Valentine Day : Sebuah Produk Bisnis dari Negeri Kapitalis

Ellysa Diniastri
Karya Ellysa Diniastri Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Februari 2016
Valentine Day : Sebuah Produk Bisnis dari Negeri Kapitalis

Majalah Donal Bebek tahun 1996 yang pertama kali mengenalkan saya kepada istilah Valentine dan perayaan hari kasih sayang. Setiap bulan Februari, majalah Donal selalu menerbitkan edisi spesial yaitu edisi Valentine. Cover majalah selalu dihiasi dengan gambar hati, berwarna pink dan selalu menampilkan?tokoh Donal dan Desi Bebek (kadang-kadang ada pihak ketiga yaitu si Untung Angsa, saingan Donal dalam memperebutkan Desi Bebek).?

Waktu berlalu, seorang anak berumur 8 tahun yang dahulu mengetahui hari valentine dari sebuah majalah anak-anak kemudian menjelma menjadi seorang gadis SMP yang mulai menyukai lawan jenisnya. Hampir semua anak di sekolah merayakan hari valentine dengan membeli coklat, bunga, atau hadiah untuk diberikan kepada pacarnya atau orang yang disukai. Kadang ketika ada seorang teman yang memberi hadiah kepada orang yang disukainya, teman-teman yang tahu pasti meledek, dan keduanya dijadikan bahan olok-olok. Selain itu hari valentine juga dimanfaatkan sebagai momen "nembak" atau menyatakan cinta kepada orang yang disukai oleh teman-teman saya. Sedangkan saya??Saya tidak pernah memberi, atau menerima hadiah valentine karena saya tidak punya pacar. Di sisi lain, saya ingin memberi sesuatu kepada orang yang saya suka, tapi saya takut diolok-olok seperti teman lainnya karena mereka bakal tau siapa orang yang saya suka. Hehe...

Hadiah valentine pertama yang pernah saya peroleh dari seseorang yang spesial terjadi di bulan Februari 2005. Mungkin itulah pertama kali dalam seumur hidup saya ada orang yang bersedia merayakan hari valentine yang tidak pernah saya anggap penting dalam kehidupan saya. Dia memberi saya satu tangkai bunga mawar dan coklat batangan. Ya hanya itu saja. Coklat dan bunga plus senyuman manis. Sebagai seorang ABG yang memandang cinta sebagai sesuatu yang dangkal, pemberian sesepele itu sangat berarti, apalagi bagi seorang wanita yang memang senang diperhatikan dan diberikan kejutan manis. Sepanjang sejarah hubungan saya dengan laki-laki itu, dia selalu memberi saya hadiah spesial?di hari valentine, meski saya jarang menganggap hari itu penting dan harus dirayakan. Tapi sebagai tanda terima kasih, saya juga memberikannya hadiah sederhana.

Sekitar 8 tahun terakhir, saat saya sedang menempuh studi di bangku kuliah, terpampanglah sebuah spanduk besar di kampus. Tertulis di spanduk itu bahwa umat islam tidak merayakan hari valentine. Hukumnya haram bagi seorang muslim yang merayakan hari valentine karena hari kasih sayang sering disalah artikan sebagai pelampiasan nafsu (maaf) birahi. Banyak orang membuktikan kasih sayang sebagai aktivitas haram antara dua orang yang belum menjadi muhrim. Mereka berciuman, bercumbu, bahkan berakhir dengan berhubungan intim seperti layaknya suami-istri. Koran lokal di kota saya juga sempat menayangkan berita di hari valentine banyak bertebaran kondom bekas di taman-taman kota.?

Rasulullah sallallahu alaihu wasallam bersabda barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka adalah salah satu hadist yang menjadi dasar mengapa kami umat muslim dilarang meniru dan melakukan perayaan valentine yang notabene adalah perayaan orang-orang di negara barat. Sehingga yang tertanam dalam otak saya adalah satu, valentine adalah sebuah perayaan yang meniru tradisi orang barat, kedua mudharat merayakan hari ini lebih besar daripada manfaatnya karena masyarakat yang menyimpangkan makna kasih sayang dengan perbuatan-perbuatan zina. Baiklah, sebagai orang yang tidak merayakan hari valentine lagi karena saat kuliah sedang jomblo, saya tidak terlalu ambil pusing dengan pro-kontra urusan hari valentine.

Beberapa sumber menyatakan?sejarah valentine menjadi beberapa?versi yaitu pertama perayaan hari raya Lupercalia yang dipersembahkan kepada dewa Lupercus (kesuburan) di jaman Romawi Kuno dan diperingati pada 15 Februari. Versi kedua dikaitkan dengan tiga martir atau santo yang menurut saya memiliki koneksi kurang jelas dengan perayaan hari kasih sayang. Kemudian cerita tentang sejarah valentine yang paling populer berhubungan dengan perayaan meninggalnya St. Valentine yang dibunuh pada tanggal 14 Februari 270 M.?

Dari sudut pandang pribadi saya, perayaan valentine, apapun itu sejarahnya, sumbernya dan pelakunya, di era moderen ini adalah perayaan yang dimanfaatkan manusia sebagai komoditas bisnis sebagaimana saya?ketahui bahwa negara kapitalis terbesar di dunia-lah ?yang ?pertama kali mencetak kartu Valentine pada tahun 1847. Semua pelaku bisnis akan mengusung tema "Valentine" sebagai pendongkrak penjualan. Pengusaha?coklat, bunga, kartu, mall-mall besar, kuliner, media dan semua akan mengangkat tema valentine untuk kepentingan bisnis mereka. Tidak ada yang merayakannya dengan khidmat selayaknya peringatan idul fitri bagi umat islam, perayaan nyepi bagi umat hindu, perayaan natal bagi umat nasrani.

Perayaan Valentine akan menjadi tema marketing yang jitu untuk beberapa bisnis. Seperti halnya di?Jepang, perayaan valentine di tanggal 14 Februari adalah perayaan dimana wanita memberi permen coklat kepada pria yang disukainya dan (lagi-lagi) akibat strategi marketing yang hebat, pada tanggal 14 Maret, pria yang diberi permen coklat akan membalas dengan memberi balasan di hari yang disebut sebagai "White Day". Bukankah perayaan white day tidak mengandung sejarah tentang seseorang atau suatu kaum di masa lalu? Lantas kenapa merayakan hari tanpa sejarah? Ya ujung-ujungnya adalah kepentingan bisnis untuk mengeruk pendapatan.

Akhirnya, saya pribadi memang tidak pernah menganggap hari Valentine adalah sebuah perayaan wajib dalam rutinitas bulan Februari saya. Namun, ada beberapa hal yang akan saya garis bawahi dari efek negatif perayaan Valentine. Pertama, hari Valentine hanya tema kasih sayang yang terselubung dalam kepentingan bisnis, jadi sekalipun masyarakat membeli coklat, bunga atau hadiah, anggap saja hadiah itu adalah simbol rasa terima kasih kepada orang yang kita cintai. Jangan kemudian dilanjutkan dengan melakukan hal-hal yang dilarang agama seperti berzina, atau check-in di hotel berdua dengan orang yang bukan muhrimnya. Memberi hadiah sebagai rasa terima kasih boleh saja kan? Tidak harus di bulan Februari tanggal 14 juga kan??

Kemudian yang kedua, ingat bahwa pemborosan adalah salah satu bujuk rayu setan. Jika Anda ingin membeli sesuatu untuk siapapun sebagai rasa kasih sayang dan terima kasih Anda kepadanya, belilah sesuatu yang wajar saja, tidak berlebihan. Standar kewajaran setiap orang memang berbeda-beda, tetapi paling tidak, jangan sampai memaksakan membeli sesuatu yang tidak kita mampu sampai-sampai harus berhutang hanya demi menyenangkan hati orang yang kita kasihi.

Sebetulnya cinta dan kasih sayang itu bisa diekspresikan?dengan cara yang lebih sederhana dan dilakukan tidak hanya di bulan Februari. Bunga, coklat, kartu ucapan dan hadiah hanyalah simbolis dari sesuatu yang "manis" untuk diberikan kepada orang terkasih. Padahal esensi cinta terletak pada hal tak berwujud yang ada di belakang sebuah pemberian. Perhatian, ketulusan, dan pengorbanan. Sehingga bukan hadiah-lah simbol dari kasih sayang, perhatian, ketulusan dan pengorbanan adalah makna dari tindakan mencinta-dicinta.

Hari Valentine hanyalah produk bisnis untuk mengelabui Anda. Bijaksanalah!

?

  • view 608