BERSAMA PUAN, MERAWAT INGATAN SEJARAH

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 19 Mei 2017
BERSAMA PUAN, MERAWAT INGATAN SEJARAH

Bengkulu, tempat dimana Soekarno diasingkan pada 1938-1942, sekaligus kota kelahiran ibu negara pertama RI Fatmawati. Mungkin tak banyak melainkan segelintir orang yang mengetahui ini.  Puan Maharani mengingatkan tentang hal ini. Dia mewanti-wanti agar – sebagaimana sering dikumandangkan oleh bapak proklamator – generasi kita jangan sekali-kali melupakan sejarah atau disingkat dengan akronim ‘jasmerah’.

Ungkapan itu diucapkan kepada para peserta LASENAS (Lawatan Sejarah Nasional). Lasenas adalah sebuah gelaran untuk mewujudkan harapan-harapan para pendahulu bangsa terutama Soekarno yang menginginkan agar sejarah terus dirawat dalam ingatan kolektif bangsa ini. Mengapa? Mengingat sejarah berarti melestarikan ingatan kolektif tentang perjuangan, keberanian dan kerelaan mati para pendahulu. Merawat ingatan kolektif berarti menguatkan generasi hari ini untuk menghargai dan banyak mengambil pelajaran dari segala kegagahan masa lalu, ketulusan dan kejujuran para pendiri bangsa ini. Semangat itu harus dialirkan dari zaman ke zaman. Tanpa merawat ingatan pada sejarah, semangat positif itu tidak mungkin tercapai.

Dalam membuka gelaran Lasenas itu Puan menegaskan pentingnya memperkuat ingatan pada sejarah. Menurutnya, untuk mengerti hari ini, ingatan yang baik pada sejarah menjadi penting. Penghargaan atas produk-produk sejarah yang kemudian dikuatkan sebagai empat pilar kebangsaan atau produk sejarah lainnya hanya mungkin dilakukan dengan baik saat kita tahu akar sejarahnya.

“Hanya dengan mengenal sejarah bangsa, mengetahui akar sejarah, barulah kita bisa mengimplementasikan empat pilar dengan baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”, ucapnya.

Akhir-akhir ini, kita memang menyaksikan kegagapan para tokoh dan elit negara yang gagap berhadapan dengan produk-produk sejarah. Banyak diantara mereka yang kian kurang menghormati produk-produk sejarah. Bukan berarti kita tertutup atau tak suka jika ada kritik terhadap produk sejarah, misalnya Pancasila, melainkan jika fenomena atau masyarakat kian intens mendegradasikan posisi pancasila, maka legitimasinya sebagai pemersatu dan perekat bangsa ini kian labil, kian runtuh.

Itu sebabnya, menjadi perlu menguatkan ingatan kolektif bangsa ini untuk menyadari bahwa sejarah dengan segala produknya yang terwariskan hingga kini tetap wajib dihormati. Kita wajib menghormati bukan semata-mata memposisikannya sebagai sesuatu yang sakral. Melainkan keberadaannya sejauh ini cukup kuat menjadi ikon perekat dan pemersatu bangsa ini.

Puan Maharani dengan mengajak para Lasenas mengingat sejarah itu sudah penting. Generasi-generasi muda tidak boleh abai atas sejarahnya sendiri. Kita adalah bangsa yang kuat karena masing-masing kita masih menghargai sejarah.

  • view 38