Tangisan Jamaah

Ahmad  Syafawi Fadly
Karya Ahmad  Syafawi Fadly Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 September 2017
Tangisan Jamaah

Tangisan Jama'ah

"Aaahh" kataku, bapak memukulku dengan sapu lidi setiap kali ku salah, terbata-bata atau terlupa akan huruf hijaiyah kala membaca [iqra].

Beberapa hari setelanya, aku tak lagi mau diajarkan bapak, sebab begitu kerasnya pendidikan beliau soal agama. Pernah suatu hari, aku hampir ditamparnya karna asik bermain sampai betul-betul tak lagi mengingat waktu sholat.

Kami saat itu bertiga, aku, dan kedua kakak kembarku. Bedanya, sejak awal sekolah dasar, keduanya masuk di Sekolah Islam [ baca : Madrasah Ibtidaiyah ]. Sedangkan aku, di sekolah dasar biasa yang tak terlalu fokus dengen pelajaran agama. Walaupun ada, tapi ya begitulah, seadanya. 

Tak banyak yang tahu dari teman sd, bahwa aku melanjutkan sekolahku di penjara suci, itu yang banyak orang katakan soal pondok. "penjara suci". Bagian ini tak harus aku ceritakan, sebab aku tak sedang menceritakan tentang diriku, tapi menceritakan kisah bapak. 

Singkat cerita, tibalah liburan yang pastinya banyak ditunggu oleh anak baru [aku termasuk didalamnya]. 

Sore itu terang, tak seperti biasanya, bapak yang sudah mulai jatuh sakit, seketika keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapih dan begitu bersih. "wii, yu ke mesjid" katanya tak banyak basa basi. Segera aku bergegas dan mengikutinya dari belakang, beliau selalu menyapa orang yang dilewatinya, terpancar senyum indah diwajahnya yang tak biasa. Wajah bapak terlihat agak pucat. 

Tibalah kami di Masjid Al-Ikhlas, masjid yang tak terlalu jauh dari rumah kami. "anak saya, dari pondok, lagi liburan sekarang". Katanya dengan bangga ketika bertemu dengan kawan-kawannya di masjid. Tibalah waktu adzan, aku tetap berada disamping bapak mengikuti apa yang beliau lakukan termasuk sholat sunnah qobliyah maghrib. 

"Wii, bapak maju dulu ya". Aku baru ingat, kalau bapak termasuk satu diantara imam masjid al ikhlas yang di tunjuk kala itu. "ia pak" kataku. 

"Allaahu Akbar... " Sholatpun dimulai, aku berada tepat di shaf pertama persis dibelakang bapak. Kisah ini tak akan pernah ku lupa. Bapak membaca al fatihah, lalu melanjutkan bacaan beliau dengan surat favoritnya - QS. At-Thooriq, dengan suara yang lantang dan merdu bapak seakan mengajakku untuk lebih dekat dengan-Nya, akupun merunduk. 

Sayup-sayup suara tangisan terdengar dari kanan dan kiriku. Aku tak kenal jelas selepas salam siapa yang tepat berada di kanan dan kiriku kala itu. Hari itu adalah hari, dimana bapak mengajarkan kepadaku tentang pesannya sebelum beliau wafat. Katanya selepas solat : "wi, bicaralah dari hati.. Agar sampai kedalam hati" sambil mengarahkan tangannya ke dadaku. 

Bersambung.. 

  • view 35