Mengkonfirmasi Vaksin Nilo

Ellysa Diniastri
Karya Ellysa Diniastri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Juni 2016
Mengkonfirmasi Vaksin Nilo

Sebagai seorang ibu yang pro vaksin, sejak anak lahir saya sudah sepakat dengan suami dan mendisiplinkan diri untuk melakukan imunisasi secara tepat waktu untuk anak saya. Masih melekat dalam benak saya sepulang dari rumah sakit bersalin, si suster di kamar bayi berpesan jangan lupa seminggu lagi imunisasi di dr. X (DSA yang menangani anak saya pas lahir, tapi karena nggak cocok sama performance dan sikapnya dia akhirnya saya dan suami memutuskan cari dokter lain aja). Saat itu di pikiran saya hanya terlintas 1 hal “kalo imunisasi perginya ke dokter spesialis anak”, ditambah lagi ibuk saya juga nggak pernah imunisasi ke selain DSA.

Dokter yang saya cocok untuk imunisasi anak saya ya hanya dr. Niluh (pertama kali ketemu di Persada Hospital dan kemudian lanjutnya di Husada Bunda). Sempet ganti dokter anak sekali karena kasus tongue tie anak saya ke dr. Y, tapi balik lagi ke dr. Niluh karena saya lebih senang berkomunikasi seputar perkembangan anak dengan beliau. dr. Y buat saya kurang ramah dan bersahabat, plus perawatnya galak dan kadang semena-mena sama pasien.

Belakangan ini isu vaksin palsu yang tersebar di kota-kota besar Indonesia sangat meresahkan banyak ibu-ibu, khususnya mereka yang melakukan imunisasi di rumah sakit swasta atau di dokter spesialis anak, termasuk saya. Sebetulnya, pernah saat itu Ibu ASI Nilo alias sahabat saya bilang kalo anaknya imunisasi di posyandu dan gratis, dan saat itu saya sudah tergiur karena kata-kata gratis. Gratis itu sangat menyenangkan buat seorang Ibu yang anaknya minum susu formula kala itu. Sempat berniat untuk beralih ke posyandu, tapi saya dilarang oleh ibuk dan mbah dengan alasan sudah biasa sama dr. Niluh. Suami saya menyarankan nanya aja deh bedanya apa yang gratis sama yang bayar. Akhirnya bertanyalah saya sama dr. Niluh dan dr. Y, dan katanya ada perbedaan kalo vaksin yang bayar (mahal) sama yang murah seperti di bidan atau puskesmas/posyandu (yang gratis). Dari kualitas sama efek samping setelahnya (suhu tubuh naik misalnya). Hampir-hampir sama sih jawaban keduanya. Kami menyimpulkan dari penjelasan itu adalah masalah kualitas. Oke akhirnya kami berdua selaku ayah-emeknya Nilo, memutuskan lanjut vaksin di DSA karena keinginan untuk “memberikan yang terbaik” untuk kesehatan anak apapun caranya asal duitnya halal. Hahaha…

Alhamdulillah sampai saat ini Ilo selalu vaksin tepat waktu dan lengkap.

Sampai akhirnya berita mengenai peredaran vaksin palsu tersebut terkuak dan kami (para ibu-ibu) jadi kebakaran jenggot. Apalagi ngeliat tersangka pengedar (yang beritanya tersebar viral), rumahnya bagus harganya 8,5 M. Seandainya itu orang dibawa ke alun-alun malang, pasti digebukin sama semua ibu-ibu yang ada (termasuk saya), terlepas anak saya jadi korban atau nggak.

Sudah 3 hari ini saya heri (heboh sendiri) di rumah perkara vaksin palsu ke suami saya, meski dia bilang tenang aja insya Allah asli kok vaksinnya ilo. Saya nggak puas dengan jawaban itu, kurang melegakan bagi seorang Ibu. Pagi ini saya putuskan pergi ke dokter Niluh untuk melakukan konfirmasi mengenai vaksin anak saya, sampai disana untuk beliaunya ada dan pas nggak ada pasien. Beberapa hal yang saya tanyakan mengenai vaksin anak saya terjawab sudah (meski saya nggak 100% lega), yaitu :

  1. RS Husada Bunda mengambil langsung vaksin dari distributor resmi, bukan dari marketing yang bekerja di distributor resmi tersebut. Jadi prosedurnya memesan di marketing, namun pengambilan vaksin melalui distributornya langsung. Mata rantai yang terputus penyebab peredaran vaksin palsu ini adalah pengambilan vaksin dari “oknum tertentu” yang memberikan harga lebih murah ke RS.
  2. Untuk vaksin tertentu seperti BCG, campak, RS husada bunda mengambil langsung dari dinas kesehatan jadi insya Allah terjamin mutunya.
  3. Ada beberapa efek pasca pemberian vaksin palsu yang bisa diidentifikasi, jadi menurut beliau karena Ilo gak ada keluhan setelah vaksin jadi insya Allah aman.

Tiga poin tersebut cukup melegakan (60%) buat saya, hanya saja saya masih ingin mencari info lebih dalam lagi karena dari sekian banyak deretan informasi jenis vaksin palsu yang diterbitkan oleh BPOM, banyak yang serupa dengan vaksin yang pernah diberikan untuk Nilo. Salah satunya Pediacel dan Engerix, dan yang nggak masuk daftar vaksin palsu BPOM cuma Synflorix dan Rotarix.

Memberikan vaksin memang bukan jaminan anak saya terbebas dari penyakit tersebut, jika Allah yang berkehendak seseorang menderita penyakit A, tidak ada yang bisa menghalangi penyakit itu menyerang hambanya yang akan diuji. Namun, berusaha meminimalisir dengan vaksin merupakan bentuk pencegahan, daripada suatu hari menyesal, menurut saya. Jadi, suatu hari, ketika saya punya anak lagi, saya akan lebih memilih imunisasi ke puskesmas daripada ke RS karena selain terjamin keasliannya (karena melalui prosedur pengadaan yang tepat) dan gratis gitu loh…hahahaha…

Namun kasus ini memberikan saya pelajaran : “Jaman sekarang kita nggak bisa percaya 99% dengan seseorang atau suatu instansi”.

Apapun atau siapapun itu…

Wallahu a’lam…

Dan Allah lebih tahu dan Maha Tahu

Gambar diunduh dari http://health.kompas.com/read/2016/06/27/103352623/kemenkes.7.alasan.tak.perlu.khawatir.vaksin.palsu?utm_campaign=related&utm_medium=bp&utm_source=bola&

 

  • view 207