Cinta Yang Tidak Muluk-Muluk

Ellysa Diniastri
Karya Ellysa Diniastri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Februari 2016
Cinta Yang Tidak Muluk-Muluk

Saya mengenalnya sebagai Bapak Kamal, yang selalu membantu merawat mobil espas biru saya yang suka ngambek karena diajak bekerja keras mengangkut barang-barang berat, dan Ibu Kamal, wanita yang senyumnya mengembang apabila saya berkunjung ke rumahnya entah dalam rangka hanya berkunjung atau mengantarkan laundry.

Di sebuah rumah yang bersih dan rapi di daerah Betek, Malang, Bapak Kamal dan Ibu membangun rumah tangganya bersama 9 orang anak, 3 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Keluarga yang sederhana ini memiliki seorang kepala keluarga panutan yang mereka sebut sebagai Bapak. Ya, Bapak Kamal inilah yang berpuluh tahun bekerja untuk keluarga besarnya. Setahu saya, Bapak selalu narik angkot LDG setiap harinya. Dulu Bapak narik angkot milik orang lain dan sekarang alhamdulillah sudah punya angkot sendiri.

Keluarga ini punya sekelumit cerita, yang selalu saya simak dengan antusias. Saya memang tidak memainkan peran di dalam keluarga Bapak Kamal, hanya tahu sedikit, sedikit namun kesannya mendalam.

Kemarin, saya menjenguk Bapak yang sedang terbaring di Rumah Sakit daerah Dinoyo, Bapak dirawat karena paru-parunya bengkak. Seperti biasa, keluarga ini selalu menyapa saya dengan ramah. Keluarga ini adalah keluarga yang hangat, meski memiliki 9 anak, tetapi saling menyayangi dan rukun. Bahkan berbicara dengan orang tua menggunakan bahasa jawa kromo inggil, ah berbeda sekali dengan saya yang sering ?nglamak? sama ibuk.

Saya mengenal baik salah satu putra mereka dan menantunya, sehingga saya tidak canggung dengan keluarga Bapak. Di tengah-tengah kunjungan saya kesana, saya iseng membuka notifikasi BBM saya dan menemukan foto ini.

Dari sebagian diri saya yang melankolis, foto ini adalah foto yang sungguh romantis. Sehingga saya memasang status di FB saya dan menulis ini :

?Pembuktian cinta bukan menggandeng pasangan Anda di depan menara Eiffel. Pembuktian cinta adalah tidak melepas genggaman tangan pasangan Anda saat dia benar-benar membutuhkan kehadiran Anda?

Bapak dan Ibu Kamal adalah sebuah deskripsi cinta yang tidak muluk-muluk. Kenapa tidak muluk-muluk? karena seringkali kita ingin membahagiakan pasangan kita dengan hal-hal yang rumit, semisal suami yang ingin membelikan perhiasan atau baju-baju yang terbaik untuk istrinya, atau istri yang ingin memasakkan makanan yang terhebat buat suaminya. Rumit! Manusia jaman sekarang kebanyakan memiliki standar kebahagiaan yang terukur dari pola dia bersosialisasi.

Saya bertanya pada Ibu Kamal, ?Bu kalo malam apa Ibu gantian sama Pak Jafar jagain Bapak? (Maksudnya Ibu tidur di rumah dan Pak Jafar yang menggantikan jaga)

Ibu menjawab ?Nggak mbak, saya nggak tega, nanti kalau Bapak butuh apa-apa?

Mungkin bagi Bapak Kamal, kehadiran istrinya lebih penting dari siapapun yang merawat dan menjaganya. Bagi Ibu, tidak ada yang lebih penting saat ini daripada menjaga dan merawat suaminya yang sedang sakit.

Sejatinya, pasangan kita adalah orang yang kita pilih untuk hidup menua bersama kita. Salah satu cara membuktikan bahwa cinta kita benar-benar tulus kepadanya adalah kehadiran kita disaat dia benar-benar membutuhkan kita. Entah dia membutuhkan kita untuk melengkapi kebahagiaannya, atau untuk menghibur laranya.

?

Malang, 2 Februari 2016

Astri Afex

?

  • view 334