Noda Ketiga (2)

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 April 2016
Noda Ketiga (2)

I
KEBERANIAN, teman-teman, adalah kata pertama yang akan selalu mengisi kepala seorang pemuda berusia sembilan belas tahun ini. Seorang yang sejak kanak-kanak tidak hanya diajari mengenal indahnya alif-ba-ta, melainkan juga dilatih untuk memiliki keberanian yang besar seperti ayahnya. Ayahku, seorang Kolonel yang selalu siap menghadapi segala bahaya baik dalam medan perang maupun dalam pekerjaan, memang sering mengetes mentalku ketika aku masih kecil. Tak hanya pernah menyamar sebagai pocong untuk mengejutkan anaknya, ayahku juga pernah mengajakku bermain sepak bola sementara hujan deras—tanpa disertai petir—turun memukul-mukul kepala.
Baiklah, akan tiba saatnya aku harus menuturkan sekelumit petualanganku. Untuk sementara ini, agaknya, kalian ingin mendengarkanku menuturkan latar belakang hidupku.
Bersama Ibu dan adik perempuanku, Clarrisa kecil, aku tinggal di sebuah rumah Joglo di desa Blabak, Kediri. Meskipun rumah itu hanya dihuni tiga orang, tetapi lantas tidak berarti menjadikannya selamanya sepi. Sebab hampir setiap sore hari, kakek dan nenekku, dari pihak ayah, datang dengan naik becak untuk menjenguk cucu kecilnya.
Kegiatan wajib sehari-hariku adalah, selain menuntut ilmu di salah satu universitas di Kediri, mengajar les anak-anak di Lembaga Bimbingan Belajar SMART di desaku. Sejak aku masih kecil, Ibuku tidak hanya mengajariku bagaimana menulis, menggambar, atau mewarnai, melainkan juga pelajaran bahasa—termasuk bahasa Inggris. Betapa perasaan angkuh akan menghampirimu bila kamu punya pengetahuan cukup tentang suatu bidang, tetapi segan untuk membagikan ilmumu pada tetanggamu yang amat membutuhkan. Tetangga yang aku maksudkan adalah Pak Hartono Sudibyo. Pria berumur empat puluh lima tahun itu sekarang hanya bisa duduk lemah di kursi roda. Sekalipun begitu, perangainya yang tegas, sorot matanya yang kejam, mulutnya yang jarang berbicara, sifatnya yang tidak pelit soal uang, masih membuatnya disegani oleh para pengajar yang telah mendaftarkan diri di LBB-nya. Terlebih ketika sepasang mata itu muncul dari balik pintu kamar; kedua tangannya yang penuh guratan akan mendorong ban kursi rodanya, dengan semangat, ke arah ruang belajar untuk mengawasi pengajar-pengajar tersebut.
Kadang aku sempat berpikir betapa untungnya dia memiliki seorang istri yang sangat setia dengannya—sekalipun lelaki itu sangat mudah marah. Bahkan setelah kaki kirinya patah, perempuan yang murah senyum itu tetap setia merawatnya. Sebulan yang lalu, hujan turun deras dan sangat lama, sehingga membuat atap rumahnya bocor melalui genteng lantai atas. Wataknya yang sekeras batu, sebab tak ada seorang pun yang bisa menghalangi pria berkepala botak itu saat niatnya sudah bulat, mendorongnya untuk memperbaiki atap itu. Dipagari oleh teralis besi setinggi dua meter dan selebar lima belas meter di bagian depan, bangunan rumahnya sendiri terlihat lebih megah, kokoh, dan sangat elegan.
Di lantai dua, delapan meter ke atas, orang bisa melihat genteng berwarna biru itu semakin kemilau saat ditimpa matahari. Untuk memperbaiki atap kanan atas, ujarnya ketika ditanya sejumlah tetangga, sebagian genteng bagian kanan setidaknya harus dilepaskan—dilonggarkan.
Segera setelah cuaca berganti gerimis, dia bergegas mematikan saluran listrik, lalu cepat-cepat mengambil tangga aluminium lipat di gudang lantai atas. Terkadang jika keberhasilan disambut dengan rasa gembira yang berlebihan, kesedihan akan memandang dengan tatapan paling mengancam di depan. Kira-kira seperti itulah yang dirasakan Pak Hartono ketika dia telah berhasil menyumbat lubang di bawah genteng dengan selembar plastik tebal transparan. Mendengar hujan deras mengguyur lagi, melihat jilatan kilat datang dan mencapai taman lantai atas, mendengar letusan-letusan petir yang sangat menakutkan, dia segera turun melalui tangga aluminiumnya. Dia lalu melangkahkan kedua kakinya dengan yakin ke sisi samping tembok taman dan, pada saat yang sama, suara petir yang sangat keras tiba-tiba mengguncangkan perdesaan. Berangsur-angsur pandangan matanya mengabur. Tepat ketika kaki kirinya jatuh di sisi pinggir tembok, dia mencoba menyeimbangkan tubuhnya dengan melayangkan kaki kanannya ke timur. Pada saat-saat seperti itu, kegugupan sangat membayanginya sehingga dengan mudah dapat mengacaukan kekerasan kepalanya, sebelum akhirnya dia terpeleset ke barat, dan jatuh di atas rerumputan kandang sapi milik Pak Sumari.
Sekarang, tanggal tujuh Januari tahun 2013 ini telah menjadi sebentuk tanda bagi usiaku dalam membagikan ilmu, terhitung sejak tanggal satu, di LBB itu.
Pada tanggal satu, aku masih dapat mengingat percakapan lamaku dengan Ibuku; malam itu Ibu sedang duduk menyulam di kursi panjang, dalam suasana tenang dan terang rumah Joglo, sementara aku memilih buku-buku koleksiku di rak meja belajarku.
“Leopord,” ujarnya pelan, ketika aku sedang membolak-balik buku Lost Mane Lane karya Anna Katharina Green.
“Iya, Ibu?” jawabku sepelan mungkin, sambil berdiri memalingkan wajah dan seluruh badanku kepadanya. Sebab, agak kurang sopan juga jika berbicara dengan seseorang tanpa menghadapkan seluruh tubuh kepada lawan bicara.
Dia meletakkan kain ke pangkuannya. “Tidak bisakah anak Ibu yang pandai bahasa Inggris ini menolong seorang tetangga yang kesusahan? Menggantikan posisi Pak Hartono yang telah mendapatkan ujian dari Tuhan?”
Ya ampun, meskipun para tetangga dekatku menjulukiku sebagai seorang yang kuat dan pemberani, aku bisa menangis kalau mengingat kembali perkataan Ibu yang halus. Maka langsung saja aku menyutujui saran Ibundaku. Ketika itulah aku melihat seulas senyum manis tersungging dari wajah Ibu.
Biasanya aku akan pulang dari kampus pada pukul dua siang. Itu berarti masih ada waktu sekitar empat jam lebih bagiku untuk istirahat di rumah, sebelum berangkat mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak pada pukul tujuh malam, dan pulang dari tempat les pukul sepuluh malam. Jadwalku mengajar adalah, seperti yang berlaku untuk para pengajar yang lainnya, setiap Minggu, Selasa, Kamis, Jumat. Paramita Sekarningrum, seorang guru muda Sekolah Menengah Atas yang pendiam tetapi penuh semangat itu, mendapat jadwal mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam untuk murid-murid kelas satu, dua, dan tiga, Sekolah Menengah Pertama, pada pukul satu siang sampai pukul empat sore.
Sedangkan Aprilia Dwi Permatasari, anak kedua dari keturunan keluarga bangsawan, akan menggantikan pengajar pertama untuk mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Indonesia, atau pelajaran tambahan lainnya, pada pukul empat sore sampai pukul tujuh malam. Murid-murid kami berjumlah empat puluh tujuh orang—tentu saja mereka mengenyam pendidikan dari Sekolah Menengah Pertama yang berbeda-beda. Masing-masing pengajar diberikan tugas untuk mengajar lebih dari sepuluh murid atau sekitar lima belas murid di sebuah ruangan besar ber-AC; lima belas murid pertama merupakan kelompok A yang akan diajar di bawah bimbingan Paramita pada kesempatan pertama, lima belas murid kedua merupakan kelompok B yang akan diajar di bawah bimbingan Aprilia pada kesempatan  kedua, dan tujuh belas murid terakhir merupakan kelompok C yang menjadi tanggung jawab baru bagiku. Kelompok A dan B terdiri dari murid-murid kelas dua SMP, sedangkan kelompok C terdiri dari murid-murid kelas tiga SMP. Kemudian jadwal masuk kelompok-kelompok tersebut akan digilir di setiap harinya.
Kalian mungkin bertanya-tanya bagaimana bisa aku jadi pengajar sedangkan kuliah pun aku baru mendapat semestar satu, untuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Tak diragukan lagi, selain sejak dini sudah mendapatkan pelajaran bahasa Inggris dari Ibuku, dia juga sering mengajakku berkunjung ke rumah nenek di Swiss, sehingga kemampuan berbicaraku makin meningkat seiring berjalannya waktu, membumbung tinggi seperti balon, terasah tajam seperti pisau.
Baiklah, sekalipun usiaku masih sembilan belas tahun, tetapi aku percaya kemampuanku dalam bidang tersebut akan melampaui ilmu bahasa Inggris yang dimiliki Pak Hartono sekalipun. Namun demikian, sebelum berhasil masuk di LBB-nya, Singa itu, Pak Hartono, tetap mempertanyakan kemampuanku dengan mengujiku tanpa ampun—sangat ketat. Seakan dia tidak mengizinkan seekor domba masuk kandangnya begitu saja.
Kalian bisa membayangkan, mulai pukul sembilan belas sampai waktu menunjukkan pukul dua puluh tiga lebih lima belas menit, dia mengacak-acak pikiranku dengan mengajukan berbagai pertanyaan; pemahamanku tentang Grammar selalu diserang habis-habisan, Idiom dan Phrasal Verbs-ku dianggap masih kurang luas, Vocabulary-ku dianggap memadai tetapi belum mendekati seratus persen, Pronunciation-ku hampir diragukan tetapi pada akhirnya mendapat tempat di hatinya.

Keesokan harinya, di hari Minggu, pada pukul delapan pagi, ketika aku sedang menggergaji sebatang kayu untuk membuat kaki meja, Pak Hartono Sudibyo mendatangi rumahku, dengan didampingi istrinya yang mendorong kursi rodanya dari belakang.
“Leopold,” suara seraknya mulai mengagetkan dada. Sebuah suara pembuka yang mengandung nada perintah. Siapa pun yang berani memotong pembicaraannya dengan kalimat-kalimat panjang, dia harus siap-siap untuk bertengkar dengannya melalui perdebatan yang menjemukkan.
“Mari masuk, Bu, Pak,” sambutku ramah, sambil bergegas berdiri.
Dengan santai pria itu justru merogoh saku kanan di celananya.
“Tidak usah,” tukasnya seraya menjulurkan tiga buah kunci yang telah ditali bersamaan. “Aku hanya ingin memberimu ini. Kunci gerbang depan. Kunci dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Kunci ruang les. Masing-masing sudah ada tandanya. Nanti Aprilia tidak bisa mengajar, jadi terpaksa Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Indonesia ditiadakan hari ini. Nah, jadwalmu adalah memajukan jadwal pelajaran Bahasa Inggris yang akan kamu ajarkan menjadi jam empat sore sampai pukul tujuh malam. Nanti jam dua belas siang aku akan pergi ke Malang, untuk menjalani kontrol sesuai dengan saran dokter. Aku percaya padamu. Jangan sampai terlambat.”
Ketika aku menerima kunci itu dari tangannya, aku merasa kaget sekaligus bangga; masih baru sekitar seminggu aku bekerja padanya, tetapi sudah memperoleh kepercayaan. Sebuah hal yang paling langka di zaman ini, begitulah orang-orang menyebutnya. Setelah aku menyatakan kesediaanku, dia beringsut pergi, diiringi oleh ucapan perpisahan dari istrinya yang ramah. Belum sampai empat meter perempuan berjilbab itu mendorong suaminya, tiba-tiba mereka berhenti. Mendadak seperti teringat sesuatu penting.
Pelan-pelan istrinya memutar kursi rodanya.
Dengan nada yang, menurut perkiraanku, mengandung penyesalan, Pak Hartono bertanya, “Sedang membuat apa, Leopold?”
“Kaki meja, Pak.”
“Untuk meja yang bagaimana?”
“Meja mini berbentuk persegi panjang.”
“Untuk tempat laptop atau untuk tempat belajar?”
“Tempat laptop, Pak.”
Beberapa detik kemudian, setelah puas mengamat-amati, pria itu baru menjawab, dengan kepala memandang ke wajah istrinya. “Dik, bocah itu sangat kreatif, bukan?”

II
SORE ITU AKU DATANG lima belas menit lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Setelah membuka pintu gerbang, dengan cepat aku mengambil sebatang sapu di pojok dinding taman dan, dengan tangan kiri menentengnya di bahu, aku bergegas masuk ke ruangan les.
Teman-teman, mungkin kalian tak percaya dengan penglihatanku begitu pintu depan ruangan les terbuka. Dengan jelas, aku melihat singa itu tengah merokok dengan nikmatnya di atas kursi roda.
“Lhoh, bukannya Bapak tadi bilang mau pergi kontrol ke Malang?” Tanyaku heran.
“Tidak diragukan lagi.”
“Saya tidak mengerti.”
“Namun demikian,”
“Namun demikian?”
“Namun demikian,” serunya dengan sedikit bentakan kemenangan, “namun demikian apa, apa coba, haa, namun demikian aku suka mengetes setiap karyawan, dan ketika kamu datang lebih awal dan bukannya terlambat, itu menunjukkan, itu menunjukkan apa, apa coba, heh?”
“Ya, Pak,” jawabku dengan dada membusung, sambil menurunkan sapu yang kubawa tadi. “Itu menunjukkan bahwa seorang karyawan bapak ini termasuk salah satu dari mereka yang sangat menghargai waktu.”
“Kedisiplinan,” pungkasnya berapi-api.
“Betul, Pak.”
“Kelihatannya aku tak perlu lagi meragukan kedisiplinanmu. Aku harus segera beranjak dari sini, aku tidak ingin melihat karyawanku ini gerogi saat mengajar nanti. Silakan menyapu, Nak, karena murid-murid akan datang lima belas menit lagi.”
Satu gerakan cepat datang dari jari tangannya ke asbak marmer. Sisa-sisa asap dari puntung rokok masih mengepul. Kursi roda itu perlahan mulai berjalan. Hingga kemudian, ketika aku berbalik untuk memandang pintu depan, kedua daun telinganya yang besar sudah tak lagi kelihatan.

Murid-murid ternyata datang lebih cepat dari biasanya. Ah, mungkin kurang tepat saat aku bilang “biasanya.” Sebab, bagaimana bisa aku bilang “biasanya”, sedangkan baru pertama kali inilah aku mengajar mulai pukul empat sore. Jadi, mungkin murid-murid yang mendapat giliran belajar sore hari itu memang punya waktu luang lebih banyak untuk mempersiapkan diri daripada mereka yang mendapat giliran malam hari. Ini sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum murid-murid melangkah lebih jauh ke materi pelajaran, mereka selalu diminta untuk berdoa menurut agama serta kepercayaan masing-masing terlebih dahulu.
“Adik-adik semuanya,” seruku pelan-pelan setelah berdoa, mengawali dengan suara yang tegas dan dalam. “Pada kesempatan ini, saya kebagian jadwal untuk mengajar di sore hari, menggantikan posisi Ibu Aprilia untuk sementara. Di sore yang, Alhamdulillah, cerah dan damai ini saya akan mengajarkan bab Narrative kepada kalian. Dalam bab tersebut, nanti akan ada Grammar Section. Di situ nanti, saya tidak akan hanya menjelaskan mengenai Causative Verbs saja, melainkan juga Past Perfect Tense. Sebelum saya mulai belajar-mengajarnya, adakah pertanyaan yang ingin adik-adik tanyakan?”
Dua murid dari bangku belakang mengangkat tangan kanan mereka, dengan jari telunjuk naik ke atas. Seorang laki-laki itu namanya Arif. Selain murid yang paling gemuk, dia juga seorang yang paling banyak bertanya di antara para murid lainnya. Aku bangga punya murid-murid yang berani untuk bertanya. Salah satunya dapat mereka ekspresikan dengan mengacungkan jari telunjuk ke atas tadi.
“Ya, Arif? Kamu terlebih dulu,” sapaku.
“Kenapa kakak, kenapa Ibu Aprilia tidak bisa mengajar hari ini?”
“Maafkan saya, kakak Leopold, baru bisa memberikan informasi sekarang. Dia tidak bisa datang lantaran dia masih repot mengurusi ayahnya. Kemarin malam ayahnya tertimpa musibah. Ketika ayahnya menyeberang di perempatan luas di jalan Wahid Hasyim dekat jajaran toko itu, seorang pengemudi sepeda motor tiba-tiba menabraknya. Sekarang dia sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Baptis. Kita doakan saja, semoga ayahnya bisa segera sembuh. Aamiin.”
Semua murid serentak mengucapkan Aamiin. Kali ini aku ganti memandang penanya berikutnya. Seorang perempuan berjilbab biru polos, dengan kerudung ditambahi lipatan kain putih sedemikian rupa. Pandangan mata itu setajam pisau. Seolah-olah dia tak mau dianggap seperti anak kecil; dia takkan rela hanya dipandang sebagai siswi Sekolah Menengah Pertama belaka. Seandainya dia bekerja sebagai satpam yang bertugas menjaga pintu di konser musik, dia pasti akan menggagalkan rencana kotor mereka yang memalsu tiket. Pada saat yang sama, pandangan mata itu mengingatkanku pada seorang sahabatku di Swiss. Ah, Sabrina.
“Sekarang, giliran kamu, Amanda Berzugnawati,” kataku pada akhirnya.
“Kak Leopold, kenapa kakak nggak akan menjelaskan tentang Paired Conjungctions, seperti Not Only dan But Also, di Grammar Section nanti?”
Wah, benar-benar hebat perempuan ini, batinku. Lihat saja tata bahasanya, teman-teman, ketika dia melontarkan pertanyaan tadi; ketika dia menambahi kata “akan” setelah kata “nggak”, sesungguhnya itu menunjukkan rasa kepeduliannya, rasa kecintaannyaa, rasa hormatnya, kepada Grammar, Tata Bahasa.
“Amanda, pertanyaan kamu bagus sekali,“ aku memujinya supaya dia takkan merasa “kapok” untuk bertanya lagi. “Paired Conjungctions akan kakak jelaskan pada besok lusa, hari Selasa. Jadi, sabar, ya.”
Setelah aku bertanya lagi kepada murid-muridku tentang  pertanyaan yang akan mereka ajukan, dan ternyata tidak ada sesuatu yang ingin mereka tanyakan, aku melanjutkan proses belajar-mengajar.

III
PUKUL 19.10. Setelah sebelumnya aku memimpin mereka, dengan menjadi seorang imam, dalam menunaikan salat Magrib berjamaah, kini murid-murid perlahan mulai meninggalkan ruangan. Satu demi satu dari para orangtua yang akan menjemput anaknya tampak berdatangan. Lima belas menit kemudian, di teras taman samping gerbang, aku melihat seorang murid perempuanku duduk dengan menopang dagu, menghadap ke jalanan. Menandakan pupusnya harapan—maksudku terlambatnya jemputan yang ia nantikan. Itu Kathrin Mulyawati. Dia merupakan seorang kutu buku, setidaknya itulah yang kutahu. Perempuan itu berperawakan sedang, dengan wajah berwarna sawo matang yang senantiasa bersih terawat. Sejak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, ia selalu mengenakan kacamata.
Malam itu dia mengenakan celana hitam panjang, dengan tubuh terbalut jaket biru tua, dan kacamata berbingkai garis-garis miring.
Dari kejauhan, seraya mengayunkan kaki untuk menghampirinya, aku melontarkan petanyaan, “Kathrin. Nunggu siapa?”
“Ibu, Kak,” jawabnya beranjak berdiri, “biasanya dia sudah menantiku di luar sebelum aku sempat menunggu.”
Aku berhenti di tempat parkir. “Bagaimana kalau biar Kakak antarkan pulang saja?”
“Benarkah? Boleh, boleh. Makasih, ya, Kak.”
Aku menghampiri Honda Grandku. Salah satu motor bebek yang, menurutku, paling irit di dunia. Segera setelah menghidupkan mesinnya, aku mengoper gigi transmisi ke angka satu, lalu melesat untuk menghampiri perempuan itu dan, ketika dia sudah duduk di jok belakang, memacunya dengan kecepatan rata-rata, memecah sunyinya jalan desa. Rumah muridku itu berada di desa Ngadiluwih, kira-kira berjarak lima kilometer dari tempat LBB.
Malam ini cuaca sangat cerah. Di balik latar belakang langit malam yang menampilkan bintang-bintang, sambil berkendara melewati rumah-rumah warga perdesaan, kami bisa melihat awan-awan kecil sedang berarak dengan santainya. Jauh melesat ke selatan, kami mendapati jalanan semakin sepi. Semakin sunyi. Kendati waktu masih menunjukkan tak lebih dari pukul dua puluh. Untuk mempercepat kepulangan Kathrin, karena mulai besok pagi dia harus berangkat ke sekolah seperti biasa, aku meminta izin padanya untuk menambah laju kendaraaan. Setelah dia mengangguk, barulah aku berani menambah kecepatan berkendara.
Enam puluh meter ke depan tiba-tiba aku melihat dua orang tengah berusaha menyetop motor kami. Mereka berusaha untuk menutupi jalan dengan membentangkan kedua lengan masing-masing.
Aku berhenti. Mengoper gigi transmisi ke angka satu lagi. Berdasarkan informasi yang telah kudengar dari teman-teman, di daerah yang tengah kulewati ini memang banyak preman-preman berkeliaran. Sebelum Kathrin sempat bertanya macam-macam, aku segera memacu motorku secepat mungkin ke arah mereka. Ternyata tekad mereka tidak mudah goyah begitu saja; kedua lengan mereka tetap saja terbentang. Namun demikian, teman-teman, tekadku ini juga tidak mudah goyah. Sekarang, jarak antara kami dan mereka hanyalah lima belas meter. Aku berusaha untuk mengamati wajah musuh-musuhku. Tak seperti dugaanku sebelumnya, ternyata mereka tidak menutupi wajah serta tubuh mereka baik dengan masker maupun jaket hitam.Yang berada di sebelah kiri adalah seorang berbadan kurus, tinggi, dengan hidung yang panjang dan mancung. Pandangan matanya sangat tajam seperti golok. Seolah seorang algojo berbadan kekar pun tak boleh melewati jalannya begitu saja. Sedangkan rekannya adalah seorang berwajah agak kecokelatan, seolah seluruh waktunya telah didedikasikan untuk mengembara, dengan tubuh pendek-kekar, dan kumis yang lebat bertengger di bawah hidungnya. Tak seperti orang yang pertama, pandangan matanya terlihat menyepelekan, seperti seorang bintang utama Film yang selalu menang di akhir.
Baiklah, teman-teman, setelah aku berhasil menginjak gigi transmisi ke angka empat, aku baru berani menerjang mereka, sambil tak henti-hentinya mulutku mengucapkan Basmallah.
Tiba-tiba, ketika jarak mereka dari penglihatanku hanya menyisakkan ruang sepanjang lima meter, dengan cepat mereka beringsut menjauh. Gangguan itu pun berhasil kami lewati dengan lancar. Ternyata Kathrin bukan seorang penakut. Itu kusadari ketika kami hendak menerjang preman-preman tadi; bahkan kedua tangan perempuan itu tetap berpegangan pada kedua besi panjang yang terpasang menjadi satu dengan jok belakang, dan bukannya merangkul tubuhku dari belakang. Dengan penuh bangga dan antusias, aku menyatakkan kemenanganku atas aksi heroikku tentang perlawanan tadi kepada Kathrin. Setelah mendapatkan beberapa pujian darinya, aku kembali melanjutkan perjalanan dalam kebisuan yang menentramkan.

Dari perempatan lampu merah Ngronggo, kami terus melaju ke selatan, ke arah Pabrik Gula Ngadirejo. Suasana jalanan seperti pada titik abu-abu, tampak ambigu; tidak ramai juga tidak sepi. Satu dua bus malam menyalip kami dengan kasarnya. Sopir bus memang seringkali ugal-ugalan dalam berkendara. Mengejar waktu dan setoran, mungkin demikianlah dalihnya. Di jalan raya, walhasil, bus-bus itu telah berhasil membuatku mengurangi kecepatan motorku. Dengan pelan aku terus berkendara di samping kiri jalan.
Teman-teman, kalian harus percaya dengan apa yang kusaksikan, saat aku menuturkan musibah yang menimpa kami selanjutnya ini. Kathrin selalu menggunakan tas samping untuk menyimpan buku-buku. Dari belakang, seorang pengendara sepeda motor hendak menyalipku. Sesaat motor yang dia kendarai itu bergeser ke kiri jalan, lalu kembali bergeser ke kanan seperti semula, membuntuti kami dengan jarak hanya satu meter. Secepat kilat pengendara itu menjangkau tas yang diselempangkan di pundak Kathrin, demikianlah penurut penglihatanku lewat kedua kaca spion di depan.
Kathrin meronta, “Copet, dia mau mengambil tasku, berhenti, pundakku, Kakak”
Sesaat aku bingung. Karena ayahku pernah berkali-kali secara tak sadar menyontohiku melalui segala tindakannya bagaimana cara menjadi problem-solver, maka aku berusaha berpikir sejernih mungkin. Jika aku menghentikan motorku, kemungkinan besar tubuh Kathrin akan jatuh terbawa oleh tas yang ditarik pengendara tadi. Maka, untuk menghindari kecelakaan, aku segera mengurangi lajuku. Dari samping kiri, tiba-tiba datang seorang pengendara motor Kawasaki KLX. Sementara tangan kanannya memegang handle gas, tangan kirinya mengacung-acungkan pisau lalu, secepat kilat, dia mengayunkan senjatanya ke arah cantelan tas. Di tangan seorang penjahat, tak membutuhkan waktu semenit untuk merobek cantelan yang setipis tas laptop itu. Kathrin meronta seperti terasa dibuat-buat.
Tetapi apa yang bisa kulakukan? Sedangkan musuh kami, mereka berdua itu, baru saja melaju ke selatan dengan gesitnya. Sekalipun begitu aku juga bukan orang yang gampang menyerah. Meski Honda Grand terbilang motor yang lambat, secepat mungkin aku memasukan gigi transmisi ke angka empat, lalu memutar handle gasnya dengan kecepatan melebihi rata-rata—kenekatan luar biasa.
“Kathrin, agak dekatkan telingamu ke depan, aku mau bicara,” seruku tegas, sambil mengurangi perlahan kecepatan.
Dia mendekatkan telinga kanannya ke arah helmku. Mulutnya menjauhiku—menyamping ke arah kanan. “Iya, ada apa?”
“Apa saja isi dalam tasmu?”
“Buku penting dan uang delapan puluh ribu,” teriaknya. “Kita harus bisa mendapatkannya.”
Aku berteriak. “Ikhlaskan semuanya saja, dan kita pulang, gimana?”
“Apa? Ucapkan sekali lagi, aku tidak kedengeran.”
“Ikhlaskan semuanya saja, dan kita pulang, gimana, Kaaathrin?”
“Kakak, itu buku langka dan penting, hadiah dariku untuk ulang tahun Ibuku,”
“Biar kakak belikan,”
“Itu langka, buku Impor, stok tinggal satu di toko buku online,”
“Biar kakak carikan,”
Kesabarannya mulai habis. “Kakak, aku mau membayar kakak berapa pun, asalkan buku itu ketemu.”

Baiklah, teman-teman, berhadapan dengan perempuan itu, aku mengaku kalah. Maksudku, aku mengalah saja. Di kejauhan, lampu lalu lintas Ngadiluwih menyala merah—musuh kami sudah melesat melewatinya. Selagi jalanan mulai sepi, aku mendapatkan kesempatan untuk menerobos lampu yang menyala merah itu—aku tidak menyarankan kalian untuk mencontoh perbuatanku. Tiba-tiba musuh kami berbelok ke kiri, seperti berusaha mengecoh. Aku mengikutinya. Melewati jalan desa yang sepi, laju kendaraan secara sadar segera kukurangi.
Mereka melesat ke timur, lalu, di antara jalan bercabang tiga, membelok dengan cepat ke utara. Aku terus mengikutinya. Apa yang menguntungkan baik bagi musuh kami maupun bagi kami sendiri adalah bahwa sepanjang jalan desa yang beraspal ini sama sekali tak dipasangi polisi tidur. Ketika kami berbelok ke arah Utara, mereka sudah tak kelihatan lagi. Meskipun kami baru saja kehilangan jejak mereka, aku terus melaju hingga mencapai lima ratus meter dari jalan bercabang utama. Naluri instingku yang terasah tajam membuatku berhenti ketika kami tiba di depan sebuah gang tepat di barat jalan. Jika seseorang menyusuri gang, aku kira, dia akan segera disambut tegalan yang lebat. Maksudku, sepanjang gang tersebut diapit oleh lebatnya tegalan. Segera setelah aku memarkirkan motor Grandku di balik tembok gardu yang rusak, perlahan kami berjalan menuju ke gang. Diam-diam kami berdua menyusuri tegalan tersebut. Dengan tangan kanan memegang tangan kiri perempuan itu, aku menyuruhnya untuk berhati-hati saat berjalan supaya dia senantiasa mewaspadai dan membuka segala kemungkinan—termasuk menginjak patahan ranting pohon sekalipun.
Teman-teman, mimpi apa yang telah kami alami semalam, setidaknya begitulah pikiran yang tebersit dalam benakku ketika kami mendengar suara tepuk tangan dari belakang.
Salah satu dari mereka berdua, preman berbadan kurus yang pandangannya setajam golok tadi, menyalakan senternya dan menyorotkannya ke arah kami. Sementara kami berusaha untuk bergerak mundur, rekannya  yang berbadan pendek dan kekar terus mendekati kami—sambil melulu menodongkan sebuah senjata. Sepucuk pistol. Entah jenis apa.

IV
TERAKHIR AKU MELIRIK Swiss Army yang sebelumnya telah menempel di pergelangan tangan kiriku, tepat sebelum menginjakkan kaki ke gudang ini, waktu  menunjukkan pukul 22.25. Sekarang, kami berada di sebuah gudang berukuran luas, dengan langit-langit yang tinggi, setelah sebelumnya kami digiring untuk memasuki sebuah rumah yang sederhana. Semua benda berharga milik kami telah raib; baik ponsel maupun jam tangan. Kami berdua diikat di dua kursi yang berbeda, tetapi berdekatan. Untungnya, mereka tidak menempeli lakban pada mulut kami. Dalam gudang itu sendiri terdapat macam-macam barang; lima buah tong besar bertebaran, tiga buah wajan penggorengan besar terletak di pojok dengan posisi berjajaran, beberapa sapu panjang untuk menyapu langit-langit bersandar di pojok kiri gudang.
Dengan penerangan lampu neon yang sangat terang, aku berpikir layaknya problem-solver, seperti kata Ayahku.
“Aku punya ide,” seruku pelan, sambil mendongakkan kepala.
Kathrin Mulyawati memandangku takjub. “Iya?”
“Aku akan menggelindingkan sebuah tong ke samping pintu.”
“Lalu?”
“Merubah posisinya jadi berdiri. Nah, nanti jam dua belas malam kamu harus membuat mereka terbangun. Dan ketika mereka membuka pintu, aku akan meloncat dan menyerang mereka.”
“Mereka akan dengan mudah melihatmu, lampu di atas terlalu terang.”
“Tepat sekali.”
“Maksudmu?”
“Jam dua belas malam nanti, kau harus berhasil bikin keonaran, yaitu menghancurkan ketiga lampu neon di atas itu dengan cepat menggunakan sapu panjang di pojok itu.”
“Kenapa harus jam dua belas malam?”
“Terlalu dini, kalau harus jam-jam segini.”
“Aku tidak mengerti.”
“Mungkin saja, jam dua belas nanti mereka akan tidur. Ingat, mungkin saja. Nah, ketika mereka bangun dari tidur yang singkat karena terpaksa, daya pikir dan daya tahan mereka setidaknya akan menurun saat berhadapan dengan kita. Biasanya, sih, kondisi badan seseorang memang begitu.”
“Sekarang gimana cara melepaskan tali-tali ini?”
“Mari kita pikirkan sekarang. Tapi kita lepaskan tali-tali itu nanti, sebab mereka bisa datang untuk menjenguk kita sewaktu-waktu, mengingat ini belum ada jam dua belas malam.”
Kami terdiam untuk beberapa menit. Kathrin menggoyang-goyangkan badannya. Berusaha melepaskan diri dari tali yang mengekang. Tiba-tiba kami melihat pintu depan terbuka. Katrin dan aku terdiam kembali sementara kedua penjahat itu menghampiri kami.
Seorang berbadan kurus, dengan tangan kiri yang disembunyikan di belakang tubuhnya, menghampiri perempuan itu.
“Buka mulutmu,” bentaknya.
Aku menimpal, “Jangan mau, Kathrin.”
Beberapa detik kemudian seorang berbadan kekar menghampiriku pelan-pelan dan melayangkan tamparan keras di pipi kananku dengan tangannya. Sambil menahan kesakitan luar biasa, aku memandangnya lekat-lekat. Dia mendekatiku. Rambutnya acak-acakan, matanya merah, kumisnya tebal, nafasnya berbau alkohol. Pandangan matanya memang tertuju padaku tetapi pikirannya seperti sedang mengambang entah ke mana.
“Kathrin,” seruku keras. “Jika kau membuka mulut, dia akan menyumbatkan buku pentingmu itu ke dalam mulutmu, atau yang lebih buruk lagi—“
Belum selesai aku mengucapkannya, tamparan keras yang kedua datang dan melayang di pipi kiriku. Lalu, sebuah pukulan keras darinya tiba-tiba terasa bersarang di perutku. Tetapi sudah barang tentu; bukan Leopold namanya kalau aku punya sifat gampang menyerah seperti itu.
“Bila kalian menginginkanku mati,” teriakku, “tak perlu kalian menyiksaku seperti seorang banci seperti ini. Kalian bisa melakukannya dengan gentle; keluarkan pistolmu, tembakkan ke kepala orang yang sedang berbicara ini. Atau bila kalian ingin menjadi penjahat yang lebih gentle, lepaskan aku, mari bertarung satu melawan satu di gudang ini. Dengan begitu, aku akan mati secara lebih terhormat jika Tuhan memang menghendaki nyawaku melayang.”

Seorang berbadan kekar dengan cepat mengeluarkan pistolnya dari saku, lalu mengokangnya, dan mendekatkannya di pelipis kananku. Teman-teman, seandainya Tuhan memang menghendaki kepergianku, aku harus bisa mengikhlaskan segalanya. Aku membayangkan Ibuku sedang menangis di rumah. Melihat nyawa anak laki-laki satu-satunya berada diujung tanduk. Aku membayangkan ayahku, yang bertugas di Majalengka, sedang bermimpi tentang kepergianku. Aku membayangkan Aprillia. Aprilia Dwi Permatasari, perempuan yang aku cintai selama ini, tengah mengalami kejadian aneh di rumah sakit. Mungkin saja tiba-tiba gelas ayahnya jatuh dan pecah.
“Hentikan, Jack, jangan dibunuh dulu,” suara itu menyadarkanku. Seorang berbadan kurus memandangku lekat-lekat. Setelah Jack menjauhkan pistolnya, pemilik hidung mancung itu mendekatiku, dan  meremas mulutku dengan keras. Tarikan wajahnya menakutkan, rahangnya berbentuk tirus, wajahnya berwarna putih kemerahan seperti babi. Dalam pada itu ponselnya berdering. Sebelum mereka pergi, dia membuka mulutku dengan paksa lalu menyumbatkan sebuah buku tebal ke dalamnya. Hingga akhirnya suara pintu yang dibanting pun memecah sunyinya malam.

V
AKU BERGULING-GULING. Sebelumnya, aku telah menyuruh Kathrin untuk berdiam diri. Aku sudah tidak peduli lagi apakah mereka mendengar suara kursi yang bertabrakan dengan lantai atau tidak. Pada saat-saat seperti ini, ternyata setitik keberuntungan masih bisa memihak kami. Itu kusadari ketika kami mendapati kursi biru berbahan seng yang kami duduki ternyata tampak ringan untuk diangkat. Tali tambang biru itu, meski berukuran kecil, sangat kuat mencengkeram tubuhku. Aku terus berguling. Bahkan aku tidak sempat membaca apa judul buku yang tadi bersarang di mulutku. Buku itu, dengan sampul terbalik, jatuh di lantai. Ketika tali yang mengikat bahu kiriku agak melonggar, kudekatkan gigiku ke arahnya untuk melepaskannya. Karena masih terlalu sulit untuk dibuka, aku memutuskan untuk berguling kembali. Aku harus bisa menjadi seorang escapologist, batinku. Sambil terus berguling-guling, berkali-kali kugerak-gerakan baik kedua pergelangan tanganku maupun kedua pergelangan kakiku supaya tali-tali yang mengikat setidaknya bisa melonggar. Harapanku muncul kembali di permukaan. Tali tambang di lengan kiriku melonggar. Sekuat tenaga aku menggigitnya, lalu menghempaskannya ke arah kanan, hingga tubuhku ikut terbanting. Setelah tali yang mengikat kudua lenganku terlepas, aku menggesek-gesekan tali yang mengikat pergelangan tanganku, pada ujung bawah bagian tengah sandaran kursi. Aku terus menggesek-gesekannya—hingga aku merasa bosan sendiri melakukannya. Kucoba berbagai variasi untuk melepaskan talinya dengan menggerak-gerakan tangan sambil berguling-guling kembali. Sekarang aku tengah tengkurap di lantai. Buku penting milik Kathrin berada di dekat mulutku. Secepat mungkin kugigit ujungnya, lalu kubalik sampulnya. Sekarang aku bisa melihat buku apa yang dimaksud gadis itu. The Plant Lover’s Guide to Tulips karya Richard Wilford. Buku Impor!
Pada saat yang sama, aku merasakan ikatan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar.
Dengan cepat aku memutar-mutar pergelangan tanganku. Dan, akhirnya ikatannya berhasil terlepas. Setelah melepaskan ikatan di pergelangan kakiku, aku menghampiri Kathrin dan melepaskan semua simpul-simpul tali yang mengekangnya. Dia lalu mengambil buku kesayangannya itu. Tanpa berbasa-basi lagi, aku menghampiri tong kosong besar bertuliskan Pertamina di pojok dinding, lalu  mendorongnya ke samping, dan menggelindingkannya ke pintu. Kathrin mengambil sapu panjang dan memukulkannya ke arah lampu neon pertama. Neon pertama hancur dan mati. Tetapi mereka belum jua datang untuk menjenguk kami.
Lalu, tanpa berlama-lama lagi, dia memukul neon yang kedua. Kami terdiam untuk beberapa saat untuk mendengarkan. Di luar, kami mendengar suara deru knalpot motor mereka. Sesuatu yang menandakan bahwa mereka baru saja tiba dari bepergian. Entah dari mana. Beberapa menit kemudian, setelah kami mendengar langkah-langkah kaki yang berasal dari luar, aku segera meloncat ke atas tong dan, sedapat mungkin, Kathrin memukulkan sapu panjang ke lampu neon ketiga hingga pecah bertebaran. Kegelapan total menyelimuti kami. Begitu pintu depan terbuka, aku meloncat dan melayangkan tendangan ke arah pipi seorang berbadan pendek-kekar, si Jack. Sebuah pembalasan dendam dariku—tamparan-tamparannya tadi baru saja terbalaskan oleh tendangan kaki kananku. Aku lalu memukul perutnya dengan keras dan, untuk menyempurnakan perkelahianku, aku sematkan tendangan ke arah dadanya yang bidang. Dia jatuh terlentang. Kathrin menusukkan sapunya ke wajah pria bertubuh jangkung dengan  cepat, hingga pria itu jatuh di lantai. Kesempatan bagiku untuk menyerang datang; aku segera naik ke arah tong, dan, seperti di acara WWE Smackdown saja, aku meloncat ke arah perut pria terakhir itu. Injakanku menimbulkan jeritan dari musuhku yang takkan pernah kulupakan. Kami tak sempat untuk mengambil kembali barang-barang kami, kecuali sebuah buku impor tersebut; dengan cepat kami segera berlari ke arah motor Grandku. Setelah tanganku menjangkau stang motor, kebingungan kembali melandaku.
Kunci motorku, teman-teman, tidak tercantel lagi di pengait sabuk celana belakang.
Sesaat kemudian, di depan mataku, tiba-tiba aku melihat kehadiran sebuah tangan yang menyodorkan segerombol kunci dengan pengait berwarna biru itu.

VI
SENIN KEESOKAN HARINYA, aku menjalani aktivitas rutinku di kampus dengan kondisi badan yang kacau-balau. Rasa ngantuk menghantuiku, pegal linu menyerangku, konsentrasi yang menurun menghampiriku. Dini hari itu aku telah memulangkan Kathrin pada pukul satu. Aku menyarankan kepadanya supaya menceritakan kejadian yang sebenarnya ketika orangtuanya bertanya mengenai keterlamabatannya. Sepulang dari kampus, aku mengistirahatkan tubuhku sepenuhnya, hingga datang pesan dari Aprillia yang membangunkanku pada pukul tujuh belas lewat lima belas. Dia mengajakku untuk bertemu di sebuah kedai kecil dekat rumah sakit Baptis, Kediri, pada pukul sembilan belas lewat tiga puluh. Segera setelah menunaikan salat Isya berjamaah, aku pergi dengan Honda Grandku untuk menemui Aprilia, bintang hatiku itu. Malam ini aku mengenakan kaos Polo berwarna merah, dengan potongan lengan yang pendek dan ketat, sehingga dapat memperlihatkan kedua otot lenganku yang lumayan kekar. Cukuran rambutku masih sama; tipe Pompadeur, dengan aroma Gatsby yang harum, supaya terlihat keren di hadapan Aprilia. Baiklah, dia seumuran denganku—masih muda. Pengetahuan tentang bidang Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Matematika yang ditekuninya sangat mengagumkan, tak diragukan lagi. Malam itu dia mengenakan jilbab Pashmina berwarna ungu, dengan baju lengan panjang berwarna biru dongker. Ya ampun, dia tampak cantik sekali. Pakaiannya sangat indah dan elegan—sama sekali tidak membangkitkan hawa nafsu. Di bawah kedua matanya yang memancarkan kecerdasan, aku melihat kedua pipinya makin gemuk saja. Kami membicarakan banyak hal; dimulai dengan kondisi kesehatan ayahnya yang semakin hari semakin membaik, materi-materi yang akan kami ajarkan pada murid-murid, dan novel-novel bagus yang akan kami beli. Aku baru saja hendak memegang tangan kanannya ketika sebuah panggilan tiba-tiba berdering dari ponsel baruku. Ah, sebuah gangguan. Ternyata panggilan itu dari Kathrin. Dia menyuruhku untuk pergi ke rumah Pak Hartono. Sangat penting, katanya. Aku menceritakan apa yang baru saja kudengar lewat telepon itu pada Aprilia. Kami berdua segera berdiri. Lalu aku segera menghampiri motorku dan menyalakan mesinnya. Aprilia mengendarai Honda Beat-nya.
Waktu menunjukkan pukul dua puluh lewat lima ketika aku tiba di rumah Pak Hartono.
Begitu aku membuka pintu ruang tamu, pemandangan yang kami lihat sangat menakjubkan; salah satu dari kedua preman musuh kami, seorang berbadan pendek-kekar dengan kedua pipi yang memar bekas tendanganku, menodongkan sepucuk pistol pada Pak Hartono, istrinya, dan Kathrin. Seorang yang berbadan kurus tidak hadir di sini.
“Apa-apaan ini?” bentakku.
“Aku minta uang tebusan, ambil uangnya di laci kamar nomor dua si tua bangka itu, tapi kuncinya berada di bawah oven di dapur paling belakang. Begitu katanya. Sekali-kali kau berani bertindak macam-macam, akan aku habisi nyawa semua orang ini,”
“Berapa uangnya?” balasku.
“Lima juta,”
Pak Hartono agak ketakutan. Ternyata Anda, Singa itu, punya rasa takut juga, ya, Pak, batinku.
“Leopold, cepat ambilkan, aku sudah tidak tahan lagi,” teriak Pak Hartono.
Aku bergegas mengambil kunci di dapur lalu dengan cepat berlari ke arah laci. Uang berbungkus amplop cokelat cepat-cepat kukeluarkan dari laci.
Aku berjalan ke arah mereka. “Hanya ini yang kaucari, heh?”
“Ya, lemparkan di meja, dan kalian semua akan selamat.”
Aku membuka amplop itu. Uang-uang seratus ribuan berjajar rapi. “Yang benar saja. Di mana rekanmu yang jangkung itu?”
“Oh, kau masih mengingatnya? Aku telah membunuhnya. Setiap orang dekat yang mengenalku pasti akan aku khianati. Pandangan matamu kurang tajam, Anak Muda. Di dapur tadi ada orang yang sudah tak bernyawa tergeletak tepat di kanan kulkas.”
Aku tadi benar-benar tidak melihat mayat itu, tetapi dapat mencium aroma yang busuk.
“Aku juga bisa menjadi pengkhianat,” sahutku.
“Apa maksudmu?”
“Kita bisa menjadi teman. Lepaskan mereka lalu kita nikmati uang ini.”
“Kau belum pandai untuk jadi penipu.”
“Aku bisa belajar padamu.”
“Tetap saja, kau belum pandai untuk jadi penipu.”
“Bagaimana kau tahu?” Tanyaku, seraya melemparkan amplop berisi uang itu kepadanya.
“Kau benar-benar ingin menjadi rekanku?”
“Mereka semua adalah para saksi.”
Dia berhenti berbicara. Tepat ketika dia membuka amplop untuk melihat uang itu, sebutir peluru berhasil melumpuhkan kakinya. Sesaat kemudian, enam orang polisi menyerbu ruangan ini dan dengan cepat mengangkat preman itu ke dalam mobil polisi.
Teman-teman, aku, Leopold, telah belajar untuk selalu membuka setiap kemungkinan. Di balik suara Kathrin ketika dia meneleponku tadi, aku dapat mendengar nadanya menunjukkan ketakutan dan kegugupan yang berusaha ia tutup-tutupi. Maka aku menyuruh Aprilia untuk singgah ke Polsek. Untuk membawa-serta beberapa polisi bersenjata ke rumah Pak Hartono.

Keesokan harinya, tepat pada pukul dua puluh, Kathrin mengirimku sebuah pesan melalui WhatsApp, dengan sistem keamanan yang telah ter-enkripsi.

“Kakak Leopold, saya ingin mengucapkan rasa terima kasihku atas bantuan yang telah Anda berikan. Kakak telah menyelamatkan sebuah buku yang sangat berharga—mengingat Ibu saya adalah seorang pengoleksi berbagai macam bunga. Sebelumnya saya pernah berjanji untuk memberikan uang, berapa pun yang Anda inginkan, asalkan buku itu terselamatkan.
Ada satu hal yang tidak Anda ketahui, Kakak. Tadi pagi Ibu saya menanyakan tentang noda merah yang menempel di jaket, celana, dan sandal saya. Kakak masih ingat insiden yang menimpa saya ketika tas saya dirampas, kan? Seorang preman yang satunya datang tiba-tiba. Dia menusukkan pisaunya dengan cepat, sampai mengenai punggung tangan kiri saya. Darah bercucuran di jalan. Jadi, aku, sebagaimana saran Anda sebelumnya, telah mengatakan apa yang sebenarnya pada Ibu bahwa noda jaket merupakan noda darah yang pertama, noda celana adalah noda darah yang kedua, dan terakhir, noda sandal sebelah kiri adalah noda darah yang ketiga. Sebenarnya saya sangat merasa kesakitan, tetapi, maafkan, Kakak, muridmu ini tidak menceritakan tentang luka itu pada Anda seketika itu.”

Orang-orang mungkin menjuluki sebagai seorang pemberani. Tetapi, tentang surat yang telah ditulis Kathrin, sungguh, teman-teman, aku, Leopold, harus mengakui bahwa menitikan air mata saat membaca akhir dari suratnya itu bukanlah menandakan lemahnya jiwa seseorang, melainkan sebaliknya, kadang-kadang menunjukkan betapa kebalnya jiwa seseorang terhadap perasaan orang lain.


ARIF SYAHERTIAN
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR.
2016 HINGGA 30-04-2016

N.B: Cerpen ini selesai saya tulis pada tanggal 30 April 2016 dan pertama kali saya publikasikan di Inspirasi.co.

Jika kamu penasaran dengan surat yang pernah ditulis oleh Leopold untuk Sabrina, sahabatnya yang berada di Swiss itu, kamu bisa membacanya di tautan di bawah ini:
Perempuan yang Membenci Puisi / Bagaimana Kesempatan Menjadi Kegagalan (1)

  • view 273