Patung Soekarno dan Keteladanan (yang penting) bagi Puan

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 25 Mei 2017
Patung Soekarno dan Keteladanan (yang penting) bagi Puan

Sebuah patung adalah sebuah kebanggaan. Setidaknya patung adalah sebuah replika seorang sosok yang mengandung kerinduan pemahat dan orang-orang yang menyaksikan atas sosok tersebut. Patung itu adalah simbol kehadiran masa lalu untuk dikenang hingga kini. Ia dihadirkan dengan segala harapan bisa menghadirkan satu spirit, daya semangat, atau keteladanan bagi generasi kini.

Patung Soekarno yang diresmikan di halaman Gedung Lemhannas dibuat, salah satunya, untuk itu: menghadirkan kebanggaan dan daya semangat bagi bangsa ini.

Patung itu adalah sosok Soekarno. Ia berdiri tegak mengacung tangan menunjuk langit. Wajahnya menantang langit. Kita menjadi terkenang: Soekarno adalah sosok yang selalu tegas dan lantang dalam berbicara. Dia sosok yang menggebu-gebu dalam berorasi. Kata-katanya selalu membius para pendengarnya. Kata-katanya mengobarkan semangat.  

Kita juga menjadi ingat: dia sosok yang begitu berani. Dia galak dalam berkata-kata. Sekali waktu kita mendengarnya berkata dengan galak: ganyang Malaysia, Inggris kita linggis, Amerika kita setrika. Ungkapan-ungkapan yang berani itu bukan sesuatu yang baru pada sosok Soekarno. Di zaman kolonial Belanda, Soekarno memang sering keluar masuk penjara akibat kata-katanya yang memang dianggap liar dan berbahaya. Keberanian yang disuarakannya bisa menggema kemana-mana ke seluruh bangsanya. Setiap kali Soekarno bersuara dengan keyakinan dan keberanian, berjuta-juta rakyat Indonesia rela mati dengan angkat senjata. Mereka tidak gentar dengan segala keterbatasan peralatan perang. Mereka terbukti memilih medan gerilya pada suatu kali mereka tak mungkin mampu menghadapi secara langsung kekuatan tempur tentara kolonial Belanda.

Kita juga tetap terkenang: sosok Soekarno begitu kuat keberpihakannya kepada bangsanya. Hatinya begitu peka bereaksi setiap kali menyaksikan ketidakadilan atau ketidakmerataan secara ekonomi. Suatu kali, Soekarno dengan begitu bangganya menyebut ‘Marhaenisme’ sebagai sebuah paham yang berpihak pada bangsanya yang miskin. Marhaen adalah nama seorang petani yang dijumpai oleh Soekarno. Kepadanya, sang proklamator merasakan sebagai pemimpin yang perlu sungguh-sungguh berpihak dan berjuang untuknya, untuk rakyatnya. Dia berkali-kali menegaskan tentang marhaenisme.

Puan Maharani dan saudara-saudaranya, yang turut hadir dalam peresmian patung itu, tentu merasakan begitu besar kebahagiaan. Sebagai cucunya sendiri, juga sebagai generasi kini yang membutuhkan keteladanan, Puan melihat patung ini sebagai sosok yang menginspirasi kemerdekaan. Kemerdekaan bukan sebuah tujuan melainkan alat. Apa yang diperjuangkan Soekarno adalah merebut alat bernama kemerdekaan itu dari cengkeraman kolonial Belanda. Tugas berikutnya setelah kemerdekaan direbut tak lain adalah terbaginya kesejahteraan. Ungkapan sama rata sama rasa persis menyatakan itu.

Puan Maharani yang menjabat sebagai Mentri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) memang selalu perlu untuk ingat: salah satu dari harapan kemerdekaan adalah terbangunnya manusia-manusia Indonesia menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan hebat. Negara ini hadir untuk mencerdaskan anak bangsa. Dan saya kira kehadiran Puan Maharani dalam peresmian ini bukan sekedar kehadiran atau kerinduan seorang cucu kepada kakeknya, melainkan kerinduan pada para pendahulu untuk mengambil keteladanan darinya.

  • view 39