HIMNE 17

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Puisi
dipublikasikan 21 Mei 2016
HIMNE 17

I
pegang erat senapanmu, kawanku
di tengah malam kau berdiri membisu
kegelapan dalam pagi yang baru
saat tatapan mereka berubah sendu
apa yang membuatmu ragu-ragu?

II
pegang erat senapanmu, kawanku
sementara kau pasti tahu
di luar peluru-puluru siap menghujani punggungmu
dan kau berlari ke titik abu-abu
teman-teman sedang menunggu

III
pegang erat senapanmu, kawanku
di prancis pasukan kavaleri bersenjata pedang kemilau
di tanah ini senapan juga bambu kita gunakan beradu
kita lakukan perintah tanpa gerutu
siapa yang sempat bertanya ini-itu?

IV
pegang erat senapanmu, kawanku
langkah-langkah kaki berjibaku dengan waktu
hingga setiap dari kita tak mengenal lagi lesu
menyerang, bersama, bersatu padu
takkan takut menginjak jebakan, batu, bahkan paku

V
pegang erat senapanmu, kawanku
di balik semak kita hirup aroma mesiu
tubuh gemetar hebat seperti melihat hantu
dengar, sudah tiba hitungan kesatu
lihat, apa yang bersarang ke punggung prajurit sekutu

VI
pegang erat senapanmu, kawanku
apa yang membuat angan-angan melambung terburu
seperti balon yang terlepas tali sumbu
buang pikiran yang seperti debu
jangan sampai tertiup dari masa kini yang syahdu

VII
pegang erat senapanmu, kawanku
sambil berbaris, menggema lagu perlawanan merdu
tiada lidah-lidah yang kelu
tiada pula jalan yang selamanya buntu
keinginan untuk bangkit seolah jadi candu

VIII
pegang erat senapanmu, kawanku
pada arus hilir dari hulu
bagai laju sungai tak pernah jemu
kita melawan apa yang dungu
tentang nasib, kita harus melempar dadu

IX
pegang erat senapanmu, kawanku
kenapa mesti malu-malu
ketika itu menyangkut pergerakan maju
kita menyalakan bara seperti lampu
dari minggu ke minggu

X
pegang erat senapanmu, kawanku
kita tak sempat lagi saling cemburu
mereka menyerang seperti hiu
maju, sorak, tembak, setuju
bukan jadi kemerdakaan yang semu

XI
pegang erat senapanmu, kawanku
apa yang mereka sembunyikan dalam saku
mereka mengejar seperti lembu
jangan, jangan sembunyi di balik pintu
di dermaga sudah tertambat perahu

XII
pegang erat senapanmu, kawanku
kami bukan pasukan tak punya mutu
melihat sebagian dari mereka bermain kartu
melihat mereka kebal dari sakit bahkan flu
jalan kami mungkin terlihat buntu

XIII
pegang erat senapanmu, kawanku
mereka memandang persembunyian kami sambil lalu
jika di luar turun salju
benteng-benteng akan membeku
dan, kita berjumpa, bertemu

XIV
pegang erat senapanmu, kawanku
dengar, rasakan, suara itu
lompatan-lompatan dengan nafas marah memburu
kokang, maju, terlebih dulu
kokang, merunduk, tembakan satu-dua peluru

XV
pegang erat senapanmu, kawanku
awasi sementara para pemberani menyerbu
naik ke atas hotel yamato itu
menurunkan, merobek, bendera warna biru
penuh rasa hormat, mereka mengerek ke atas, merah putihku

XVI
pegang erat senapanmu, kawanku
hingga sepuluh november itu
ultimatum mansergh tak menyurutkan nyalimu, nyaliku
hingga bung tomo, seorang pahlawan revolusioner itu
menggugah jiwa berteriak tiada kelu

XVII
pegang erat senapanmu, kawanku
jangan sampai jatuh ke tangan musuhmu
demikianlah suaraku, salah satu penyair itu
yang memilih membicarakan perlawanan berdebu
mewujud kemerdekaan yang kokoh, dan bukannya semu

--Arif Syahertian
2016 - 03-05-2016

  • view 116