Saya dan Nasihat Mario Teguh

Astri Bestari Ciptaningrum
Karya Astri Bestari Ciptaningrum Kategori Renungan
dipublikasikan 18 September 2016
Saya dan Nasihat Mario Teguh

Dulu saat saya belum direpotkan dengan urusan momong dan bersih-bersih, saya kerap sekali menyaksikan MTGW. Kurang lebih kepanjangannya Mario Teguh Golden Ways. Ada dua alasannya. Pertama, karena nasihat beliau ini sungguh luar biasa. Bahkan terkadang pas klop dengan yang saya alami. Kedua, supaya saya mendapatkan kesempatan menirukan kata 'Super' dengan huruf 'S' yang samar-samar terdengar menjadi 'Z'. Tak main-main, kata 'S(z)uper' ini berkali-kali diucapkan oleh beliau, host, dan seluruh penonton. Jika saya dibayar lima ribu rupiah setiap menirukan kata ajaib itu, niscaya selesai acara, dompet saya tebal.
Saya paling suka dengan nasihat beliau tentang Cinta. Sepertinya angin sejuk sepoi-sepoi menyentuh pipi saya. 
Ada beberapa yang saya ingat. Tentunya ini sebatas ingatan saya ya. 
Beliau menasihatkan untuk selalu setia kepada pasangan. Intinya, kalau doi tidak setia ya tinggalkan. Tidak perlu pikir panjang. Berlaku hukum yang sama antara pelaku pencurian kekasih dengan pelaku yang rela untuk dicuri. Mereka sama-sama berkhianat. 
Decak kagum dari saya. Setuju tingkat tinggi. Pasti disana juga ada ribuan orang yang habis kecopetan kekasih, lantas gagah bangun berdiri meneruskan hidup.
Lalu, beliau pernah menasihatkan. Pilihlah lelaki SPBU, namun bersedia menghebatkan dirinya dengan bekerja keras. Saya kembali manggut-manggut. Benar juga Bapak satu ini. 
Bagi yang belum tahu, pria SPBU ini identik dengan kata 'Kita mulai semuanya dari nol ya'.
Lalu saya mulai mendengar di sosial media. Banyak sekali yang berkata 'Hidup itu tidak semudah cocote Mario Teguh'. Kemudian saya berpikir keras. 'Ada betulnya juga ya yang membuat slogan ini'.
Seiring berjalannya waktu. Banyak fase kehidupan yang saya jalani. Berakhirlah pada kepercayaan saya sendiri. Bahwa tidak ada yang mudah di hidup ini. Jangankan sabda Mario Teguh. Nasihat sederhana seperti menabung pangkal kaya dan belajar pangkal pintar pun sepertinya saya tidak percaya seratus persen. 
Saya gemar sekali menabung. Lagi-lagi alasannya ada dua. Pertama tentu saja agar kaya, sesuai nasihat. Kedua, supaya jadi menantu idaman. 
Nyatanya sampai saat ini saya belum bisa dikatakan kaya. Mungkin celengan saya bocor. Sayangnya belum ada nasihat yang memberitahu saya. Tips dan trik agar celengan tetap tersumbat.
Oh ya, saya juga belum memastikan. Apakah saya ini menantu yang diidamkan mertua. 
Saya juga rajin belajar, setidaknya untuk pelajaran Fisika. Seumur-umur saya tidak paham sama namanya Fisika. Banyak buku saya baca. Tidak sedikit buku latihan soal yang saya kerjakan. Ditambah lagi tanya kesana kemari dengan murid yang pintar pelajaran satu ini. Porsi belajar Fisika lebih besar daripada pelajaran lainnya. Nyatanya, nilai UAN saat SMA saya terendah juga tetap di Fisika. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya tidak berbakat di bidang Fisika. 
Semakin panjang lagi perjalanan hidup saya. Makin banyak lagi kejadian yang saya alami. Saya mulai menyadari bahwa manusia cenderung mengikuti apapun yang bisa menguntungkan dirinya. Kecenderungan ini tidak bersifat kaku. Dan jauh pula dari penelitian. Ini berdasarkan apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan (mengutip judul lagu SO7).
Tak perlu jauh-jauh mendengar Mario Teguh. Nasihat orang tua pun banyak kita lalaikan. Padahal, tak beda dengan pak MT. Orang tua kita pun sudah memakan pahit dan kejamnya hidup.
Kita bisa mengangguk-angguk pada nasihat yang sesuai dengan apa yang kita mau. Dan kemudian mengutuk nasihat yang sama jika hasilnya tidak terbukti sesuai keinginan kita. 
Nasihat selalu lah membawa kepada kebaikan. Kita semua paham itu. Namun, tidak mudah memang menerima nasihat. Ego kita sebagai manusia, kadang segan untuk dikalahkan oleh nasihat. Butuh kebijaksanaan dan kedewasaan dalam menyikapinya.
Salam 'S(z)uper'!! 

  • view 152