Belajar Menghargai Pekerjaan

Ellysa Diniastri
Karya Ellysa Diniastri Kategori Motivasi
dipublikasikan 06 Maret 2016
Belajar Menghargai Pekerjaan

?

Masyarakat pada umumnya, memberi label tertentu pada profesi seseorang. Ada profesi yang selalu digadang menjadi cita-cita terbaik menurut mereka, seperti menjadi dokter, pengusaha, pilot, astronot atau tentara. Mungkin sebagian besar orang tua tidak ada yang mengajarkan kepada anak mereka ?Besok gede mau jadi apa?? jadi Sales, jadi Cleaner, jadi Pramuniaga, atau jadi Petani? Semua orang ingin memiliki cita-cita tinggi, profesi ?yang baik dan mulia, namun sering tidak menyadari, bahwa tidak semua mimpi itu bisa tergapai dengan mudah, tidak semua cita-cita tidak selalu bisa tercapai meski kita berusaha keras karena, Allah tau kita menjadi lebih baik di pekerjaan apa.

Pada awalnya, saya seperti kebanyakan orang, menganggap beberapa profesi tertentu sebagai sesuatu yang ?tidak layak menjadi profesi impian? tapi itu sebelum saya mengenal beberapa orang penting dalam hidup saya yang mengubah semua pandangan saya terhadap profesi seorang petugas kebersihan atau cleaner. Saya mengenalnya sebagai Bapak Jafarudin Abdullah, meski saya lebih suka menirukan panggian Ilo kepada beliau, Om Japay. Kedua, adalah Bapak Nur Cholis, yang sering saya panggil Pak Chol. Mereka berdua ini adalah orang-orang yang merubah pemikiran saya terhadap posisi cleaner di sebuah perusahaan cleaning service. Berkiprah selama hampir belasan tahun di bidang kebersihan, mereka bukan hanya menguasai teknik membersihkan, memahami jenis obat-obatan, tapi juga mengelola SDM agar memiliki semangat tinggi dan berbesar hati melakoni pekerjaan ini.

Saya menyadari, karena saya sering melihat, mendengar, dan menyimak cara mereka bekerja. Bersih-bersih bukan sekedar pekerjaan sepele, sebagaimana cara bersih-bersihnya ibu-ibu. Membersihkan kamar mandi bukan sekedar ?ngosek? menggunakan air dan sabun. Ya, kita ini awam, tidak paham apa-apa soal kebersihan, yang kita tahu hanyalah ?bersih itu tidak kotor?. Tapi cara membersihkan yang benar itu butuh ilmu, kalau salah memakai obat-obatan malah akan merusak material, kalo salah teknik bisa mengotori area lainnya, kalau tidak tahu cara mengaplikasikan obat-obatan dengan benar malah akan melukai diri sendiri. Anda pikir cleaning service itu sekedar pekerjaan nyapu, ngepel, buang sampah dan ngosek kamar mandi?

Oleh sebab itu, kadang terus terang saya emosi kalau ada orang yang nanya ke saya, ?berapa kalo saya mau membersihkan (general cleaning) kamar mandi? dan saya jawab ?250.000 rupiah per kamar mandi? dan dia terus jawab ?mahal amat!? langsung sudah hati saya geram. Apalagi kalo ditambah kalimat begini ?Alah kalo saya bayar orang paling cuma modal 50.000 rupiah sama obat udah selesai?, Nah yang begini ini pengen saya timpuk jerigen Go Getter 30 Liter.

Pertama, kalo Anda bayar orang 50.000 rupiah dan modal obat itu namanya NGOSEK KAMAR MANDI, bukan GENERAL CLEANING. Perusahaan kami sudah punya standard chemical yang digunakan sesuai jenis pekerjaannya kemudian kami membawa peralatan dengan standard kami. Kalo Anda bayar orang? mungkin Anda Cuma punya sikat lantai, sikat WC sama spons dan beberapa obat-obatan yang anda beli di supermarket bukan?

Kedua, kalo Anda bayar orang 50.000 dan (misalkan) anda pakai chemical yang sifatnya nggak netral alias keras seperti porstex, bisa menjamin orang itu malah nggak ngerusak lantai Anda? jaminan kalo dia tahu gimana cara pakainya, paham bahayanya ke dirinya sendiri?

Ketiga, ilmu membersihkan kamar mandi di perusahaan kami melalui training khusus yang dibimbing langsung oleh Supervisor dengan pengalaman 15 tahun di perusahaan cleaning internasional. Harga Rp 250.000 per kamar mandi itu sudah harga yang murah mengingat Anda tinggal duduk diam dan komentar kalau ada pekerjaan yang belum puas. Cleaner saya yang akan menyelesaikan.

Pernah suatu hari, saya melayani customer yang memperlakukan cleaner saya dengan seenaknya. Mereka sudah mengerjakan general cleaning kamar mandi perusahaannya (sekitar belasan kamar mandi kalau nggak salah), kemudian pada tahap checking si customer ini menyuruh cleaner saya untuk mengulangi lagi di semua bagian, kebetulan saat itu saya mendampingi. Alasannya karena kurang bersih padahal kenyataannya adalah satu, hanya bercak air ringan di tembok keramik pasca proses mengeringkan, kedua dia ingin noda-noda di keran airnya hilang (keran airnya rusak karena terkena bahan kimia). Akhirnya dengan berat hati saya katakan ?kalau ibu mau seperti semula, ganti aja keran airnya sama yang baru!? (sambil senyum-senyum sinis ngomongnya)

Belajarlah menghargai pekerjaan seseorang. Jangan hanya karena mereka cleaner, mereka bekerja susah payah membersihkan area Anda, kemudian Anda berharap properti Anda kembali kinclong seperti semula. Hei mereka itu Cleaner bukan Penyihir! Kalau mau sulapan panggil Deddy Corbuzier.

Mungkin OCM ini adalah sesuatu amanah dari Bapak saya dan juga hadiah Tuhan buat saya agar belajar bahwa disana, di sebelah kanan saya di sebelah kiri saya, ada orang-orang yang punya cita-cita tinggi dan terus berusaha menggapainya namun kembali lagi, Allah lebih tau dimana dia bisa menjadi lebih baik. Seperti saya yang bercita-cita menjadi chef lulusan Le Cordon Bleu Sydney akhirnya bergelut dengan dunia kebersihan yang sebenarnya bukan bidang saya. Tapi saya memiliki orang-orang hebat disamping saya yang membantu saya untuk belajar dari nol, terutama belajar menghargai pekerjaan seseorang.

?

?

  • view 398