Bayangan Kehilangan

Astri Istyawati
Karya Astri Istyawati Kategori Renungan
dipublikasikan 16 Agustus 2016
Bayangan Kehilangan

Pada umumnya kehilangan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, kehilangan sanak keluarga, teman, sahabat, cinta, materi, pekerjaan atau bahkan harapan, dan juga kehilangan-kehilangan lainnya. Dalam benak saya kenapa harus diciptakan kehilangan apabila itu meyedihkan atau bahkan menyakitkan? dibalik pertanyaan yang saya buat sendiri ini diam-diam otak saya juga berputar untuk mencari jawabannya, Ya, menjawab sendiri dari pertanyaan sendiri. Mengapa diciptakan kehilangan? karena kita dididik dan diajari untuk menghormati ataupun menjaga sesuatu  hal apapun itu sebelum sesuatu itu menghilang.

Kehilangan itu terkadang memang berat, kadang harus dilewati dengan derai air mata atau luka hati yang tak kasat mata yang belum tentu sembuh dalam hitungan tahun. Beberapa bulan terakhir ini saya mengalami kehilangan terberat dalam hidup saya, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan kehilangan salah satu orang tercinta dalam hidup saya [Ayah] beliau pergi untuk selama-lamanya.

Kepergian beliau yang tiba-tiba membuat kami [Keluarga Besar] merasa begitu kehilangan. Ayah adalah laki-laki luar biasa, ia surga kedua setelah Ibu, dibahunya ada surga dimana setiap beban selalu ia pikul demi kebahagiaan keluarganya, dan surga kini telah menjadi rumahnya [Aamiin].

Seperti dedaunan yang hijau segar diranting yang kokoh, maka kita adalah sekumpulan manusia yang sadar dan saling menyadarkan, bahwa ada saat tertentu dikala hujan angin dan badai merobohkan kita. Sadar bahwa segala yang telah tergaris didunia ini adalah kehedak-Nya, begitu juga kehilangan tersebut, seperti janji dari kawan setia bahwa ada saat-saat kita mesti melepas satu-satu dedaunan itu hingga waktu merobohkan batang pohon, sehelai dua helai hingga helai terakhir sampai kita dipisahkan dan dipertemukan di kehidupan yang lain selanjutnya, dan membangun pohon yang lebih indah.

Dan kehilangan itu sudah pasti, layaknya perpisahan setelah pertemuan. Meskipun begitu kehilangan tak sepantasnya menjadi bayang-bayang menakutkan melainkan yang menghilang akan selalu abadi,  dan menjadikan memori terindah dalam hidup.

 

Fin/Ast

Yogyakarta, 16 Agustus 2016

  • view 260

  • Adiek Putri Pratiwi
    Adiek Putri Pratiwi
    1 tahun yang lalu.
    Tapi kehilangan sendiri mengajarkan begitu banyak pesan mbak, salah satunya adalah pengingat bahwa kita terlalu berlebihan menyimpan rasa 'memiliki'. Yang pada akhirnya ketika itu hilang kita menjadi sangat 'sakit', padahal toh sebenernya diri kita sendiri pun bukan milik kita. Semuanya di dunia ini adalah pemilik sang maha segala, Allah SWT. Oiya, mbak Astri nggak sendiri mengalami kejadian ini. Jadi tetap semangat! Hidup harus terus berlanjut!
    Itu sedikit opini dari saya (setelah mengalami beberapa 'kehilangan') semoga bisa dipahami dengan baik
    Salam kenal! )