Puan Maharani: Sikap Saling Menghargai di Bulan Suci

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Agama
dipublikasikan 09 Juni 2017
Puan Maharani: Sikap Saling Menghargai di Bulan Suci

Apa yang penting dari kesadaran beragama adalah mengenali pesan-pesan Tuhan, anjuran-anjuran-Nya, untuk menebarkan kasih sayang seluruh umat manusia. Islam sendiri memperkenalkannya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, esensi yang dikandungnya adalah sebuah pesan bahwa kehadirannya adalah memberikan wujud kedamaian di dunia.

Pesan-pesan itu bernada keharusan. Apa artinya beragama bila sikap-sikapnya atas kemanusiaan, lingkungan sosial dan alam ditunjukkan dengan suatu sikap yang penuh ketidakpedulian? Apa artinya terus menghamba dengan sekian banyaknya kepada Tuhan jika wujud dari kesadaran beragama untuk menebarkan kedamaian tak pernah diaplikasikan. Esensi agama di sana. Jika seorang Betrand Russel kemudian membuat suatu pernyataan yang berani, “bertuhan tanpa agama”, itu tak berarti sepenuhnya menolak agama. Barangkali ia hanyalah saksi yang pahit dari sebuah fenomena keagamaan yang dangkal yang kurang menyadari pesan-pesan Tuhan yang penting di dalamnya. Barangkali ia menyaksikan sebuah arogansi kelompok beragama yang menyisihkan.

Di dalam konteks Indonesia, utamanya di bulan suci umat Islam, Puan Maharani seringkali menegaskan betapa pentingnya merawat keanekaragaman. Kaum-kaum beragama memiliki landasan moral yang kuat jika mereka mengerti dan memahami pesan-pesan moral kitab suci masing-masing. Puan meyakini tak ada benturan antara agama dalam konteks esensi pesan-pesan moralnya. Hampir semua agama membawa atau mengharuskan penghargaan atas kemanusiaan, tuntutan untuk mewujudkan keadilan, dan perdamaian.

Ungkapan Puan Maharani dalam konteks sangat perlu dinyatakan dalam wujud tindakan. Bahwa setiap agama menginginkan kehidupan yang damai, yang harmoni dan humanis adalah ajaran yang perlu terus dikampanyekan. Kita, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang besar dengan tingkat kemajemukan yang tinggi. Sangat mungkin sensitifisme antar perbedaan-perbedaan. Perasaan curiga, sensitif dan hubungan-hubungan lain yang saling berkecenderungan buruk bukan tak ada. Makanya, dalam hal ini, yang sangat penting dan diperlukan adalah pemantapan dan penegasan dari nilai-nilai universal pesan-pesan damai dari agama itu sendiri.

Bagi Puan, aktor-aktor yang penting dalam mengampanyekan dan memantapkan soal ini adalah tokoh-tokoh elit agama. Elit-elit agama memiliki daya pengaruh yang luar biasa besar kepada para pengikutnya. Daya kharismatik mereka yang sanggup menyihir umatnya adalah modal penting untuk dijadikan sebagai jembatan demi menegakkan perdamaian.

  • view 57