balik batang tanaman atau pun di samping bunga-bunga pendek dan tebal yang bermekaran. Sambil tak henti-hentinya mengedarkan lirikan tajam pada pemancing itu.
Kemudian, saat senja akan melambaikan tangan berpamitan pergi, saat malam mulai memperkenalkan warna gelapnya, saat bintang-bintang dan bulan perlahan bermunculan menerangi jalan, mereka bergegas pulang menyusuri tebing-tebing curam, melewati desa-desa tenteram, dan rumah-rumah yang sunyi. Sepanjang perjalanan pulang, bocah berusia sepuluh tahun itu merengek kepada kakaknya, memintanya untuk berhenti istirahat sejenak di pondok milik seorang petani. Kaki-kaki kecilnya sudah tak kuat lagi menapaki jalanan.
Tiba di rumah malam hari, dengan antusias mereka segera membakar ikan-ikan di halaman belakang, ditemani oleh semilir angin malam yang menerbangkan helai rambut, suara jangkrik yang menentramkan telinga, gemerisik daun-daunan yang sesekali terdengar menakutkan.
Lama-kelamaan, hubungan antara bocah kecil dengan seorang pelari itu semakin dekat. Mereka berdua sudah tampak akrab sekali. Bahkan, setiap kali dia dan kakaknya tiba di sungai kelima, dia selalu meminta izin kepada kakaknya untuk menghampiri pelari itu dan ikut berlari dengannya—meninggalkan kakaknya memancing sendirian.
Suatu hari, ketika mereka sedang berisitirahat di bawah teduhnya pohon, setelah berlari bolak-balik enam belas kali, bocah itu berkata. “Aku jadi suka berlari—wajahku bisa tampak lebih cerah dan bercahaya setelah mengeluarkan bulir-bulir keringat. Sejak berkenalan denganmu, aku selalu mengisi banyak air minumku.”
Sang pelari tampak tertarik dengan awal percakapan itu.
“Saat aku masih kanak-kanak,” jawabnya dingin, dengan punggung bersandar di pohon, sambil meluruskan kedua tungkai kakinya. “ayahku sering mengajakku lari-lari kecil di sepanjang jalan menuju lereng gunung. Sebenarnya aku akan mengikuti sebuah perlombaan Marathon. Itu sebabnya aku selalu meningkatkan latihan fisikku, dengan lari-lari, akhir-akhir ini.”
“Jadi, bolehkah aku memanggilmu lelaki Marathon?”
“Jika kamu menyukainya.”
“Aku hampir lupa, kapan lomba itu dimulai?”
Hanya jawaban pendek yang didengarnya. “Besok lusa.”

Beberapa meter dari tempat percakapan, dari dalam sungai, tiba-tiba muncul seekor ular lusuh berwarna cokelat. Ia lapar. Ia gesit, panjangnya tak lebih dari satu setengah meter, namun tak berbisa. Ketika, dalam jarak pandangnya, ia melihat betis kaki manusia itu, dengan cepat ia bergerak melewati rerumputan, lalu berhenti sejenak, dan mematuk kaki sebelah kanan sang korban. Teriakan yang sangat keras, kaki yang dihempaskan, pancing yang dilemparkan, dengan itu semua, sang korban berhasil membuat ular itu menyelinap pergi.
Percakapan itu terhenti, mereka berdua berlari ke asal suara. Lelaki Marathon segera menghampiri korban, dengan wajah cemas, memeriksa luka gigitan. Dia lalu pergi tergesa-gesa, dan tak lama kemudian, ia sudah kembali dengan menggenggam sehelai daun. Setelah menempelkan daun itu pada luka korban, lelaki itu mengangkat tubuhnya, memapahnya, dan mereka berjalan bersama-sama. Si bocah mengikutinya dari belakang, dengan tangan kanan menenteng ranjang ikan—sementara tangan kirinya membawa pancing di atas bahu kirinya.

Beberapa hari setelah kejadian itu, si bungsu jatuh sakit. Cuaca yang buruk mempengaruhi daya tahannya, menjadikannya rentan terhadap penyakit; dia terserang demam dan flu. Dia melewatkan waktu berhari-hari dengan beristirahat di rumah, sementara kakaknya terus bepergian meninggalkannya sendirian, memancing ikan untuk mencukupi kebutuhan.
Sore itu (Karena adiknya sedang sakit, anak itu tak berani untuk pulang malam meninggalkannya sendirian) si bungsu segera menyambut kakaknya, ketika kakaknya sudah tiba di ambang pintu. Dengan jelas dan pelan dia berkata, “Aku ingin menyambut Kakakku, yang lantang pulang sendirian melewati hutan. Aku ingin belajar dari keberanian Kakakku, yang tetap pergi mengembara, meski ular pernah hampir merenggut nyawanya. Kakakku, apa yang membuatmu bisa mengalahkan ketakutan itu?”
Anak sulung itu mengelus rambut adiknya. “Adikku, engkau bertanya bagaimana bisa kakakmu begitu berani melewati hutan sendirian, maka aku tak bisa memberikan jawaban yang tepat, selain bahwa, ya selain bahwa aku selalu menyakini bahwa daun-daun, kuncup-kuncup bunga, pohon-pohon, tumbuhan-tumbuhan, mereka semua selalu memuji Nama-Nya, mengagungkan-Nya, setiap saat. Lantas, bagaimana bisa kakakmu ini takut kepada rimbunnya hutan, sedangkan mereka sama-sama memuji Dzat yang aku puji, yang takkan pernah kulupakan dalam hati? Aku terus berjalan kaki dengan keyakinan seperti itu hingga, dengan pertolongan-Nya, aku bisa tiba di rumah dengan selamat. Aku selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu melihat apa yang kita kerjakan. Dia akan menolong setiap hamba-Nya, ketika mereka kesusahan atau pun ketika mereka terjatuh ke dalam jurang penderitaan, dengan rencana-rencana terbaik-Nya. Dia selalu tahu, tak ada sesuatu yang luput dari perhatian-Nya, tak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.”
Setelah adiknya menurunkan semua barang bawaan kakaknya, dia mengajaknya untuk duduk di depan perapian. Dengan wajah malu mirip perasaan bersalah, dia bertanya, “Apakah Kakak membenci lelaki Marathon? Andai saja di lembah tidak ada orang itu, aku akan bisa duduk di sampingmu, dan mungkin juga bisa menghalau hadirnya seekor ular.”
“Aku justru menyukainya, Adikku, dia telah menyelamatkan nyawaku, dengan daun di genggaman tangannya.”

Dua hari kemudian, akhirnya si bungsu sembuh; dia merayakan kesembuhannya dengan berjingkat-jingkat sendirian, juga dengan menyanyikan lagu-lagu dengan suara paling merdunya. Selain itu, tentu saja, dia akan senang lagi saat bertemu dengan gadis penggembala domba, meskipun usia gadis itu tiga tahun lebih tua darinya.
Ketika mereka tiba di sugai kelima, si bungsu mendapati lelaki Marathon sedang berlari di atas lembah seperti biasa. Setelah dengan mudah mendapatkan persetujuan dari kakaknya, si bungsu berlari menaiki lereng curam ke arah lelaki Marathon. Tak lama kemudian, ketika si bungsu baru menaiki setengah lereng, tiba-tiba terdengar teriakan keras di bawah. Kedua orang itu segera turun untuk menghampiri sang korban. Lelaki Marathon sibuk mencari daun.
Begitu mereka berada di dekan korban, lelaki Marathon menempelkan daun pada luka di kaki kirinya, sambil mengatakan bahwa  pancingnya telah patah. Sebelumnya, saat merasakan gigitan ular, anak sulung itu memukulkannya hingga patah pada binatang itu, tetapi tetap saja berakibat sia-sia—ular itu dengan cepat berhasil kabur setelah menggigit kakinya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan anak laki-laki itu semakin memburuk. Hingga akhirnya, sebelum tiba ajalnya, adiknya memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi, sambil berusaha menyembunyikan isaknya. “Aku akan selalu mencintai Kakakku, dan aku akan selalu mendoakan untuk keselamatan dan kebahagiaanmu. Kakakku, maafkan jika adikmu lancang bertanya, bolehkah aku memulainya (Sang kakak mengangguk lemah). Kakakku tercinta, apakah Kakak membenci lelaki Marathon? Andai saja di lembah tidak ada orang itu, aku akan bisa duduk di sampingmu, dan mungkin juga bisa menghalau hadirnya seekor ular.”
Anak itu menegakkan bantal yang menopang kepalanya. “Aku justru menyukainya, Adikku, dia telah menyelamatkan nyawaku, dengan daun di genggaman tangannya. Adapun jika aku harus menutup mata selama-lamanya dari dunia fana ini, itu bukan salahnya, melainkan itu sudah jadi kehendak Tuhan. Dan kita semua tidak bisa menyalahkan Tuhan.”
Saat sepasang mata yang teduh itu menutup, sang adik menangis sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya.
Dari belakang, lelaki Marathon tiba-tiba berdehem dan, sementara bocah itu menoleh lalu kembali berpaling ke arah kakaknya (entah datang dari mana lelaki itu sebelumnya, menurut pikiran si bocah), mengampiri bocah yang sedang menangis itu. Mengelus-elus rambutnya untuk beberapa saat.

Keesokan harinya, lelaki Marathon berkunjung kembali ke rumah tua itu. Begitu mengetahui kehadirannya, si bungsu mendongakan kepalanya dari lamunan panjang, lalu bertanya.
“Aku selalu hampir lupa untuk bertanya,” katanya pelan. “Apakah kamu berhasil memenangkan lomba kemarin?”
Lelaki itu menggeleng. Hening tercipta sangat lama—waktu seolah membeku. Kemudian, lelaki itu menjelaskan bahwa akan ada perlombaan Marathon lagi bulan depan untuk kategori anak-anak, Half-Marathon, dengan jarak 21 km, dan setelah itu, dia menawarkan apakah bocah itu bersedia untuk berpartisipasi.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia mengangguk antusias. “Aku bersedia, tapi latihlah aku, ajari aku, di lembah itu. Selama sebulan penuh ini, aku akan siap meluangkan sebagian waktuku untuk menjalani latihan.”
Lelaki itu berdehem. “Mulai sekarang, aku akan memanggilmu bocah Marathon.”

Hingga akhirnya, apa yang diharapkan bocah itu pun mendapatkan secercah jawaban; setiap sore bocah itu berlari bersama lelaki Marathon di lembah. Menunggu, tiba-tiba, menjadi hal yang paling menyenangkan; tak hanya saat sore hari, di pagi hari bocah itu juga melatih dirinya sendiri dengan lari-lari kecil di halaman depan rumah.
Hari yang mereka tunggu-tunggu pun tiba. Bocah itu kini tengah berdiri di garis tengah. Berkacak pinggang menatap para peserta lainnya. Dalam balutan kaos merah polos, bocah Marathon itu hanya perlu berlari. Terus berlari. Saat tanda ‘start’ sudah dibunyikan, dimulailah petualangan masing-masing peserta.
Delapan puluh lima menit kemudian, perjuangan yang sebenarnya benar-benar tengah menghampiri; sambil tersengal-sengal tangan kanannya mencoba menggapai kertas panjang yang membentang di garis akhir. Dua ratus meter di depan dari tempatnya kini berlari, dia baru menyadari bahwa seorang lelaki Negro dari Kenya muncul di sampingnya dan, seperti anak panah liar yang baru dilepaskan, melesat jauh ke depan.
Apa pun yang mati seharusnya bisa tumbuh kembali, batin si bocah Marathon, aku ingin menjadi juara pertama, aku ingin membahagiakan kakakku yang telah tiada. Apa pun yang mati memang seharusnya bisa tumbuh kembali; cita-cita lama yang telah sirna, mimpi yang terhempas ke dasar jurang, kesempatan yang hanya tersisa seujung jari.
Dalam kekalutan serta kegugupan, ingatan tentang semua sesi latihan justru menyeruak ke dalam pikirannya; detik-detik yang melelahkan dan penuh rasa sakit akibat terlalu lama berlari adalah perjuangan. Hidup tidak akan menarik lagi tanpa rasa sakit, tanpa perjuangan, batinnya, perjuangan antara menyerah dan melanjutkan. No pain no gain, batinnya lagi, menyemangati diri sendiri. Melanjutkan dan menyerah—keduanya barangkali seperti hidup dan mati. Seperti para pahlawan yang berusaha mengusir penjajah; setiap dari mereka berdiri di jembatan antara hidup dan mati, menggantungkan nasibnya pada tumpuan kedua kakinya, kekuatan otot tangannya, dan kekebalan arah serta jalan pikirannya. Seandainya pijakan kaki mereka goyah sedikit lantaran lengah, atau cengkraman tangan mereka meregang lantaran tegang, atau pikirannya melamun lantaran linglung, mereka akan jatuh dari ketinggian jembatan menuju sungai. Jatuh yang benar-benar jatuh. Bukan jatuhnya orang menuju sungai melalui alam mimpi, lalu terbangun ke alam nyata di malam hari.
Tiba-tiba, seorang Negro di depannya sedikit terpeleset, pada kaki kanannya, dia kehilangan keseimbangan. Hal itu memberikan kesempatan bagi bocah itu untuk menyalipnya. Dia berhasil menyalipnya. Dia semakin memperlebar lompatan kakinya dan, tak lama kemudian, tangan kanannya berhasil menyentuh kertas panjang yang membentang itu.

Dinobatkan sebagai juara pertama Half-Marathon, bocah itu menerima hadiah baik berupa piala berukuran sedang maupun uang tunai yang barangkali cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua tahun. Dia terkenal, tetapi kemudian seperti menghilang begitu saja.
Tiba di rumah dengan perasaan bangga, si bocah itu segera menaruh pialanya di atas almari milik kakaknya. Lelaki Marathon minta diri sebab dia tahu diri; malam yang telah larut, capek luar biasa, membuat kedua mata bocah itu tak sanggup untuk menahan kantuk lagi. Dalam mimpinya, dia melihat kakaknya, dengan memakai pakaian putih bersih menutupi seluruh tubuh kecuali wajah, sedang tersenyum kepadanya.
Sebelum mereka berpisah, si bungsu bertanya, “Kakakku tercinta, maafkanlah karena aku hanya mempunyai pertanyaan yang selalu sama, apakah Kakak membenci lelaki Marathon? Andai saja di lembah benar-benar tidak ada orang itu, aku akan bisa duduk di sampingmu, dan mungkin juga bisa menghalau hadirnya seekor ular.”
Si sulung tersenyum, menggelengkan kepalanya. “Aku justru menyukainya, Adikku, dia telah menyelamatkan nyawaku, dengan daun di genggaman tangannya.”
Tiba-tiba, dari belakang, lelaki Marathon datang untuk mendekat ke tempat bocah itu berdiri, lalu mengelus rambutnya. Mereka semua terdiam. Sesaat kemudian, dari balik punggungnya, si sulung mengeluarkan sebuah pancing, menimbang-nimbangnya di depan mereka, dan memberikannya kepada lelaki Marathon, yang segera berjalan ke depan untuk menerimanya dengan takzim, seolah merasa diberikan tugas besar dari bupati atau presiden.
Beberapa menit kemudian, dia terbangun dari mimpi dengan perasaan bahagia luar biasa, lalu bergegas mencuci muka, dan berjalan pelan ke arah pintu depan untuk menyapu daun-daun yang berserakan di halaman depan rumah. Apa yang dilihatnya benar-benar membuat jantungnya berdebar; lelaki Marathon tengah berdiri di samping pohon, wajahnya bercahaya, sorot matanya tajam seperti biasa, dengan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana samping.
“Semalam aku bermimpi tentangmu, juga tentang kakakku,” ujar si bocah pelan dan jelas, berusaha menutupi kekagetannya. “Dan kakakku dengan jelas memberikanmu pancing. Itu tandanya—“
“Tenang saja, aku bersedia untuk tinggal bersamamu dan—“
“dan kamu harus bersedia memancing ikan di sungai bersamaku, menggantikan kakakku.”
Lelaki Marathon mengangguk, lalu berjalan menghampirinya, dan mengelus rambutnya.
Bocah itu sangat senang sekali.
“Satu hal yang ingin kuketahui,” ujarnya, menatap lawan bicaranya tajam, “adalah tentang keberadaanmu selama ini. Kamu seakan dekat denganku, kehadiranmu yang tiba-tiba seringkali mengejutkanku. Di mana sebenarnya tempatmu bersembunyi?”
Lelaki Marathon hanya tersenyum, sambil mengelus rambut lebat bocah itu sekali lagi. “Itu adalah satu hal yang patut kamu ketahui. Sejak kematian kakakmu, aku selalu berada di dekatmu, selalu mengawasi rumahmu dari jarak dekat kalau-kalau bahaya datang mengancammu. Kini aku tinggal di pondok kecil di pohon besar, atau lebih tepatnya di rumah pohon. Pondok itu terletak di belakang rumahmu, berjarak sepuluh meter dari rumahmu. Aku membuat rumah itu, pada saat malam hari, saat kamu sudah tertidur lelap. Lenteranya redup, tak cukup terang, saat malam. Saat ini aku hanya punya satu rencana, yaitu mengajakmu untuk datang bersamaku melihat rumah itu, sekarang. Jadi, apakah kamu bersedia?”
Si bocah itu tersenyum kepadanya, lalu berkata. “Jika kamu menyukainya,”

PENULIS: ARIF SYAHERTIAN

  • view 184