MELANGKAH KE MEDAN PERANG

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
MELANGKAH KE MEDAN PERANG

Tak ada lagi tempat berteduh bagi kita yang telah saling menjauh. Kau tak lagi mendengarkanku bercerita. Aku tak lagi melihatmu tertawa.
Tak ada lagi pertemuan bagi kita yang telah lelah berjalan. Kau tak lagi melihatku bermain sepak bola di halaman sekolah. Aku tak lagi melihatmu berjalan dengan membawa mukena ke musholla.
Tak ada lagi diskusi-diskusi bagi kita untuk menghadirkan sebuah kontemplasi. Kau tak lagi melihatku cemberut. Aku tak lagi melihat keningmu berkerut.

Sekalipun begitu, sahabatku, semua kenangan?terutama tentang jalan yang telah kita lalui dan jejak yang pernah kita tinggalkan?masih tersimpan dengan baik dalam pikiranku. Aku berharap kau juga masih menyimpannya; tentang suaraku saat bernyanyi di depan kelas, tawaku saat menggodamu, tangisku saat kalah berkelahi, senyumku saat memandang seraut wajah yang malu-malu?itu semuanya yang telah mewarnai hari-hari seorang anak kecil yang dilanda cinta secara perlahan-lahan. Cinta yang tergesa-gesa merupakan faktor penghancur yang akan membawa pada penyesalan di kemudian hari.

Orang tak pernah menyangka, saudaraku, bahwa kemarin kau masih tegap berdiri, sedangkan hari ini kau baru saja terlempar ke dasar lembah paling dalam. Tuhan mungkin memberikan hidup yang fluktuatif supaya manusia bisa menghargai setiap keadaan; seperti saat kita sedang sakit, barangkali kita telah lupa untuk mensyukuri bahwa selama ini kita telah diberikan kesehatan, atau seperti saat kau benar-benar merasa kesepian, barangkali kau telah banyak menyia-nyiakan kehadiran seseorang. Hari ini harus diusahakan untuk bisa jadi lebih baik dari kemarin. Itulah harapan yang, seperti pernah kaukatakan di bangku sekolah dasar, akan kita gumamkan?perisai sekaligus pedoman kita dalam menjalani kehidupan.

Maka jadilah orang yang berani untuk bangkit, seperti seorang prajurit yang melangkah ke medan perang, seperti seorang petualang yang gemar memburu ular di hutan.
Kau harus ?cinta? pada bahaya karena medan perang itu sebuah tempat liar yang penuh godaan dan rintangan.
Kau harus peka pada setiap suara karena medan perang itu sebuah tempat di mana keberanian diuji ketika ?hantu-hantu? benar-benar datang.
Kau harus berhenti melamun karena musuh-musuhmu itu bisa lebih cepat masuk ke area pertahananmu.

Seutas tali, sebagaimana sebuah pertemanan, dijalin bukan untuk diuraikan, disambung bukan untuk diputuskan. Maka, setidaknya, jadilah orang yang seimbang; bila kau lekas marah, kau mestinya juga lekas memaafkan. Dendam dan prasangka buruk adalah?dan bila keduanya senantiasa dipelihara?faktor-faktor perusak yang pelan-pelan akan menggerogoti keutuhan jiwa.

Sudah saatnya kau mulai untuk membuka lembaran baru?berhenti menyesali apa yang telah berlalu?dan memanjat tebing dengan keberanian hingga bisa keluar dari lembah penyesalan itu.


Arif Syahertian
22-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.

?

The photo was taken from Linkin Park's Until It's Gone (Official Lyric Video).

  • view 132