Harapanku Padamu Sudah Setinggi Puncak Everest

Astri Bestari Ciptaningrum
Karya Astri Bestari Ciptaningrum Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 September 2016
Harapanku Padamu Sudah Setinggi Puncak Everest

Aku tak tahu mengapa aku begitu sedih malam ini. Sedih yang tak kurasakan saat matahari masih bersinar tadi. 
Aku sudah mencoba mengutarakan semuanya. Mencoba menjelaskan masalah diantara kita. Juga mencoba untuk mencarikan solusinya. Tetapi serasa aku berbicara sendiri. Tak ada jawaban, apalagi penyelesaian.
Perbincangan kita nyaris tak pernah tuntas. Hanya sesekali canda romantis terlontar saat mengakhiri percakapan. Namun, lebih banyak perdebatan dan pertengkaran. 
Tahukah kamu seberapa besar aku ingin menyerah? Aku rasa kamu tahu. Kamu yang selalu berkata padaku agar bertahan. 
Saat semua menjadi berat. Aku selalu marah sendiri. Marah dan marah lagi. Aku malu menjadi satu-satunya pihak yang selalu seakan tidak terima. Aku malu selalu berbicara hal yang sama.
Oh ternyata, kita berada pada persepsi yang berbeda. Masalahku tak bisa jadi masalahmu. Ini kah yang membuatmu menjadi keras hati tak menanggapi maksudku? Jika iya, tolonglah katakan padaku.
Harapanku padamu sudah setinggi Puncak Everest. Nyatanya tanggapanmu sedingin salju yang menyelimutinya.
Berkali-kali kukatakan untuk segera menemukan jalan keluar. Kuberikan banyak pilihan. Rasanya salju tetap enggan menyingkir dari benakmu. Kamu tetap dingin dan semakin dingin. 
Tak ada satupun jalan yang kamu pilih. Kamu tak membiarkanku menjauh, tapi tak juga menggenggamku. 
Baiklah, aku kalah dalam pertarungan ini. Lalu, kudekati cermin. Aku tanyakan apa yang salah pada diriku. 
Apakah hatiku juga keras? Apakah aku berpengharapan terlalu tinggi? Apakah aku terlalu keras padamu, sehingga kamu dua kali lipat lebih keras? Apakah aku kurang jelas dalam mengutarakan maksud? Apakah aku terlalu membesar-besarkan masalah? Apakah aku terlalu kekanak-kanakan?
Tak bisakah kamu membuatku tenang. Mendudukanku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Menjadi sahabat yang tak hanya mendengar. Tetapi juga memberi tanggapan. 
Aku tak bisa bersandar pada pundakku sendiri. Tak sudikah kamu menjadi pundak untukku bersandar? Tak bisakah kamu menjadi pengganti pena yang selalu aku gunakan untuk menulis keluh kesah? 
Sekali lagi, harapanku padamu sudah setinggi Puncak Everest. Nyatanya tanggapanmu tetap sedingin salju yang menyelimutinya.

  • view 207