MENGHILANGNYA SEPEDA IVAN ARRDIAMAN - EXPLOIT OF MALCOLM & BRIAN

Arif Syahertian
Karya Arif Syahertian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 April 2016
MENGHILANGNYA SEPEDA IVAN ARRDIAMAN - EXPLOIT OF MALCOLM & BRIAN

CATATAN PENDAMPING:
Pada mulanya sahabat dekatku, Malcolm Pamungkas, melarangku untuk membagikan cerita ini kepada publik. Salah satu alasannya adalah bahwa cerita ini sangat menyangkut percekcokan yang telah dialami oleh tetangga kami. Memang Malcolm memuji gaya bahasaku, tetapi dia juga mengkritik habis-habisan cara penulisanku yang lebih mirip dr. Watson itu. Aku mendebatnya dengan mengatakan bahwa sebenarnya aku ingin membuat sebuah tulisan semacam Tribute to dr. Watson dan Sherlock. Suatu hari dia mendatangiku dan mengatakan bahwa dia memperbolehkanku membagikannya, tetapi dengan dua syarat. Pertama, semua nama orang yang terlibat harus disamarkan. Kedua, boleh diterbitkan bila tetangga kami sudah pindah rumah atau salah satu dari mereka sudah meninggal dunia. Aku tidak suka dengan cara berpikirnya; dia menyegel naskah ini lalu memasukannya ke dalam sebuah lemari besi dan menguncinya. Enam tahun naskah itu tersegel sejak tahun 2009, aku jadi tak punya niat lagi untuk membagikannya.
Namun demikian, kelakuan anehnya tersebut justru makin menambah rasa kagumku padanya—bukannya menimbulkan kebencian yang membara. Mungkin, ini akan jadi lebih terkesan dan penuh kenangan seandainya kamu menyimpan karya tulis yang telah selesai kamu tuliskan hari ini di tempat yang aman, sebelum akhirnya kamu bisa membacanya kembali serta mempublikasikannya di tahun-tahun yang akan datang.
Baru kemarin, tanpa pernah aku duga sebelumnya, tetangga kami itu memutuskan untuk berpindah rumah, sebab rumah yang telah mereka tempati selama ini sebenarnya bukan rumah miliknya, melainkan rumah peninggalan orangtuanya—yang pada akhirnya dijual oleh semua anak-anaknya, supaya warisan itu dapat segera dicairkan jadi uang.
Malam itu pukul dua puluh tiga lewat lima, di penghujung tahun 2014; ketika aku hendak minta diri, tiba-tiba Malcolm menarik lenganku dan mengajakku masuk ke kamarnya.
Aku masih bisa mengingat dengan jelas menit-menit itu; ketika jari-jarinya yang gemuk mucuk eri mengambil sebuah kunci perak mengilap dari atas lemari. Sambil mengedarkan pandangan humoris padaku, dia menimbang-nimbang kunci itu. Hingga kemudian, sebuah bunyi klik yang pelan memecah keheningan malam.
Pada akhirnya, seperti tokoh Hasan saja dalam Atheis karya Achdiat K. Miharja, biarlah aku membagikan Dichtung und Wahrheit ini kepada pembaca.

A SHORT STORY TRIBUTE TO DR. WATSON AND SHERLOCK HOLMES

I
SEJAK LULUS DARI SEKOLAH MENENGAH KE ATAS, aku merasa kesulitan mencari pekerjaan. Salah satu penyebab utama atas terciptanya kesulitan-kesulitan adalah tuntutan berlebihan yang dikehendaki perusahaan; termasuk pengumpulan dokumen-dokumen yang tak relevan, bekerja di bawah tekanan, jam kerja yang tak keruan. Maka aku mengalihkan perhatianku dengan lebih giat lagi membantu Bibi mengurus pekerjaan rumah; merawat kebun, memberi makan ayam-ayam, memperbaiki atap yang bocor, atau membersihkan ruang-ruang di kawasan rumah.
Di suatu sore yang mendung lagi menakutkan, aku pergi mengunjungi sahabatku untuk menyinggung kembali masalah pekerjaan. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumahku.
"Brian," katanya begitu aku tiba, dan seteleh memalingkan seluruh tubuhnya yang gemuk padaku. "Apakah tujuan kedatanganmu ini untuk bertanya tentang pekerjaan?"
Aku terlonjak. "Malcolm, bagaimana kau tahu?"
"Aku tak pernah repot-repot mengurusi kehidupan orang lain." katanya. "Aku ingin senantiasa berpikir, memaksimalkan otak ini untuk mengamati—sampai ke hal-hal yang terkecil. Kemarin kau menulis status di Facebook dengan bahasa Wales, Roeddwn i eisiau dod o hyd i swydd. Aku menyalin dan menempelkannya di Google Translate. Tapi kau menghapusnya sejak mengetahui statusmu tak ada yang menyukai. Seakan-akan kau menulis bukan berdasarkan keputusan terbaikmu, melainkan berdasarkan banyak-sedikitnya orang yang menyukainya"
Kuakui kata-katanya yang terakhir agak menyinggungku, tetapi aku segera mengabaikannya dengan bertanya. "Ya, ya. Kau mengingatkanku pada Sherlock saja. Adakah fakta lain?"
Dia berpikir. Lehernya yang kekar dan pendek menunjukkan kekuatannya dalam menopang segala beban kehidupan. Tubuhnya yang gemuk memancarkan aura keindahan; membuat orang yang memandangnya merasa senang.
"Aku akan mencoba mengungkapkan fakta-fakta tentangmu. Kamu tampaknya masih labil. Itu terlihat dari rambutmu yang hampir kaupangkas habis, tapi masih kausisakan sepanjang dua senti supaya mirip dengan rambut penyanyi favoritmu, Chester Bennington. Payungmu menunjukkan bahwa kau tipe orang yang selalu membuka setiap kemungkinan terhadap cuaca. Kau mungkin ceroboh saat mengisi tinta pada spidol. Lihat, di jari telunjuk kirimu terdapat noda merah tinta Snowman."
"Ah, kau membuatku kagum, Malcolm."
Ia tak begitu mengindahkan pujianku. Jelas ini disebabkan oleh ketukan-ketukan yang memanggil dari pintu depan.
Tak lama kemudian, kami sudah duduk di kursi ruang tamu bersama salah satu tetanggaku; seorang wanita berumur empat puluhan, Bu Harnanik. Meski dia sedang dikuasai amarah, ia tetap terlihat cantik dan, dengan balutan daster biru panjang bermotif bunga-bunga kecil, begitu muda.
“Ramos memang suami yang nggak tahu diri,” serunya dengan meledak-ledak. “Belakangan ini, dia tak begitu peduli dengan biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia juga tak mau mengantarkanku ke pasar. Yang ia pikirkan hanya keinginan. Kemarin ia membelikan Ivan sepeda baru, Polygon Leisure Monarch 4.0 Grey. Sedangkan ia tak peduli dengan kebutuhan dapur yang habis. Apa kami disuruh makan sepeda!”
“Silakan minum dulu, Bu,” kataku berusaha menenangkan.
Segera setelah menghisap teh kotaknya, Bu Harnanik bercerita kembali.
“Bayangkan,” katanya. “Dia marah-marah tak jelas begitu mengetahuiku mempunyai hutang pada tetangga. Padahal aku hanya meminjam uang untuk mencukupi kebutuhan. Sejak itu, ia jadi sering menamparku pakai sandal.”
Ia terisak. Ditutupinya wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Malcom batuk-batuk kecil.
“Ibu,” katanya. “Anda telah diperlakukan dengan kasar sekali. Kami akan berusaha membantu Anda menyelesaikan masalah ini.”

Dalam pada itu, di kejauhan, aku melihat Ramos yang berperawakan tegap berjalan dengan cepat menuju rumah ini. Sementara Malcolm meminta Bu Harnanik untuk bersembunyi di kamar belakang, aku berlari ke depan untuk mengambil sandalnya.
Suaminya datang dengan bentakan-bentakan yang mengganggu gendang telinga; seperti preman yang meminta uang, seperti seorang tentara yang memberi aba-aba.
“Malcolm, ke mana istriku? Aku melihatnya pergi ke sini. Katakan, atau akan kupukul kau!” serunya dengan ledakan yang pasti akan menyiutkan nyali orang yang mendengarnya.
Ia berdiri berkacak pinggang. Matanya yang merah menyapu apa saja di seluruh ruang tamu; buku-buku yang berserakan di atas meja, sekotak kartu remi Royal yang tergeletak di atas lengan kursi, foto-foto keluarga, beberapa wayang kulit yang dipajang di dinding.
Dengan ketegasan luar biasa, Malcolm membalas perkataannya yang kasar.
“Silakan! Bila kau menemukannya, kau boleh memukulku. Tapi bila tak ada, aku akan memukulmu. Bagaimana, heh!”
Keberaniannya bagai seorang ksatria sejati. Meski kebohongannya sempat menimbulkan ketakutan padaku, tapi sama sekali tak menimbulkan kecurigaan pada Ramos. Dalam pada itu hujan turun secara mendadak. Hujan lebat beserta kilat dan guntur “mematikan” aktivitas penduduk. Hujan yang lebat meminta perhatian; kilat dan guntur seakan menbalas bentakan mereka yang perangainya diwarnai oleh kekejaman. Ramos lalu beringsut pergi sambil tak henti-hentinya berbicara sendiri.
Kemudian kami menjenguk tamu kami yang menelungkup di bawah tempat tidur. Tiba-tiba Bibi meneleponku. Jelas ini pertanda bahwa aku harus segera pulang. Aku tak menjawab panggilannya sebab hujan deras yang memukul-mukul atap sangat tidak memungkinkan bagi kami untuk saling bicara. Aku lalu minta diri. Ketika itulah, aku benar-benar memikirkan ayam-ayamku yang menggigil kedinginan.

II
KEESOKAN HARINYA, setelah menyelesaikan sebagian pekerjaanku, aku menghadiahi diriku dengan bersantai sambil merokok di atas kursi panjang. Cahaya senja yang keemasan menimpa rerumputan dan kolam ikan. Awan-awan besar berarak seperti bongkahan makhluk raksasa. Dengan ramah dan sepoi, angin meniup-niup kalender yang terpasang di sudut dinding taman.
Kejadian yang telah dialami tetanggaku kemarin belum kuceritakan pada Bibi. Bila aku melakukannya, tentu saja berbagai gunjingan akan menyebar ke seluruh desa.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Bibi datang memberitahuku bahwa sepeda baru milik anak Pak Ramos hilang. Mula-mula aku tak mempercayainya, tapi tetangga-tetangga dekat kami banyak yang membicarakan musibah tersebut. Menurut desas-desus, Ivan mendapati sepedanya hilang saat ia hendak berangkat sekolah, tapi bocah yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar ini tetap pergi ke sekolah. Ivan, seperti bocah periang lainnya, pasti tak ingin melewatkan momen keceriaannya di sekolah hanya karena kehilangan sepeda.
Segera sehabis salat Isya, aku berkunjung ke rumah sahabatku.
Malcolm Pamungkas menyambutku dengan ramah seperti biasa. Ia juga membenarkan apa yang telah dikatakan Bibi tadi. Pihak keluarga tak mau melaporkan musibah ini pada pihak berwajib. Ditinjau dari dampak positif yang ditimbulkan atasnya, sesungguhnya banyak pelajaran yang bisa dipetik; seluruh warga jadi lebih waspada dalam menjalani kehidupan, gerak-gerik orang asing jadi lebih diperhatikan, kini setiap sepeda selalu dalam keadaan terkunci saat sedang tidak digunakan.

Kami merokok di teras sambil menikmati kopi. Malcolm memang orang yang menyenankan untuk diajak bicara. Itu sebabnya topik yang kami bicarakan selalu melompat-lompat dengan cepat. Dari wayang kulit, Islam, Teologi, buku-buku detektif, psikologi, olahraga, hingga ke musibah ini. Masalah pekerjaan memang kuungkit kembali, tetapi jawaban yang kudapatkan tak begitu memuaskan. Tiba-tiba, dari teras, aku melihat Ramos sedang menaiki motornya. Malcolm bergegas meminum kopinya sampai habis dan aku mengikutinya. Kutawarkan diri untuk mengambil sepeda Turonggonya, tapi ia menolaknya dengan ramah.
Setiap kali kami hendak pergi bersama, akulah yang selalu mengeluarkan sepedanya dari gudang. Aku segera melompat ke sadel belakang ketika ia sudah menaiki sepeda tua itu.

Sepanjang perjalanan, ia berdiam diri. Pada saat-saat seperti itu, ia mengingatkanku pada Joe dalam film American Ninja. Kami agak kesulitan mengejar Ramos. Sebab sebuah truk besar yang membalik arah sempat mengganggu jalannya lalu lintas. Maka Malcolm mengayuh sepedanya lebih cepat lagi, bagai polisi mengejar pencuri. Kami melewati Pengadilan Kauman, Gor Lembu Peteng, lalu ia membelok ke selatan melewati sungai Ngrowo yang memanjang. Aku melirik arlojiku. Waktu menunjukkan pukul sebelas. Deretan rumah di barat jalan sudah mulai sepi. Kami telah melaju jauh ke selatan, dua kilometer dari jembatan Lembu Peteng, sewaktu Malcolm mengerem sepedanya dengan mendadak. Naluri alamiah membuat kakiku mengerem dengan sendirinya, sehingga debu jalanan tampak bertebaran—bermandikan cahaya lampu neon di pinggir jalan.
Segera setelah temanku menyandarkan sepedanya pada pohon Mangga dekat gardu, kami mengawasi warung kopi yang dimasuki Ramos tadi. Tiga puluh menit terasa sangat lama dan berlalu tanpa menghasilkan apa-apa. Tetapi kemudian, suara teriakan dan pecahan gelas yang bersumber dari warung menarik perhatian kami yang sedang merokok. Kami melihat Ramos sedang menunjuk-nunjuk teman-temannya. Beberapa menit kemudian, ia beranjak pergi, memacu motor Vixionnya dengan kecepatan luar biasa.

III
KEMARAHAN SERINGKALI MENURUNKAN daya pikir seseorang. Segalanya tampak merah; mungkin itulah yang dirasakan Ramos malam lalu. Kini ia hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit. Menurut penjelasan bibiku yang serbatahu, Ramos bertabrakan dengan seorang pengendara motor Ninja. Malcolm dan aku membicarakan musibah ini di teras seperti biasa. Tiba-tiba Ivan Arrdiaman datang menghampiri kami. Wajahnya berbentuk bulat dan bersih terawat. Kami segera menyambutnya dengan ucapan bela sungkawa.
"Kak Malcolm, bolehkah aku bercerita?" tanya bocah itu.
"Sangat boleh, Adikku. Silakan duduk di kursi sebelah sini," jawab temanku.
"Ayah selalu baik padaku, tapi belakangan ini dia sering berbicara kasar pada ibu. Minggu lalu, setelah ayah mengetahuiku mendapat rangking satu, ia membelikanku sepeda baru. Kemarin lusa, aku mencuci sepedaku. Aku lalu melepaskan dua buah grip dari stang sepeda. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui ada amplop di dalam stang sepeda bagian kiri. Amplop itu ternyata berisi sebuah surat yang ditulis oleh seorang wanita dan ditujukan kepada ayah. Isinya adalah curahan perasaan cintanya pada ayah. Sejak itu, aku jadi benci pada ayah, tapi aku tak berani menceritakan penemuanku pada ibu. Keesokan paginya, kami sekeluarga mendapati sepeda itu hilang. Ayah langsung marah-marah, lebih ganas dari biasanya. Akhirnya, kumasukkan surat ke dalam amplop lagi. Kurekatkan kembali dengan lem agar tidak mencurigakan. Sekarang, aku tak tahu harus diapakan surat itu."
Malcom mendengarkannya dengan serius.
"Simpanlah surat itu, nak," katanya pada akhirnya. "Baiklah, kami berdua akan berusaha mencari sepeda itu dan—"
"Tetapi—" kataku.
"Jangan memotong, Bri. Dan, adikku, bila kami berhasil menemukannya, aku akan menghubungimu. Ingat, begitu sepeda sudah ketemu, segera masukanlah amplop itu kembali ke dalam stang. Mengerti, nak?"
Ivan mendengarkannya dengan dahi berkerut.
"Aku, Ivan si bocah rangking satu, selalu mengerti," jawabnya dengan ketegasan a la tentara.
Begitu bocah itu pergi, aku bertanya pada temanku tentang misi untuk menemukan sepeda. Dan, lagi-lagi, jawabannya tak begitu memuaskan.

IV
SUDAH DUA HARI MALCOLM TAK MEMBERIKU perkembangan baru. Malam itu, saat aku sedang membaca buku, tiba-tiba Malcolm meneleponku.
Aku lalu datang ke rumahnya. Dan, betapa terkejutnya ketika aku melihat sepeda milik Ivan berada di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Ivan datang dengan air muka bahagia.
Dia segera mengelus-elus sepedanya, lalu melepaskan sebuah grip bagian kiri.
Dengan hati-hati, dimasukannya sepucuk amplop ke dalam stang.
“Di mana kakak menemukannya?” tanyanya heran, sambil memasang gripnya kembali.
“di Mojosari, nak. Pencurinya sangat menyesal dan mengakui kesalahannya. Karena itulah aku tak bisa menyebutkan namanya.”
“Itu tidak jadi apa. Terima kasih, ya, kakak-kakak.”
Aku membalas ucapannya. Malcolm mengelus rambutnya.
“Sama-sama,” katanya. “Lebih baik pulanglah, lalu beritahulah ayahmu kabar ini. Aku yakin sekali dia akan segera sembuh.”
“Aku akan selalu mengingat kebaikan kalian. Oh, dan aku akan selalu mengingat rambut kakak Malcolm yang selalu basah dan klimis itu. Terima kasih.”
Kami bertiga tertawa.
“Malcolm, apa-apan ini, di mana kau menemukannya?” tanyaku bersungguh.
“Rasa penasaranmu,” katanya sambil menyulut rokok, “benar-benar memberontakku. Baiklah, teman. Selama ini, aku telah mengambil sepeda itu, lalu menyembunyikannya di gudang.”
“Kau gila, Malcolm, gila,” sahutku tak percaya.
“Seruputlah kopimu dulu. Aku akan menjelaskan semuanya. Senin itu, setelah Ramos meninggalkan rumahku, hujan deras turun. Lalu, kau beranjak pulang. Kau belum mendengarkan sebagian cerita Bu Harnanik. Dia berkata suaminya suka pamer. Setelah membelikan sepeda anaknya, Ramos berkata pada anaknya bahwa besok ia akan pergi ke kantor dengan bersepeda. Kurang lebih, begitulah ceritanya. Maka, aku menyusun rencanaku sendiri. Sehabis Magrib, aku mendapati rumah Bu Harnanik tampak lengang, sedangkan sepeda itu berada di taman depan. Alon-alon aku berjalan menghampiri sepeda itu. Setelah mendapatkannya, aku segera menaikinya, dan memasukannya ke gudang. Itu sebabnya, saat kau berkeras ingin mengambil sepeda Turonggoku di gudang, aku menolaknya. Rasa sesal sempat menghampiriku untuk beberapa saat. Tapi tidak. Betapapun anehnya, aku harus selalu menyukai keputusanku, keputusan terbaikku. Tentang amplop dalam stang, aku sama sekali tak mengetahuinya.”
“Maaf,” potongku. “Aku tak mengerti jalan pikiranmu. Apa rencanamu setelah mendapatkan sepeda itu?”
“Rencanaku selanjutnya sebenarnya mudah. Bila selama seminggu perangai Ramos mengalami perubahan, aku akan menyusun rencana lagi. Bila tak ada apa-apa, aku akan mengembalikan sepeda itu.”
“Semua sudah jelas. Lalu apa manfaat yang kauperoleh dari semua itu?” tanyaku mengintoregasi.
“Aku, lebih tepatnya kita, telah melepaskan Ramos dari perselingkuhan dan menjauhkan sebuah keluarga dari perceraian. Aku yakin, setelah kejadian ini, Ramos akan membakar amplop itu dan lebih menyanyangi istrinya lagi.”
“Wah, rencanamu benar-benar luar biasa,” kataku menepuk bahunya. “Mulai sekarang, aku akan belajar untuk selalu menyukai keputusanku. Bahkan aku takkan lagi menghapus statusku hanya karena tak ada yang menyukainya.”
“Seharusnya begitu. Brian, besok jam sepuluh pagi akan ada bursa lowongan pekerjaan di Tulungagung, aku harap kamu mau menemaniku pergi ke sana.”
“Tentu saja, teman.”

Empat hari kemudian, di suatu pagi yang cerah, dari balik jendela kamarku, aku melihat Ramos membonceng istrinya dengan Vixionnya.
Mereka hendak pergi ke pasar, kata Bibiku yang serbatahu dari belakang punggungku.


A. SYAHERTIAN
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR.
2015 HINGGA 21-09-2015

Cerita petualangan Malcolm dan Brian lainnya juga bisa kamu baca di tautan di bawah ini:
PELARIAN SEORANG PENEMBAK - EXPLOIT OF MALCOLM & BRIAN

  • view 139

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    1 tahun yang lalu.
    Saat remaja saya suka membaca buku petualangan yg jagoannya adalah anak2 muda... 5 sekawan, 3 detektif _^
    Membaca cerita ini membuat saya kembali ke masa2 itu... seru...

    • Lihat 1 Respon